Oen Sin Yang, Seniman Tehyan Tergilas Zaman
Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 30 Jan 2022 06:30 WIB


BBC: Youtube - https://www.youtube.com/watch?v=wgYhg1XU0lI

Jakarta - Di jalan utama Kampung Tehyan, Tangerang, terdengar lirih gesekan 
alat musik khas Betawi dengan irama Tionghoa. Alat musik itu bernama sukong, 
terbentuk dari batok kelapa, bilah bambu, dan dua untai dawai dari kawat atau 
kenur.
Oen Sin Yang (71) atau akrab disapa Goyong adalah laki-laki keturunan Tionghoa. 
Di dalam nadinya, mengalir darah seniman dari mendiang ayahnya, Oen Oen Hok. 
Goyong tumbuh di antara lantunan terompet, tehyan, dan perlengkapan gambang 
kromong lainnya.


"Saya melihat orang tua saya, lihat dia main alat musik. Saya suka lihatin tapi 
saya nggak belajar ya, saya lihatin dia buat tehyan. Buat alat gambang kromong, 
gambang, terompet, itu dia bikin. Saya bisa tehyan belajar otodidak, nggak 
pakai not balok," ujar Goyong dalam program Sosok.

Goyong ahli dalam memainkan alat musik tehyan dan terompet. Diakuinya, butuh 
teknik khusus untuk memainkan kedua gawai nada itu. Terompet misalnya, hanya 
orang-orang yang piawai mengatur napas panjang yang dapat melantunkannya agar 
iramanya tidak terputus.

"Ya terompet ini kalau orang-orang anak muda tuh nggak bisa. Selalu tuh 
orang-orang yang sudah ada umur (yang bisa). Harus kuat nafas maksudnya. Kalau 
dia nggak bisa ngelamus (lagunya) mati-mati kan gitu," ujar Goyong sembari 
menunjuk terompetnya.

     
Pada setiap acara tradisional tionghoa, Goyong beserta rekan-rekannya terbiasa 
memainkan lagu klasik atau yang biasa disebut "lagu dalam". Bahkan, berkat 
kepiawaiannya, Goyong berhasil keluar negeri untuk memperkenalkan alat musik 
gambang kromong.

"Kalau ada acara, kalau orang kawin ya. Orang Cina ya itu untuk Cio Tao. Saya 
main gambang kromong ya saya keluar negeri ke Australia sekali. Kalau dalam 
negeri saya ke Dumai, Aceh, dan Ambon," tutur Goyong.

"Pasti pembukanya gambang kromong itu dulu itu pake lagu Chinese. Tidak semua 
pemain gambang kromong bisa. Maka gambang kromong itu ada 'lagu dalam' dan ada 
'lagu sayur'. Lagu dalam itu Phoa Silitan, kalau misalnya lagu sayur itu 
biasanya Jali-jali, Keroncong Kemayoran," jelas salah satu Pemerhati Budaya, 
Oey Tjin Eng (79).

Namun, diakui Goyong bahwa saat ini rekan-rekan seperjuangannya dalam memainkan 
gambang kromong ini sudah meninggal lebih dulu. Sehingga ia merasa tidak ada 
lagi yang bisa memainkan lagu-lagu klasik. Apalagi, munculnya berbagai 
pertunjukan musik modern membuat kesenian khas Jakarta ini tenggelam dalam dan 
kalah saing.

"Dulu banyak (yang bisa main lagu klasik), sekarang sudah habis. Habis itu yang 
pintar-pintar sudah pada meninggal kan sudah tua. Kalau sekarang mah yang 
muda-muda nggak bisa. Nggak bisa lagunya," ungkap Goyong.
"Kalau saya tuh orang yang mau belajar apa silahkan. Kalau dia mau saya ajarin 
supaya juga saya gembira, ya saya juga ikut senang. Biar banyak yang nerusin 
gitu," tutup Goyong sambil memangku tehyan miliknya.

(vys/vys)

Baca artikel detiknews, "Oen Sin Yang, Seniman Tehyan Tergilas Zaman" 
selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-5920547/oen-sin-yang-seniman-tehyan-tergilas-zaman.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9AB0CEAB14044B6FB9B2FF5C6EC4A549%40A10Live.

Reply via email to