Hary Tanoe, Trump-nya Indonesia?I76 - Saturday, February 19, 2022 11:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/hary-tanoe-trump-nya-indonesia
 
Hary Tanoe dan Donald Trump bertemu di salah satu properti milik Trump, 
Mar-a-Lago, Palm Beach, AS (Foto: Instagram/hary.tanoesoedibjo)
7 min read

Dengan latar belakang yang sama sebagai pengusaha, Hary Tanoe dan Donald Trump 
dianggap punya banyak kesamaan. Cara pandang sebagai pengusaha dalam mengambil 
strategi juga diterapkan keduanya di pentas politik. Kesamaan ini yang kemudian 
menimbulkan pertanyaan, apakah Hary Tanoe dapat mengikuti langkah sukses Donald 
Trump sebagai politisi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Secara umum, kehadiran sosok pengusaha dalam pentas politik merupakan sesuatu 
yang lumrah dan dianggap biasa saja. Namun, hal itu berbeda jika melihat 
pengusaha media, yaitu Hary Tanoesoedibjo. Saat ini ia diketahui sebagai 
pendiri Partai Persatuan Indonesia (Perindo), yang juga sebelumnya pernah 
bergabung dengan Partai Nasdem dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), menjadi 
layak untuk disoroti.

Melalui Partai Perindo yang saat ini sedang dipimpinnya, Hary Tanoe mencoba 
membangun narasi besar partai yang inklusif dan juga lebih condong mengikuti 
konstituen atau pemilihnya dalam bersikap. Sebagai contoh, demi memperkuat 
komitmennya sebagai partai yang inklusif dan upaya membentuk ekosistem 
demokrasi digital yang mampu memperkuat partisipasi politik. Dalam proses 
pencalonan anggota legislatif, Perindo menggelar program Konvensi Rakyat.

Konvensi Rakyat merupakan program penjaringan secara daring bagi Warga Negara 
Indonesia yang berminat mendaftarkan diri sebagai Bakal Calon Anggota 
Legislatif (Bacaleg) di semua tingkatan pemilihan (DPRD Kabupaten/Kota, DPRD 
Provinsi, dan DPR-RI) melalui Partai Perindo dengan memperhatikan ketentuan 
perundang-undangan.

Baca juga: Hary Tanoe Gagal Dinner


  
Konvensi Rakyat
TGB. H. Muhammad Zainul Majdi, Ketua Dewan Nasional Konvensi Rakyat, 
mengatakan, bahwa dalam rentang waktu kurang dari 3 bulan, Konvensi Rakyat 
telah diminati oleh lebih dari 650 kandidat pendaftar dan terus bertambah.

Hal ini memberikan gambaran nyata bahwa ikhtiar pembentukan ekosistem demokrasi 
digital terus diterima dan tumbuh di tengah masyarakat. Karena itu, upaya 
Partai Perindo lewat Konvensi Rakyat ini menjadikannya sebagai partai modern 
pertama yang menggelar demokrasi digital.

Dengan membangun narasi Konvensi Rakyat, Perindo ingin memperlihatkan sifat 
inklusif partai. Hal ini penting untuk mengambil ceruk sura yang masih 
mengambang (floating mass), di mana jelang pemilu semua suara pemilih masih 
akan cair selain pemilih ideologis parpol.

Konsep ini adalah salah satu strategi marketing parpol yang merujuk pada konsep 
pasar, di mana aturan partai perujuk pada keinginan besar pasar. Konsep ini 
disebut free market policy, yaitu salah satu konsep dalam teori marketing 
politik.

Konsep ini mengandaikan situasi politik seperti pasar bebas, sehingga semua 
orang yang terlibat di dalamnya mempunyai peluang untuk saling tawar dan tidak 
terikat oleh aturan baku selain aturan pasar itu sendiri. Banyak yang menilai 
strategi Perindo ini tidak lepas dari karakter dan cara berpikir Hary Tanoe 
sebagai pebisnis yang juga sangat akrab dengan istilah pasar bebas.

