Cak Imin dan Akhir Jaya PKB?S13 - Wednesday, February 16, 2022 10:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/cak-imin-dan-akhir-jaya-pkb
 
Muhaimin Iskandar (Foto: Republika)
7 min read

Pasca pergantian kepemimpinan di pucuk tertinggi NU, beberapa pengurus cabang 
organisasi tersebut dipanggil pimpinan pusat karena disebut mendukung 
pencalonan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai calon presiden untuk 
Pilpres 2024. NU juga mulai terlihat tegas menyebutkan tidak ingin ada capres 
dan cawapres dari PBNU. Hal inilah yang membuat banyak pihak berspekulasi 
terkait kembalinya garis NU yang sejak awal didirikan telah berupaya untuk 
menjaga jarak terhadap politik. Jika hal itu yang terjadi, maka efeknya akan 
sangat terasa pada Cak Imin dan PKB.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “In politics, nothing happens by accident. If it happens, you can bet it was 
planned that way”.

  ::Franklin D. Roosevelt (1882-1945), Presiden ke-32 Amerika Serikat::

Pada tahun 1984, sebuah tonggak besar terjadi pada Nahdlatul Ulama alias NU. 
Setelah larut dalam politik dan kekuasaan sejak kemerdekaan Indonesia, para 
tokoh muda NU seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mendorong agar ormas 
tersebut kembali menepi dari urusan-urusan politik. NU tidak ingin terkait 
dengan partai politik manapun dan tidak melakukan kegiatan politik praktis.

Ini bisa terjadi karena pasca fusi partai politik yang dilakukan oleh 
pemerintah Orde Baru di tahun 1973, praktis garis politik NU terbelenggu dalam 
Partai Persatuan Pembangunan atau PPP yang menjadi representasi suara politik 
Islam.

Inilah yang kemudian membuat Muktamar NU di tahun 1984 menandai siklus baru 
dari ormas tersebut yang ingin kembali ke Khittah 1926, yakni semangat untuk 
melepaskan diri dari ikatan politik praktis seperti yang digariskan ketika NU 
didirikan pada tahun 1926.

Konteks Khittah 1926 ini kemudian mengalami perubahan ketika Reformasi 1998 
bergulir. Banyak warga NU yang ingin agar ormas tersebut juga punya partai 
politik. Maka, lahirlah Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB yang menjadi 
“partainya NU”.

Namun, dalam salah satu catatannya, Greg Fealy dari Australian National 
University menyebutkan bahwa meskipun PKB menjadi tangan politik NU, para 
pendiri partai tersebut dan para kiai utama NU secara hati-hati memisahkan NU 
dari jalan kepartaian PKB. Konteks ini menarik, mengingat salah satu pendiri 
PKB adalah Gus Dur sendiri yang saat itu menjabat sebagai yang Ketua Umum 
Tanfidziyah (Dewan Pelaksana) NU. Gus Dur kemudian menjadi tokoh NU yang 
diusung PKB di Pilpres 1999.

Seiring perjalanan waktu, NU kemudian makin identik dengan PKB. Ini karena 
banyak tokoh-tokoh di PBNU yang punya pertalian dengan PKB. Fealy menyebut NU 
“terperangkap” PKB. Konteks ini terasa sangat kuat di era kekuasaan Muhaimin 
Iskandar alias Cak Imin sebagai Ketua Umum PKB.

Namun, dengan munculnya KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus 
Besar NU (PBNU), banyak yang menilai NU akan kembali ke siklus menarik diri 
dari politik seperti di awal ketokohan Gus Dur di NU pada tahun 1984. Apalagi, 
Yahya dianggap memiliki garis pemikiran yang mirip Gus Dur.

 
Pertanyaannya adalah akankah ini menjadi pukulan besar bagi PKB? Benarkah 
ambisi Cak Imin yang ingin maju di Pilpres 2024 sangat mungkin kandas karena 
berputarnya haluan NU?



Akhir Kisah NU Yang “Terjebak”
Bicara soal relasi NU dan PKB memang berhubungan dengan menguatnya endorsement 
NU terhadap PKB serta pertaliannya dengan konteks politik nasional di era Cak 
Imin menjabat sebagai Ketum PKB.

Yang kita bicarakan ini adalah NU sebagai organisasi kemasyarakatan dengan 
anggota resmi antara 40-50 juta orang atau dua kali lipat jumlah pengikut 
Muhammadiyah. Bahkan, sekitar 100 juta orang Indonesia menyatakan terafiliasi 
secara kultural dengan NU.

Greg Fealy menyoroti tentang peran NU ini yang disebutnya makin terlihat 
partisan dan keluar dari cita-cita para pendirinya, utamanya di era sebelum 
kepemimpinan Yahya Cholil Staquf. Ia menyoroti tantangan-tantangan terbesar 
yang kini dihadapi oleh NU sebagai ormas sosial-religius untuk membawa 
cita-cita gerakan masyarakat sipil berbasis agama.

Ini sebetulnya terlihat jelas jelang Pemilu 2014. Menurut Fealy, ancaman tidak 
lolos ke parlemen membuat Cak Imin memutar otak bagaimana caranya mendongkrak 
endorsement NU terhadap PKB agar menaikkan perolehan suara PKB.

