Panggung Emas Andika Perkasa?R53 - Wednesday, January 26, 2022 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/panggung-emas-andika-perkasa
 
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa (Foto: SINDOnews)
6 min read

Panglima TNI Andika Perkasa mendukung hukuman pidana dalam kasus dugaan korupsi 
satelit Kementerian Pertahanan (Kemhan). Apakah ini menjadi panggung emas 
Andika di tengah masa jabatan yang singkat?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Our great social and political advantage is opportunity.” – George William 
Curtis, penulis Amerika Serikat

Nama Jenderal TNI Andika Perkasa menjadi salah satu magnet pemberitaan ketika 
namanya disebut sebagai pengganti Hadi Tjahjanto menjadi Panglima TNI. Saat 
itu, opini publik terbelah dua antara yang pro dengan yang kontra. Berbagai 
kritik terlontar, namun yang paling layak untuk diperhitungkan adalah soal masa 
jabatan.

Pengamat pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) 
Khairul Fahmi, misalnya, menyoroti singkatnya masa bakti Andika yang hanya satu 
tahun jika ditunjuk sebagai Panglima TNI. Menurutnya, waktu yang singkat 
tersebut kurang baik untuk organisasi TNI. 

Well, terlepas dari pro dan kontra yang ada, saat ini Andika telah menjadi 
Panglima TNI. Pertanyaan yang menghantui juga tetap sama, apa yang dapat 
dilakukan Andika dalam waktu satu tahun ini? 

Yang lebih menarik lagi adalah, setelah dilantik sebagai Panglima, nama Andika 
tiba-tiba mencuat sebagai salah satu kandidat di Pilpres 2024. Ia 
digadang-gadang akan dipasangkan dengan Puan Maharani. Ini telah dibahas rinci 
dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Andika-Puan, Duet Maut yang Dinanti?. 
Baru-baru ini, nama Andika juga sempat dimunculkan oleh Partai Golkar sebagai 
pasangan Airlangga Hartarto. Ya, singkatnya, nama Andika telah menjadi begitu 
seksi.

Tentu pertanyaannya, jika benar Andika adalah sosok potensial untuk maju di 
2024, prestasi apa yang dapat diukirnya sebagai Panglima TNI dengan masa bakti 
hanya satu tahun? Pertanyaan ini juga menjadi jantung dari artikel 
PinterPolitik yang berjudul Andika Tidak Harus Jadi Panglima?.

Seolah menjawab, saat ini Andika menampilkan gestur-gestur penting. Salah satu 
yang paling menarik untuk disorot, mungkin adalah dukungan terhadap kasus 
dugaan korupsi satelit Kementerian Pertahanan (Kemhan). “Oleh karena itu saya 
siap mendukung keputusan dari pemerintah untuk melakukan proses hukum ini,” 
ungkap Andika pada 14 Januari.

Di kesempatan yang berbeda, Menko Polhukam Mahfud MD juga menyebut Menteri 
Pertahanan (Menhan) dan Panglima TNI mendukung kasus ini untuk dipidanakan. 
“Menhan Prabowo dan Panglima TNI Andika juga tegas mengatakan bahwa ini harus 
dipidanakan,” ungkapnya pada 16 Januari.

Lantas, apakah ini dapat menjadi panggung emas bagi Jenderal TNI Andika Perkasa?


Seayun dengan Persepsi Publik
Ada satu faktor sederhana yang membuat ini dapat menjadi panggung emas Andika, 
yakni persepsi kebencian terhadap korupsi. Thomas Carothers dan Christopher 
Carothers dalam tulisan The One Thing Modern Voters Hate Most di Foreign 
Policy, menyebut terdapat tren global di mana korupsi tidak hanya membuat 
banyak pemimpin tersingkir dari jabatannya, melainkan juga berkontribusi 
signifikan terhadap kekalahan elektoral dari banyak petahana.

Korupsi disebut telah menjadi isu yang sangat kuat, bahkan mungkin paling kuat, 
dalam mendorong perubahan politik di dunia saat ini. Masyarakat di seluruh 
dunia menunjukkan keengganan yang semakin besar dalam melihat perilaku korup 
dan bentuk-bentuk pemerintahan yang buruk. 

Akar ketidaksukaan tersebut dapat kita elaborasi dengan tulisan Rhymer Rigby di 
Financial Times yang berjudul It’s easy to hate the rich but harder to justify 
it. Menurut Rigby, terdapat persepsi umum di seluruh dunia, di mana masyarakat 
– yang umumnya menengah ke bawah – tidak menyukai orang-orang kaya. Dalam 
berbagai temuan, ketidaksukaan itu disebut bertolak dari persepsi masyarakat 
yang merasakan ketidaksetaraan sosial-ekonomi.

Orang-orang kaya yang memiliki uang miliaran dolar berada di puncak piramida. 
Jumlah mereka sedikit tapi memiliki pengaruh yang begitu besar. Kondisi ini 
timpang dengan masyarakat yang berada di bagian bawah piramida. Kendati 
jumlahnya jauh lebih banyak, pengaruh yang mereka miliki tidaklah besar.