Nah, jika di Indonesia punya Hary Tanoe, maka Amerika Serikat (AS) punya Donald 
Trump, keduanya bisa dikatakan rekan bisnis, mungkin juga mereka sahabat, 
mengingat beberapa momen menunjukkan kedua pengusaha sekaligus politisi ini 
cukup akrab.

Seperti yang diberitakan majalah bisnis dan ekonomi dunia, Forbes, ketika 
melakukan wawancara khusus dengan Hary Tanoe, ditulis bahwa kesuksesan dan 
jejak karier Hary Tanoe sebagai salah satu miliarder di Asia memiliki kemiripan 
dengan yang dijalani oleh Trump.

Lantas, seperti apa membandingkan kedua tokoh ini dalam pengalaman bisnis dan 
politik mereka?

Baca juga: AHOK – Hary Tanoe : Rekam Jejak Politikus Tionghoa

 
  
Hary Tanoe dan Donald Trump
Dalam karier bisnis, awalnya Trump memulai karier di perusahaan ayahnya, 
Elizabeth Trump & Son yang berkonsentrasi di bidang penyewaan rumah kelas 
menengah di New York. Kemudian pada tahun 1971, ia pindah ke Manhattan dan 
terlibat dalam proyek pembangunan gedung lebih besar.

Pada sekitar akhir tahun 1990-an, bisnis Trump mengalami kebangkitan. Setelah 
ayahnya meninggal pada tahun 1999, surat warisan meninggalkan harta sekitar 
US$250 - 300 juta untuk dibagi rata pada empat anaknya.

Banyak juga yang menyoroti bisnis Trump di bidang hiburan, Trump memiliki Trump 
Productions yang membuat konten untuk siaran televisi. The Apprentice merupakan 
salah satu reality show yang menampilkan Trump. Selain itu, dia juga memiliki 
acara kecantikan Miss Universe.

Sementara Tanoe memulai kariernya sebagai investment banker dan mendirikan 
Bhakti Investments yang kemudian diganti menjadi PT Bhakti Investama Tbk di 
Surabaya pada tahun 1989. Bhakti Investama adalah perusahaan investasi yang 
bergerak di bidang layanan keuangan, media dan sumber daya alam. 

Banyak informasi yang beredar bahwa kekayaan Tanoe juga tidak lepas dari 
keluarga Cendana. Dia mengakuisisi saham PT Bimantara Citra dari Bambang 
Trihatmodjo, anak mantan Presiden Suharto. Bimantara adalah cikal bakal 
perusahaan media PT Global Mediacom Tbk (BMTR), yang kini membawahi stasiun 
televisi RCTI.

Yang menarik, pengembangan hotel di kawasan wisata di Lido adalah kerja sama 
Tanoe yang kedua dengan Trump setelah pengembangan Trump Hotel Collection di 
Bali. Tahun 2015 Tanoe masuk ke jajaran orang terkaya di Indonesia dengan nilai 
harta US$1,13 miliar menurut Forbes dan menduduki peringkat 15 di Indonesia. 
Dia merupakan miliarder nomor 1.324 di dunia.

Tanoe kemudian masuk ke dunia politik sejak 2011 ketika mengumumkan bergabung 
dengan Partai Nasdem dengan posisi Ketua Dewan Pakar dan Wakil Ketua Majelis 
Nasional. Akan tetapi, pada awal 2013 Tanoe mengundurkan diri karena perbedaan 
pandangan.

Tidak lama jelang keluar dari Partai Nasdem, Tanoe bergabung dengan Partai 
Hanura yang diinisiasi oleh Wiranto untuk menjadi calon wakil presiden. Namun, 
ketika partai kurang suara dan memilih mendukung Jokowi dan Jusuf Kalla, Tanoe 
pun keluar karena menyokong Prabowo-Hatta. Akhirnya, Tanoe mendirikan ormas 
yang akhirnya menjadi sebuah partai bernama Perindo.