Salah satu keputusan yang “brilian” dari Cak Imin misalnya ketika ia merekrut 
pengusaha Kristen-Tionghoa yang jadi bos maskapai Lion Air, Rusdi Kirana, 
menjadi Wakil Ketua Umum PKB beberapa bulan sebelum Pemilu Legislatif 2014 
lalu. Keputusan ini dikritik oleh para pendukung Gus Dur.

Namun, manuver ini berdampak dalam hubungan endorsement NU ke PKB karena partai 
tersebut akhirnya “punya anggaran” untuk membantu program-program sosial NU dan 
membantu entrepreneurship kader-kader muda NU. Akibatnya, Cak Imin mampu 
menarik hati para ulama.

Fealy juga menyebut PKB mewajibkan anggota-anggota DPR dari partainya 
memberikan “bantuan bulanan” untuk program-program sosial NU, selain juga 
memberikan jaminan bahwa jika partai tersebut bubar, maka seluruh asetnya akan 
diberikan ke NU.

Hasilnya, KH Said Aqil Siroj yang kala itu menjabat sebagai Ketum PBNU sebagai 
salah satu pemimpin tertinggi NU memberikan endorsement terbuka kepada PKB, 
juga termasuk para Kiai di daerah. PKB meraih 9 persen kursi parlemen dengan 
total 11 juta suara pada Pemilu 2014.

Hubungan dekat itu juga makin kuat setelah KH Ma’ruf Amin terpilih menjadi Rais 
Aam atau Ketua Dewan Penasehat NU pada 2015 – mengingat kala itu Ma’ruf 
menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan juga menjabat sebagai 
Ketua Dewan Syuro pertama PKB. Kini, berkat relasi politik itu, Ma’ruf Amin 
sukses menjadi Wakil Presiden.

Fealy juga menyinggung tokoh-tokoh di PBNU di tahun-tahun itu yang punya relasi 
dengan tokoh-tokoh di PKB. Dengan demikian, makin jelaslah betapa pentingnya 
pertautan politik PKB dengan NU berdampak pada kekuatan partai hijau itu.

Dengan demikian, adanya upaya untuk membatasi gerak dukungan pada Cak Imin 
secara personal untuk menjadi capres di 2024 memang menimbulkan spekulasi soal 
relasi politik NU dengan PKB. Pasalnya, jika memang NU berupaya untuk menarik 
diri dari relasi yang terlalu kuat terhadap Cak Imin dan PKB, bisa saja ini 
akan menjadi jalan awal ujung akhir ambisi politik Cak Imin. Benarkah demikian?

Jalan Akhir Cak Imin
Rasionalisasi terkait hubungan NU dengan PKB memang tidak lepas dari 
keterpilihan Yahya Cholil Staquf sebagai Ketum PBNU. Gus Yahya – demikian ia 
disapa – pernah menjabat sebagai juru bicara Gus Dur ketika nama terakhir 
menjabat sebagai Presiden. Tidak heran banyak yang menyebutnya sebagai simbol 
kembalinya trah Gus Dur ke posisi penting di NU.

Konteks relasi dengan Gus Dur bukan hanya karena ia pernah jadi jubir Gus Dur 
saja, tetapi juga dari garis pemikiran. Salah satu yang cukup terlihat adalah 
ketika ia berkunjung ke Israel dan bertemu dengan Perdana Menteri Israel 
Benjamin Netanyahu di tahun 2018 lalu. Kita tahu bahwa Gus Dur adalah sosok 
yang sangat positif dalam relasi dengan Israel dan bahkan menarasikan pembukaan 
hubungan diplomatis dengan Israel.

Jika benar memang warisan politik Gus Dur juga menjadi jalan politik Gus Yahya, 
maka konteksnya akan punya efek pada kekuasaan Cak Imin sendiri. Pasalnya, 
bukan rahasia lagi bahwa Cak Imin pernah terlibat sikut-sikutan dengan keluarga 
Gus Dur terkait kepemimpinan di PKB.

Kemudian, jika Gus Yahya membatasi endorsement NU politik untuk Cak Imin – dan 
kemudian pada PKB – maka Cak Imin tak akan lagi bisa “menjual” nama NU di 
setiap manuver politiknya. Kita tentu ingat di tahun 2018 lalu ketika Cak Imin 
melontarkan ancaman dengan membawa nama NU jika Presiden Jokowi tidak memilih 
cawapres yang bukan dari PKB.

Ini sesuai dengan tulisan John J. Coleman yang berjudul Party Organizational 
Strength and Public Support for Parties. Ia menyebutkan bahwa konteks basis 
identitas yang mengikat akan menjadi salah satu alasan partai bisa 
mempertahankan konstituen. Jika kehilangan relasi ini, maka partai bisa saja 
akan kesulitan untuk mengarungi gelaran politik elektoral.

Dengan demikian, boleh jadi perubahan arah kepemimpinan di NU kali ini akan 
punya dampak yang sangat besar bagi karier politik Cak Imin. Publik sudah 
menyaksikan bagaimana pengurus cabang NU yang dipanggil karena dukungan politik 
mereka pada pencapresan Cak Imin. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7D9F17E6F9EC42CF84FE596F97A64C26%40A10Live.

Reply via email to