Written byR53Saturday, March 5, 2022 23:01Mengejutkan, Tiongkok Akselerasi 
Demokrasi 
Indonesiahttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/mengejutkan-tiongkok-akselerasi-demokrasi-indonesia/

Berbagai pengamat politik telah lama memperhatikan kebangkitan ekonomi Tiongkok 
karena dikhawatirkan menjadi pemicu tren balik demokrasi. Namun, secara 
mengejutkan, pertumbuhan pesat ekonomi Tiongkok justru membawa berkah bagi 
demokrasi negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Bagaimana itu mungkin?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “I think they will never really enjoy true democracy in China.” – Simon 
Winchester, jurnalis Inggris

Pada tahun 1991, Samuel P. Huntington dalam bukunya The Third Wave: 
Democratization in the Late Twentieth Century, telah memprediksi akan terjadi 
tren balik demokrasi di abad ke-21. Menurut catatannya, gelombang demokratisasi 
pertama sudah terjadi sejak tahun 1828 – 1926. Gelombang demokratisasi kedua 
pada tahun 1943 – 1962, dan gelombang ketiga terjadi pada tahun 1974 – (…). 

Yang menarik, Huntington melihat terdapat gelombang balik setelah terjadinya 
gelombang demokratisasi. Disebutkan, gelombang balik pertama terjadi pada tahun 
1922 – 1942, dan gelombang balik kedua pada tahun 1958 – 1975. Mengumpulkan 
faktor-faktor yang menyebabkan gelombang balik pertama dan kedua, Huntington 
merumuskan berbagai faktor yang dapat menyebabkan gelombang balik ketiga 
demokratisasi di masa depan.

Ada enam faktor yang dirumuskan Huntington. Pertama, kegagalan sistemis dari 
rezim-rezim demokratis untuk beroperasi secara efektif dapat memperlemah 
legitimasi mereka. Kedua, ambruknya perekonomian dapat mengikis legitimasi 
demokrasi. 

Ketiga, bergesernya negara demokrasi besar ke arah otoriter dapat memicu efek 
bola salju di negara-negara lainnya. Poin ini dicontohkan Huntington pada Rusia 
yang berbalik menjadi negara otoriter. Keempat, bergesernya negara demokrasi 
baru ke arah otoriter karena tidak memiliki banyak prasyarat demokrasi juga 
dapat menciptakan efek bola salju.

- Advertisement -Kelima, apabila sebuah negara non-demokratis mengembangkan 
kekuatannya secara besar-besaran dan memperluas wilayah pengaruhnya, ini dapat 
merangsang gerakan-gerakan otoriter di negara lain. Huntington mencontohkan 
Tiongkok pada poin ini. Keenam, bentuk-bentuk otoritarianisme dapat saja muncul 
kembali apabila dinilai sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pada tahun 2018, murid Huntington, Francis Fukuyama dalam bukunya Identity: The 
Demand for Dignity and the Politics of Resentment membenarkan prediksi sang 
guru, bahwa gelombang balik demokrasi ketiga sepertinya tengah terjadi.

Dalam temuan Fukuyama, pada tahun 1970 hanya ada sekitar 35 negara demokrasi. 
Jumlahnya kemudian meningkat mencapai hampir 120 negara pada awal tahun 
2000-an. Namun, sejak pertengahan 2000-an, terjadi tren balik yang terlihat 
dari menurunnya jumlah negara demokrasi. 

“Negara-negara otoriter, dipimpin Tiongkok, tumbuh lebih percaya diri dan 
menonjol,” tulis Fukuyama. Persis seperti poin kelima Huntington, keberhasilan 
metode dan ekspansi ekonomi Tiongkok telah menciptakan efek bola salju. 

Lantas, dengan meningkatnya investasi Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir, 
apakah itu akan mempengaruhi demokrasi Indonesia? 

