Kalau diamati sepanjang sejarah .Apa yang ada dalam agama tidak membuktikan apa 
pun..... Sudah Dari tahun 313AD.....semenjak Constantin mendekler 
katolikisme..... Akhirnya semua itu ciptaan manusia...Agama sebagai alat 
kontrol....sehingga otak.manusia betul betul konsleting..Thou shall not 
kill....menjadi shall kill..Dan kill menjadi kabur artinya..They who not cont 
RT unite tithe shall put to death ...they who not holly the Sabbath sh Shall be 
stoned to death....?
Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sun., Mar. 13, 2022 at 12:57 a.m., Sunny ambon<[email protected]> 
wrote:   
Salah satu hal yang diputar balik ialah "pernyataan" dibilang sumpah pada hal 
tidak ada  unsur agama dalam pernyataan atau ikrar bersama. Tidak ada pendeta 
dan atau imam atau pun biksu yang turut mendoakan atau dalam pernyataan itu 
disebut demi Allah kami bersumpah dstnya. 
On Sun, Mar 13, 2022 at 1:31 AM Chan CT <[email protected]> wrote:

Written byI76Saturday, March 12, 2022 10:44
Penguasa Selalu Mengaburkan Sejarah?

Polemik Keppres Nomor 2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara, 
bergulir menjadi perdebatan sejarah. Seolah sejarah yang dituliskan tentang 
Serangan Umum Satu Maret yang menjadi landasan peristiwa Keppres tersebut belum 
final. Lantas, mungkinkah perdebatan tersebut muncul karena indikasi bahwa 
peristiwa sejarah dibuat abu-abu oleh penguasa?

PinterPolitik.com

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 2 Tahun 2022 yang ditandatangani oleh 
Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 24 Februari 2022, tentang Hari Penegakan 
Kedaulatan Negara menjadi polemik dikarenakan tidak mencantumkan nama Presiden 
Soeharto, terkait peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Seperti yang kita tahu, sosok Soeharto dinilai memiliki peranan penting dalam 
peristiwa Serangan Umum Satu Maret (SUSM) tahun 1949 di Yogyakarta. Beralasan, 
jika beberapa pihak mengajukan pertanyaan tentang keberadaan nama Presiden 
Soeharto yang tidak disebutkan dalam Keppres.

Sedangkan, dalam Keppres tersebut dicantumkan sejumlah nama tokoh yang berperan 
dalam peristiwa saat agresi Belanda II tersebut. Yakni Soekarno, Mohammad 
Hatta, Jenderal Sudirman, dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Menko Polhukam Mahfud MD pasang badan dengan menyebut Keppres bukan buku 
sejarah. Meski Mahfud menjamin nama Soeharto tidak hilang dalam catatan 
sejarah, khususnya peristiwa SUSM, tapi polemik terlanjur bergulir dan 
ditanggapi oleh ahli sejarah.

Sejarawan Bonnie Triyana, mengatakan, bahwa saat peristiwa SUSM, komunikasi 
antara pimpinan Indonesia sangat baik dan didasarkan pada semangat bersatu 
tanpa ada saling ego komunikasi. Setiap tokoh memiliki perannya masing-masing 
tanpa ada sentralisasi salah satu pihak.

Bonnie ingin menggambarkan bahwa dalam peristiwa sejarah semua tokoh punya 
peran masing-masing yang harus dilihat. Hal ini penting untuk memberikan 
jawaban atas keresahan banyak pihak yang melihat sejarah tidak sentralistik  
dan bukan hanya milik penguasa yang sedang berkuasa.

Pakar psikologi politik Andik Matulessy, mengatakan sejarah selalu ditulis oleh 
penguasa dan pemenang. Meskipun demikian, dalam konteks Keppres yang disinggung 
di atas, Andik menyarankan agar dapat memberikan penjelasan yang objektif 
terkait peniadaan nama Soeharto.

Polemik ini menjadi trigger untuk membaca ulang sejarah, khususnya peristiwa 
SUSM. Lantas, sebenarnya seperti apa peristiwa SUSM itu terjadi, dan bagaimana 
kita dapat menarik benang merah dari peristiwa tersebut?

Sejarah Nafas Eksistensi Bangsa

T. B. Simatupang dalam bukunya Laporan Dari Banaran, Kisah Pengalaman Seorang 
Prajurit Selama Perang Kemerdekaan, mengisahkan pengalamannya dalam perjalanan 
perang gerilya melawan Belanda. Buku ini disusun dari awal Agresi Militer II 
terjadi hingga klimaksnya adalah kembalinya Jenderal Soedirman ke Yogyakarta.
Simatupang menceritakan gagasan serangan di Yogyakarta diinisiasi oleh Kolonel 
Bambang Sugeng yang menjadi komandan divisi yang membawahi Yogyakarta dan 
sekitarnya. Kolonel Bambang Sugeng menemui Simatupang sebagai komandannya pada 
28 Februari 1949 dan memberikan isyarat penyerangan atas daerah yang diduduki 
oleh Belanda.
Dipilihlah Yogyakarta  sebagai lokasi serangan umum dikarena Yogyakarta  saat 
itu berstatus sebagai ibu kota Indonesia. Saat itu Belanda juga terus melakukan 
propaganda terhadap Indonesia dengan mengasingkan presiden, wakil presiden, dan 
sejumlah menteri. Menurut Simatupang, serangan itu sangat disetujui karena akan 
memberikan dampak diplomasi.

Selain itu, peran-peran penting tokoh lain juga perlu dicatat dalam peristiwa 
SUSM, seperti Ahmad Yani, Slamet Riyadi dan Gatot Subroto yang saat SUSM 
bertugas untuk menghalau bantuan Belanda untuk masuk ke kota Yogyakarta.

