Jokowi Sudah Tentukan Pilihan?R53 - Sunday, January 23, 2022 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jokowi-sudah-tentukan-pilihan
 
Presiden Joko Widodo (Foto: Law-Justice)
8 min read

Meskipun baru berjalan dua tahun, berbagai menteri periode kedua pemerintahan 
Jokowi, seperti Erick Thohir dan Airlangga Hartarto terlihat menyiapkan jalan 
untuk maju di Pilpres 2024. Mengapa Jokowi tidak menegur para menteri tersebut? 
Mungkinkah Jokowi sudah menentukan siapa penerusnya?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sangat menarik melihat gestur-gestur yang ditampilkan berbagai menteri di 
periode kedua pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Betapa tidak, sejak awal 
periode kedua, indikasi terdapat menteri yang ingin maju di Pilpres 2024 telah 
terlihat. Sejauh ini ada empat menteri yang menunjukkan gestur paling kentara, 
yakni Menteri BUMN Erick Thohir, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri 
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno, dan Menteri 
Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Terkait Erick, dugaan adanya intensi untuk maju sudah mulai tercium sejak Maret 
2020. Saat itu, spanduk dukungan maju di 2024 mencuat ke publik. Ada pula 
gestur-gestur yang mudah dibaca sebagai upaya membangun citra, seperti isu 
toilet gratis, munculnya wajah Erick di ATM BUMN, hingga bergabung sebagai 
anggota kehormatan Banser. 

Terbaru, ada deklarasi Barisan Erick Thohir (BARET) untuk meminta sang Menteri 
BUMN maju di 2024. Disebutkan, BARET telah tersebar di 19 kota dan kabupaten di 
Jawa Barat, dengan jumlah anggota lebih dari 30.000 orang.

Namun, hingga saat ini Erick masih membantah niatnya untuk maju. Terkait hal 
tersebut, itu telah dibahas rinci dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, 
Partai Mana yang Disiram Erick?.

Lalu ada Airlangga. Terkait nama ini, dengan adanya tebaran baliho di berbagai 
daerah dan telah turunnya berbagai relawan, sekiranya sudah tidak ada keraguan 
terkait intensi sang Ketua Umum Partai Golkar untuk maju. 

Hal serupa juga terlihat dari Prabowo. Mengutip pernyataan pengamat politik 
Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin, Prabowo tampaknya masih 
penasaran kenapa belum berhasil menang di kontestasi Pilpres. Partai Gerindra 
juga terpantau terus membangun konsolidasi agar sang ketua umum dapat maju. 
Sejauh ini, elektabilitas Prabowo juga konsisten tertinggi.

Sementara Sandi, meskipun tidak menunjukkan intensi sekentara Airlangga maupun 
Prabowo, berbagai relawan telah melakukan deklarasi di daerah. Kelompok relawan 
yang menamakan dirinya Relawan Kawan Sandi (RKS) terlihat melakukan deklarasi 
pada 15 September 2021 di Makassar dan pada 27 September 2021 di Lombok.

Terkait gestur-gestur para menteri, berbagai pihak terlihat memberikan kritik. 
Ketua Umum Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB) Pitono Adhi, misalnya, menilai 
Presiden Jokowi perlu memberhentikan para menteri yang tidak fokus bekerja, 
daripada nanti mereka mengundurkan diri karena akan maju di kontestasi Pilpres.

Di sini tentu pertanyaannya, mengapa Presiden Jokowi tidak menegur para 
menterinya?


Seharusnya Ditegur
Terkait pertanyaan tersebut, ada insight menarik dari Wakil Ketua Umum Partai 
Gelora Fahri Hamzah dalam bukunya Buku Putih: Kronik Daulat Rakyat Vs Daulat 
Parpol. Menurut Fahri ada dua cara seorang pejabat dipilih, yakni elected 
official dan selected official. 

Elected official adalah pejabat publik yang dipilih secara langsung oleh 
rakyat. Mereka adalah Presiden dan anggota DPR. Karena dipilih langsung oleh 
rakyat, Presiden dan anggota DPR diberikan hak khusus dan kuasa besar. Selain 
itu, pejabat yang dipilih melalui elected official tidak bisa diturunkan secara 
mudah karena mereka diangkat atas suara rakyat. 

