Merdeka di BaBe:
Jasa Orang Tionghoa yang Tak Terlupakan Pasukan Siliwangi saat Perjuan...
Klik untuk baca artikel:
http://share.babe.news/s/vmmcjFRkTR

Jasa Orang Tionghoa yang Tak Terlupakan Pasukan Siliwangi saat Perjuangan 
Kemerdekaan
 
Merdeka
1 Februari 2022 pukul 12.06
https://www.merdeka.com/histori/jasa-orang-tionghoa-yang-tak-terlupakan-pasukan-siliwangi-saat-perjuangan-kemerdekaan.html



Mohamad Rivai ketika mengunjungi keluarga Tionghoa yang pernah menampung dia 
dan pasukannya pada 194. ©2022/Mohamad Rivai 

HISTORI | Selasa, 1 Februari 2022 10:58:36 

Reporter : Merdeka 

Merdeka.com - Kisah para babah, encim, koko dan cici di masa revolusi yang ikut 
berjuang demi Republik Indonesia. 

Penulis: Hendi Jo 

Setiap memasuki Bandung, jantung O.Soedarja kerap dagdidug saat itu. Bagaimana 
tidak, untuk memasuki ibu kota Jawa Barat tersebut, dia harus melewati beberapa 
lapis pos penjagaan. Mulai pos tentara KNIL hingga milisi Tionghoa pro Belanda 
yang dikenal sebagai Pao An Tui (Badan Pelindung Keselamatan).

"Saya merasa agak tegang karena saat itu saya masuk ke Bandung memang 
menunaikan tugas sebagai anggota Seksi I (intelijen) Divisi Siliwangi," ujar 
lelaki kelahiran Sumedang pada 1927 itu. 

Beruntunglah dia memiliki mitra setia. Namanya Akew, pemuda Tionghoa dari 
Tegalega. Setiap akan masuk ke Bandung, Akew biasanya akan datang menjemput di 
pos Pao An Tui dan menyatakan kepada para pemeriksa bahwa dirinya adalah 
majikan Soedarja, salah satu pelayan di tokonya. 

Tidak hanya menjamin keamanan para pejuang yang sedang menyelundup ke kota, 
Akew juga adalah pemasok logistik untuk unit-unit Divisi Siliwangi di pelosok 
sekitar Bandung. Tak jarang dia pun memberikan informasi-informasi penting 
terkait pergerakan tentara Belanda di Bandung kepada para gerilyawan yang 
diam-diam masuk kota.

Sayangnya kiprah Akew sebagai pejuang Republik tidak berumur panjang. Karena 
pengaduan seorang tetangganya, suatu dia diciduk serdadu Belanda dan tak pernah 
diketahui keberadaannya hingga kini. Lamat-lamat Soedarja hanya mendengar Akew 
dibuang ke Nusakambangan dan meninggal sebagai tawanan di pulau dekat Cilacap 
itu.

2 dari 3 halaman

Jasa Orang Tionghoa
Cerita orang Tionghoa yang bermitra dengan pasukan Siliwangi, tidak cukup hanya 
di situ. Dalam otobiografi-nya, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi 
Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Mohamad Rivai mengisahkan bagaimana berjasanya 
orang-orang Tionghoa di Muntilan, Jawa Tengah kepada Siliwangi. 

Ceritanya, pada Februari 1948, Batalyon Rivai sebagai pasukan hijrah 
ditempatkan oleh Divisi Siliwangi di Muntilan (masuk wilayah Magelang). Masalah 
muncul ketika tak ada satu pun tempat memadai untuk dijadikan markas dan tempat 
tinggal sekira 600 prajurit Rivai, kecuali rumah-rumah orang Tionghoa.

Maka datanglah Mayor Rivai kepada orang-orang Tionghoa tersebut. Secara 
baik-baik, dia memohon agar para prajuritnya diperbolehkan untuk tinggal 
sementara di rumah mereka. 

Awalnya orang-orang Tionghoa itu merasa bimbang dan pasrah saja dengan 
permintaan itu. Selain dianggap orang jauh yang sama sekali tak dikenal, mereka 
pun merasa trauma dengan kehadiran pasukan bersenjata di rumahnya. 

"Sebelumnya di Muntilan pernah ditempatkan sepasukan TNI, tetapi kerja 
oknum-oknum-nya hanya menggelisahkan masyarakat saja. Kami juga dibisiki bahwa 
TNI di mana pun sama saja kelakuannya," ujar Hu Tjiong Hun, laki-laki Tionghoa 
yang rumahnya menjadi salah satu “asrama” Batalyon Rivai.

Selain Hu Tjiong Hun, rumah-rumah lain yang ditempati para prajurit TNI asal 
Jawa Barat itu adalah milik Ho Ek Jin, The Eng Bik, Tjan Goik An, Yang Hong 
Gie, The Kim Liong dan Iswoatmodjo. Mereka rata-rata bermatapencaharian sebagai 
pedagang. 

Sehari dua hari, tak ada hal yang ditakuti terjadi. Alih-alih berlaku urakan, 
anak-anak Siliwangi itu tampak sekali memelihara sopan santun yang kuat. Ketika 
makanan dari dapur umum tidak datang, mereka pun terlihat tenang-tenang saja. 

"Diajak makan pun, mereka hanya bilang terimakasih saja," kenang Hu Tjiong Hun.

Karena merasa terpikat dengan sikap sopan dan ramah para prajurit Siliwangi 
itu, orang-orang Tionghoa itu pun merasa ikut bertanggungjawab jika mereka 
terlihat kelaparan. Tanpa diminta, para encim, babah, koko dan cici itu 
patungan membentuk dapur umum. 

"Sebagai tamu, mereka harus makan juga. Kalau tidak dapat uang dari perdagangan 
sehari-hari, apa yang ada kami jual," ujar Hu Tjiong Hun. 

3 dari 3 halaman 

Kesetiaan Orang Tionghoa
Berbulan-bulan mereka berhubungan layaknya saudara, membuat terciptanya ikatan 
emosional yang kuat. Para anak buah Mayor Rivai pun sudah menganggap para babah 
dan encim itu sebagai orangtua mereka, juga para koko dan cici selalu dianggap 
sebagai saudara kandung.

"Karena itu ketika Mayor Rivai dan pasukannya pamitan akan pulang kembali ke 
Jawa Barat, wah sedihnya bukan kepalang tanggung," ungkap Percoyo, putra dari 
Hu Tjiong Hun. 

Sepeninggal pasukan Mayor Rivai, Muntilan dikuasai tentara Belanda. Orang-orang 
Tionghoa itu sempat diperiksa karena dianggap telah membantu TNI. Selain 
ditanya tentang kondisi pasukan Mayor Rivai, semua foto-foto kenangan para 
keluarga Tionghoa itu dengan pasukan Rivai disita. 

"Ketika terjadi penggerebekan itu, kami juga merasa ngeri karena di rumah kami 
masih ada tertinggal para prajurit Pak Rivai yang sakit. Tapi kami berhasil 
amankan mereka," kenang Ho Ek Jin.

Mayor Rivai sangat terkesan akan kesetiaan orang-orang Tionghoa itu. Dalam buku 
hariannya, dia sempat menulis: "Saudaraku, orang-orang Tionghoa di Muntilan, 
jasa-jasa kalian bagi negara, terutama bagi batalyon kami, akan tetap berada 
dalam hati sanubari kami." 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/12CC6F039B314218B1754A5A39D60BEC%40A10Live.

Reply via email to