Jadi Pahlawan, Jokowi Revisi JHT?R53 - Thursday, February 17, 2022 23:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/jadi-pahlawan-jokowi-revisi-jht
 
Presiden Joko Widodo (Foto: Biro Pers Setpres)
6 min read

Seminggu terakhir ini publik dihebohkan dengan peraturan baru Jaminan Hari Tua 
(JHT) karena baru bisa dicairkan ketika berusia 56 tahun. Menurut Direktur 
Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi Wibowo, dengan derasnya penolakan publik, 
Presiden Jokowi akan tampil seperti pahlawan dengan merevisi atau mencabut 
aturan yang dikeluarkan Menaker Ida Fauziah tersebut. Mungkinkah prediksi itu 
terjadi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

“Buku pedoman para diktator,” begitu julukan Michael H. Hart terhadap buku 
Niccolò Machiavelli yang termahsyur, Il Principe. Diterbitkan sekitar tahun 
1532, banyak yang antipati terhadap Il Principe karena disebut memandang lumrah 
kebohongan, kelicikan, hingga pembunuhan demi merebut dan menjaga kekuasaan 
politik.

Bukan tanpa alasan memang, dalam salah satu nasihat Machiavelli yang terkenal, 
disebutkan, “Manusia akan membela orang yang mereka takuti, dibanding yang 
mereka cintai. Rasa takut tidak akan pernah gagal.” Dengan mudah ditafsirkan 
bahwa Machiavelli ingin seorang pemimpin ditakuti oleh rakyatnya. Ini adalah 
daya pengikat yang luar biasa. 

Namun, agaknya banyak yang kurang utuh membaca dan menafsirkan Il Principe. 
Meskipun benar disarankan berbagai tindakan kejahatan demi mempertahankan 
kekuasaan, dan bahkan mempromosikan pentingnya seorang penguasa untuk ditakuti, 
Machiavelli selalu mewanti-wanti agar seorang penguasa tidak boleh dibenci oleh 
rakyatnya.

Yang menarik adalah, Machiavelli menyebut ditakuti dengan dibenci tidaklah 
sama, bahkan cinta disebut dapat berjalan bersamaan dengan ketakutan. Kasus ini 
dicontohkan dalam kepemimpinan Hannibal, di mana ia sangat dihormati dan 
dipatuhi oleh pasukan besarnya, bukan karena kebaikan dan kemurahan hati, 
melainkan kekejamannya yang melampaui kemanusiaan.

Apa yang harus dihindari oleh penguasa, bukanlah ditakuti rakyatnya, melainkan 
dibenci dan dipandang hina. Menurut Machiavelli, penguasa akan dibenci apabila 
tamak, merampas properti, dan pasangan bawahannya. Sementara penguasa akan 
dipandang hina apabila tidak memiliki pendirian, sembrono, lemah, penakut, dan 
tidak tegas. 

Dan yang terpenting dari itu semua adalah, seorang penguasa harus memastikan 
bahwa rakyat puas terhadap pemerintahannya. Menurut Machiavelli, rasa kepuasan 
tersebut adalah jaminan dari rencana pihak-pihak yang ingin mengkudeta 
penguasa. Pemerintahan akan tetap berhasil dipertahankan selama rakyat 
mendukung dan bersama sang penguasa. 

Dalam literatur politik modern, penekanan-penekanan Machiavelli jelas terasa, 
meskipun dihadirkan dalam diksi yang berbeda. Populisme, misalnya, ini 
merupakan pendekatan politik untuk menarik simpati masyarakat dengan 
memposisikan diri sebagai perpanjangan tangan rakyat kecil dan melawan kaum 
elite yang selama ini mengabaikan mereka.

Apabila dibaca rinci, Il Principe sebenarnya memberi penekanan pada populisme. 
Berulang kali disebutkan bahwa seorang penguasa harus lebih mementingkan 
rakyatnya dari para bangsawan untuk menjaga kepuasan masyarakat. 

Jokowi dan Populisme


Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah salah satu sosok yang erat dikaitkan 
dengan populisme. Ruth Pollard dalam tulisannya New Culture Wars Worsen 
Political Slide in Indonesia, bahkan menyebut Presiden Jokowi sebagai salah 
satu pemimpin dunia populis yang bombastis.

Menurut Marcus Mietzner dalam bukunya Reinventing Asian Populism: Jokowi's 
Rise, Democracy, and Political Contestation in Indonesia, sejak Pilpres 2014 
telah terjadi pertarungan antara kandidat populis.

Di satu sisi Prabowo Subianto mengusung populisme klasik dengan retorika 
anti-asing, kecaman terhadap status quo, membela orang miskin, dan rencana 
reformasi neo-otoriter. Sementara di sisi lain, Jokowi membawa bentuk baru 
populisme teknokratis yang inklusif, non-konfrontatif, serta berfokus pada 
peningkatan kualitas pemberian pelayanan publik. 

Menurut Mietzner, kemenangan Jokowi menunjukkan bahwa bentuk populisme baru 
yang sekarang lebih diterima. Sejak kemenangannya, Presiden Jokowi disebut 
kerap menelurkan kebijakan-kebijakan populis dan berusaha seayun dengan 
persepsi masyarakat. 

