YLBHI Tak Akan Cabut Foto Sejajarkan Jokowi-Soeharto, Ini Alasannya
Matius Alfons - detikNews
Selasa, 15 Feb 2022 07:51 WIB
M Isnur (dok. screenshot video YouTube Amnesty International Indonesia)

Jakarta - Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menyatakan tak akan 
menghapus unggahan foto Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang disejajarkan dengan 
mantan Presiden RI Soeharto. Ketua YLBHI Muhammad Isnur menyebut unggahan 
dengan narasi 10 kesamaan di dua era tersebut sebagai bentuk kritik dan 
kebebasan berekspresi.
"Tentu apa alasannya buat kami mencabut? Itu kritik dari masyarakat sipil, itu 
kebebasan berekspresi dan dijamin oleh konstitusi dan UUD 1945," kata Isnur 
saat dihubungi, Senin (14/2/2022).

Isnur menyebut unggahan yang dibuat oleh akun Fraksi Rakyat Indonesia itu tidak 
menyerang Presiden Jokowi secara pribadi. Melainkan mengkritik jabatan dan 
pemerintahan Jokowi.


"Itu juga tidak menyerang pribadi, itu mengkritik jabatan, mengkritik 
pemerintahan," ucapnya.

Baca juga:
PD Minta Jokowi Baca Kritik YLBHI: Jangan Jadi Malin Kundang Reformasi

Selain itu, Isnur menyebut unggahan itu berdasarkan temuan, bacaan, dan kritik 
lebih dari 40 koalisi masyarakat yang tergabung dalam Fraksi Rakyat Indonesia. 
Menurutnya, 10 kemiripan itu juga tergambar dari pembangunan yang dilakukan 
Jokowi selama ini.




"Itu merupakan bagian dari temuan bacaan dan kritik dari masyarakat sipil 
kepada pemerintah dalam melihat perkembangan situasi pembangunan seperti di 
Wadas, seperti di Sulteng, dan wilayah lainnya di Seluma, di Nagekeo di NTT," 
ucapnya.

"Di mana 10 itu merupakan kemiripan yang terjadi ketika kami melihat 
pembangunan-pembangunan yang dilakukan pemerintahan Jokowi persis kemiripan 
dengan pemerintahan di orde baru," imbuh Isnur.

Lihat juga video 'YLBHI soal Pelaporan Luhut terhadap Haris-Fatia: Ini Ciri 
Negara Otoriter':



Ngabalin Sindir Otak Kotor

Salah satu yang mengkritik unggahan YLBHI tersebut adalah Tenaga Ahli Utama 
Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin. Dia menyindir pihak yang tak 
memakai hati dalam melakukan penilaian.

"Yang pertama, tentu saja bahwa semua nada kritik itu adalah sesuatu yang 
mendatangkan manfaat untuk mengevaluasi. Tidak saja pada Pak Jokowi, tapi pada 
pemerintahan ini atau mungkin pada pola pengamanan apa yang terjadi karena 
patokannya pada Wadas kemarin kan," ujar Ngabalin kepada wartawan.

Ngabalin lantas mengemukakan dua hal mengenai mereka yang masih mengkritik 
tentang Wadas. Ngabalin menyindir mereka yang tidak paham mengenai duduk 
perkara sebenarnya.

"Ada dua hal yang harus dicermati, boleh jadi memang ini adalah bentuk komentar 
dari orang yang hanya bisa berteriak nyerocos, tidak bisa memberikan manfaat 
apa-apa terhadap apa yang sedang terjadi. Atau boleh jadi yang kedua itu adalah 
mereka yang memang tidak tahu masalahnya. Kan dua hal yang berbeda itu. Kenapa? 
Karena per hari ini, tim KSP itu masih ada di lokasi," ujar Ngabalin.

Baca juga:
Gus Muhaimin soal Jokowi-Soeharto Disandingkan: Jokowi Lebih Canggih
Perihal foto Jokowi disejajarkan dengan Soeharto, Ngabalin mengatakan setiap 
pemimpin mempunyai masa sendiri. Ngabalin juga berbicara mengenai keunggulan 
masa pemerintahan Jokowi.

"Pertanyaannya sekarang apakah masa pemerintahan Soeharto itu jelek, atau 
apakah semua yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo tidak punya nilai, tidak 
punya value? Sejak kapan kita tahu yang namanya MRT? Nanti baru ada pada zaman 
Presiden Joko Widodo. Sejak kapan? Sejak presiden siapa yang membagi-bagi itu 
akta tanah kepada masyarakat secara cuma-cuma. Pada masa pemerintahan siapa, 
reformasi agraria itu berlangsung. Pada periode siapa sih, MotoGP itu yang 
menjadi kebanggaan dunia, itu ada di Indonesia," ujar Ngabalin.

Ngabalin lantas melontarkan sindiran keras. Dia menyentil pihak-pihak yang 
dianggap tak memakai hati dalam melakukan penilaian.

"Dia pakai hati nggak ya, pakai hati atau karena memang otaknya kotor karena 
kebencian, atau karena syirik atau karena apa," sambung Ngabalin.


Berikut 10 poin kesamaan pemerintahan Jokowi dan Orba versi Fraksi Rakyat 
Indonesia:

1. Mengutamakan pembangunan fisik dan serba 'dari atas' ke 'bawah' untuk kejar 
target politik minus demokrasi.
2. Pembangunan bernuansa koruptif dan nepotis
3. Tidak ada perencanaan risiko untuk masyarakat yang terdampak pembangunan 
sehingga menciptakan kemiskinan (pemiskinan) struktural
4. Pembangunan tidak berizin atau dengan izin yang bermasalah
5. Legal (UU dan Kebijakan) namun tanpa legitimasi suara rakyat.
6. Melayani kehendak kekuasaan dan elite oligarki dengan cara perampasan & 
perusakan lingkungan.
7. Menstigma rakyat yang melawan perampasan hak dengan melawan pembangunan, 
komunis, radikal, anarko
8. Menangkap, mengkriminalisasi bahkan tak segan menembaki rakyat yang 
mempertahankan hak hingga terbunuh
9. Pendamping & warga yang bersolidaritas dihalangi bahkan ditangkap
10. Mengontrol narasi, informasi termasuk membelokkan fakta

(maa/jbr)

Baca artikel detiknews, "YLBHI Tak Akan Cabut Foto Sejajarkan Jokowi-Soeharto, 
Ini Alasannya" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-5942645/ylbhi-tak-akan-cabut-foto-sejajarkan-jokowi-soeharto-ini-alasannya.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D76AAC080BBE4990A34E8AC9A2B59A87%40A10Live.

Reply via email to