Sementara selected official adalah pejabat yang dipilih bukan melalui pemilihan 
langsung. Mereka adalah pejabat yang dipilih oleh pejabat elected official, 
contohnya adalah menteri. Pengangkatan para menteri adalah hak prerogatif 
Presiden. Karena tidak dipilih rakyat secara langsung, kuasa dan posisi pejabat 
selected official tidak sekuat elected official. Mereka dapat diturunkan atau 
diganti dengan mudah. Bahkan pada kasus tertentu, bertahan tidaknya posisi 
menteri ditentukan oleh kecocokan dengan Presiden.

Mengacu pada perbedaan antara elected official dan selected official, mudah 
menyimpulkan bahwa Presiden Jokowi sebagai elected official memiliki kewenangan 
serta legitimasi politik dan moril untuk memberi teguran terhadap para 
menterinya yang terlihat menyiapkan jalan menuju Pilpres 2024.

Bukan tanpa alasan kuat, dengan pemerintahan yang masih lama, sudah seharusnya 
para menteri yang ditunjuk sebagai perpanjangan kuasa Presiden bekerja sebaik 
mungkin. Di periode kedua ini, tentunya Presiden Jokowi ingin meletakkan legacy 
politik yang membuat namanya diperbincangkan di pemerintahan-pemerintahan 
selanjutnya.

Sebagaimana temuan Christian Fong, Neil Malhotra, dan Yotam Margalit dalam 
tulisan Political Legacies: Understanding Their Significance to Contemporary 
Political Debates, alasan politisi memiliki minat yang kuat untuk membangun 
legacy adalah, karena ingatan masyarakat tentang legacy tersebut memengaruhi 
perdebatan kebijakan di masa depan.

Di sini tentu pertanyaannya, mengapa legitimasi sebagai elected official tidak 
membuat Presiden Jokowi memberikan teguran?

Persiapkan Jalan?
Terkait hal ini, setidaknya ada tiga asumsi yang dapat dipetakan sebagai alasan 
tidak keluarnya teguran. Pertama, mungkin ini adalah pelumrahan karena sudah 
menjadi budaya apabila setiap pihak ingin menjadi penguasa. Kedua, mungkin 
Presiden Jokowi tengah terikat dengan kekuatan politik lain. Ketiga, mungkin 
ini adalah indikasi bahwa Presiden Jokowi sudah menentukan siapa sosok yang 
akan menggantikannya. 

Untuk menentukan mana asumsi atau hipotesis yang paling tepat, kita akan 
menggunakan abductive reasoning (penalaran abduktif/abduksi) atau yang dikenal 
juga dengan inference to the best explanation. Metode abduksi ini 
diformulasikan oleh filsuf Charles Sanders Peirce pada sepertiga terakhir abad 
ke-19. Dalam berbagai literatur terbaru, detektif fiksi Sherlock Holmes karya 
novelis Arthur Conan Doyle kerap dijadikan sebagai contoh pengguna metode 
abduksi.

Seperti namanya, abduksi adalah metode penarikan kesimpulan untuk mendapatkan 
penjelasan terbaik. Dalam memecahkan kasus-kasus kriminal, Sherlock Holmes 
membangun berbagai hipotesis, kemudian mengujinya satu per satu untuk 
menentukan mana yang paling memuaskan. Cara kerjanya disebut dengan via 
negativa atau pembuktian negatif. Setiap hipotesis diuji dengan berbagai 
pertanyaan. Hipotesis yang paling mampu menjawab pertanyaan akan ditetapkan 
sebagai yang paling memuaskan.


Sekarang kita akan menguji satu per satu ketiga hipotesis tersebut dengan 
pembuktian negatif. Pertama, jika mengatakan ini adalah pelumrahan karena 
bertolak dari fakta sosiologis dan psikologis bahwa setiap pihak ingin menjadi 
penguasa, maka ini tidak memberikan penjelasan apa-apa dan cukup rancu.

Alasannya sederhana, yakni perilaku penguasa yang dijelaskan oleh Niccolò 
Machiavelli dalam bukunya Il Principe. Menurut Machiavelli, sulit membayangkan 
seorang penguasa membiarkan para pembantunya bergerak leluasa dan menunjukkan 
niat menjadi penguasa berikutnya. Pasti ada perasaan terancam atau setidaknya 
tidak nyaman karena kekuasaan bersifat hierarkis.

