Written byR53Tuesday, March 1, 2022 23:11Kok Bisa Masyarakat Puas?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kok-bisa-masyarakat-puas/
Belum lama ini Litbang Kompas merilis survei tingkat kepuasan terhadap kinerja 
pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Dalam rilisnya, kepuasan masyarakat 
mencapai 73,9 persen, di mana ini adalah tingkat kepuasan tertinggi sejak 2015. 
Pertanyaannya, di tengah berbagai persoalan seperti kelangkaan minyak goreng, 
kenapa tingkat kepuasan bisa setinggi itu? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dulunya, sebelum demokrasi diterima sebagai norma politik universal, para 
penguasa merasa tidak perlu mengetahui persepsi publik. Entah apa pun yang 
terjadi di bawah sana, berlangsung tidaknya kekuasaan mereka ditentukan oleh 
kedekatan darah keluarga. 

Namun, setelah revolusi Prancis dan Amerika semuanya tampak berbeda. Ketika 
bentuk-bentuk awal demokrasi mulai muncul, para penguasa menjadi tertarik untuk 
mengetahui apa yang dipikirkan warganya, khususnya bagaimana mereka ingin 
memilih. Ini lah awal mula survei opini publik atau jajak pendapat (opinion 
polls). 

Menurut Campbell Rhodes dalam tulisannya A brief history of opinion polls, 
sebelum jajak pendapat tersebar luas, opini publik diukur dengan cara yang 
kurang ilmiah, seperti mengirim surat ke media massa karena media dinilai 
mencerminkan opini publik. Ada pula yang melakukannya melalui pertemuan atau 
rapat umum untuk melihat pandangan atau sentimen yang paling populer.

Dalam temuan Rhodes, media massa di Amerika Serikat (AS) adalah yang pertama 
melakukan jajak pendapat umum. Pada Juli 1824, Harrisburg Pennsylvanian, sebuah 
surat kabar lokal di ibu kota Pennsylvania, melakukan survei di Wilmington, 
Delaware. 

Pertanyaan surveinya sederhana, “siapa yang akan dipilih sebagai Presiden?”. 
Sedikit konteks, saat itu pemilih di AS adalah laki-laki, kebanyakan kulit 
putih, dan sebagian besar pemilik properti. 

Sebagai hasil, Harrisburg Pennsylvanian menyebut 70 persen responden memilih 
Andrew Jackson. Survei ini menjadi kenyataan, Andrew Jackson mendapatkan suara 
dan elektoral mayoritas. Namun John Quincy Adams yang dipilih sebagai Presiden 
oleh Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives).

Jajak pendapat yang dimulai di media-media AS kemudian menyebar ke seluruh 
dunia, khususnya karena penetrasi internet dan komunikasi massa. Secara 
berkala, berbagai media dan lembaga swasta melakukan survei. Mulai dari 
mengukur tingkat elektabilitas kandidat, hingga tingkat kepuasan terhadap 
kinerja pemerintah.

Terkait yang terakhir, baru-baru ini survei Litbang Kompas mendapatkan atensi 
luas. Dalam rilisnya, tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan 
Joko Widodo-Ma’ruf Amin mencapai 73,9 persen. Tingkat kepuasan ini adalah yang 
tertinggi sejak Januari 2015. 

Baca juga :  Menembus Pandang Politik Pemekaran DaerahDisebutkan, kepuasan 
publik meningkat pada empat bidang, yakni politik dan keamanan (meningkat 6,8 
persen), penegakan hukum (meningkat 5,3 persen), ekonomi (meningkat 6,1 
persen), serta kesejahteraan sosial (meningkat 9,7 persen).

Pertanyaan publik sekiranya satu. Di tengah situasi pandemi Covid-19, serta 
berbagai masalah sosial-ekonomi lainnya, bagaimana mungkin tingkat kepuasan 
setinggi itu?

Menguji Korespondensi
Pertanyaan kritis misalnya datang dari pengamat politik Universitas Al-Azhar 
Indonesia, Ujang Komarudin. “Siapapun akan kaget dengan tingginya kepuasan 
publik tersebut. Padahal di bawah, banyak rakyat yang susah dan kecewa,” 
ungkapnya pada 23 Februari.

Melacak dasar argumentasi filosofisnya, pernyataan Ujang tersebut adalah apa 
yang disebut dengan teori kebenaran korespondensi (the correspondence theory of 
truth). Marian David dalam tulisannya The Correspondence Theory of Truth, 
menjelaskan bahwa dalam teori ini, suatu pernyataan dikatakan benar apabila 
berkorespondensi atau berkesesuaian dengan realitas.

Apabila melihat realitas sosial yang ada, masyarakat tampaknya tengah 
dihadapkan dengan berbagai persoalan. Mulai dari kelangkaan minyak goreng dan 
kedelai, ketentuan baru Jaminan Hari Tua (JHT), peningkatan pemutusan hubungan 
kerja (PHK) karena pandemi Covid-19, hingga berbagai isu sosial-politik seperti 
polemik Desa Wadas. 

