Bagaimana kalau Negara Kleptokrasi Republik Indonesia dilupakan saja,
karena hanya berfaedah kepada kaum elit neo-Mojopahit dan konco bin sahabat
mereka?

On Tue, Jan 11, 2022 at 1:44 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

> Siapa yang Didengar Jokowi?
> *R53 * <https://www.pinterpolitik.com/author/r53-203>*- Monday, January
> 10, 2022 16:43*
>
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/siapa-yang-didengar-jokowi
> *Presiden Joko Widodo (Foto: Republika)*
>
> *6 min read*
>
> *Tidak sedikit kebijakan pemerintahan Jokowi yang menjadi tanda tanya
> publik, khususnya dari pengamat. Mulai dari Omnibus Law, reshuffle periode
> kedua yang baru satu kali, hingga kedekatan dengan Tiongkok. Apakah di
> periode keduanya Presiden Jokowi* *tak lagi begitu memperhitungkan
> sentimen publik dalam mengambil kebijakan? *
> ------------------------------
>
> *PinterPolitik.com* <https://www.pinterpolitik.com/>
>
> *“Don't look for meaning in the words. Listen to the silences.” – Samuel
> Beckett, novelis Irlandia*
>
> Ada fenomena menarik dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di periode
> keduanya. Tidak seperti di periode pertama, saat ini mantan Wali Kota Solo
> itu dinilai kurang begitu populis. Bayangkan saja, bahkan sebelum resmi
> dilantik untuk periode kedua, kebijakan kontroversial seperti revisi
> Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
> Korupsi (UU KPK) benar-benar mengejutkan publik. Saat itu, kita semua
> melihat bagaimana riuhnya massa turun ke jalan untuk menolak revisi.
>
> Kemudian saat ini ada *Omnibus Law* Cipta Lapangan Kerja, undang-undang
> sapu jagat yang telah menuai kritik dan penolakan sejak awal pengusulan
> wacananya. Di tengah gelombang demi gelombang demonstrasi, Presiden Jokowi
> nyatanya tetap kukuh untuk mendorong produk hukum tersebut. Sekali lagi,
> sifat populis sang Presiden memunculkan tanda tanya berbagai pihak.
>
> Bukan tanpa alasan kuat, pada awal keterpilihannya pada 2014 lalu, majalah
> Time sampai memberi julukan *A New Hope*. Untuk pertama kalinya,
> Indonesia dipimpin oleh Presiden yang bukan dari kalangan elite partai dan
> bukan berlatar militer.
>
> Poin ini juga menjadi jantung kritik dari pengamat politik Lembaga Ilmu
> Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati. Menurutnya, berbeda
> dengan periode pertamanya, saat ini Presiden Jokowi cenderung mengambil
> kebijakan-kebijakan non-populis.
>
> Tidak hanya dari pengamat dalam negeri, perubahan gestur politik RI-1 juga
> menjadi perhatian pengamat luar negeri. Kate Lamb dalam tulisannya *Joko
> Widodo: how 'Indonesia's Obama' failed to live up to the hype* di The
> Guardian, misalnya, menilai Presiden Jokowi telah gagal memenuhi ekspektasi
> sebagai Obama-nya Indonesia. Sosok yang dikenal merakyat dan sederhana ini
> justru semakin terlihat dekat dengan elite dan menelurkan
> kebijakan-kebijakan kontroversial, khususnya terkait demokrasi.
>
> Lantas, apa yang melatarbelakangi perubahan ini?
> *Seorang Konsekuensialis?*
>
> Untuk menjawabnya, variabel kuncinya ada pada pidato pelantikan Presiden
> Jokowi untuk periode kedua pada 20 Oktober 2019. Saat itu, RI-1
> mengeluarkan poin penting yang tampaknya menggambarkan keyakinan
> filosofisnya, yakni lebih mengutamakan hasil daripada proses.