 
Bangkitnya Kekuatan Timur
Tidak hanya Fukuyama, berbagai pengamat politik juga melihat potensi bahaya 
kebangkitan Tiongkok bagi politik demokrasi dunia. Azar Gat dalam tulisannya 
The Return of Authoritarian Great Powers, misalnya, menyebut terdapat dua 
faktor utama yang dapat menjadi pemicu kebangkitan negara-negara otoriter. 
Pertama adalah kebangkitan Islam radikal. Kedua adalah kebangkitan negara 
non-demokratis, seperti Tiongkok dan Rusia. Menurut Gat, faktor kedua jauh 
lebih berpengaruh daripada yang pertama. 

Baca juga :  Kok Bisa Masyarakat Puas?- Advertisement -Menariknya, faktor yang 
disebutkan Gat juga telah diprediksi Huntington. Pada tahun 1996, dalam bukunya 
The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Huntington menyebut 
di masa depan akan ada tiga kekuatan yang saling berbenturan. Pertama adalah 
Barat yang diwakili oleh Eropa dan Amerika Serikat (AS). Kedua adalah Timur 
yang diwakili oleh Tiongkok dan Rusia. Dan ketiga adalah Islam. 

Dalam catatannya, Huntington melihat kebangkitan ekonomi Tiongkok terjadi sejak 
tahun 1980-an. Menurut Huntington, kebangkitan tersebut disebabkan oleh bamboo 
network atau jaringan bambu. Ini adalah sistem ikatan bisnis informal yang 
dilakukan oleh ekspatriat Tionghoa atau pengusaha etnis Tionghoa. 

Tiongkok memanfaatkan pengusaha-pengusaha keturunan Tionghoa di berbagai 
negara, seperti Hong Kong, Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Indonesia untuk 
mempermudah dan meningkatkan arus perdagangannya. 

Pada tahun 2000, produk domestik bruto (PDB) Tiongkok mencapai US$ 1,211 
triliun. Pada tahun 2021, PDB Tiongkok meningkat jauh mencapai US$ 16,9 
triliun. Angka ini hanya bisa disalip AS dengan PDB mencapai US$ 22,9 triliun. 
Yang menarik, menurut lembaga think tank asal Inggris, Center for Economics and 
Business Research (CEBR), PDB Tiongkok akan melampaui AS pada tahun 2031. PDB 
Tiongkok ditaksir mencapai US$ 27,5 triliun, sementara AS hanya sebesar US$ 
25,9 triliun.

Di sini mungkin ada yang bertanya, apa hubungannya kebangkitan ekonomi Tiongkok 
dengan demokrasi dunia?

 
Berkilaunya Metode Ekonomi Tiongkok
Kita dapat mengutip Francis Fukuyama untuk menjawabnya. Dalam bukunya The 
Origin of Political Order, Fukuyama menyebut manusia adalah political by nature 
atau secara alamiah melakukan aktivitas politik. Pertanyaannya, mengapa itu 
dilakukan?

Sederhana, karena manusia adalah makhluk sosial yang membangun peradaban. Nah, 
aktivitas politik dilakukan untuk menjawab masalah dan mengembangkan peradaban 
tersebut. Dan tentunya, inti dari masalah dan pengembangan itu adalah ekonomi.

Ini menjadi perenungan penting. Sering kali kita keliru dalam memahami sistem 
politik karena melihatnya sebagai tujuan, bukan metode. Demokrasi, misalnya, 
harus diuji seberapa jauh sistem politik ini mampu menjawab masalah 
sosial-ekonomi kita? Dengan demikian, demokrasi bukanlah norma final, melainkan 
metode yang dinilai bekerja.

Nah, sekarang coba bayangkan, dengan berkembang pesatnya ekonomi Tiongkok, 
kira-kira persepsi apa yang tercipta? 

Ini akan menciptakan persepsi bahwa sistem politik Tiongkok yang memadukan 
kapitalisme dengan otoritarianisme lebih menjanjikan daripada demokrasi liberal 
yang dipromosikan negara Barat, khususnya AS. Mary Hui dalam tulisannya China 
wants to redefine democracy, menggambarkan perang persepsi ini. 

Menariknya, saat ini Tiongkok disebut tengah mencoba mendefinisikan ulang apa 
itu demokrasi. “Upaya Tiongkok untuk mendefinisikan ulang demokrasi adalah 
bagian dari perang pengaruh,” tulis Sun Peidong, profesor di Cornell University.