Kita lanjut ke yang kedua, yakni mungkin Presiden Jokowi tengah terikat dengan 
kekuatan politik lain. Hipotesis ini lebih masuk akal dari yang pertama karena 
ada fenomena yang disebut vetokrasi (vetocracy). Istilah vetokrasi sendiri 
dipopulerkan oleh ilmuwan politik Amerika Serikat (AS) Francis Fukuyama untuk 
menjelaskan disfungsi pemerintahan yang terjadi karena terdapat pihak yang 
memiliki hak veto untuk membatalkan kebijakan yang tidak disukainya.

Vetokrasi ini sebenarnya adalah apa yang kita takutkan selama ini. Terdapat 
segelintir pihak di pemerintahan yang memiliki hak veto untuk menentukan 
jalannya pemerintahan. Tidak heran kemudian terdapat kebijakan yang secara 
gamblang bertentangan dengan aspirasi publik.

Mungkin dapat dikatakan bahwa terdapat vetokrat yang menghadang Presiden Jokowi 
untuk menegur menteri. Terlebih lagi, para menteri yang menunjukkan intensi 
maju adalah mereka yang memiliki political capital yang besar. Prabowo dan 
Airlangga adalah ketua umum partai, sedangkan Erick adalah pemilik kapital 
besar. Mungkin hanya Sandi yang tidak begitu kuat secara politik.

Namun, hipotesis ini menyimpan satu ganjalan utama, yakni perubahan sikap 
politik Presiden Jokowi di periode keduanya. Dalam artikel PinterPolitik 
sebelumnya, Siapa yang Didengar Jokowi?, telah dijelaskan terdapat perubahan 
sikap politik di mana Presiden Jokowi tidak lagi terlihat sebagai pemimpin 
populis.

Di periode kedua ini, Presiden Jokowi seperti tidak memiliki beban untuk 
menelurkan kebijakan-kebijakan kontroversial. Selain itu, mantan Wali Kota Solo 
tersebut juga terlihat memiliki kepercayaan politik karena sudah mampu 
mengelola hubungan dengan militer dan partai politik lainnya. Dengan kembalinya 
saham politik Presiden Jokowi di periode kedua ini, hipotesis tengah tersandera 
fenomena vetokrasi sepertinya kurang meyakinkan.

Nah sekarang kita akan menguji hipotesis terakhir, yakni mungkin ini adalah 
indikasi bahwa Presiden Jokowi sudah menentukan siapa sosok yang akan 
menggantikannya. Hipotesis ini setidaknya sangat masuk akal karena dua alasan. 
Pertama, seperti yang dijelaskan sebelumnya, seorang pemimpin perlu 
meninggalkan legacy untuk dikenang oleh masyarakat. Untuk kepentingan ini, 
seorang pemimpin memerlukan penerus untuk menjaga legacy-nya.

Ini sangat penting karena seperti temuan Alan Yuhas dalam tulisannya Presidents 
undoing their predecessor's legacy: an American tradition, ada tendensi di mana 
Presiden yang baru ingin menghapus legacy Presiden sebelumnya. Menimbang pada 
legacy Presiden Jokowi lebih ke hard legacy atau berbentuk bangunan fisik, 
mantan Wali Kota Solo ini butuh penerus untuk melanjutkan proyek 
infrastrukturnya, khususnya proyek Ibu Kota Negara (IKN).

Kemudian alasan kedua adalah pernyataan Presiden Jokowi pada 19 Januari dalam 
pertemuan dengan Forum Pemimpin Redaksi. “Semua yang memiliki kemungkinan, ya 
kita beri peluang. Yang penting jangan mengganggu pekerjaan dan menggunakan 
fasilitas negara,” ungkap RI-1. Lanjutnya, dipersilahkan siapa pun yang maju, 
baik menteri, kepala daerah, maupun petinggi partai politik. 

Nah, pernyataan terbuka tersebut dapat dibaca sebagai pesan terdapat lampu 
hijau bagi mereka yang ingin menjadi penerus Presiden Jokowi. Kemudian, karena 
sering kali bahasa politik itu berlapis, itu juga bisa dibaca sebagai bentuk 
dukungan. Namun tentunya, untuk menghindari kesan dan persepsi yang tidak 
diinginkan, dukungan tersebut dinarasikan general dan tidak menyasar sosok 
tertentu.

Well, sebagai penutup, mungkin hipotesis ketiga merupakan penjelasan terbaik. 
Namun tentunya tidak menutup kemungkinan terdapat hipotesis lain yang lebih 
memuaskan dan mendekati kebenaran. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FDB60FEE09BD4B3D841047E0F41296A2%40A10Live.

Reply via email to