>
> “Jangan lagi kerja kita berorientasi proses, tapi harus berorientasi pada
> hasil-hasil yang nyata”. Tidak hanya sekali, Presiden Jokowi kembali
> menegaskan, “Sekali lagi, yang utama itu bukan prosesnya, yang utama itu
> hasilnya”.
>
> Dalam kacamata filsafat, penegasan tersebut dengan jelas menunjukkan isme
> yang disebut dengan utilitarianisme atau konsekuensialisme. Ini merupakan
> pandangan etis yang menegaskan moralitas atau baik buruk ditentukan oleh
> konsekuensi tindakan, bukan niat tindakan. Isme ini merupakan kontras dari
> deontologis yang dipopulerkan oleh Immanuel Kant.
>
> Filsuf Jeremy Bentham yang merupakan pionir utilitarianisme mengungkapkan
> bahwa isme ini merupakan landasan dari kebijakan publik. Dari asal katanya
> “utilitas” atau daya guna, utilitarianisme melihat kebijakan publik harus
> memikirkan keputusan yang memberi kebaikan bagi banyak. Konteks ini membuat
> pemangku kebijakan publik memiliki landasan moral untuk menentukan
> kebijakannya telah baik atau bermoral. Cukup dikalkulasi sejauh mana asas
> kebermanfaatannya bagi orang banyak.
>
> Utilitarianisme sendiri memiliki diktum, *greatest “good” for the
> greatest “number”* – kebaikan terbesar adalah untuk jumlah terbesar.
> Artinya, kebaikan (*good*) yang lebih baik adalah yang lebih memberi
> manfaat bagi banyak orang.
>
> Tidak hanya saat pidato pelantikan periode kedua, pada Desember 2015,
> Presiden Jokowi juga menunjukkan kecondongannya sebagai seorang
> konsekuensialis. Di hadapan para menteri ketika rapat kerja di Istana
> Bogor, RI-1 menegaskan bahwa orientasi pada prosedur harus diubah menjadi
> orientasi pada hasil.
>
> Kesimpulan Presiden Jokowi merupakan seorang konsekuensialis juga
> diungkapkan oleh Dosen Senior Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia
> Ahmad Sahidah dalam tulisan opininya di Koran Sindo pada 20 April 2016. Di
> sana, Sahidah mengkritik kebijakan pembangunan Indonesia yang disebutnya
> menerapkan prinsip utilitarian.
>
> Pertanyaannya, jika sedari awal Presiden Jokowi merupakan seorang
> konsekuensialis, mengapa baru di akhir periode pertama tendensi itu jelas
> terlihat?
>
> Jawabannya sederhana, yakni beban politik. Jika kebijakan-kebijakan berani
> ditelurkan secara tegas sejak periode pertama, di mana itu sering kali
> kontras dengan sentimen publik, ada kemungkinan Presiden Jokowi gagal
> terpilih di periode kedua.
>
> Nah, karena sudah terpilih kembali, Presiden Jokowi tidak memiliki beban
> untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan berani yang tidak populis, seperti 
> *Omnibus
> Law*.
> *Khas Kerajaan di Istana?*
>
> Jika benar Presiden Jokowi seorang konsekuensialis atau menitikberatkan
> pada hasil, ini memiliki implikasi yang sangat menarik. Pasalnya, melihat
> pola pemimpin-pemimpin konsekuensialis dunia, umumnya memiliki tendensi
> otoriter atau kurang mendengar sentimen publik.
>
> Konteks itu jelas terlihat pada pengesahan revisi UU KPK dan *Omnibus Law*
>  Cipta Lapangan Kerja. Kendati mendapat berbagai penolakan, mulai dari
> masyarakat awam hingga para pakar, pengesahan nyatanya tetap dilakukan.
>
> Nah sekarang pertanyaan pentingnya adalah, jika benar Presiden Jokowi
> kurang begitu mendengar sentimen publik, lantas siapa yang didengarnya?
>
> Terkait ini, kita dapat menarik pola menarik dari cara raja-raja kuno
> dalam mempertahankan kekuasaannya. Untuk menghindari mendapat bisikan yang
> berakibat fatal, raja umumnya memiliki rasa curiga yang tinggi. Ini
> kemudian membuat raja hanya mendengar orang-orang tertentu yang disebut
> penasihat kerajaan.
