Tedros: Kepala WHO Asia-Pasifik Diselidiki atas Tuduhan Rasialisme
Minggu , 30 Januari 2022 | 08:54 
https://www.sinarharapan.co/internasional/read/56970/tedros__kepala_who_asia_pasifik_diselidiki_atas_tuduhan_rasialisme
 
Sumber Foto: Istimewa.
Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.Listen to this
JAKARTA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus 
mengumumkan penyelidikan terhadap anggota staf senior, yakni yang memimpin 
organisasi itu di wilayah Pasifik Barat terkait tudingan atas klaim rasialisme 
dan pelanggaran keprofesionalan.

"Kami telah mengetahui beberapa kekhawatiran sejak akhir 2021 dan telah 
mengikuti proses hukum. Dengan kerja sama anggota staf, proses penyelidikan 
sedang berlangsung," kata Tedros pada hari terakhir pertemuan dewan eksekutif 
WHO di Jenewa, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (29/1).

Meskipun demikian, Tedros tak membeberkan lebih detail soal kapan penyelidikan 
dibuka. Ia mengatakan, "Ada batasan untuk apa yang dapat kami katakan saat 
ini". Tedros memastikan pihaknya akan serius menangani perkara ini. "Kami 
menganggap serius tuduhan ini," ujarnya.

Tuduhan serius, yang dirinci dalam surel yang juga dilihat AFP setelah 
perselingkuhan itu diungkapkan pada hari Kamis oleh Associated Press.  Pada 
surel tersebut dituliskan Kepala WHO di Pasifik Barat, Takeshi Kasai. Dokter 
dari Jepang itu mengatakan dia siap untuk bekerja sama dalam penyelidikan apa 
pun.

Menurut AP, lusinan anggota staf WHO mengajukan keluhan internal pada Oktober 
sebelum mengirim surel pada pertengahan Januari ke negara-negara di dewan 
eksekutif badan PBB itu.

Dalam surel tersebut, mereka menuduh Kasai menerapkan 'kepemimpinan otoriter 
dan rasialis', juga menambahkan bahwa dia secara teratur berbagi informasi 
istimewa dengan Kementerian Luar Negeri Jepang, karena tidak ingin mengkritik 
China dan 'membuang-buang" uang donor.

Setelahnya, banyak negara menyatakan keprihatinan mereka atas masalah ini awal 
pekan ini. Kemudiabn pada Sabtu ini, sejumlah diplomat meminta WHO untuk 
menyelidiki semua tuduhan pelanggaran.

"Kami menanggapi semua tuduhan dengan serius dan berharap penyelidikan 
independen akan dikembangkan sebagai prioritas," kata seorang perwakilan 
Australia, Sabtu. Seorang perwakilan Inggris mengatakan, "Sekali lagi kami 
menyesal telah mendengar hal ini pertama kali di media".

Seorang pejabat Norwegia mengatakan, "kita membutuhkan WHO yang kita semua 
percayai, negara-negara anggota serta staf, penerima manfaat dan komunitas 
global. Ini termasuk menciptakan budaya organisasi yang mempromosikan etika 
yang baik dan membangun kepercayaan di dalam organisasi dan memiliki sistem 
yang solid untuk aktifkan ini".

Penyelidikan dilakukan pada saat WHO sudah berada di bawah tekanan besar. 
Selain terkait pandemi Covid-19, dari sisi profesionalitas diketahaui bahwa WHO 
juga disorot terkait pelcehan seksual yang meluas oleh pekerja kemanusiaan di 
Republik Demokratik Kongo.

Pada hari Jumat negara-negara donor utama Organisasi Kesehatan Dunia menuntut 
agar mempercepat dan memperluas reformasi yang bertujuan untuk mencegah 
pelecehan seksual oleh staf di lapangan. (E-4)



Sumber Berita: ANTARA.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7854B179883746FC90EB976272CB00C7%40A10Live.

Reply via email to