Written byR53Friday, March 11, 2022 07:01
Papua, Batu Ganjalan Andika?
Kondisi Papua tengah memanas usai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua 
menembak 8 pekerja PT Palapa Ring Timur Telematika (PPT) di Distrik Beoga, 
Kabupaten Puncak, Papua. Apakah situasi ini menjadi backlash bagi Panglima TNI 
Andika Perkasa yang disebut dapat membawa perubahan di Papua? Apakah ini 
menjadi batu ganjalan Andika untuk mendapat tiket di Pilpres 2024?

--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Ketika melakukan fit and proper test calon Panglima TNI pada 6 November 2021 di 
Komisi I DPR RI, Jenderal Andika Perkasa menyebut akan mengubah pendekatan 
ketika ditanya soal isu Papua. Ungkapnya, aparat TNI akan menggunakan 
pendekatan humanis, pendekatan lunak, dan tidak lagi menggunakan pendekatan 
perang.

Tampaknya mengutip Sun Tzu dalam The Art of War, Andika menyebut, pada 
prinsipnya, bagaimana memenangkan pertempuran tanpa peperangan. TNI akan lebih 
mengedepankan komunikasi, merebut hati masyarakat, serta menyelesaikan konflik 
dengan memanfaatkan operasi pembinaan teritorial.

Atas jawaban-jawaban yang disampaikan, berbagai pihak menaruh harapan ke pundak 
Andika. Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin, misalnya, menyebut pandangan 
Andika sesuai dan akan berdampak positif pada menyelesaikan konflik di Papua. 

“Ini sebuah sinar, menurut hemat saya, yang mulai terang. Kita dorong saja 
bersama-sama, dari publik, dari masyarakat untuk terus membangun kepercayaan 
seperti ini untuk menciptakan Papua yang damai bermartabat dan sejahtera,” 
ungkapnya pada 2 Desember 2021.

Berdasarkan informasi yang penulis himpun, harapan besar pada penanganan 
konflik di Papua merupakan salah satu alasan utama didorong dan terpilihnya 
Andika menjadi Panglima TNI. 

Lantas, jika benar demikian, dengan konflik di Papua yang saat ini memanas, 
apakah harapan itu terlalu besar untuk Andika?

Kemudian, dengan beredarnya isu Andika akan maju di Pilpres 2024, apakah isu 
Papua yang tidak terselesaikan menjadi ganjalan Andika untuk mendapatkan tiket?

 
Pundak Andika Terlalu Berat
Terkait konflik Papua, pengamat pertahanan dari Institute for Security and 
Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, memiliki pandangan penting yang harus 
menjadi catatan. Menurutnya, dengan masa bakti sekitar satu tahun sebagai 
Panglima TNI, tidak mungkin Andika dapat menyelesaikan konflik Papua.

Menurut Fahmi, Papua adalah konflik panjang multi-aspek. Ini bukan masalah 
sederhana seperti mengubah pendekatan dari keras ke lunak, melainkan 
menyelesaikan masalah ketidakpercayaan masyarakat Papua yang telah mengakar 
kuat kepada pemerintah dan aparat bersenjata.

Lanjutnya, terdapat ketidakpercayaan antara kedua belah pihak, baik masyarakat 
Papua, khususnya yang ingin merdeka, maupun pemerintah. Ini kemudian membuat 
kedua pihak sulit melakukan dialog, menemukan titik temu, hingga mencapai kata 
damai.

Nah, apa yang dijelaskan Fahmi adalah apa yang disebut dengan social trap atau 
jebakan sosial. Social trap adalah situasi sulitnya terjadi kerja sama karena 
pihak-pihak yang berkonflik merasa pihak lain pasti akan mengkhianati 
perjanjian. Istilah ini sendiri banyak dirujuk pada John Platt dalam tulisannya 
Social Traps pada tahun 1973.
Menurut dosen filsafat politik Universitas Indonesia (UI) Donny Gahral Adian 
dalam disertasinya Rasionalitas Kerjasama: Kajian Filsafat terhadap Dilema 
Narapidana dalam Teori Permainan, jebakan sosial adalah akar mengapa konflik 
masyarakat menjadi sangat sulit diselesaikan.

Dengan demikian, seperti pernyataan Fahmi, untuk menyelesaikan masalah Papua, 
social trap yang telah terjadi selama bertahun-tahun harus diselesaikan 
terlebih dahulu. Tentunya, sebelum membangun kepercayaan di masyarakat Papua, 
pemerintah terlebih dahulu harus membangun kepercayaan dalam dirinya. Tidak 
boleh ada prasangka bahwa masalah Papua harus diselesaikan dengan pendekatan 
keras.

Terkait pendekatan lunak yang perlu dilakukan, Johny Blades dalam tulisannya 
West Papua: The Issue That Won’t Go Away for Melanesia memberikan saran 
menarik. Menurutnya, konflik di Papua muncul dari adanya alienasi penduduk asli 
dari lingkungan dan sumber daya mereka sendiri. Oleh karenanya, pendekatan 
politis non-kekerasan akan lebih efektif untuk menyelesaikan perseteruan.