Tapi peran tokoh yang lain seolah tidak terekam dalam peristiwa tersebut, 
seolah hanya ingin memperlihatkan satu sosok yang sangat berperan dalam SUSM. 
Hal ini diperkuat pula oleh akses referensi masyarakat yang pada saat itu masih 
sedikit.

Akibatnya, ingatan masyarakat akan terkesan tersentralisasi terhadap satu sosok 
saja. Ditambah lagi dengan adanya film Janur Kuning yang memperlihatkan peran 
Soeharto begitu dominan. Sehingga ingatan kolektif akan tertuju kepada 
Soeharto, dan jika muncul sosok lain, seolah ingatan kolektif ini diuji dengan 
sosok tersebut.

Film Janur Kuning menggambarkan Soeharto sebagai inisiator SUSM. Jenderal 
Soedirman digambarkan sebagai pemimpin besar yang selalu meminta pendapat 
Soeharto. Sedangkan peran politik Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai penguasa 
Yogyakarta dikesampingkan begitu saja.

Budi Irawanto dalam bukunya Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer Dalam 
Sinema Indonesia, mengungkap bahwa tema perjuangan dan heroisme militer sangat 
menonjol dalam film-film propaganda, sedangkan peran sipil dikerdilkan. Sejarah 
SUSM punya puzzle yang terpencar, perlu penyatuan keterpisahan puzzle sejarah, 
seperti melihat peran masing-masing tokoh secara holistik.

Sobana Hardjasaputra dalam tulisannya Sejarah dan Pembangunan Bangsa, 
mengatakan sejarah mencakup trimatra (tiga dimensi  waktu), yaitu past, 
present,  future, karena sejarah merupakan  proses kausalitas yang 
berkesinambungan. Sejarah penting untuk dipahami secara baik dan  benar sebagai 
bahan pembelajaran dalam  proses pembangunan bangsa.

Polemik ini menggambarkan secara terang bahwa dalam sejarah ada puzzle yang 
hilang atau mungkin disembunyikan, dan ini berhubungan dengan kekuasaan yang 
menaunginya. Lantas, seperti apa upaya untuk membuat puzzle sejarah seolah 
selalu berada di grey zone?

Mengembalikan Puzzle Sejarah
History has been written by the victors. Sejarah ditulis oleh para pemenang. 
Adagium yang konon pertama kali dikemukakan oleh Winston Churchill tersebut, 
seolah mengobarkan skeptisisme radikal terhadap tulisan-tulisan sejarah yang 
mayoritas diakui reliabel.
Jika diteliti lebih dalam, terdapat dua paradigma yang muncul dari adagium 
tersebut. Pertama, terdapat bias yang amat disengaja dalam tulisan-tulisan yang 
mewakili para “pemenang”, dan dengan demikian tulisan-tulisan sejarah tidak 
mengungkapkan fakta yang sebenarnya. Kedua, kita sebagai pembaca sejarah perlu 
berada pula di pihak para losers untuk mendapatkan sudut pandang historis yang 
lebih murni.

Daniel Woolf dalam bukunya  New Dictionary of the History of Idea, menyimpulkan 
bahwa memang ada hubungan yang sangat dekat antara pengaruh para penguasa 
dengan penulisan sejarah. Tetapi, penulisan sejarah tidak selalu dilakukan oleh 
para pemenang.

Dikarenakan kemajuan teknologi dan banyaknya akses referensi terhadap arsip dan 
bukti-bukti sejarah lainnya, berbagai sudut pandang dapat menjadi landasan 
dalam upaya untuk menulis sejarah. Tentunya upaya ini untuk mendekati 
objektivitas dari kebenaran sejarah.

Sejarah memang tak pernah utuh dan selalu ada fragmen-fragmen yang hilang, 
bahkan diganti dengan apa yang penulis inginkan. Sejarah itu realitas di masa 
lalu, di dalamnya tentu ada kejadian-kejadian yang begitu similar dengan masa 
sekarang, sehingga sering terjadi kesalahan yang tidak disengaja dalam 
menuliskan sejarah.

Filsuf Albert Camus, mengatakan bahwa ketika seseorang dihadapkan pada 
realitas, untuk kemudian ditulis atau diceritakan, maka ia sedang melakukan 
penghitungan pada sesuatu yang tanpa batas. Dengan kata lain, kita harus bisa 
menceritakan setiap sudut tanpa melewatkan sedikitpun setiap titik dari tiap 
kejadian dalam realitas tersebut.

Sejarah memang takkan pernah utuh dan selalu akan ada yang terlupa dan 
dilupakan. Namun, pada titik tertentu, sejarah yang bisa kita katakan sebagai 
simbol ketidakutuhan justru akan mampu menjadi satu pemantik bagi bangsa kita 
untuk tetap berpikir kritis dan selalu mencari apa itu kebenaran dari sebuah 
peristiwa sejarah.

Sehingga perlu adanya bantuan seluruh elemen masyarakat untuk berperan 
memberikan perhatian terhadap puzzle sejarah yang tercecer agar ditemukan 
kembali. Usaha ini yang akan membuat sejarah nantinya sulit untuk ditentukan 
oleh penguasa, disebabkan terkontrol. Karena sejarah seharusnya dituliskan 
secara utuh dan apa adanya.(I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/FE0111FFBED14AD79DA495FC110C1405%40A10Live.



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2Aq%3DmOyLmo9A4MhXKbgGtVuepVK%2BEYTvO8MoaLdUa0zRQ%40mail.gmail.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/788265848.875212.1647151637613%40mail.yahoo.com.

Reply via email to