Anies-RK “Tantang” Partai Politik?I76 - Friday, February 25, 2022 0:00
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/anies-rk-tantang-partai-politik
 
Gubernur Jakarta, Anies Baswedan (kiri) dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil 
usai adu penalti di Jakarta International Stadium. (Foto: Humas Jawa Barat)
6 min read

Kemesraan antara Anies Baswedan dan Ridwan Kamil ditunjukkan kembali di sosial 
media. Jika sebelumnya sempat viral dengan istilah politik “teh botol”, kini 
keduanya terlihat adu pinalti di stadion JIS. Lantas, mungkinkah keduanya ingin 
mencuri perhatian partai politik? Ataukah sebaliknya, ingin berikan kesan 
“menantang” partai politik?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Video adu penalti antara Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dengan Ridwan 
Kamil (RK), Gubernur Jawa Barat di lapangan Jakarta International Stadium 
(JIS), yang diunggah oleh keduanya di akun sosial media mendapat banyak 
perhatian warganet.

Kemesraan keduanya dinilai sebagai upaya untuk menarik perhatian publik dan 
partai politik. Tentunya karena kedua Gubernur ini dinilai memiliki keinginan 
yang sama, yaitu tampil sebagai kandidat pada kontestasi Pemilihan Presiden 
(Pilpres) 2024 yang akan datang.

Ujang Komarudin, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia, mengatakan 
apa yang ditampilkan Anies dan Ridwan Kamil sudah seharusnya mesra, dikarenakan 
keduanya tidak punya tiket partai politik (parpol) untuk berlaga di Pilpres 
2024.

Ujang menambahkan, kedua kepala daerah itu memang memiliki elektabilitas yang 
tinggi. Hanya saja, elektabilitas akan menjadi percuma jika keduanya tidak 
memiliki kendaraan. Sehingga mereka harus berusaha untuk menarik perhatian dan 
kemudian dipinang oleh partai politik sebagai calon pada Pilpres 2024 mendatang.

Sebenarnya, peristiwa serupa juga pernah diperlihatkan oleh Anies dan Ridwan 
Kamil pada pertengahan tahun 2021. Keduanya menjadi sorotan saat  menyantap 
hidangan di salah satu restoran, di mana Anies dan RK memperlihatkan minuman 
teh botol.

Pertemuan itu disebut-sebut sebagai pertemuan politik teh botol. Seperti 
diketahui, anekdot “teh botol” ini sempat ramai menjadi perbincangan dalam 
sebuah rekaman yang memperdengarkan suara Bambang “Pacul” Wuryanto, Ketua 
Bappilu PDIP. Bambang menyatakan, siapapun calon presiden yang diusung PDIP 
pada Pilpres 2024, wakilnya harus Puan Maharani.

Menurut konstitusi, hingga saat ini belum membuka peluang, kecuali 
mengamandemen kembali Undang-Undang Dasar (UUD) = 45. Artinya, satu-satunya 
pintu untuk mendapat tiket sebagai calon presiden maupun wakil presiden adalah 
partai politik atau gabungan partai politik, sebagaimana ketentuan dalam Pasal 
6A Ayat (2) UUD 45.

Lantas, dengan derasnya simpati publik terhadap Anies dan Ridwan Kamil, apakah 
keduanya mampu “menantang” kuasa partai politik untuk mengusungnya?

Baca juga: Anies-Ridwan Kamil, Duel atau Duet?


  
Menuai Berkah Deparpolisasi
Sebagai negara yang menganut pembagian kekuasaan berdasarkan trias politika, 
pengusungan pemimpin negara dari jalur independen masih belum dapat diterapkan 
di Indonesia. Maju tanpa dukungan parpol tidak akan memiliki kawan seideologi 
yang menduduki kursi legislatif. Hal tersebut akan berimbas buruk apabila 
kandidat tersebut berhasil terpilih.

Meski secara bentuk pemerintahan dan konstitusi tidak mendukung. Tapi muncul 
semacam fenomena politik baru di masyarakat yang melihat bahwa kandidat tanpa 
parpol seolah lebih baik dibanding kandidat yang berasal dari parpol.

Fenomena seperti ini sering diistilahkan dengan deparpolisasi. Berbeda dengan 
orang yang tidak percaya politik yaitu apolitis, deparpolisasi masih percaya 
politik tapi tidak percaya dengan sistem kepartaian yang dirasa tidak mempunyai 
efek bagi masyarakat.

Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, mengatakan 
deparpolisasi terjadi antara parpol dan pemilih yang disebabkan oleh dua hal, 
yakni afeksi psikologis dan rasional. Deparpolisasi ini menihilkan peran parpol 
dalam demokrasi yang terjadi di dunia perpolitikan Indonesia.

Pasca Reformasi, akibat dari deparpolisasi ini, tingkat kedekatan pemilih 
dengan partai politik merosot tajam. Pemilih semakin sinis terhadap parpol 
karena tidak menyalurkan kepentingan mereka. Akibatnya, saat ini yang dicari 
pemilih adalah calon pemimpin yang populer dan elektabilitasnya tinggi.

Pada posisi inilah tokoh-tokoh non-partai seperti Anies dan Ridwan Kamil 
diberikan angin segar. Keduanya seolah mendapat limpahan dukungan dari sinisnya 
masyarakat terhadap parpol akibat deparpolisasi tersebut. Mereka hadir menjadi 
pilihan alternatif untuk menyampaikan kepentingan masyarakat, apalagi keduanya 
diuntungkan sebagai Gubernur yang punya kuasa untuk mengambil kebijakan.

