Operasi Intelijen di Balik Lahirnya PDIPI76 - Thursday, January 13, 2022 22:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/operasi-intelijen-di-balik-lahirnya-pdip
 
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Mantan Kepala BIN 
Hendropriyono saat mengahadiri peluncuran buku mantan KASAU yang berjudul " 
Tanah Air Udaraku Indonesia" di Jakarta (Foto: Aktual.com)
6 min read

Menjelang ulang tahun emasnya, PDIP semakin memperlihatkan kematangan politik 
sebagai partai besar. Sejak kelahirannya, banyak peristiwa yang masih samar 
diketahui oleh banyak orang tentang PDIP. Salah satunya yang menarik, terdapat 
informasi bahwa PDIP dibidani oleh operasi intelijen dari kelompok militer. 
Lantas, Seperti apa operasi intelijen tersebut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah menggelar perayaan hari 
ulang tahun ke-49 pada 10 Januari 2022. Acara HUT partai banteng kali ini 
mengusung tema Bangunlah Jiwa dan Badannya untuk Indonesia Raya.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) 
memeriahkan rangkaian acara secara daring HUT PDIP. Seperti yang telah 
diketahui, ulang tahun kali  ini cukup istimewa, dikarenakan usia PDIP 
menjelang tahun emas kehadirannya di panggung politik Indonesia.

Perjuangan PDIP dan juga tentunya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri 
bukanlah sesuatu yang mudah. Penuh badai di awal kemunculan, sempat berjaya dan 
juga pernah harus berpuasa jadi penguasa di dua periode kepemimpinan Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY).

Jika melihat sejarah fluktuasi PDIP berdasarkan data pemilu ke pemilu, PDIP di 
Pemilu 1999 menjadi  pemenang dengan jumlah anggota di parlemen sebanyak 153 
kursi dari total 500 kursi, artinya PDIP mengumpulkan 33,12 persen kekuatan di 
DPR.

Perubahan terjadi saat Indonesia mulai menggunakan sistem Pemilihan Presiden 
(Pilpres) secara langsung. PDIP pada Pemilu 2004 hanya 109 kursi di parlemen, 
jumlah ini munurun 44 kursi dari pemilu sebelumnya. Hal yang sama terjadi pada 
Pemilu 2009, bahkan lebih signifikan penurunannya karena hanya mendapat 95 
kursi di parlemen. Pada dua pemilu ini, PDIP menjadi oposisi pemerintahan.

Akhirnya di Pemilu 2014 kemenangan pun didapatkan oleh PDIP. Kemenangan ini 
cukup dramatis, dikarenakan muncul sosok Jokowi yang begitu fenomenal. Banyak 
yang menilai terdapat semacam efek ekor jas dari kemenangan PDIP di 2014. 
Bahkan pemilu terakhir di 2019, PDIP masih tetap bertahan sebagai the ruling 
party.

Mungkin sedikit orang yang tahu bahwa apa yang diraih oleh PDIP hari ini penuh 
dengan perjuangan yang berat. Seperti kata terakhir yang tersemat pada nama 
partai ini, yaitu perjuangan, PDIP lahir dengan perjuangan banyak pihak, bukan 
hanya dari internal partai sendiri, melainkan juga dari pihak luar partai. 

Dan yang menarik, ada yang menyebut terdapat operasi intelijen di balik upaya 
melahirkan PDIP. Lantas, seperti apa operasi intelijen tersebut?



Baca juga: Jelang 2024, PDIP Bermain di Ujung?


  
Manuver Elite Militer
Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) As’ad Said Ali dalam bukunya 
Perjalanan Intelijen Santri, mengemukakan terdapat manuver intelijen militer di 
balik pencalonan Megawati sebagai Ketua Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di era 
akhir Orde Baru. Upaya manuver ini menurut As’ad adalah upaya otokritik yang 
muncul dari tubuh militer.

Sebelumnya, beberapa tokoh militer telah melakukan hal yang sama kepada Partai 
Persatuan Pembangunan (PPP), yang pada saat itu, J. Naro menjadi tokoh yang 
diusung oleh kelompok militer. Meskipun gagal, kritik dan upaya manuver para 
tokoh militer kembali  berikhtiar melalui PDI.

As’ad menyebut beberapa nama tokoh militer yang melakukan manuver, baik secara 
langsung maupun tidak langsung pada pencalonan Megawati sebagai Ketum PDI. 
Nama-nama dari kalangan ABRI dan purnawirawan ABRI, seperti LB Moerdani, Samsir 
Siregar, dan Pangdam V Jaya saat itu, Mayjen Hendropriyono.

Meski misi itu gagal mengantarkan Megawati sebagai Ketua Umum PDI menggantikan 
Suryadi. Namun kemudian berhasil mengantarkan Megawati mengambil pilihan untuk  
tampil menjadi Ketua Umum PDIP, evolusi dari PDI sebelumnya.