Pertama, karena masyarakat Papua secara etnis adalah kerabat warga 
negara-negara Melanesia, Indonesia bisa melakukan pendekatan ke negara-negara, 
seperti Fiji, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon. Menurut Blades, jika berhasil 
dibujuk, negara-negara tersebut dapat menjadi mediator netral dalam proses 
dialog. 

Kedua, Indonesia dapat melakukan pendekatan komersial dengan wilayah Melanesia. 
Contohnya, karena negara-negara Melanesia adalah pecinta sepak bola, Indonesia 
bisa menjadikan tim Persipura Jayapura sebagai pembuka gerbang komersil, di 
mana tim sepak bola itu bisa bermain di acara olahraga negara-negara Melanesia. 

Masyarakat Papua juga dikenal sangat menyukai sepak bola. Oleh karenanya, 
pemerintah dapat memanfaatkan itu dengan melakukan diplomasi sepak bola. Pamela 
Del Mundo dalam tulisannya Soccer as a Conflict Resolution Tool, menyebut sepak 
bola adalah alat yang dapat digunakan untuk menyatukan kelompok dan individu 
yang beragam. Sepak bola dapat berfungsi sebagai sarana terapi trauma akibat 
kekerasan. 

 
Fokus pada Isu Populis?
Kembali pada poin Khairul Fahmi, sekalipun saran-saran Johny Blades dilakukan, 
dengan masa bakti sebagai Panglima TNI sekitar 10 bulan lagi, social trap yang 
sudah mengakar sekiranya belum dapat diangkat. 

Butuh pendekatan lunak selama bertahun-tahun untuk memupuk kembali 
ketidakpercayaan yang telah meluas. Seperti pernyataan ilmuwan politik Bo 
Rothstein, kepercayaan adalah barang mewah yang sulit untuk didapatkan. 

Oleh karenanya, menurut Fahmi, Jenderal Andika Perkasa sebaiknya fokus pada 
kebijakan-kebijakan populis, alih-alih berjanji menyelesaikan masalah Papua 
yang tidak mungkin selesai dalam waktu satu tahun. Masalahnya, jika benar-benar 
berkeinginan maju di Pilpres 2024, isu Papua dapat menjadi ganjalan bagi 
Andika. Misalnya akan terdengar kritik, “Papua saja tidak bisa diurus, 
bagaimana dengan Indonesia?”
Merujuk pada gestur-gestur yang ada, Fahmi melihat berbagai kebijakan Andika 
sudah tepat. Yang terbaru, Andika mengubah ketentuan penahanan prajurit 
pelanggar hukum disiplin militer, dari penahanan di satuan menjadi di penjara 
militer. 

Fahmi menyambut positif kebijakan tersebut. Menurutnya, itu adalah upaya dalam 
meningkatkan kepatuhan hukum dan kedisiplinan prajurit, yang memang menjadi 
salah satu agenda prioritas Andika. Kendati demikian, Fahmi tetap memberi 
catatan kritis agar terobosan ini diikuti oleh dukungan anggaran, sumber daya 
manusia, serta sarana dan prasarana yang memadai bagi Puspom TNI di setiap 
matra. 

”Penting untuk diantisipasi agar jangan sampai perubahan itu hanya akan 
memindah praktik buruk yang kerap terjadi sebelumnya di lingkungan satuan ke 
lingkungan POM TNI,” ungkap Fahmi.

Selain terobosan ini, Andika juga terlihat memberi perhatian pada berbagai 
kasus korupsi. Beberapa waktu yang lalu misalnya, Andika memberikan dukungan 
terhadap pemidanaan korupsi satelit Kementerian Pertahanan yang disebut 
mencapai Rp 800 miliar.

Ada pula dukungan penuh kepada Kejaksaan Agung dalam mengusut berbagai kasus 
dugaan korupsi di tubuh TNI, seperti Dana Tabungan Wajib Perumahan Angkatan 
Darat (TWP AD) tahun 2013 sampai dengan tahun 2020.

“Kami akan all out mendukung, termasuk proses hukum koneksitas yang sedang 
berlangsung. Kita akan all out, jadi Bapak Jaksa Agung yakin bahwa kita 
mendukung apapun yang beliau minta, kita siap mendukung apapun yang diperlukan 
mulai dari menghadirkan saksi, barang bukti, dan lain sebagainya,” ungkap 
Andika pada 14 Januari.

Sekalipun tidak diniatkan untuk mendulang simpati publik, gestur-gestur 
tersebut dengan sendirinya akan disambut positif oleh masyarakat. Ini dapat 
dikatakan sebagai kebijakan-kebijakan cetar yang akan memberi citra baik bagi 
Andika. 

Dengan fokus pada kebijakan-kebijakan populis seperti itu, masa bakti hanya 
satu tahun tampaknya bukan ganjalan bagi Andika untuk meletakkan legacy 
politiknya sebagai Panglima TNI. Jika nantinya benar-benar maju di Pilpres 
2024, ini jelas dapat menjadi modal yang berharga.

Well, kita lihat saja bagaimana kelanjutan karier Andika. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/317725F250594DB89EDD575BB012E35A%40A10Live.

Reply via email to