AS Sibuk Ekspansi Militer Globalnya, Tiongkok Berkembang Bersama dengan Dunia
2022-01-11 16:35:40  Menurut statistik, Amerika Serikat (AS) mempunyai 750 
pangkalan militer di 80 lebih negara. Belakangan ini, situs web “Russia Today” 
mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul “AS Membangun Pangkalan Militer di 
Seluruh Dunia, Sedangkan Tiongkok Membangun Pangkalan Ekonomi”, laporan 
tersebut menunjukkan bahwa, berbeda dengan tujuan AS yang berfokus pada 
keberadaan militernya di seluruh dunia, tujuan Tiongkok bukan untuk mencari 
hegemoni, tetapi untuk memelihara jalur pertumbuhan di dunia yang terus berubah.

Laporan mengatakan bahwa pasca Tiongkok memperdalam hubungan kemitraan dengan 
negara non-UE dan non-NATO di Eropa Timur, pada awal tahun ini, Tiongkok 
menandatangani rencana kerja sama pembangunan “Sabuk dan Jalan” dengan Maroko 
di Afrika Utara. Sebagai negara Afrika pasca-kolonial, Maroko menyetujui 
pendirian Tiongkok mengenai kedaulatan negara dan tidak mengintervensi urusan 
dalam negeri negara lain, dan berpendapat ini merupakan cara efektif untuk 
mencegah negara-negara Barat. Maroko menerima teknologi 5G Huawei, dan 
merupakan salah satu negara gelombang pertama yang mencapai kemajuan di bidang 
vaksinasi virus Corona vaksin buatan Tiongkok.

Akhir tahun 2021, Tiongkok mulai berfokus pada proyek kerja sama “Sabuk dan 
Jalan” dengan negara-negara yang lebih luas.



Francis Fukuyama: Demokrasi ala AS Terus Merosot dan Reputasinya Jatuh
2022-01-11 15:19:41  

Periset Senior Institut Masalah Internasional Universitas Stanford baru-baru 
ini dalam artikelnya di situs web New York Times AS mengatakan, demokrasi ala 
AS terus merosot dan reputasinya jatuh.

Artikel mengatakan, kerusuhan Gedung Capitol AS pada tanggal 6 Januari 2021 
melambangkan sebuah momen, yaitu ketidakpuasan sejumlah besar warga AS terhadap 
sistem demokrasi AS sendiri, dan menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya 
sendiri.

Sebuah fakta yang menjadikan tanggal 6 Januari sebuah noda yang mengkhawatirkan 
“demokrasi” AS adalah, Partai Republik tidak hanya tidak mengecam orang-orang 
yang mencetuskan dan berpartisipasi dalam kerusuhan itu, namun malah 
mempersolek kerusuhan dan menyisihkan orang-orang kampnya yang ingin 
mengungkapkan kenyataan tentang pemilu tahun 2020.

Artikel menunjukkan, sebelum tanggal 6 Januari 2021, publik selalu memandang 
muslihat itu sebagai perbuatan negara “demokratis” yang baru mulai dikembangkan 
dan belum diperkokoh sepenuhnya. AS biasanya menyatakan keberatan dan mengecam 
hal tersebut, tapi saat ini hal ini terjadi di dalam negeri AS sendiri dan 
reputasi AS di bidang praktik “demokrasi” yang baik telah jatuh. 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5344713F4C15400884436C2553C2128C%40A10Live.

Reply via email to