Struktur PBNU Dilarang Nyapres, Muhaimin: Ini Saatnya PKB
Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 12 Feb 2022 22:06 WIB

Foto: PKB

Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf 
memastikan pada Pilpres 2024, tidak lagi diperbolehkan struktur PBNU maju 
sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden.
Hal ini ia sampaikan sejak sebelum dirinya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, 
menggantikan KH Said Aqil Siroj maupun setelah Muktamar Lampung, yang 
memastikan dirinya memegang kendali PBNU lima tahun ke depan.

Ketua Umum PKB Abdul Muhaimin Iskandar pun menilai keputusan tersebut adalah 
hal tepat.


"Alhamdulillah, Muktamar di Lampung kemarin, Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, 
menyatakan dengan tegas bahwa seluruh struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 
dilarang nyapres, dilarang ikut nyawapres, dilarang ikut kompetisi. Mafhum 
mukhalafah-nya (pemahaman terbaliknya) kira-kira: ini saatnya PKB, gantian. 
Kira-kira begitu karena dulu (Pilpres 2019) Rais Aam (KH Ma'ruf Amin maju 
sebagai cawapres), sekarang seharusnya ya Ketua Umum PKB," ujar Muhaimin dalam 
keterangan tertulis, Sabtu (12/2/2022).

Baca juga:
PKB ke Amnesty International: Kok Semua Diarahkan Kesalahan Jokowi?

Hal tersebut Muhaimin sampaikan saat memberikan sambutan dalam Deklarasi 
Dukungan Gerakan Nahdliyin Bersatu di Pondok Pesantren Miftahul Qulub, Polagan, 
Galis, Pamekasan, Madura, Jumat (11/2). Dalam acara ini hadir para kiai, gus, 
dan lora.


Muhaimin mengatakan, NU ibarat hamparan padang sawah yang tanahnya subur dan 
sangat luas, dan kaya dengan berbagai hal. Untuk itu, ia tak ingin NU 
dimanfaatkan oleh pihak lain yang bukan merupakan kader NU.

"Masa NU yang sehebat ini, tanah seluas ini, dibiarkan 'terlantar' dan digali 
dan dimanfaatkan orang lain (bukan kader NU)? Maka, tugas saya adalah pasang 
patok supaya orang lain tidak mengambil dan menikmati tanah subur Nahdlatul 
Ulama, kira-kira begitu," katanya.

Terkait hal ini, Muhaimin pun optimistis nantinya NU akan bulat mendukungnya 
maju sebagai capres 2024. Ia pun menjelaskan kronologi awal hingga dirinya 
memutuskan untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2024.

Baca juga:
Ketum PKB Ikut Terharu Sirkuit Mandalika Disambut Positif Pebalap

Pada Ramadhan 2021, kata Muhaimin, dirinya dipanggil oleh pamannya, KH 
Abdussalam Shohib ke Denanyar, Jombang. Di sana, ia bertemu para kiai muda 
(gawagis) dari berbagai pesantren di Jawa Timur, baik dari pesantren Denanyar, 
Ploso, Lirboyo, Sidogiri, Banyuwangi, Langitan, termasuk putra Rais Aam PBNU KH 
Miftachul Akhyar.

"Semua berkumpul dan tanya kepada saya, apakah siap dan sanggup untuk didukung, 
dicalonkan dan dikuatkan menjadi calon presiden tahun 2024? Saya tanya balik 
kenapa kok saya? Karena dulu 2019, saya sudah berikhtiar, sudah berusaha, juga 
kampanye ternyata yang jadi (cawapres) KH Ma'ruf Amin," urainya.

Muhaimin mengatakan dirinya juga melakukan diskusi panjang dengan mereka. Para 
kiai muda di Jawa Timur pun menyampaikan NU merupakan organisasi besar dengan 
jutaan pengikut, sehingga perlu kader tulen NU yang menjadi presiden, setelah 
sebelumnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden.

"Kalau dulu Gus Dur hanya dua tahun, nanti kita tebus lima tahun," tuturnya.

Baca juga:
Legislator PKB: Fahri Hamzah Stres? Mana Ada DPR Dapil Wadas

Muhaimin pun mengaku bersyukur karena para kiai muda di Jatim selain 
mendukungnya untuk maju sebagai capres 2024. Selain itu, mereka juga cukup 
aktif bergerak untuk meminta restu, doa, dan dukungan kepada para kiai dan 
masyarakat agar Muhaimin terpilih sebagai Presiden 2024.

"Luar biasa ternyata gus-gus semangat bergerak dan kemudian pertemuan di 
Banyuwangi bahkan di Kantor PCNU yang dipimpin langsung Gus Makki (Ketua PCNU 
Banyuwangi) membuat saya percaya diri dan membuat saya kemudian mencoba 
roadshow ke mana-mana, sambutannya luar biasa. Insyaallah akhir Maret nanti 
survei kita tertinggi di Jatim, insyaallah kalau bergerak," pungkasnya.

Sebagai informasi, pada Pilpres 2019, Rais Aam PBNU KH Ma'ruf Amin maju sebagai 
cawapres bersama Joko Widodo, dan terpilih sebagai wakil presiden. Sebelumnya, 
pada Pilpres 2004, Ketua Umum PBNU saat itu, Hasyim Muzadi juga maju sebagai 
cawapres bersama Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, namun kalah 
dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla pada putaran kedua 
pemilihan.

(fhs/ega)

Baca artikel detiknews, "Struktur PBNU Dilarang Nyapres, Muhaimin: Ini Saatnya 
PKB" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-5939907/struktur-pbnu-dilarang-nyapres-muhaimin-ini-saatnya-pkb.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/36C9E7F16581492E92821299C57186CE%40A10Live.

Reply via email to