Sin Po: Koran Kiri Nasionalis Tionghoa
 
Posted byDewi Kharisma MichelliaFebruari 14, 2019
https://jurnalruang.com/baca/buku/sin-po-koran-kiri-nasionalis-tionghoa/

Pers Indonesia-Tionghoa lahir lewat surat kabar Li Po pada 1901 di Sukabumi. 
Surat kabar ini terbit mingguan dan banyak mengabarkan perihal kegiatan sekolah 
Tionghoa, Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).

Sebelum Perang Dunia II, selain Li Po yang berorientasi pada dunia pendidikan, 
terbit pula surat kabar yang menaungi kebutuhan kalangan Tionghoa dalam urusan 
niaga. Ketika itu, kebanyakan orang Tionghoa di Jawa menjadi pedagang perantara 
dan eceran bermodal kecil sehingga terbit Kabar Perniagaan.

Pemegang surat kabar Perniagaan ini adalah para opsir Tionghoa yang 
berpandangan kolot. Kebanyakan dari mereka tidak bersimpati terhadap ajaran Sun 
Yat Sen, penggerak nasionalisme dan revolusi Tiongkok, dan berselisih dengan 
angkatan muda yang revolusioner.

Perniagaan bahkan tidak menyokong pergerakan nasional Indonesia sehingga kerap 
dicap sebagai surat kabar yang pro-Belanda. Pada 1917, Perniagaan mendukung 
rencana partisipasi tokoh-tokoh Tionghoa menjadi anggota parlemen Belanda dalam 
Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda) dan Indie Weerbaar (barisan pertahanan 
Hindia) yang mewajibkan warga Tionghoa mengikuti milisi tentara kolonial 
Belanda. 

Orientasi politik Perniagaan ini banyak mendapat kritik dari Sin Po, yang baru 
berdiri pada 1 Oktober 1910, menjelang Revolusi Xin Hai 1911, revolusi yang 
dipimpin Sun Yat Sen dan banyak memengaruhi pemikiran para Tionghoa perantau 
sekalipun.

Surat Kabarnya Kelompok Nasionalis Tionghoa
Sin Po (makna: Surat Kabar Baru) hadir dengan orientasi pada nasionalisme 
Tiongkok, di bawah pimpinan Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie. Lauw Giok Lan pernah 
bekerja untuk surat kabar Perniagaan dan tanpa persetujuan atasannya, ia 
menerbitkan Sin Po.

Surat kabar ini lantas menjadi saingan terbesar bagi surat kabar Perniagaan. 
Sin Po mendukung gagasan Revolusi Xin Hai sekaligus anti-imperialisme, dan 
mengaitkannya dengan upaya membantu perjuangan Indonesia merdeka.

Dua tahun setelah berdiri, Sin Po mulai terbit harian dengan pemimpin redaksi 
J. R. Razoux Kohr, sementara Lauw Giok Lan berperan sebagai asisten.

Dalam empat tahun pertama, Sin Po lantas mengatur terbitan dengan adanya rubrik 
tajuk rencana, halaman Hindia Nederland, berita luar negeri, ruangan pajak, 
ulasan berita, pojok “Djamblang Kotjok” dan rubrik komik “Put On”.

Setelah meningkatkan modal, pada 12 Februari 1921, Sin Po menerbitkan edisi 
bahasa Tionghoa, Sin Po Chineesche Editie. Edisi bahasa Melayu diperuntukkan 
bagi golongan peranakan dan edisi Tionghoa untuk golongan totok. Sejak 1922, 
Sin Po juga menerbitkan beberapa harian tambahan: Bin Seng, versi lebih murah 
dari harian Sin Po (1922-1923), Sin Po Oost Java Editie, edisi Jawa Timur yang 
kelak berubah menjadi Sin Tit Po (Juli 1922), Weekblad Sin Po atau Sin Po 
Wekelijksche Editie, Sin Po edisi mingguan (April 1923), dan majalah triwulan 
berbahasa Belanda De Chineesche Revue (Januari 1927).

Sin Po terbit selama 55 tahun (1910-1965). Selain dua periode pemimpin redaksi, 
Lauw Giok Lan dan Kwee Kek Beng, periode kehadiran Ang Yang Goan adalah babak 
penting di keredaksian Sin Po. Dalam memoarnya, Memoar Ang Yoan, logo Sin Po 
tampil dengan fotonya diikuti subjudul “Tokoh Pers Tionghoa yang Peduli 
Pembangunan Bangsa Indonesia”. Ia memang punya peran besar perkembangan surat 
kabar ini sejak diajak bergabung oleh Tjoe Bouw San pada 1921.

Ketika Tjoe Bouw San meninggal pada 1925, Kwee Kek Beng ditunjuk sebagai 
pemimpin redaksi untuk menggantikan, sementara Ang Jan Goan memimpin 
perusahaan. Keduanya memimpin Sin Po 25 tahun lamanya.