Tidak hanya masyarakat luas dan akademisi, berbagai pejabat juga telah 
mengungkapkan kekhawatirannya. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, misalnya, 
pada 1 Maret menyebut kelangkaan minyak goreng berpotensi menyebabkan panic 
buying. 

Pada 12 Agustus 2021 lalu, Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan 
Sosial Tenaga Kerja Kemenaker, Indah Anggoro Putri, juga sempat menyampaikan 
keresahannya karena sampai 7 Agustus 2021, angka PHK telah mencapai 538.305 
pekerja. Pada 2021 sendiri, Kemenaker memperkirakan jumlah PHK sekitar 895.000 
pekerja.

Seperti keheranan Ujang, dengan berbagai masalah sosial-ekonomi tersebut, 
bagaimana mungkin tingkat kepuasaan publik menjadi begitu tinggi?

Kembali merujuk Campbell Rhodes. Menurutnya, tidak lama sejak jajak pendapat 
umum dari Harrisburg Pennsylvanian, berbagai media di seluruh AS kemudian 
melakukan jajak pendapatnya sendiri, atau memberitakan jajak pendapat lembaga 
lain. 

Yang menjadi masalah adalah, menurut Rhodes, kemudian muncul fenomena straw 
poll atau jajak pendapat jerami karena tingkat akurasi yang rendah dan tidak 
ilmiah. Dalam diksi yang lebih vulgar, sejarawan AS Arthur Schlesinger Jr. 
bahkan menyebut televisi dan lembaga survei telah menjadi electronic 
manipulators (manipulator elektronik). 

Marcus Mietzner dalam tulisannya Political Opinion Polling in 
Post-Authoritarian Indonesia: Catalyst or Obstacle to Democratic 
Consolidation?, menangkap fenomena ini mulai terjadi di Indonesia sejak Pemilu 
2004. Menurutnya, telah lahir jenis baru lembaga survei politik, yang tenaga 
pendorong utamanya tidak lagi kuriositas atau keingintahuan akademik, melainkan 
motif komersial.

Baca juga :  Il Principe, Bukunya Napoleon hingga HitlerBiasnya Rasa Puas
Di titik ini, mungkin ada dua pandangan. Pertama, mengacu pada teori kebenaran 
korespondensi, survei tingkat kepuasan tersebut mungkin adalah straw poll. 
Kedua, survei tersebut mungkin benar adanya atau bukan sebuah pengondisian 
persepsi publik. 

Nah, yang menarik adalah, sekalipun pandangan nomor dua yang digunakan, Geert 
Bouckaert dan Steven van de Walle dalam tulisannya Comparing Measures of 
Citizen Trust and User Satisfaction as Indicators of ‘Good Governance’: 
Difficulties in Linking Trust and Satisfaction Indicators, memberikan 
penjelasan penting.

Menurut mereka, ada dua alasan mengapa begitu sulit untuk mengukur kepercayaan 
dan kepuasan masyarakat kepada pemerintah, dan sekalipun diukur, hasilnya tidak 
jarang cukup menyesatkan. Alasan pertama, tingkat kepuasan sulit diukur karena 
merupakan penilaian psikologis yang tidak tetap. Alasan kedua, kepercayaan 
terhadap pemerintah sering kali tidak memiliki hubungan dengan tata kelola 
pemerintahan yang baik. 

Alasan kedua perlu kita perhatikan dengan serius. Apa arti dari “kepercayaan 
terhadap pemerintah sering kali tidak memiliki hubungan dengan tata kelola 
pemerintahan yang baik”?

Maksudnya ternyata cukup sederhana, yakni politik berbasis idola. Ullrich Ecker 
dan Toby Prike dalam tulisannya We know politicians lie – but do we care?, 
menemukan temuan mengejutkan, di mana dukungan masyarakat ternyata tidak 
berkurang meskipun politisi yang didukungnya terbukti berbohong. 

Ini misalnya dilihat dari kasus Presiden ke-45 AS Donald Trump. Menurut mereka, 
Trump telah membuat lebih dari 30.000 klaim palsu selama empat tahun masa 
kepresidenannya. Namun faktanya, sekalipun kalah dari Joe Biden, pendukung 
Trump tetap banyak dan begitu fanatik di Pilpres AS 2020.

Dengan kata lain, kepuasan terhadap pemerintah mungkin saja tidak berasal dari 
penilaian terhadap tata kelola pemerintahan, melainkan semata-mata karena suka 
dengan politisi yang tengah berkuasa. Ini lah politik berbasis idola.

Well, sebagai penutup, dengan berbagai persoalan sosial-ekonomi yang ada, 
tampaknya menjadi tak terhindarkan apabila terdapat pihak yang heran dan 
menaruh tanya terhadap survei kepuasan tersebut. Namun, bagaimana pun juga, 
kita mungkin hanya perlu menikmatinya sebagai bagian dari orkestra politik. 
Mungkin. (R53)

  a.. kepuasan 73.9 persen a.. kinerja Jokowi-Ma'ruf a.. Survei Litbang Kompas

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/178FD7739998439DAB4C4D121C1FB945%40A10Live.

Reply via email to