Internal Golkar Tolak Airlangga Nyapres?R53 - Tuesday, February 15, 2022 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/internal-golkar-tolak-airlangga-nyapres
 
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (Foto: Okezone Nasional)
6 min read

Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie menegaskan siap pasang 
badan untuk Airlangga Hartarto agar menjadi capres Golkar di Pilpres 2024. 
Apakah itu sinyal ada internal Golkar yang tidak ingin Airlangga maju sebagai 
capres? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ada gestur politik menarik yang terlihat dari berbagai partai menjelang Pilpres 
2024. Setelah sebelumnya dua gelaran pilpres hanya diisi oleh dua poros, di 
2024 nanti berbagai partai sepertinya ingin mendorong tiga poros. Wakil Ketua 
Umum PPP Arsul Sani, misalnya, berharap terbentuk tiga poros agar muncul tiga 
pasangan capres dan cawapres.

“Sekarang misalnya Gerindra dan PDIP terus membina, membangun komunikasi yang 
intensif. Ya yang lain-lain menunggu saja. Tetapi kalau bagi PPP, sebisa 
mungkin koalisi itu nanti tidak terbagi hanya dua, tetapi lebih dari dua,” 
ungkapnya pada 30 November 2021.

Dorongan serupa juga diungkapkan oleh Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf 
Al-Jufri pada 31 Desember 2021. Menurutnya, tiga poros adalah cara paling 
efektif untuk menghentikan pembelahan politik ekstrem seperti yang terlihat di 
Pilpres 2019.

Bak gayung bersambut, sejak awal 2021 Ketua Umum Partai Golkar Airlangga 
Hartarto terlihat melakukan safari politik ke berbagai partai seperti Nasdem, 
PPP, dan Gerindra. Saat itu, berbagai pihak melihatnya sebagai indikasi akan 
terbentuk tiga poros di 2024. 

Pada 1 Juni 2021, Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman 
Salam juga menyebut ada tiga poros yang berpeluang maju di 2024, yakni PDIP 
dengan Gerindra, PKS dengan Demokrat, dan Golkar dengan Nasdem.

Jauh sebelumnya, indikasi akan terbentuk tiga poros sebenarnya sudah tercium 
sejak akhir 2019. Sebagaimana ditegaskan oleh berbagai petinggi partai beringin 
akhir-akhir ini, Munas Golkar yang digelar pada Desember 2019 telah menegaskan 
bahwa Airlangga adalah capres Golkar di 2024. Dengan demikian, mudah 
menyimpulkan bahwa safari Airlangga sejak awal 2021, yang mungkin juga telah 
lebih awal, adalah bentuk penjajakan koalisi untuk mendorongnya maju. 

Namun, seperti yang diwanti-wanti PinterPolitik dalam artikel berjudul Safari 
Airlangga Sinyal Tiga Poros di 2024? pada 5 Maret 2021, manuver Airlangga yang 
mudah tercium ini rentan untuk disabotase.


Sabotase Internal?
Sedikit mengulang, safari politik Airlangga sejak Maret 2021 merupakan 
pengejawantahan atas strategi menyerang Sun Tzu. Dalam buku The Art of War, Sun 
Tzu menulis, “Orang yang mau mengalahkan musuh harus mengambil peranan 
inisiatif dan aktif menyerang (offensive) terlebih dahulu.” 

Pasukan yang tiba lebih dahulu di medan perang memang memiliki keunggulan dalam 
hal semangat tempur yang tinggi. Ini terlihat dari semangat safari dan tebaran 
baliho Airlangga. Namun, dalam nasihat selanjutnya, Sun Tzu menyebut semangat 
itu dapat disiasati dan berpotensi menjadi celah untuk mendapatkan serangan.

Alasannya sederhana. Jika lebih dahulu berada di medan perang dan tidak 
menyiapkan dengan matang persiapan pertempuran, seperti jebakan dan siasat 
penyerangan, musuh akan melakukan spionase dan sabotase untuk melemahkan daya 
tempur.

Saat ini, nasihat pada 5 Maret 2021 itu tampaknya terbukti. Pada Desember 2021, 
Airlangga diserang isu perselingkuhan yang sampai menciptakan gejolak di 
internal Golkar. Kader Partai Golkar di Papua, Paskalis Kossay, bahkan sampai 
meminta Airlangga meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum alias mundur.  

"Keberadaan partai harus diselamatkan, dijauhkan dari dari lingkaran skandal 
selingkuh Ketua Umum. Cara menghindarinya adalah AH (Airlangga Hartarto) harus 
meletakan jabatan Ketua Umum. Dilakukan secara gentlemen demi menyelamatkan 
kepentingan partai," ungkapnya pada 31 Desember 2021.

Selepas gempuran isu tersebut, nama Airlangga tidak lagi muncul seintens 
sebelumnya di pemberitaan media. Barulah pada Februari 2022, namanya kembali 
deras muncul dan mempertegas dukungan Golkar terhadap pencalonan dirinya.

Yang paling menarik adalah, Ketua Dewan Pembina DPP Partai Golkar Aburizal 
Bakrie (ARB) sampai keluar memberi penegasan bahwa dirinya siap pasang badan 
untuk Airlangga. "Saya akan pasang badan, jika ada internal yang mengganggu 
pencalonan Airlangga sebagai capres Golkar,” ungkapnya pada 13 Februari.

