Written byR53Thursday, March 10, 2022 22:54
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/sulitnya-menebak-jokowi/Sulitnya Menebak 
Jokowi

Presiden Jokowi kerap disebut sebagai boneka, khususnya oleh para oposisi. 
Namun di periode keduanya, 
Jokowi justru menunjukkan diri sebagai magnet politik. Apakah mantan Wali Kota 
Solo ini telah bermetamorfosis dari wayang menjadi dalang politik?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “Be unpredictable, be real, be interesting. Tell a good story.” – James 
Dashner, penulis Amerika Serikat

Siapa yang bisa menebak seorang Joko Widodo (Jokowi) akan menjadi Presiden RI? 
Itu menjadi salah satu topik pembicaraan hangat ketika mantan Wali Kota Solo 
itu berhasil mengalahkan Prabowo Subianto pada Pilpres 2014 lalu. Bukan tanpa 
alasan kuat, Jokowi menampilkan gestur yang benar-benar berbeda dari elite 
politik kebanyakan.

Ia tidak terlihat garang, gagah, ataupun menggunakan bahasa-bahasa tegas 
seperti layaknya kebanyakan elite. Jokowi tampil sebagai pendobrak. Ia 
mendisrupsi gestur politik yang selama ini dibaca publik. “Dia (Jokowi) 
antitesa dari Presiden Yudhoyono,” ungkap Direktur Eksekutif Pol-Tracking 
Institute, Hanta Yuda pada Juni 2013.

Tidak hanya masyarakat luas, berbagai akademisi politik juga memberi perhatian 
khusus kepada Jokowi. Salah satu Indonesianis paling terkenal saat ini, Jeffrey 
Winters, bahkan menyebut Jokowi sebagai Presiden terlemah secara politik sejak 
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ini tentu masuk akal menimbang pada status 
Jokowi yang bukan elite partai, militer, maupun oligarki Orde Baru.

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bahkan berulang kali menyebut kata 
petugas partai. Suka atau tidak, ini jelas merupakan bahasa politik. Kendati 
Jokowi adalah Presiden, tengah dicoba untuk ditegaskan bahwa secara hierarkis 
politik ia berada di bawah partai.

- Advertisement -Diksi petugas partai tersebut dapat ditarik pada proses 
terpilihnya Jokowi sebagai kandidat PDIP. Menurut Leo Suryadinata dalam 
tulisannya Golkar’s Leadership and the Indonesian President, berbagai petinggi 
PDIP sebenarnya tidak begitu menyukai Jokowi pada 2014. Namun Megawati tetap 
mengusungnya karena elektabilitasnya yang tinggi. 

Menurut Suryadinata, Jokowi sadar bahwa dirinya tidak disukai oleh PDIP. Oleh 
karenanya, mantan Wali Kota Solo ini mulai membangun relasi yang baik dengan 
partai besar lain, seperti Partai Golkar. 

Konteks yang disebutkan Suryadinata sangatlah menarik. Merujuk pada manuver 
Jokowi mendekati partai besar lainnya, hingga pernyataan berulang Megawati soal 
“petugas partai”, bukankah itu menunjukkan Jokowi tidak membiarkan dirinya 
menjadi “wayang politik”? 

 
Dalang atau Wayang?
Bagi yang mengikuti pemberitaan politik nasional, pasti tidak asing dengan 
pernyataan “Jokowi adalah boneka”. Berbagai pihak, khususnya oposisi menilai 
Jokowi hanyalah wayang yang dimainkan oleh elite-elite partai di belakangnya.  

Dalam literatur politik, itu disebut dengan puppet leader atau pemimpin boneka. 
Dennis R. Young dalam tulisannya Puppet Leadership: An Essay in honor of Gabor 
Hegyesi, menjelaskan puppet leader memiliki dua elemen fundamental. 
Pertama, terdapat penarik tali (string-pullers), yakni kelompok atau individu 
kuat yang mengontrol tindakan dan keputusan pemimpin tanpa dianggap 
melakukannya. Kita kerap menyebut mereka sebagai oligarki. Kedua, kandidat 
puppet leader bersedia untuk berkompromi di bawah kondisi tersebut jika 
nantinya terpilih. 

- Advertisement -Menurut Jeffrey Winters dalam bukunya Oligarchy and Democracy 
in Indonesia, kemenangan Jokowi di Pilgub DKI Jakarta 2012 tidak mungkin 
terjadi tanpa oligarki Prabowo Subianto dan adiknya yang kaya raya, Hashim 
Djojohadikusumo. 

Ada peran besar Partai Gerindra di balik kemenangan tersebut. Mengutip Ross 
Tapsell dalam bukunya Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the 
Digital Revolution, Gerindra telah menghabiskan biaya besar untuk iklan dan 
kampanye politik Jokowi di televisi.

Menurut Winters, tanpa adanya oligarki, potensi Jokowi untuk menjadi kandidat 
tidak mungkin teraktualisasi. Indonesianis lainnya, seperti Vedi Hadiz dan 
Richard Robison, juga menyebutkan bahwa Jokowi “terpaksa” bersekutu dengan 
berbagai kelompok oligarki Orde Baru agar dapat menang menjadi Presiden. 

