Siapa yang Didengar Jokowi?R53 - Monday, January 10, 2022 16:43
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/siapa-yang-didengar-jokowi
 
Presiden Joko Widodo (Foto: Republika)
6 min read

Tidak sedikit kebijakan pemerintahan Jokowi yang menjadi tanda tanya publik, 
khususnya dari pengamat. Mulai dari Omnibus Law, reshuffle periode kedua yang 
baru satu kali, hingga kedekatan dengan Tiongkok. Apakah di periode keduanya 
Presiden Jokowi tak lagi begitu memperhitungkan sentimen publik dalam mengambil 
kebijakan? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Don't look for meaning in the words. Listen to the silences.” – Samuel 
Beckett, novelis Irlandia

Ada fenomena menarik dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di periode 
keduanya. Tidak seperti di periode pertama, saat ini mantan Wali Kota Solo itu 
dinilai kurang begitu populis. Bayangkan saja, bahkan sebelum resmi dilantik 
untuk periode kedua, kebijakan kontroversial seperti revisi Undang-Undang No. 
30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU KPK) 
benar-benar mengejutkan publik. Saat itu, kita semua melihat bagaimana riuhnya 
massa turun ke jalan untuk menolak revisi.

Kemudian saat ini ada Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, undang-undang sapu 
jagat yang telah menuai kritik dan penolakan sejak awal pengusulan wacananya. 
Di tengah gelombang demi gelombang demonstrasi, Presiden Jokowi nyatanya tetap 
kukuh untuk mendorong produk hukum tersebut. Sekali lagi, sifat populis sang 
Presiden memunculkan tanda tanya berbagai pihak.

Bukan tanpa alasan kuat, pada awal keterpilihannya pada 2014 lalu, majalah Time 
sampai memberi julukan A New Hope. Untuk pertama kalinya, Indonesia dipimpin 
oleh Presiden yang bukan dari kalangan elite partai dan bukan berlatar militer.

Poin ini juga menjadi jantung kritik dari pengamat politik Lembaga Ilmu 
Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati. Menurutnya, berbeda dengan 
periode pertamanya, saat ini Presiden Jokowi cenderung mengambil 
kebijakan-kebijakan non-populis.

Tidak hanya dari pengamat dalam negeri, perubahan gestur politik RI-1 juga 
menjadi perhatian pengamat luar negeri. Kate Lamb dalam tulisannya Joko Widodo: 
how 'Indonesia's Obama' failed to live up to the hype di The Guardian, 
misalnya, menilai Presiden Jokowi telah gagal memenuhi ekspektasi sebagai 
Obama-nya Indonesia. Sosok yang dikenal merakyat dan sederhana ini justru 
semakin terlihat dekat dengan elite dan menelurkan kebijakan-kebijakan 
kontroversial, khususnya terkait demokrasi.

Lantas, apa yang melatarbelakangi perubahan ini?

 
Seorang Konsekuensialis?
Untuk menjawabnya, variabel kuncinya ada pada pidato pelantikan Presiden Jokowi 
untuk periode kedua pada 20 Oktober 2019. Saat itu, RI-1 mengeluarkan poin 
penting yang tampaknya menggambarkan keyakinan filosofisnya, yakni lebih 
mengutamakan hasil daripada proses.

“Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada 
hasil-hasil yang nyata”. Tidak hanya sekali, Presiden Jokowi kembali 
menegaskan, “Sekali lagi, yang utama itu bukan prosesnya, yang utama itu 
hasilnya”.

Dalam kacamata filsafat, penegasan tersebut dengan jelas menunjukkan isme yang 
disebut dengan utilitarianisme atau konsekuensialisme. Ini merupakan pandangan 
etis yang menegaskan moralitas atau baik buruk ditentukan oleh konsekuensi 
tindakan, bukan niat tindakan. Isme ini merupakan kontras dari deontologis yang 
dipopulerkan oleh Immanuel Kant.

Filsuf Jeremy Bentham yang merupakan pionir utilitarianisme mengungkapkan bahwa 
isme ini merupakan landasan dari kebijakan publik. Dari asal katanya “utilitas” 
atau daya guna, utilitarianisme melihat kebijakan publik harus memikirkan 
keputusan yang memberi kebaikan bagi banyak. Konteks ini membuat pemangku 
kebijakan publik memiliki landasan moral untuk menentukan kebijakannya telah 
baik atau bermoral. Cukup dikalkulasi sejauh mana asas kebermanfaatannya bagi 
orang banyak.

Utilitarianisme sendiri memiliki diktum, greatest “good” for the greatest 
“number” – kebaikan terbesar adalah untuk jumlah terbesar. Artinya, kebaikan 
(good) yang lebih baik adalah yang lebih memberi manfaat bagi banyak orang.

Tidak hanya saat pidato pelantikan periode kedua, pada Desember 2015, Presiden 
Jokowi juga menunjukkan kecondongannya sebagai seorang konsekuensialis. Di 
hadapan para menteri ketika rapat kerja di Istana Bogor, RI-1 menegaskan bahwa 
orientasi pada prosedur harus diubah menjadi orientasi pada hasil.