Sekarang coba bayangkan, jika terdapat ketidaksukaan umum terhadap orang kaya, 
maka apa yang terjadi terhadap mereka yang kaya dari perilaku korupsi? Tentu 
mudah ditebak, persepsi ketidaksukaan tersebut akan semakin menebal dan 
mengental. Akan muncul narasi tambahan, seperti keadilan, penegakan hukum, 
demokrasi, dan seterusnya.

Nah, mengacu pada dugaan korupsi satelit Kemhan yang disebut mencapai Rp 800 
miliar, ini dapat menjadi kapitalisasi isu yang bagus untuk Andika. Bahkan, 
sekalipun Andika tidak meniatkannya demikian, dukungan terhadap penyelidikan 
kasus ini sudah cukup membuatnya mendapat persepsi baik dari publik.

Apalagi, tidak hanya korupsi satelit Kemhan, Andika juga akan mendukung penuh 
Kejaksaan Agung dalam mengusut berbagai kasus dugaan korupsi di tubuh TNI, 
seperti Dana Tabungan Wajib Perumahan Angkatan Darat (TWP AD) tahun 2013 sampai 
dengan tahun 2020.

“Kami akan all out mendukung, termasuk proses hukum koneksitas yang sedang 
berlangsung. Kita akan all out, jadi Bapak Jaksa Agung yakin bahwa kita 
mendukung apapun yang beliau minta, kita siap mendukung apapun yang diperlukan 
mulai dari menghadirkan saksi, barang bukti, dan lain sebagainya,” ungkap 
Andika pada 14 Januari.


Dapat Buat Perbedaan?
Di titik ini, mungkin dapat dikatakan ini adalah panggung emas, yang jika 
dikelola dengan baik akan memberikan citra dan modal bagus, jika benar-benar 
berlaga di 2024. Namun, ada satu catatan penting, mampukah Andika membuat 
perbedaan dengan Panglima TNI sebelumnya?

Pasalnya, sebelum Andika, ada nama Gatot Nurmantyo yang bahkan menunjukkan 
gestur politik secara kentara sewaktu menjabat Panglima TNI. Ini misalnya 
diungkap John McBeth dalam tulisannya Military Ambitions Shake Indonesia’s 
Politics di Asia Times. 

Menurutnya, Gatot adalah satu-satunya Panglima TNI setelah reformasi yang 
secara terang-terangan menunjukkan ambisi politiknya saat masih menjabat. 
Secara spesifik, McBeth juga menyebut Gatot secara terbuka mendekati 
kelompok-kelompok agama dengan harapan meningkatkan keterpilihannya.

Menariknya, McBeth juga membandingkan Gatot dengan Moeldoko. Indonesianis asal 
Selandia Baru ini juga melihat Moeldoko memiliki ambisi yang sama sebelum 
pensiun pada Juli 2015.

Selain faktor syahwat kekuasaan yang sudah terlihat sejak masih menjabat 
sebagai Panglima TNI, Gatot juga terlihat menempatkan dirinya sebagai tokoh 
oposisi, seperti bergabung dengan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), 
dan kerap memainkan isu PKI untuk menarik perhatian. 

Dalam tulisannya, McBeth melampirkan pernyataan dari analis militer Barat, yang 
tampaknya menjadi jawaban mengapa Gatot kerap memainkan isu PKI. “He doesn’t 
have much in the way of personal charisma and he doesn’t have much political 
acumen [Dia (Gatot) tidak memiliki karisma personal dan kecerdasan politik yang 
besar].” 

Lanjutnya, “He would be no competition for Widodo, so I can’t see any other 
party picking him as a presidential or vice-presidential candidate [Dia tidak 
akan menjadi pesaing Jokowi, jadi saya tidak bisa melihat partai lain 
memilihnya sebagai calon presiden atau wakil presiden].”

Jika analisis tersebut tepat, maka dapat dikatakan, kerapnya isu PKI dimainkan 
karena Gatot kurang memiliki kecakapan dalam memainkan dan membuat narasi 
politik. Oleh karenanya, dipilih isu PKI yang telah ada dan mudah mendapat 
atensi publik.

Bertolak dari kasus Gatot, Andika perlu belajar dan berinovasi agar dapat 
mengelola narasi dengan baik dan rapi. Sejauh ini, tren narasi Andika terlihat 
positif. Tidak terjadi tumpang tindih maupun isu yang sekiranya bukan domain 
Panglima TNI. Jika diteruskan, dan Andika tidak mendapat gejolak atau kasus 
negatif, masa bakti satu tahun ini tampaknya dapat memberikan modal penting 
bagi Andika.

Well, sebagai penutup, anasir-anasir yang menyebut Andika akan maju di 2024, 
entah itu dengan siapa, masih sebatas spekulasi dan dugaan. Yang jelas, saat 
ini sang jenderal perlu menampilkan kepemimpinan hebat agar tercatat sebagai 
Panglima TNI yang luar biasa. (R53)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A2FC1DDB241A43999259AF3987A50AC9%40A10Live.

Reply via email to