Pembiayaan APBN Januari 2022 Minus 101,8 Persen, Artinya?
Rabu , 23 Februari 2022 | 07:45 
https://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/58533/sri_mulyani__pembiayaan_apbn_januari_2022_minus_101_8_persen
 
Sumber Foto Antara/Sanya Dinda
Tangkapan layar Menkeu Sri Mulyani dalam Konferensi Pers APBN KiTa daring, 
Selasa (22/2/2022).Listen to this
JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pembiayaan Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Januari 2022 tercatat minus 101,8 
persen dari tahun lalu yang sebesar Rp165,8 triliun.

Kondisi tersebut artinya kebutuhan belanja negara telah dapat dipenuhi dari kas 
maupun penerimaan negara.
"Berarti kita bisa membiayai berasal dari kas yang ada maupun dari penerimaan 
negara baik dari sisi perpajakan, pajak, bea cukai, maupun PNBP," kata Sri 
Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (22/2/2022).


Pembiayaan APBN melalui utang tercatat menyusut Rp3 triliun pada Januari 2022 
atau minus 0,3 persen dari target APBN yang sebesar Rp973,6 triliun sepanjang 
tahun 2022.

Menkeu merinci penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk penarikan utang di 
Januari 2022 tercatat susut Rp15,9 triliun atau minus 1,6 persen dari target 
APBN Rp991,3 triliun. Secara tahunan, pertumbuhannya minus 109,3 persen 
dibandingkan Rp169,7 triliun di Januari 2021.

Ia mengatakan pembiayaan utang menurun karena terdapat pembayaran utang jatuh 
tempo dan belum diterbitkannya SBN valas seperti di awal tahun lalu.


"Kita mengeluarkan SBN tahun lalu 2021 pada bulan pertama Rp169,7 triliun. 
Tahun ini bulan Januari kita mengalami neto negatif Rp15,9 triliun, artinya 
kita bayar utang lebih besar dari issuance (penerbitan utang)," ucap Sri 
Mulyani.

Di sisi lain, pemerintah masih memanfaatkan skema tanggung renteng (burden 
sharing) dengan Bank Indonesia (BI). Per 18 Februari 2022, incoming pembelian 
surat utang oleh BI mencapai Rp9,2 triliun dengan awarded Rp4,5 triliun.

"Dengan situasi ini sebetulnya kita sangat baik, untuk tetap menjaga strategi 
pembiayaan kita secara aman, fleksibel, pruden, dan oportunistik karena suasana 
pasar surat berharga di seluruh dunia mengalami dampak dari potensi tapering 
yang terjadi di negara maju terutama AS," jelas dia.


Adapun pinjaman (neto) sampai Januari 2022 mencapai Rp12,8 triliun. Menurut Sri 
Mulyani, adanya penyusutan pembiayaan utang yang dibarengi dengan penggunaan 
SAL berpotensi menurunkan kebutuhan pembiayaan APBN sepanjang tahun 2022.

"Dengan kondisi APBN yang kuat dan makin sehat, issuance (penerbitan) akan jauh 
lebih rendah dan memberi ruangan untuk bertahan secara lebih baik," tandas Sri 
Mulyani. (E-5)



Sumber Berita: Antara

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/28C1151AB63A45FC87A6CB0665E82BA3%40A10Live.

Reply via email to