https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2367-menjaga-kabar-baik



Sabtu 29 Januari 2022, 05:00 WIB 

Menjaga Kabar Baik 

Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Menjaga Kabar Baik MI/Ebet Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. ADA 
sejumlah kabar baik belakangan ini. Khususnya, terkait dengan geliat 
perekonomian di Tanah Air. Mulai ekspor yang melonjak, harga komoditas yang 
membubung, investasi yang melampaui target, hingga pertumbuhan ekonomi yang 
positif, semuanya kian menguarkan optimisme. Satu kabar baik di tengah tumpukan 
kabar buruk saja sudah seperti hujan sehari yang mendinginkan panas setahun. 
Apalagi, ini kabar baik bertubi-tubi. Rasanya pasti setara suntikan semangat 
berlipat-lipat. Itu bakal membangkitkan optimisme kuadrat. Sebulan lalu, 
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi membawa kabar baik pertama. Ia mengatakan 
nilai ekspor Indonesia sepanjang 2021 terkerek tajam mencapai US$231,54 miliar, 
atau naik 41,8% jika dibandingkan dengan ekspor pada 2020 yang mencapai 
US$163,1 miliar. Capaian ekspor sepanjang 2021 itu juga menjadi rekor baru 
ketimbang nilai rekor yang dicapai 10 tahun silam (2011), ketika kita mencetak 
rekor ekspor sebesar US$203,6 miliar. Catatan penting pencapaian sejarah ekspor 
tersebut didorong oleh pertumbuhan yang tinggi baik di sektor migas maupun 
nonmigas. Ekspor nonmigas tumbuh 41,5%, sedangkan ekspor migas tumbuh 48,7%. 
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, komoditas nonmigas yang paling 
kontributif selama 2021 ialah turunan atau produksi dari minyak sawit mentah 
(crude palm oil/CPO), besi dan baja, elektronik, hingga otomotif. Kabar baik 
kedua datang dari Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal 
Bahlil Lahadalia. Tengah pekan ini ia berbagi kebahagiaan karena capaian 
investasi yang melampaui target. Walau ada pandemi covid-19, Presiden Jokowi 
memasang target tinggi untuk investasi 2021, yakni Rp900 triliun. Hasilnya, 
melebihi target. Total jenderal investasi yang diraih sepanjang tahun lalu 
Rp901,02 triliun. Itu artinya lebih banyak sekitar Rp1 triliun jika 
dibandingkan dengan yang ditargetkan. Lebih menggembirakan lagi, realisasi 
investasi sepanjang tahun lalu mulai bergeser ke sektor-sektor yang mendukung 
industrialisasi, seperti industri logam dasar dan barang logam. Padahal, tahun 
sebelumnya masih didominasi investasi di sektor transportasi, gudang, dan 
telekomunikasi. Dengan pergeseran ini, ada harapan pertumbuhan ekonomi kita 
bisa lebih kukuh dan stabil sebab penopangnya ialah sektor industri manufaktur. 
Kabar baik selanjutnya ialah pertumbuhan ekonomi 2021 yang diperkirakan mulai 
positif. Sejumlah kalangan memprediksi ekonomi kita bakal tumbuh di rentang 
3,5% hingga 3,9%. Kendati belum sesuai ekspektasi, yakni tumbuh 5%, pencapaian 
di atas 3% boleh dibilang lumayan. Pasalnya, ketidakpastian pandemi covid-19 
masih sangat tinggi. Bahkan, varian delta sempat menipiskan harapan tahun lalu. 
Masuk akal kiranya bila banyak pihak kian menaruh harapan pada pemulihan 
ekonomi kita. Saya tertarik dengan pernyataan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis 
UI Teguh Dartanto. Saat berbicara di Media Group Network Summit 2022, Teguh 
menyebut ada dua faktor good yang membuat kabar gembira di 2021 itu muncul 
bertubi-tubi. Keduanya ialah good policy (kebijakan yang pas) dan good luck 
(keberuntungan). Good policy bisa dilihat dari meningkatnya stimulus 
pemerintah, dari sekitar Rp699,7 triliun di 2020 menjadi Rp744,9 triliun di 
2021. Kebijakan pas lainnya ialah pembatasan sosial yang terukur dan capaian 
vaksinasi yang lumayan tinggi, yakni 60% dari target sasaran dua dosis vaksin 
sudah disuntikkan. Adapun good luck terjadi karena melejitnya harga komoditas, 
khususnya batu bara dan kelapa sawit (CPO), serta mulai 'rileksnya' masyarakat 
menghadapi covid-19 dengan beragam ancamannya. Naiknya harga komoditas membuat 
rapor ekspor kita terus membiru. Rileksnya masyarakat menghadapi korona membuat 
kepercayaan diri muncul, mobilitas mulai meningkat sehingga ekonomi pun 
menggeliat. Ke depan, faktor good luck tidak boleh menjadi andalan sebab 
keberuntungan akibat melejitnya harga komoditas tidak selalu datang. 
Kepercayaan diri masyarakat menghadapi korona juga bukannya tanpa risiko. 
Terlalu percaya diri di tengah kapan akhir pandemi yang masih misteri bisa 
menjadi petaka. Mengumbar kebebasan seolah-olah korona sudah sayonara, 
potensial mendatangkan gelombang bencana jilid selanjutnya. Maka, bagi saya, 
menjaga kabar baik paling andal ialah dengan menaikkan derajat good policy. 
Urusan kapan menginjak gas dan kapan menarik tuas rem, misalnya, perlu dimiliki 
seluruh pengambil kebijakan. Respons juga mesti dilakukan bergegas, di tengah 
situasi yang berubah cepat. Soal kapan mengguyur stimulus, kapan menyetopnya, 
kepada siapa, dan sektor apa saja stimulus diprioritaskan, juga bagian dari 
good policy. Biasanya, kalau kebijakannya pas dan baik, keberuntungan akan 
beruntun datang. Itu namanya rezeki anak soleh.  

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/2367-menjaga-kabar-baik







-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220130212510.59ead6692a7bd311c65369a8%40upcmail.nl.

Reply via email to