Menurut As’ad, tokoh militer punya kepentingan untuk mendorong agar terbukanya 
kran demokrasi yang saat itu sedang berhadapan dengan totalitarianisme Orde 
Baru. Lanjut As’ad, Panglima ABRI Jenderal LB Moerdani dan Kepala Badan 
Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) Jenderal Yoga Soegama mempunyai maksud 
untuk melakukan kritik halus kepada Soeharto. Para tokoh itu menginginkan agar 
pemimpin Orde Baru itu lengser selagi jaya dan melanjutkan pembangunan politik 
yang stabil dan dinamis.

Perkembangan situasi politik Orde Baru saat itu telah menunjukkan temperatur 
politik yang meningkat karena adanya kesulitan yang menghambat rehabilitasi 
terhadap sistem politik yang mulai mengarah pada penuaan.

Di sisi lain, kemajuan dari sektor ekonomi telah memperlihatkan peningkatan 
yang drastis, ekonomi semakin kuat sehingga mendorong tumbuhnya berbagai 
tuntutan politik baru. Konteks-konteks ini kemudian bergulir pada sebuah 
tuntutan akan kebebasan dan keadilan di tengah masyarakat.

Akumulasi dari fakta sosial dan ekonomi tersebut mendorong elite militer untuk 
mencoba melakukan perubahan dari dalam, tentunya dengan cara upaya pergantian 
kepemimpinan partai politik yang dirasa akan lebih independen saat melakukan 
perubahan secara politik di parlemen.

Samuel P. Huntington dalam bukunya The Soldier and The State, melihat bahwa 
fragmentasi politik sipil memberikan peluang bagi militer untuk ikut terlibat 
dalam politik melalui ruang yang samar. Dalam ruang yang samar ini, manuver 
militer mendapatkan keahliannya, khususnya dalam bidang intelijen. Karena 
sejauh yang diketahui, ruang samar adalah bagian dari misi-misi intelijen di 
dunia.

Huntington melihat intervensi militer tidak disebabkan oleh faktor internal 
dari tubuh militer, seperti kelas, kepentingan perorangan, dan kepentingan 
golongan. Menurutnya, militer merebut peran non-militer lebih diakibatkan oleh 
tidak stabilnya sistem politik dan kegagalan pemimpin politik untuk menjamin 
ditaatinya norma dan proses politik.

Kompleksitas situasi sejarah saat itu memperlihatkan bahwa apa yang tejadi 
sulit ditebak oleh masyarakat umum. Banyak pihak hanya melihat realitas politik 
pada panggung depan fenomena itu ditampilkan. Lantas, seperti apa memaknai 
fenomena manuver militer yang punya pengaruh terhadap dinamika politik tersebut?



Baca juga: Mengapa PDIP Usung Ganjar di DKI?

 

Silent Evidence
Peristiwa di atas sebenarnya menunjukkan bagaimana fenomena politik bukanlah 
sesuatu yang sederhana yang tampak. Dalam prosesnya, banyak faktor-faktor yang 
mempengaruhi terbentuknya sebuah peristiwa.

Ini membuat banyak orang melihat politik sebagai sebuah ketidakpastian. Padahal 
bukan tidak pasti, hanya saja faktor yang begitu kompleks membuat kalkulasi 
dalam melihat politik menjadi sukar dilakukan, khususnya bagi masyarakat umum.



Baca juga: Koalisi Dini, Strategi Kepung PDIP?



Untuk melihat peristiwa terdapat banyak faktor penentu. Penegasan itu adalah 
upaya untuk menolak doktrin monokausalitas. Kita perlu dan harus memikirkan 
bahwa peristiwa atau sejarah terjadi secara multikausalitas. 

Multikausalitas sendiri adalah konsep yang menegaskan bahwa dalam sebuah 
peristiwa, baik politik, sejarah, dan sosial memiliki rangkaian kausalitas yang 
tidak sederhana dan tunggal. Dan yang terpenting, sering kali ada silent 
evidence yang tidak diketahui.

Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan: Rahasia Terjadinya 
Peristiwa-Peristiwa Langka yang Tak Terduga, menerangkan terkait persoalan 
silent evidence atau bukti bisu yang kerap dilupakan ketika menyimpulkan suatu 
peristiwa.

Jangan-jangan, kesimpulan kita bertumpu pada informasi yang begitu kecil. Di 
luar sana, terdapat bukti-bukti yang mungkin tidak pernah kita ketahui, yang 
disebut dengan silent evidence atau bukti bisu. Manuver militer melalui operasi 
intelijen dapat menjadi salah satu fenomena yang dimaksud dalam konsep ini. 
(I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/24BD66D4BA354D7CB198056DA7EDD572%40A10Live.

Reply via email to