Selepas masa pendudukan Jepang (1942-1945), arah Sin Po semakin jelas. Pembaca 
surat kabar kala itu terbagi dalam dua golongan, yang sayap kanan dengan Keng 
Po dan sayap kiri dengan Sin Po. Kedua surat kabar ini juga berdiri dengan 
majalahnya, Pantjawarna milik Sin Po sedangkan Star Weekly milik Keng Po. Surat 
kabar di luar Jakarta juga terbagi berdasarkan haluan politiknya, seperti Kuang 
Po (Semarang, 1953) berhaluan kanan, Sin Min dan Trompet Masjarakat (Surabaya, 
1947) berhaluan kiri.

Pada masa Demokrasi Terpimpin, seturut ketentuan pemerintah terkait integrasi 
masyarakat keturunan Tionghoa sebagai warga negara Indonesia berdasarkan asas 
ius soli, Sin Po berganti nama menjadi Pantja Warta di bawah pimpinan Kwa Sien 
Biauw, lantas menjadi Warta Bhakti di bawah pimpinan Abdul Karim Daeng 
Patombong (A. Karim D. P.) dan Tan Hwie Kiat, hingga ditutup pada Oktober 1965 
dengan tuduhan terlibat G30S.

Saking berpengaruhnya Sin Po, terdapat julukan Sinpoisme untuk menggambarkan 
aliran politik peranakan Tionghoa yang berpedoman “sekali Tionghoa tetap 
Tionghoa”. Sin Po mendukung setiap gerakan nasionalis bukan hanya dengan 
kata-kata, melainkan juga secara finansial. Apa yang mendorong gerakan 
nasionalis ini?

Koloni Kelima: Cara Pemerintah Hindia Belanda Sudutkan Tionghoa
Pramoedya Ananta Toer dalam Hoa Kiau di Indonesia menyebutkan bahwa pada 
permulaan abad ke-18, golongan Hoakiau menjadi “golongan yang tidak disukai” 
oleh pemerintah Hindia Belanda dan ditempatkan sebagai “koloni kelima”. Sikap 
anti-Tionghoa dikembangkan oleh golongan penguasa, berlanjut ke golongan 
borjuasi, para pemodal non-Tionghoa, lantas oleh golongan politik sebagai 
senjata menjatuhkan.

Pada 1821, Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Peraturan Surat Jalan 
(Passenstelsel) yang menentukan bahwa setiap orang Tionghoa perlu memiliki izin 
perjalanan. Secara implisit, peraturan ini ditujukan untuk membatasi ruang 
gerak masyarakat Tionghoa. Ini dibarengi edaran Peraturan Kependudukan 
(Wijkenstelsel) yang menetapkan bahwa orang Tionghoa harus tinggal di wilayah 
yang dikhususkan bagi mereka.

Hal ini diperkuat dengan politik pendidikan pemerintah Hindia Belanda yang tak 
memberikan kesempatan bagi anak Tionghoa untuk bersekolah. Kesengajaan untuk 
menghalang-halangi pendidikan bagi kalangan bumiputera atas pemahaman tentang 
Tionghoa juga tampak dari fakta bahwa barulah pada 1928, sebuah mata pelajaran 
tentang orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda tercantum dalam pendidikan BB 
ambtenaren (Binenlandsch Bestuur, administrasi domestik, rekomendasi pribadi 
pejabat).

Intimidasi pemerintah kolonial Belanda ini menggerakkan orang Tionghoa untuk 
mengarahkan dan menggantungkan harapan ke Tiongkok. Salah satu aspirasi 
nasionalisme kultural Tiongkok ini adalah terbitnya buku-buku cerita atau roman 
Tiongkok dalam bahasa Melayu-Betawi dan berdirinya Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) 
pada awal abad ke-20.

Upaya Patahkan Penindasan Kolonial
THHK didirikan pada 17 Maret 1900 dan secara resmi dibuka pada 3 Juni 1900. 
Pada 1 September 1901, THHK membuka sekolah berbahasa Inggris. Lalu pada 
Desember 1904, kedua jenis sekolah, baik yang berbahasa Melayu dan berbahasa 
Inggris, digabungkan.

Bersamaan dengan berdirinya THHK, pemerintah Hindia Belanda mendirikan Biro 
Urusan Tionghoa yang bertugas menasihati pemerintah dalam menjalankan politik 
terhadap orang Tionghoa di Hindia Belanda. Kekhawatiran pemerintah Belanda 
akibat perkembangan pesat THHK mendorong Dewan Hindia mengusulkan pendirian 
sekolah-sekolah Belanda. Sekolah dengan pengantar bahasa Belanda ini didirikan 
pada 1908 dengan nama Hollandsch Chineesche School (HCS).