Kesimpulan Presiden Jokowi merupakan seorang konsekuensialis juga diungkapkan 
oleh Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia Ahmad Sahidah 
dalam tulisan opininya di Koran Sindo pada 20 April 2016. Di sana, Sahidah 
mengkritik kebijakan pembangunan Indonesia yang disebutnya menerapkan prinsip 
utilitarian.

Pertanyaannya, jika sedari awal Presiden Jokowi merupakan seorang 
konsekuensialis, mengapa baru di akhir periode pertama tendensi itu jelas 
terlihat? 

Jawabannya sederhana, yakni beban politik. Jika kebijakan-kebijakan berani 
ditelurkan secara tegas sejak periode pertama, di mana itu sering kali kontras 
dengan sentimen publik, ada kemungkinan Presiden Jokowi gagal terpilih di 
periode kedua. 

Nah, karena sudah terpilih kembali, Presiden Jokowi tidak memiliki beban untuk 
mengeluarkan kebijakan-kebijakan berani yang tidak populis, seperti Omnibus Law.

 
Khas Kerajaan di Istana?
Jika benar Presiden Jokowi seorang konsekuensialis atau menitikberatkan pada 
hasil, ini memiliki implikasi yang sangat menarik. Pasalnya, melihat pola 
pemimpin-pemimpin konsekuensialis dunia, umumnya memiliki tendensi otoriter 
atau kurang mendengar sentimen publik.

Konteks itu jelas terlihat pada pengesahan revisi UU KPK dan Omnibus Law Cipta 
Lapangan Kerja. Kendati mendapat berbagai penolakan, mulai dari masyarakat awam 
hingga para pakar, pengesahan nyatanya tetap dilakukan.

Nah sekarang pertanyaan pentingnya adalah, jika benar Presiden Jokowi kurang 
begitu mendengar sentimen publik, lantas siapa yang didengarnya?

Terkait ini, kita dapat menarik pola menarik dari cara raja-raja kuno dalam 
mempertahankan kekuasaannya. Untuk menghindari mendapat bisikan yang berakibat 
fatal, raja umumnya memiliki rasa curiga yang tinggi. Ini kemudian membuat raja 
hanya mendengar orang-orang tertentu yang disebut penasihat kerajaan. 

Menariknya, penasihat kerajaan memiliki syarat-syarat khusus, yakni tidak hanya 
harus cerdas, melainkan juga potensinya melakukan kudeta harus sekecil mungkin. 
Di Tiongkok kuno, penasihat yang disebut Kasim diwajibkan untuk dikebiri agar 
mereka tidak memiliki potensi menurunkan kekuasaan kepada anak keturunannya. 

Mengutip National Geographic, penggunaan Kasim dimulai di Sumeria sejak abad 
ke-21 SM, kemudian makin meluas hingga ke Tiongkok, terutama di Kota Terlarang. 
Saat itu, pengebirian yang awalnya merupakan salah satu hukuman kemudian 
menjadi syarat untuk menjadi Kasim. 

Uniknya, di zaman pemerintahan modern, berbagai petinggi negara, baik Presiden 
maupun Perdana Menteri juga memiliki Kasim. Konteksnya tentu tidak seperti di 
Tiongkok kuno dulu, melainkan orang-orang cerdas yang dipercaya, serta tidak 
berpotensi untuk menggeser kekuasaan mereka. 

Jika Presiden Jokowi juga menerapkan hal serupa, maka ada dua kriteria siapa 
sosok yang dapat disebut Kasim sang RI-1, yakni mereka haruslah cerdas dan 
tidak menunjukkan hasrat kekuasaan yang besar.

Sedikit berspekulasi, dua kriteria tersebut dapat kita lihat pada diri Menteri 
Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Selaku Profesor bidang Ilmu Politik di 
Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), 
Pratikno jelas merupakan sosok cerdas. Kemudian, tidak seperti lingkar satu 
Istana lainnya yang terlihat ingin menonjolkan diri, Pratikno terlihat lebih 
calm dan hanya berbicara sesuai tupoksinya. 

Selain itu, Pratikno dan Presiden Jokowi juga sama-sama alumni UGM. Menurut 
berbagai pihak, saat ini Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) juga 
tengah menguat di lingkar kekuasaan. Di periode kedua sendiri, ada sembilan 
menteri dari UGM. Namun kini jumlahnya menjadi delapan karena Terawan Agus 
Putranto terkena reshuffle pada Desember 2020.

Tentunya, Kasim bukan hanya seorang, terdapat beberapa sosok yang menjadi 
kepercayaan Presiden. Jika dua kriteria tersebut valid, pembaca dapat membuat 
interpretasi sendiri. Caranya cukup melihat orang-orang lingkar satu Presiden 
yang memenuhi kriteria cerdas dan tidak menunjukkan ambisi kuasa yang besar.

Well, sebagai penutup, artikel ini pada akhirnya hanyalah analisis teoretis 
semata. Faktor apa yang membuat Presiden Jokowi menjadi kurang populis di 
periode keduanya hanya diketahui oleh pihak-pihak terkait. Harapan kita, 
seperti dalam diktum utilitarianisme, semoga kebijakan yang ditelurkan Presiden 
Jokowi memberi kebaikan bagi orang banyak. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/07BBACFDE28F4FCAB7F275290252DDCC%40A10Live.

Reply via email to