Firman Noor dalam tulisannya Kegagalan Partai Politik Menarik Simpati Rakyat, 
mengatakan rendahnya kepercayaan publik terhadap partai dikarenakan kerja-kerja 
parpol yang secara umum belum bersentuhan langsung dengan kepentingan rakyat.

Firman melanjutkan, parpol di era kontemporer pada batas batas tertentu belum 
banyak mencapai kemajuan dalam persoalan yang terkait dengan kekuasaan politik 
tidak langsung (indirect power), di mana aspek aspek sosial budaya kemanusiaan 
dan lingkungan menjadi tema utama di dalamnya.

Hal ini disebabkan oleh paradigma lama dalam melihat politik hanya sebagai 
pertarungan dalam perebutan kekuasaan tampak masih melekat di benak sebagian 
besar parpol di Indonesia. Dalam paradigma ini persoalan merebut simpati rakyat 
hanya pada saat menjelang suksesi.

Sementara investasi politik jangka panjang melalui kerja-kerja sosial yang 
intensif terencana dan menyentuh persoalan kepentingan masyarakat banyak tidak 
mendapat tempat. Oleh karenanya, dalam atmosfer itu parpol sesungguhnya lebih 
memposisikan dirinya sekadar menjadi lembaga pendulang suara dalam makna sempit.

Konsekuensinya, bila masalah itu terus berlangsung, maka makin merenggang jarak 
antara parpol dengan masyarakat. Dengan hanya memposisikan diri sebagai mesin 
pendulang suara, partai politik akan dipandang menjadi suatu institusi yang 
asing, ketimbang sebagai media bagi rakyat dalam mewujudkan cita citanya.

Meskipun imbas deparpolisasi ini berdampak positif terhadap kandidat yang 
sejauh ini belum masuk atau bukan dari parpol, tapi persoalan besarnya, partai 
menjadi satu-satunya alat untuk pencalonan pada Pilpres 2024 tidak bisa 
dihindari. Lantas, mungkinah Anies-RK tetap konsisten untuk tidak berpartai 
meski punya kepentingan pencalonan pada Pilpres 2024 mendatang?

Baca juga: Indonesia Butuh Ridwan Kamil di 2024?

 
  
Anies-RK atau Parpol yang Menang?
Sejak lama, narasi politik tentang syarat calon presiden dan calon wakil 
presiden berasal dari independen dihembuskan. Tentunya ini menjadi angin segar 
bagi para kandidat yang sejauh ini bukan merupakan anggota parpol.

Kita tahu bahwa Dewan Perwakilan Daerah (DPD) pernah menawarkan perubahan Pasal 
6A UUD 1945 menjadi, “Pasangan calon presiden dan wakil presiden berasal dari 
usul partai peserta pemilihan umum atau perseorangan”.

Usul ini sesuai dengan prinsip demokrasi, terkait dengan pengakuan hak-hak 
warga untuk bersaing sebagai calon presiden dan wakil presiden. Apalagi keran 
calon independen telah dibuka di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Kandidat independen masih menjadi ilusi dalam konteks politik Indonesia saat 
ini, mengakibatkan  calon-calon presiden yang digadang-gadang berlaga di 
Pilpres 2024 memilih pilihan realistis untuk masuk parpol.

Emrus Sihombing, pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH), 
mengatakan kans tokoh non-parpol pada pilpres sangatlah kecil. Alternatif yang 
muncul adalah capres kemungkinan besar datang dari parpol, sedangkan untuk 
cawapres barulah kemungkinan bisa dari tokoh non-parpol.

Adi Prayitno, analis politik UIN Syarif Hidayatullah, beranggapan Anies harus 
pandai menjaga popularitas dan elektabilitasnya selama dua tahun tanpa panggung 
politik, jika ingin tetap maju sebagai capres 2024. Misalnya, dengan masuk ke 
partai politik untuk mengamankan kendaraan politik menuju pilpres.

Tentunya kedekatan Anies dengan Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), 
Partai Amanat Nasional (PAN), dan yang terakhir mesra yaitu Partai Persatuan 
Pembangunan (PPP), memperlihatkan sikap sadar dan realistis bahwa partai 
menjadi kunci pencalonannya.

Di sisi lain, Ridwan Kamil dalam berbagai pemberitaan menyatakan dirinya masih 
beristikharah terkait pilihannya bergabung dengan parpol. Disebutkan, ia akan 
memantapkan pilihan parpol pada tahun 2022.

Dari sini, kita bisa melihat bahwa sejauh apapun akrobat yang diperlihatkan 
oleh Anies dan RK sebagai kandidat yang punya popularitas tinggi untuk 
bertarung pada Pilpres 2024, keduanya akan tetap memilih parpol sebagai alat 
untuk berkompetisi.

Pada akhirnya, terlepas dari semuanya, kandidat yang muncul pada Pilpres 2024, 
diharapkan seorang credible alternative. Ia adalah sosok yang harus siap diuji 
rekam jejaknya, serta kompetensi dan kapasitasnya sebagai calon pemimpin. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E959BC9294B64168BBED332265F6AECC%40A10Live.

Reply via email to