Penggunaan diksi “internal” dari ARB tampaknya memberi sinyal bahwa terdapat 
internal Golkar yang tidak setuju dengan pencalonan Airlangga dan berusaha 
melakukan sabotase. Ini juga terlihat dipertegas melalui pernyataan ARB 
selanjutnya, "Apabila ada isu-isu yang coba-coba dikembangkan, baik itu di 
kalangan internal dan eksternal, secara sembunyi-sembunyi maupun 
terang-terangan, saya katakan orang itu akan berhadapan dengan saya. Saya yakin 
saya masih berpengaruh."

Penggunaan diksi “ada isu-isu yang coba-coba dikembangkan” tampaknya merujuk 
pada isu perselingkuhan pada Desember 2021. Sekalipun bukan itu, mungkin 
terdapat isu lain, ataupun potensi isu di masa depan yang akan digunakan untuk 
menjatuhkan Airlangga. 

Penciuman serupa juga diungkapkan oleh pengamat politik dari Universitas 
Al-Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin. Menurutnya, tidak menutup kemungkinan 
terdapat internal Golkar yang tidak setuju dengan pencalonan Airlangga. 
“Alasannya bisa beragam, namun yang paling mungkin adalah ada yang tak suka 
dengan Airlangga,” ungkapnya. 

Selain itu, dengan elektabilitas yang buncit, kelompok yang tidak ingin 
Airlangga maju sekiranya memiliki landasan kuat. Sederhananya, mereka tidak 
ingin berperang di pertarungan yang kemungkinan menangnya kecil. Seperti yang 
diwanti-wanti Sun Tzu, jangan lakukan perang jika tidak yakin atas kemenangan.


  
Menuju 3 Poros?
Setelah mendapatkan sabotase, yang kemungkinan dari internal Golkar sendiri, 
tampaknya sekarang Airlangga telah maju kembali. Dengan munculnya ARB memberi 
dukungan, itu adalah pesan yang bermakna dua hal. Pertama, Airlangga berhasil 
menghimpun dukungan sosok berpengaruh. Kedua, Airlangga telah berhasil meredam 
gejolak internal.  

Jika tren dukungan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin, tiga poros seperti 
yang disebutkan Arman Salam akan terwujud. Namun, jika membaca gestur-gestur 
terkini, komposisi yang dibayangkan Arman Salam mungkin sedikit berbeda.

Terkait PDIP-Gerindra, ini adalah poros yang paling mungkin saat ini. Prabowo 
Subianto sendiri telah melakukan berbagai gestur pendekatan, seperti membangun 
patung Presiden Sukarno di Kementerian Pertahanan (Kemenhan). 

Sementara dua poros sisanya terlihat masih mengambang atau sangat cair. Golkar 
sendiri bahkan menunjukkan niatan untuk bergabung dengan Koalisi Poros Partai 
Islam. Niatan itu memberikan pesan bahwa Golkar sangat terbuka terhadap partai 
koalisi. 

Dengan kata lain, pendekatan terhadap Nasdem tampaknya menemui kebuntuan sejauh 
ini. Kesimpulan ini semakin dipertegas oleh pernyataan Sekretaris Jenderal DPP 
Partai Golkar Lodewijk F. Paulus yang menyebut Golkar akan mendekati partai 
yang suaranya tidak besar.

Strategi Golkar tersebut adalah apa yang disebut oleh ekonom Amerika Serikat 
(AS) Neil W. Chamberlain sebagai bargaining power (kekuatan daya tawar). Dengan 
fakta Golkar mendapatkan 17.229.789 suara (terbesar ketiga di Pemilu 2019), 
serta memiliki kekuatan kapital yang mumpuni, itu merupakan bargaining power 
untuk membuat partai tengah dan/atau partai kecil menerima syarat Airlangga 
sebagai capres. 

Nasdem yang mendapatkan 12.661.792 suara (terbesar kelima di Pemilu 2019), 
memiliki kekuatan kapital, dan memiliki track record mendukung sosok potensial, 
sekiranya sulit takluk terhadap bargaining power Golkar. Seperti yang 
disebutkan Neil W. Chamberlain, bargaining power bisa dihitung karena dapat 
dikonversi secara matematis.

Sebagai penutup, dapat dikatakan narasi tiga poros seayun dengan ambisi 
Airlangga untuk maju di Pilpres 2024. Poros ketiga ini juga tampaknya sebagai 
strategi untuk mencegah PDIP sebagai pemenang untuk ketiga kalinya. 

Pasalnya, sedari awal berbagai elite PDIP seperti Hasto Kristiyanto 
menginginkan agar Pilpres 2024 diikuti oleh dua poros. Sedikit berspekulasi, 
PDIP tampaknya bertolak dari Pilpres 2014 dan 2019, di mana mereka menjadi 
pemenang ketika hanya ada dua poros yang mengikuti kompetisi. 

Well, kita lihat saja kelanjutan narasi tiga poros ini. Hanya waktu yang dapat 
menjawab, apakah Airlangga menjadi capres nantinya. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C62DA063069547A387F505AEC10E15F9%40A10Live.

Reply via email to