Fahri Ungkit 'Harmoko' di Kasus Wadas, Ngabalin: Jangan Tendensius!
Arief Ikhsanudin - detikNews
Sabtu, 12 Feb 2022 06:47 WIB

Foto: Andhika Prasetia/detikcom

Jakarta - Tenaga Ahli Utama KSP, Ali Mochtar Ngabalin merespons pernyataan 
Fahri Hamzah yang menyinggung 'Harmoko' di kasus konflik Desa Wadas Purworejo. 
Menurut Ngabalin, negara punya hak menjelaskan.
Awalnya, Ngabalin menjelaskan informasi kepada masyarakat didapat dari media 
massa dan media sosial. Media massa bisa mempertanggungjawabkan berita yang 
disampaikan.

Baca juga:
Mahfud Md Bicara soal Dilema Polri Saat Amankan Desa Wadas

"Media sosial, siapa yang bisa bertanggung jawab atas informasi bohong, berita 
hoax," kata Ngabalin saat dihubungi, Jumat (11/2/2022).


"Apakah kita pemerintah tidak boleh menjelaskan duduk perkara sesungguhnya? 
Jangan gitu dong," ujar Ngabalin.

Bagi Ngabalin, yang dilakukan oleh pemerintah adalah mengklarifikasi. Ngabalin 
meminta Fahri tidak tendensius.


Baca juga:
Sosok Harmoko yang Dibawa-bawa Fahri Hamzah di Kasus Wadas

"Kami harus lakukan klarifikasi. Kalau tuduhan yang disampaikan saudara Fahri 
Hamzah, jangan tendensius dalam memberikan penilaian yang tidak terlalu benar," 
katanya.

Soal evaluasi, Ngabalin menyebut pemerintah tak menutup pintu. "Kami harus 
klarifikasi duduk perkara, iya. Nanti ada evaluasi, BPN, Polisi, kita tidak 
bisa langsung judge," katanya.

Baca juga:
Fahri Hamzah Ungkit 'Harmoko' di Kasus Wadas, Sindir Istana Selalu Harus Benar

Soal pernyataan yang disampaikan pemerintah, Ngabalin menyebut Presiden Joko 
Widodo (Jokowi) tidak anti-kritik. Saat ini, KSP turun langsung ke Wadas untuk 
mencari informasi.

"Jokowi dari awal tidak anti kritik, setiap orang bisa lakukan kritik evaluasi. 
Sekarang, ada dua tim ditugaskan oleh Pak Moeldoko sebagai Kepala Staf 
Kepresidenan, untuk mendapat informasi yang benar, dan duduk perkara yang 
sesungguhnya," katanya.

Baca juga:
Kapolda Jateng Tarik Pasukan dari Desa Wadas: Pengukuran Sudah Selesai

Fahri Ungkit 'Harmoko' di Kasus Wadas

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah kembali buka suara terkait konflik 
yang terjadi di Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. "Kalau harmoko bilang gak ada 
apa2 ya sudah memang gak ada apa2," cuit Fahri lewat akun Twitternya 
@Fahrihamzah, seperti dilihat, Jumat (11/2).

Cuitan Fahri Hamzah ini membalas pemberitaan detikcom yang berjudul 'YLBHI 
Kritik Narasi Pemerintah; Seolah Tak Ada Apa-apa di Wadas'.

Baca juga:
Warga Wadas Tolak Tambang, PPP: Wajar, Mereka Khawatir Sumber Mata Air

Dia awalnya berbicara terkait tradisi otoriter di mana negara selalu meminta 
dipercaya dan apa pun yang dikatakan pemerintah itu selalu benar. Hal tersebut, 
menurut dia, sempat terjadi di zaman Orde Baru, Soeharto.

"Dalam tradisi otoriter, negara selalu meminta agar mereka dipercaya, apa yang 
dikatakan oleh penguasa itu selalu benar dan kita harus selalu menganggap yang 
dikatakan penguasa itu benar. Nah, itu yang terjadi dulu di zaman Orde Baru," 
kata Fahri Hamzah saat dimintai konfirmasi.

Fahri Hamzah mengakui hal itu terjadi lantaran pemerintah bisa mendikte seluruh 
elemen seperti aparat hingga media. Maka, menurutnya, terkadang apa pun yang 
dikatakan Istana, meski salah, harus dibenarkan oleh jajarannya.

"Memang dalam banyak hal karena pemerintah mampu mendikte seluruh elemen yang 
ada termasuk media dan juga aparat di bawah, sehingga kadang-kadang omongan 
Istana itu salah pun harus dibenarkan di bawah," ucapnya.

Baca juga:
Dedi Mulyadi: Warga Wadas Tolak Tambang Itu Sah, Tandanya Nasionalis

Namun, menurutnya, saat ini sudah berbeda zaman dengan Orde Baru. Dia 
menegaskan pemerintah tidak lagi harus selalu menang dan benar.

"Sekarang sudah beda situasinya, kita hidup di zaman demokrasi, negara tidak 
selalu harus menang, tidak selalu harus benar. Dan pemerintah juga harus jujur 
karena teknologi dan keterbukaan yang ada sekarang tidak memungkinkan lagi 
negara dan pemerintah menyembunyikan apa yang terjadi di tengah masyarakat," 
tegasnya.

"Jadi sebaiknya kritik kepada juru bicara istana perlu didengar karena rakyat 
juga melihat dan mereka semua kejadian yang ada," lanjut dia.

(aik/idn)

Baca artikel detiknews, "Fahri Ungkit 'Harmoko' di Kasus Wadas, Ngabalin: 
Jangan Tendensius!" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-5939002/fahri-ungkit-harmoko-di-kasus-wadas-ngabalin-jangan-tendensius.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AC411B54A94B4D78AB41A40ACA7C3E3A%40A10Live.

Reply via email to