Baca juga :  Branding Mandalika, Pertamina Siap Mengglobal?Tiongkok telah 
mencoba menggambarkan sistem pemerintahannya sebagai people’s democratic 
dictatorship (kediktatoran demokrasi rakyat). Dalam sistem ini, negara disebut 
dapat mewujudkan kehendak rakyat melalui “konsultasi”, dan tanpa perlu terlibat 
dalam pemilihan langsung. 

Dengan berorientasi pada hasil, Tiongkok berusaha mempromosikan sistem 
pemerintahannya sebagai yang lebih baik dari apa yang dilakukan negara-negara 
Barat, khususnya AS. Tidak heran kemudian, sebagaimana diprediksi Huntington 
jauh-jauh hari, keberhasilan ekonomi ini dapat menginspirasi negara-negara 
lain, khususnya yang tengah berusaha mendongkrak perekonomian dan berorientasi 
pada hasil. 

Sekarang pertanyaan pentingnya, apakah keberhasilan metode ekonomi Tiongkok ini 
mempengaruhi demokrasi Indonesia? Dengan meningkatnya investasi Tiongkok dalam 
beberapa tahun terakhir, apakah itu berdampak pada penurunan kualitas demokrasi?

 
Demokrasi dan Gawai Murah
Ada dua perspektif yang dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. 
Pertama, jika mengacu pada pernyataan Presiden Jokowi yang kerap mengungkit 
pentingnya hasil daripada proses, bukan tidak mungkin ada usaha membuat sistem 
politik Indonesia seperti Tiongkok guna menciptakan efisiensi pasar. Perspektif 
ini menarik, namun sayangnya sulit dibuktikan karena kita perlu melakukan 
verifikasi langsung kepada Presiden Jokowi.  

Oleh karenanya, kita perlu melihat perspektif kedua, yakni keberhasilan metode 
ekonomi Tiongkok justru telah mengakselerasi demokrasi di negara-negara 
berkembang, seperti Indonesia. Perspektif ini penulis tarik setelah membaca 
buku Ross Tapsell yang berjudul Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens 
and the Digital Revolution.

Menurut Tapsell, kemunculan ponsel yang lebih terjangkau pada awal tahun 
2000-an telah memungkinkan masyarakat Indonesia untuk mengakses informasi dan 
media massa. Secara khusus, Tapsell kemudian melihat tahun 2004 yang menjadi 
awal perkembangan media sosial di Indonesia, khususnya situs-situs yang 
berbasis di AS, seperti YouTube (2005), Facebook (2006), Twitter (2008), dan 
Path (2010). 

Media-media sosial tersebut telah meningkatkan partisipasi masyarakat, 
khususnya mengungkapkan ekspresi yang menjadi ciri khas demokrasi modern. Tidak 
seperti sebelum penetrasi internet dan teknologi komunikasi massa, saat ini 
begitu mudah untuk menyalurkan pendapat, mendapatkan informasi, dan menguji 
akuntabilitas pemerintahan.

Nah sekarang renungkan ini, jika kemunculan awal ponsel saja dapat mendorong 
pertumbuhan demokrasi di Indonesia, maka bagaimana dengan kedatangan gawai 
murah Tiongkok yang saat ini membanjiri pasar global?

Penulis sangat ingat, dulunya gawai adalah barang mewah, tidak banyak yang 
mampu membelinya – termasuk penulis. Namun sekarang, kemunculan gawai murah 
Tiongkok seperti Redmi, Xiaomi, Vivo, dan Oppo telah membuat gawai menjadi 
kebutuhan primer masyarakat. Dengan kata lain, kedatangan gawai murah tersebut 
telah mendorong partisipasi masyarakat di internet, khususnya media sosial yang 
tengah menjadi primadona.

Kendatipun cukup simplifikatif, sekiranya dapat disimpulkan bahwa secara tidak 
langsung, pertumbuhan pesat ekonomi Tiongkok yang menghasilkan produk-produk 
murah seperti gawai, telah berkontribusi langsung dalam mengakselerasi 
demokrasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/4CBBD03BDE5C443FB81ECAD805D1ED06%40A10Live.

Reply via email to