>
> Menariknya, penasihat kerajaan memiliki syarat-syarat khusus, yakni tidak
> hanya harus cerdas, melainkan juga potensinya melakukan kudeta harus
> sekecil mungkin. Di Tiongkok kuno, penasihat yang disebut Kasim diwajibkan
> untuk dikebiri agar mereka tidak memiliki potensi menurunkan kekuasaan
> kepada anak keturunannya.
>
> Mengutip *National Geographic*
> <https://nationalgeographic.grid.id/read/133015380/saat-kebiri-jadi-alat-untuk-mendapatkan-posisi-kasim-di-tiongkok?page=all>,
> penggunaan Kasim dimulai di Sumeria sejak abad ke-21 SM, kemudian makin
> meluas hingga ke Tiongkok, terutama di Kota Terlarang. Saat itu,
> pengebirian yang awalnya merupakan salah satu hukuman kemudian menjadi
> syarat untuk menjadi Kasim.
>
> Uniknya, di zaman pemerintahan modern, berbagai petinggi negara, baik
> Presiden maupun Perdana Menteri juga memiliki Kasim. Konteksnya tentu tidak
> seperti di Tiongkok kuno dulu, melainkan orang-orang cerdas yang dipercaya,
> serta tidak berpotensi untuk menggeser kekuasaan mereka.
>
> Jika Presiden Jokowi juga menerapkan hal serupa, maka ada dua kriteria
> siapa sosok yang dapat disebut Kasim sang RI-1, yakni mereka haruslah
> cerdas dan tidak menunjukkan hasrat kekuasaan yang besar.
>
> Sedikit berspekulasi, dua kriteria tersebut dapat kita lihat pada diri
> Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Selaku Profesor bidang Ilmu
> Politik di Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol Universitas Gadjah
> Mada (UGM), Pratikno jelas merupakan sosok cerdas. Kemudian, tidak seperti
> lingkar satu Istana lainnya yang terlihat ingin menonjolkan diri, Pratikno
> terlihat lebih *calm *dan hanya berbicara sesuai tupoksinya*.*
>
> Selain itu, Pratikno dan Presiden Jokowi juga sama-sama alumni UGM.
> Menurut berbagai pihak, saat ini Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada
> (Kagama) juga tengah menguat di lingkar kekuasaan. Di periode kedua
> sendiri, ada *sembilan*
> <https://edukasi.okezone.com/read/2021/11/12/65/2500625/satu-almamater-dengan-presiden-jokowi-ini-daftar-menteri-lulusan-ugm?page=1>
>  menteri dari UGM. Namun kini jumlahnya menjadi delapan karena Terawan
> Agus Putranto terkena *reshuffle* pada Desember 2020.
>
> Tentunya, Kasim bukan hanya seorang, terdapat beberapa sosok yang menjadi
> kepercayaan Presiden. Jika dua kriteria tersebut valid, pembaca dapat
> membuat interpretasi sendiri. Caranya cukup melihat orang-orang lingkar
> satu Presiden yang memenuhi kriteria cerdas dan tidak menunjukkan ambisi
> kuasa yang besar.
>
> *Well*, sebagai penutup, artikel ini pada akhirnya hanyalah analisis
> teoretis semata. Faktor apa yang membuat Presiden Jokowi menjadi kurang
> populis di periode keduanya hanya diketahui oleh pihak-pihak terkait.
> Harapan kita, seperti dalam diktum utilitarianisme, semoga kebijakan yang
> ditelurkan Presiden Jokowi memberi kebaikan bagi orang banyak. (R53)
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/07BBACFDE28F4FCAB7F275290252DDCC%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/07BBACFDE28F4FCAB7F275290252DDCC%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2D2LLxqAR3Gz-LEm1NtM8TJBkfvCv5BNzq4BpYofXQ5JQ%40mail.gmail.com.

Reply via email to