Atas anasir-anasir tersebut, tidak heran kemudian label boneka kerap disematkan 
ke Jokowi. Namun yang menjadi pertanyaan, Jokowi justru tidak menunjukkan 
dirinya dikontrol. Yang lebih mengagumkan lagi, di periode kedua ini, Jokowi 
bahkan terlihat menjadi magnet kekuatan politik.

Pada Pilkada 2020, misalnya, seolah mengabaikan persepsi publik atas politik 
dinasti, Jokowi mendukung anaknya Gibran Rakabuming Raka maju di Pilwalkot 
Solo, dan menantunya Bobby Nasution di Pilwalkot Medan. Hebatnya lagi, hampir 
semua partai politik mendukung pencalonan keduanya. PDIP yang awalnya menolak 
sampai dibuat mengalah dan mendukung Gibran meneruskan jejak sang ayah sebagai 
Wali Kota Solo. 

Kemudian saat ini, berbagai petinggi partai mengeluarkan dukungan untuk 
memperpanjang jabatan Jokowi. Setelah narasi dukungan tiga periode terlihat 
kandas, saat ini diserukan penundaan Pemilu 2024. Pertanyaannya, tidak seperti 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengalami kutukan periode kedua, mengapa 
Jokowi justru terlihat semakin kuat di periode keduanya menjadi Presiden?

Variabel-variabel ini kemudian membuat kita merenung, apakah Jokowi adalah 
wayang atau dalang politik? Jika ia adalah wayang atau petugas partai, mengapa 
justru PDIP dan partai besar lainnya terlihat mengikuti arus Jokowi, bukan 
sebaliknya?

Lantas, apakah Jokowi telah berubah? Apakah sekarang ia merupakan dalang 
politik, bukan lagi wayang politik?
 
The Unpredictable?
Jika benar Jokowi telah mengalami metamorfosis, dari wayang menjadi dalang 
politik, ini membuat kita teringat pada tulisan Kishore Mahbubani yang berjudul 
The Genius of Jokowi. Di dalamnya, Mahbubani memberikan sanjungan yang tinggi 
kepada Jokowi karena kehebatannya dalam memimpin.

Yang paling menarik, Mahbubani membandingkan pemerintahan Jokowi dengan 
pemerintahan Joe Biden di Amerika Serikat (AS). Berbeda dengan pemerintahan 
Biden yang belum mendapat pengakuan dominan di Partai Republik, pemerintahan 
Jokowi justru berhasil menggandeng saingan beratnya, Prabowo Subianto dan 
Sandiaga Uno masuk ke dalam pemerintahan.

Menurut Mahbubani, sebanyak 78 persen Republikan belum mengakui legitimasi 
kemenangan Biden. Sementara Jokowi, saat ini berhasil membangun koalisi 
terbesar sejak Reformasi. Singkatnya, mungkin tepat pemilihan judul yang 
dilakukan Mahbubani, Jokowi adalah politisi jenius. Ia mampu mengubah keadaan 
dari yang sebelumnya dipandang remeh, menjadi terlihat kuat dan disegani. 

Menurut pengamatan berbagai pihak, tidak seperti di periode pertamanya, Jokowi 
memang terlihat sangat percaya diri saat ini. Evan A. Laksmana dalam tulisannya 
Civil-Military Relations under Jokowi: Between Military Corporate Interests and 
Presidential Handholding, misanya, melihat perubahan ini dalam kemampuan Jokowi 
membangun hubungan dengan militer. Menurutnya, tidak seperti periode pertama, 
di mana Jokowi mengandalkan purnawirawan TNI berpengaruh seperti Luhut dan 
Moeldoko, saat ini Jokowi percaya diri pada kemampuannya dalam berhubungan 
dengan militer.

Jika benar demikian, ini jelas sangat tidak terduga. Benar-benar sulit ditebak. 
Seorang yang bukan bagian dari elite partai, militer, dan oligarki Orde Baru 
justru tengah menjadi magnet kutub politik. Dukungan politik Jokowi bahkan 
sangat dicari saat ini oleh berbagai partai dan kandidat yang ingin maju di 
Pilpres 2024.

Jika boleh sedikit memberi usul, Mahbubani mungkin perlu mengganti judul 
tulisannya. Tidak menggunakan kata genius, melainkan unpredictable. Judulnya 
menjadi The unpredictable Jokowi.

Well, sebagai penutup, seperti pandangan Marcus Mietzner dalam bukunya 
Reinventing Asian Populism: Jokowi’s Rise, Democracy, and Political 
Contestation in Indonesia, Jokowi adalah simbol sekaligus fenomena kebangkitan 
kekuatan politik. Sosok yang bukan dari oligarki ini mampu menjadi kekuatan 
baru dan memaksa oligarki untuk mendukungnya. Itu lah Jokowi, Presiden yang 
sulit ditebak. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C3F2F898E70B41BAB3A06FE1E6122F5E%40A10Live.

Reply via email to