Perlahan, sekolah THHK terdesak oleh HCS dan masyarakat Tionghoa terpecah 
menjadi mereka yang berpendidikan Belanda dan yang berpendidikan Tionghoa. Pada 
saat bersamaan, di Tiongkok sedang berlangsung perjuangan revolusioner Sun Yat 
Sen dan kelompok nasionalis yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Dinasti 
Ch’ing.

Paham Sun Yat Sen yang dikemukakan dalam buku San Min Chu I, yakni paham yang 
mengupayakan kemerdekaan nasional, menjadi pegangan kalangan nasionalis 
Tionghoa pada masa pra-kemerdekaan Indonesia. Kalangan peranakan Tionghoa pada 
umumnya memaknai isi buku Sun Yat Sen bahwa rakyat Tiongkok mesti mendukung 
rakyat di mana ia berada untuk mencapai kemerdekaan penuh—demikian juga 
pegangan kalangan perantau Tionghoa di Indonesia pada masa pra-kemerdekaan.

Kita pun dapat melihat rakyat Tionghoa mendukung penuh usaha-usaha perjuangan 
kemerdekaan Indonesia dari Belanda karena mereka memandangnya selaras dengan 
gagasan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme dalam pemikiran Sun Yat Sen.

Ang Yan Goan: Tokoh Pers Tionghoa dan Gagasan “Serba Pertama” di Keredaksian
Ang Yan Goan adalah tokoh di balik banyak pembaruan dalam keredaksian Sin Po. 
Dalam memoarnya, Ang bercerita tentang kerja-kerja keredaksian Sin Po dan 
haluannya. Salah satunya ketika WR Supratman mengaku bahwa banyak redaksi media 
kala itu tidak bersedia memuat lirik lagu “Indonesia Raya”.

WR Supratman mendatangi kantor Sin Po dan memainkan biola, menyanyikan 
larik-larik lagu tersebut di depan Ang. Kelak, ketika beberapa media berhaluan 
nasionalis menghujat mengapa lagu tersebut diterbitkan di Sin Po, Ang selalu 
terkenang akan hari biola digesekkan kala itu dan bagaimana keputusan redaksi 
berperan penting dalam menghadirkan nasionalisme awal bangsa, melalui publikasi 
lirik lagu!

Tiap harinya, Ang memacak target bahwa Sin Po harus menerbitkan tajuk rencana 
dan tulisan yang berbobot. Tiap pekan, Pak Kwee selaku redaktur ditugaskan 
menulis tiga tajuk rencana dengan mengulas peristiwa dalam negeri, sementara 
Pak Go menulis ulasan tentang peristiwa di Tiongkok. Saat itu, belum ada koran 
di Indonesia yang menerbitkan tajuk rencana setiap hari, dan pilihan Ang ini 
memberi kekhasan pada Sin Po dan memulai tradisi baru.

Koran ini juga mulai membuat komik yang kemudian menjadi lebih terkenal 
daripada koran itu sendiri, yakni serial “Put On”, bercerita tentang karakter 
anak kecil yang banyak tingkah, dengan ibu berikut kedua adiknya, dan 
teman-temannya yang kocak. Lagi-lagi, ketika itu, Sin Po menjadi satu-satunya 
koran yang memuat komik ciptaan bangsa sendiri.  

Langkah-langkah strategis dicanangkan oleh Ang untuk menampilkan keistimewaan 
Sin Po. Di antaranya untuk Sin Po edisi bahasa Tionghoa, mereka mempekerjakan 
koresponden yang bekerja di beberapa kota di Tiongkok seperti di Provinsi 
Fujian dan Guangdong, maupun di Hong Kong, Shanghai, dan Singapura untuk 
mengirimkan tulisan setempat. 

Pada 1926, Sin Po membeli seluruh berita dari Aneta News Agency dan mendulang 
sukses karena langganan surat kabar ini meningkat hampir 100 persen. Mereka 
juga mengganti cara mencetak manual dengan mesin, plat rata diganti dengan 
cetak rol baru. Ang memutuskan membeli sebuah mesin Linotype yang digunakan 
mingguan dan meminta perusahaan Linotype untuk melatih dua karyawan mudanya 
agar bisa jadi operator. Kembali lagi, Sin Po menjadi koran pertama berbahasa 
Melayu di Indonesia yang menggunakan mesin ini. 

Ia juga mempelajari pembuatan pelat untuk menaruh foto pada pelat cetak. Dengan 
menggunakan foto-tustel, ia bereksperimen, lantas menghubungi seorang importir 
untuk memperoleh bahan-bahan kimia pembuatan pelat dari Hunter and Penrose Co. 
di London. Dengan hadirnya pelat cetak foto ini, edisi Sin Po lebih sering 
memuat foto, bahkan pada Sin Po berbahasa Tionghoa yang terbit tiap Sabtu, 
mereka menyisipkan halaman khusus penuh foto. Ini menjadikan Sin Po, sebelum 
Perang Dunia II, satu-satunya koran berbahasa Tionghoa di Indonesia yang punya 
bengkel pembuatan pelat sendiri.