Tampaknya bertolak dari poin populisme, Direktur Eksekutif KedaiKOPI Kunto Adi 
Wibowo memberikan pandangan menarik terkait Peraturan Menteri Ketenagakerjaan 
(Permenaker) Nomor 2 Tahun 2022 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pembayaran 
Manfaat JHT (Jaminan Hari Tua) yang saat ini tengah menuai polemik publik. 
Seperti yang diketahui, Menaker Ida Fauziah tengah disorot tajam atas hal ini.

Menurut Kunto, polemik aturan JHT yang mensyaratkan pencairan pada usia 56 
tahun ini dapat mendongkrak kepercayaan publik terhadap Presiden Jokowi. 
Simpulan ini ditarik dengan melihat fenomena pada 2015 lalu, ketika Menaker 
Hanif Dhakiri menetapkan ketentuan bahwa JHT baru bisa cair jika peserta telah 
terdaftar selama 10 tahun. 

Sama seperti saat ini, ketentuan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 46 Tahun 
2015 tersebut juga mendapat protes keras masyarakat. Tidak berselang lama, 
Presiden Jokowi kemudian meminta Menaker Hanif Dhakiri untuk merevisi aturan 
itu.

Menurut Kunto, bukan tidak mungkin Presiden Jokowi akan mengulang langkah itu 
jika penolakan publik terus mengalami eskalasi. "Kalau publik enggak ribut, ya 
kebijakannya terus. Kalau publik ribut, kritik, Pak Jokowi tampil sebagai hero 
(pahlawan). Menurut saya, itu salah satu strategi yang luar biasa dari Pak 
Jokowi," ungkapnya pada 14 Februari.

Kembali mengutip Machiavelli, sebagai penguasa yang bijaksana, tentunya 
Presiden Jokowi tidak ingin membiarkan ketidakpuasan meluas di tengah 
masyarakat. Apalagi, dengan jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan sebanyak 51,75 
juta jiwa, isu JHT jelas merupakan kepentingan besar.  

Melihat Pola

Selain aspek populisme, ada satu faktor fundamental yang membuat prediksi Kunto 
Adi Wibowo dapat terjadi, yakni cara kerja otak manusia. Mark P. Mattson dalam 
artikelnya Superior pattern processing is the essence of the evolved human 
brain, menjelaskan bahwa fitur unik yang paling membedakan otak manusia dengan 
spesies lainnya adalah kemampuan menangkap dan membuat pola. Ini disebut 
superior pattern processing (SPP).

SPP merupakan fitur unik yang membuat manusia memiliki kecerdasan, bahasa, 
imajinasi, penemuan, dan kepercayaan pada entitas imajiner seperti hantu dan 
dewa. Selama evolusi, kemampuan pemrosesan pola ini menjadi semakin canggih 
seiring dengan perluasan korteks serebral, terutama korteks prefrontal dan 
bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan gambar. 

Menurut Mattson, terbentuknya pola diperkuat oleh pengalaman emosional dan 
indoktrinasi. Disebutkan, SPP menjadi acuan hingga memberi intervensi dalam 
pengambilan keputusan manusia.

Mengacu pada SPP, bukan tidak mungkin pola seperti yang disebutkan Kunto Adi 
Wibowo dapat terulang. Terlebih lagi, pada 2015 lalu telah terbukti bahwa pola 
tersebut memberikan persepsi positif terhadap Presiden Jokowi. Seperti 
penjelasan Mattson, pengalaman emosional seperti itu akan memperkuat pola.

Namun, ada satu poin penting yang tampaknya menjaga ganjalan, yakni ini adalah 
periode kedua atau akhir pemerintahan Jokowi. Berbeda dengan periode pertama, 
di mana menjaga persepsi sangat dibutuhkan sebagai modal maju di periode kedua, 
saat ini Presiden Jokowi justru disebut semakin kurang populis.

Ini misalnya dilihat dari berbagai kebijakan berani yang diambil sejak awal 
kemenangannya di periode kedua. Yang paling terkenal adalah revisi UU KPK, 
Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja, dan pemindahan ibu kota negara (IKN). 

Donald Greenlees dalam tulisannya Jokowi on track for a second term, but can he 
deliver? pada 16 April 2019 telah jauh-jauh hari mengajukan pertanyaan menarik. 

Menurutnya, Presiden Indonesia sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah 
menyia-nyiakan masa jabatan keduanya karena lebih sibuk mempertahankan 
popularitas publiknya daripada mengambil keputusan sulit untuk mengamankan 
kualitas demokrasi, kohesi sosial, dan kemajuan ekonomi. 

Tanya Greenlees, mampukah Presiden Jokowi menghindari jebakan itu? Apakah 
mantan Wali Kota Solo ini akan lebih memilih menjaga popularitas atau lebih 
memilih menjadi kurang populer dengan mengambil keputusan-keputusan sulit?

Well, tentu hanya waktu yang dapat menjawab apakah Presiden Jokowi merevisi 
aturan JHT seperti prediksi Kunto Adi Wibowo. Kita lihat saja bagaimana 
kelanjutan peraturan yang telah menjadi bola panas ini. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/58C8F2AA106C40EF8FABA09A9CBEEE81%40A10Live.

Reply via email to