Tidak jauh berbeda, Trump juga menjajaki dunia politik. Tercatat sejak dua 
dekade Trump memiliki kontribusi pada kampanye kandidat presiden Republikan dan 
Demokrat di AS. Pada 2012, Trump mendukung Mitt Romney, dia juga sebelumnya 
mendukung Ronald Reagan untuk menjadi Presiden AS.

Dia masuk nominasi presiden dari Reform Party pada 2000 dan memenangkan suara 
partai untuk wilayah California. Pada Juni 2015, Trump mengumumkan pencalonan 
diri menjadi presiden dari kantornya Trump Tower di New York.

Seperti yang kita ketahui, Trump kemudian terpilih sebagai Presiden ke-45 
Amerika Serikat pada pilpres 2016 dari Partai Republik. Pada saat itu, ia 
mengalahkan calon dari Partai Demokrat, Hillary Clinton. Selanjutnya, ia 
dilantik pada tanggal 20 Januari 2017.

Melihat perjalanan kedua tokoh ini seolah memperlihatkan kesamaan yang persis 
dimiliki oleh keduanya. Mulai dari latar belakang dunia bisnis, kedua tokoh ini 
menjadi konglomerat di negara masing-masing dan akhirya terjun di dunia politik.

Pengaruh latar belakang bisnis juga mempengaruhi kebijakan politik keduanya. 
Misalnya kebijakan-kebijakan Trump dinilai pengamat  selalu bersandarkan 
perhitungan bisnis yang paling utama. Salah satu contohnya ketika Trump 
mengambil keputusan untuk keluar dari Trans Pacific Partnership (TPP) pada 
tahun 2016.

Nah, hal yang sama juga dilakukan oleh Tanoe, pada level partai politik, yaitu 
membuat program Konvensi Rakyat Partai Perindo. Hal ini dapat ditafsirkan juga 
sebagai upaya mengikuti keinginan pasar, dan pasar yang dimaksud adalah 
keinginan konstituen.

Nah, muncul pertanyaan, lantas seperti apa menjelaskan fenomena kedua tokoh ini 
yang memulai dari bisnis dan terjun di dunia politik dalam melihat sikap 
politik mereka? Apakah punya pengaruh terhadap latar belakang seorang pebisnis?

Baca juga: Netflix Bikin Hary Tanoe Kepanasan?

 
  
Meraba Epistemic Paradigm Pengusaha
Dalam menjelaskan paradigma kedua tokoh ini, kita dapat menggunakan konsep 
paradigma pengetahuan (epistemic paradigm). Sederhananya, paradigma yang 
terbangun dari diri seseorang dipengaruhi oleh pengetahuan asal yang 
dimilikinya, atau pengetahuan yang secara kontinyu dijalani.

Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of  Scientific Revolutions, mengatakan, 
bahwa paradigma dipahami sama dengan worldview (pandangan dunia), general 
perspective (cara pandang umum), atau way of breaking down the complexity (cara 
untuk menguraikan kompleksitas).

Makna worldview sebagai kepercayaan, perasaan, dan apa-apa yang terdapat dalam 
pikiran orang yang berfungsi sebagai penggerak bagi keberlangsungan dan 
perubahan sosial dan moral. Perspective sama  dengan world view, di mana 
diartikan sebagai pandangan manusia terhadap dunia realitas.

Menurut Kuhn, konsep paradigma yang dijelaskan olehnya bersifat 
incommensurable, yaitu tidak mungkin untuk memahami suatu paradigma dengan 
perantaraan paradigma lain. Hal ini yang menjelaskan bahwa paradigma pebisnis 
akan relatif berbeda dengan mereka yang menggunakan paradigma akademisi atau 
politik murni.

Akhirnya, setelah terlibat dalam politik, yang bekerja dalam benak para tokoh 
ialah paradigma pengetahuannya atau epistemic paradigm yang akan mempengaruhi 
tokoh dalam membuat kebijakan atau strategi politik. Jika berasal dari dunia 
bisnis, maka cara berpikir bisnis akan menjadi landasan paradigma dalam dunia 
politik. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E079F022E6A84A66A213E9C3125FAF74%40A10Live.

Reply via email to