Selain hal-hal yang “serba pertama” itu, Ang juga mengutamakan kesejahteraan 
karyawannya. Pada 1920-an, pajak pendapatan karyawan yang telah bertugas lebih 
dari lima tahun ditanggung oleh perusahaan, dan 20 persen dari keuntungan 
bersih perusahaan mesti dibagikan kepada karyawan. Tiap tahun, Sin Po menaikkan 
gaji para karyawan secara rutin tanpa diminta oleh para pekerjanya. Ia juga 
mengusulkan dana kesejahteraan hari tua bagi karyawan (semacam uang pensiun), 
karyawan tidak perlu melakukan iuran dana pension ini karena setiap bulan 
perusahaan menyediakan dana yang jumlahnya ditentukan pemegang saham.

Menengok Koleksi Sin Po, Merelevankan Arsip
Upaya digitalisasi arsip Sin Po edisi mingguan oleh Monash University adalah 
terobosan penting. Sama seperti banyak arsip lainnya, perlu usaha untuk 
menyangkutpautkan arsip-arsip tersebut agar tidak hanya berhenti sebagai arsip 
yang tidak tergapai. Banyak hal menarik yang bisa digali dan dipelajari dari 
Sin Po.

Soal bagaimana Sin Po mendukung nasionalisme, kita akan menemukan catatan 
panjang tentang persaingannya dengan Keng Po dan Perniagaan ataupun koran-koran 
berhaluan kanan lain. Penelusuran atas ideologi para pendiri Sin Po dan isi 
penerbitannya menunjukkan bagaimana orang-orang kiri Tionghoa saat itu 
mendukung kemerdekaan Indonesia. Sikap pers Melayu Tionghoa dan pers Melayu 
untuk saling menghormati dengan menulis kata “Indonesia” dan “Tionghoa” untuk 
menggantikan kata “Inlander” dan “Tjina” juga menjadi catatan penting.

Berdasarkan penuturan berbagai sumber, Sin Po juga memperhatikan kesenian, Ang 
mengakui dalam memoarnya bagaimana ia mengajak para seniman untuk menghadirkan 
tata artistik yang khas. Sin Po kerap hadir dengan seni lukis dari banyak 
seniman ternama untuk halaman muka, seperti oleh Basuki Abdullah, Lee Man Fong, 
dan Agus Djaja. Beberapa rubrik pun menarik untuk ditelusuri kembali, dengan 
daya tarik terbesar untuk anak-anak adalah “Ko Put On” yang diasuh oleh Kho Wan 
Gie ataupun rubrik “Djamblang Kotjok” asuhan Kwee Kek Beng yang menulis 
sindiran terhadap kejadian-kejadian dan tokoh-tokoh penting pada masa itu. 

Berbagai upaya “serba pertama” menjadikan Sin Po terdepan pada masanya. 
Pemuatan karya-karya nasionalis seperti lirik lagu WR Supratman, perekrutan 
kontributor di negara-negara berbahasa Tionghoa, penggunaan ilustrasi dan foto, 
pengadaan pelat cetak serta mesin khusus, hingga perhatiannya atas 
kesejahteraan karyawan menjadikan Sin Po sebagai media yang teramat penting 
untuk dilacak proses kerja keredaksiannya.

Kepustakaan

Ang Yan Goan. (2009). “Koran Keng Po” dan “Pembaruan Sin Po” dalam Memoar Ang 
Yan Goan: Tokoh Pers Tionghoa yang Peduli Pembangunan Bangsa Indonesia. 
Jakarta: Yayasan Nabil dan Hasta Mitra.

Benny G. Setiono (ed.). (2008). “Tionghoa Hwe Koan” dalam Tionghoa dalam 
Pusaran Politik. Jakarta: Transmedia Pustaka.

Leo Suryadinata. (2010). “Pers Indonesia-Tionghoa di Jawa dan Pergerakan 
Kemerdekaan, 1901-1942” dalam Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia: Sebuah 
Bunga Rampai 1966-2008. Jakarta: Penerbit Kompas.

Myra Sidharta. (2009). “Pers Melayu Tionghoa” dalam Peranakan Tionghoa 
Indonesia: Sebuah Perjalanan Budaya. Jakarta: PT Intisari Mediatama dan 
Komunitas – Lintas Budaya Indonesia.

Onghokham. (2005). “Terjadinya Suatu ‘Minoritas’” dalam Riwayat Tionghoa 
Peranakan di Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/882A866B394042E3A2553A7B622B4CCA%40A10Live.

Reply via email to