Tanpa Nuklir https://www.disway.id/r/5456/tanpa-nuklir#.YhgRK3CcTpk.whatsapp
_______________________________
Tanpa Nuklir
25 Februari 2022
Oleh : Dahlan Iskan
BAGI Rusia, besarnya biaya perang akan bisa tertutup oleh kenaikan harga minyak
dan gas akibat perang itu sendiri.
Bagi Jerman, Prancis, Inggris, dan sekutu: biaya perang dari mana?
Mereka harus rapat dulu. NATO harus bersidang.
Amerika Serikat, di zaman Presiden Donald Trump pernah ngomel: biaya untuk NATO
kurang dibebankan secara merata. Ia tidak mau biaya NATO terlalu dibebankan
pada Amerika.
Di zaman Presiden Barack Obama, NATO tidak berbuat banyak: ketika Semenanjung
Krimea diambil Rusia dari Ukraina.
Di zaman Presiden Biden, dua wilayah lain Ukraina menyatakan diri merdeka
–didukung Rusia. Dua hari lalu.
Sampai tulisan dibuat tadi malam, NATO belum bersidang. Padahal bom sudah mulai
jatuh di beberapa lokasi militer di Ukraina. Menjelang subuh kemarin. Termasuk
di bagian tertentu ibu kota Kiev.
Mungkin itu karena Ukraina memang belum anggota organisasi pertahanan Atlantik
Utara. Ukraina sudah terus mendesak: agar segera diterima sebagai anggota NATO.
Tapi Rusia keberatan –dengan ancaman– kalau bekas wilayah strategisnya itu
bergabung ke musuh lamanya.
Tanpa nuklir dan tanpa NATO Ukraina bukan siapa-siapa. Ia bukan negara yang
mampu mempertahankan diri.
Teoretis Rusia bisa menyerangnya kapan saja –dengan alasan apa saja. Setelah
pisah dari Soviet, Ukraina dinilai terlalu genit: mau bergantung ke Barat.
Ukraina sebenarnya punya kekuatan senjata nuklir nomor tiga terbesar di dunia.
Bukan main. Yakni nuklir peninggalan Rusia (d/h Uni Soviet). Anda sudah tahu:
sepertiga nuklir Soviet dibangun di wilayah Ukraina. Hanya sedikit yang
dibangun di Belarusia dan Kazakhstan. Yang terbanyak tetap berada di Rusia.
Tapi nuklir yang di Ukraina itu tidak boleh lagi digunakan oleh yang berkuasa
di sana. Password untuk menghidupkan nuklir itu pun tidak di tangan presiden
Ukraina. Password itu dipegang organisasi negara-negara bekas Uni Soviet.
Jangan-jangan password itu pun sudah hilang. Sudah 30 tahun berlalu. Atau
jangan-jangan sudah dihilangkan.
Walhasil, sebagai negara dengan senjata nuklir terbesar ketiga di dunia,
Ukraina tidak bisa apa-apa. Seorang pengamat militer di Amerika mengatakan:
untuk bisa menghidupkan senjata nuklir itu Ukraina perlu persiapan selama 12
bulan.
Memang negara-negara Barat ikut menguncinya. Sejak sebelum Ukraina merdeka.
Mereka setuju Ukraina merdeka dengan syarat itu: tidak boleh menjadi negara
nuklir. Ukraina pun setuju. Lalu merdeka: dapat pengakuan dari Barat dan dunia.
Dengan kesepakatan itu Ukraina harus membongkarnya. Mungkin kini sudah pula
banyak yang dibongkar. Yang belum pun Ukraina tidak bisa menggunakan.
Inilah faktor yang membuat konflik di Ukraina tidak akan menjadi perang dunia
ketiga.
Sebenarnya Ukraina sudah mendapat jaminan: Perjanjian Budapest.
Amerika, Jerman, Inggris, dan Rusia sendiri yang memberikan jaminan itu: kalau
Ukraina setuju mengunci nuklirnya, empat negara itu menjamin keamanannya.
Belakangan jaminan itu ditambah lagi oleh Tiongkok.
Ukraina sudah berkali-kali menagih janji itu. Tapi Ukraina tidak punya debt
collector yang menakutkan. Terbukti Semenanjung Krimea yang begitu strategis,
diambil begitu saja oleh Rusia. Tanpa ada perlawanan.
Itu karena Rusia mengerahkan kapal-kapal perang yang di dalamnya ada senjata
nuklirnya. Empat kapal jenis itu parkir di laut dekat Krimea.
Kini Ukraina mengingatkan lagi Perjanjian Budapest itu. Tapi yang ditagih masih
saling lirik sana-sini. Apalagi yang menyerang sekarang ini adalah juga yang
mengambil Krimea: salah satu yang bikin janji itu sendiri.
Presiden Ukraina sebenarnya sudah mencoba menggertak: kalau memang tidak ada
jaminan keamanan, Ukraina akan menjadi negara nuklir. Tapi tidak ada yang
menggubrisnya. Mereka sudah tahu: gerakan itu tidak akan bisa terlaksana dalam
15 tahun.
Sedang untuk mengubah senjata nuklir peninggalan lama sudah tidak mungkin.
Semua hulu ledak senjata nuklir itu sudah di-setting untuk menyasar ke
bagian-bagian tertentu di Amerika sana. Jarak tempuhnya pun sudah di-setting
untuk 10.000 Km atau lebih.
Mau dialihkan untuk menghadap ke Moskow?
Bukalah Google map. Setting-lah seolah Anda akan bermobil dari Kiev ke Moskow:
hanya 8 jam. Kurang lebih hanya sama dari Jakarta ke Malang. Saya pernah ingin
berkendara di jalur itu. Setelah nonton final Piala Champions antara Liverpool
dan Real Madrid di Kiev. Sudah janjian pula dengan Prof Effendi Gazali.
Rencana itu gagal. Anda sudah tahu mengapa. Lalu rencana ke Kiev lagi untuk
stem cell. Juga gagal: di dalam negeri lebih hebat.
Kini saatnya ke sana: kalau ada teman, kalau ada visa, kalau ada bensin 1 juta.
⚛️
--
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C8EFD4F5AD17443FA7F0C51F88148CC1%40A10Live.