Perundingan Putaran Kedua Rusia-Ukraina dan Pengaruhnya
2022-03-05 11:00:17    
https://indonesian.cri.cn/2022/03/05/ARTI2U8I2BfBlSw0WbnqfwgA220305.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.12

Perundingan putaran kedua Rusia-Ukraina telah berakhir setelah mengalami 
penundaan, kehilangan kontak wakil Ukraina dan perubahan tempat negosiasi. 
Seusai perundingan, Ukraina menyatakan kecewa karena gagal mencapai hasil yang 
diharapkannya. Rusia mengatakan, negosiasi harus memprioritaskan 
“demiliterisasi” Ukraina dan statusnya yang netral, dan bagaimana pun pihaknya 
akan menyelesaikan aksi militer khusus di Ukraina. Presiden Belarus Lukashenko 
mengakui terdapat kekuatan luar biasa yang nekat mensabotase perundingan 
putaran kedua Rusia-Ukraina.




Kesulitan Ukraina Bergabung dalam Uni Eropa

Di sela-sela perundingan putaran pertama dan kedua, Ukraina tidak lagi mengeluh 
kepada NATO, malah mengalihkan sorotannya kepada Uni Eropa. Antusiasi Ukraina 
terhadap Uni Eropa dipicu satu kalimat Presiden Komisi Eropa Ursula von der 
Leyen, yang pada 27 Februari lalu mengatakan dengan penuh emosi, bahwa Ukraina 
adalah salah satu anggotanya, dan pihaknya berharap Ukraina bergabung menjadi 
anggota Uni Eropa. Al hasilnya, Presiden Ukraina Zelensky langsung melayangkan 
permohonannya.

Hanya setelah permohonan itu diserahkan, Ursula von der Leyen mengajukan satu 
syarat yang harus dipenuhi oleh Ukraina, yakni Ukraina harus terlebih dulu 
mengakhiri perang sebelum berkonsultasi tentang bergabungnya dalam Uni Eropa.

Ringan di lidah, berat dalam timbangan.

Pertama, harus memenuhi prosedur seperlunya.

Lamban, itulah salah satu ciri khas dalam proses penggabungan dengan UE.

Kedua, syarat-syarat aksesnya sangat banyak.

Jika ingin menjadi anggota UE, maka harus sesuai dengan “Standar Kopenhagen”, 
yang mencakup kondisi dari berbagai aspek, dari geografi, politik, ekonomi 
hingga legislasi.



Kenapa Ukraina Berubah Haluannya dari NATO ke UE

Sebelumnya AS telah memberikan Ukraina ilusi betapa baiknya “keamanan NATO”, 
namun sekarang ilusi itu sudah sirna dan pupus. Dilihat dari kondisi saat ini, 
bagaimana pun memohon kepada NATO, jawabannya hanyalah “mutlak tidak akan 
mengirim tentara” ke Ukraina. Setelah UE memberikan respons yang positif, 
Ukraina segera membalasnya dengan sikap yang patuh, bagaimana pun dukungan 
politik maupun ekonomi dari UE adalah sangat penting bagi Ukraina yang kini 
menghadapi tekanan amat besar dari Rusia.

Menurut kelaziman, krisis Ukraina sama halnya dengan krisis Eropa. Akan tetapi, 
kali ini Eropa membuat dua perubahan, yaitu pertama, Jerman yang berpengaruh 
penting di Eropa meningkatkan belanja militer. Kedua, UE melepaskan tradisinya 
yang tidak menyediakan senjata untuk pihak yang berperang dan telah menyediakan 
senjata pamungkas senilai 450 juta euro kepada Ukraina.

Hal ini berarti bahwa negara-negara Eropa akan meningkatkan hak suaranya dalam 
urusan keamanan Eropa. Sebelumnya NATO adalah tumpuan harapannya dalam bidang 
keamanan.



Pengaruh Situasi Rusia-Ukraina

Dampak dari situasi Rusia-Ukraina telah memperluas hingga rakyat jelata. Barat 
mulai mengenakan sanksi terhadap masyarakat Rusia.

Karena sanksi, operator proyek Nord Stream-2 dikabarkan pernah memohon 
bangkrupt. Jika pipa gas alam itu dibiarkan terlantar, maka Jerman mau tak mau 
akan membeli lebih banyak batu bara. Pada hal Jerman sebelumnya berencana 
sepenuhnya membatalkan penggunaan batu bara dalam puluhan tahun kemudian, 
sekarang rencana itu mau tak mau harus ditangguhkan.

Sama dengan Jerman, banyak negara Eropa lainnya memandang penting pembangunan 
hijau. Tahun lalu di Inggris digelar konferensi perubahan iklim global. Banyak 
negara Eropa sangat ambisius dalam hal pengurangan emisi karbon. Sekarang 
tersandang masalah energi akibat sanksi terhadap Rusia, maka Inggris terpaksa 
mengaktifkan sebuah PLTU batu bara yang sebelumnya sudah ditutup.

Kegoncangan tengah semakin memperburuk situasi.

Ukraina adalah negara pengekspor terbesar kedua pangan di dunia, sedangkan 
Rusia adalah negara penghasil aneka logam untuk industri manufaktur. Rusia dan 
Ukraina juga adalah sumber utama sejumlah gas kimia yang diperlukan untuk 
produksi semikonduktor.

Presiden AS Joe Biden dalam pidato amanatnya pada 1 Maret lalu sekali lagi 
melukiskan peranan AS dalam situasi Ukraina kali ini sebagai upaya 
“solidaritas” dunia.

Selepas menyatakan hal itu, AS langsung menyerahkan ratusan peluru kendali anti 
serangan udara Stinger kepada Ukraina.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/D3F6DFCE84F3451495158B5A11642E9D%40A10Live.

Reply via email to