Written byI76Monday, March 14, 2022 21:02
Zulhas Gak Butuh Menteri 
Jokowi?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/zulhas-gak-butuh-menteri-jokowi/

Beredar isu reshuffle kabinet pada akhir Maret 2022, yang dikaitkan dengan akan 
masuknya PAN melengkapi daftar partai koalisi dalam kabinet Jokowi. Ketua Umum 
PAN Zulkifli Hasan (Zulhas) selalu menepis isu tersebut, meski sering bertemu 
dengan Jokowi. Lantas, apakah Zulhas tidak butuh kursi menteri sebagai reward 
dari koalisi?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Berita gembira mungkin akan menghampiri Partai Amanat Nasional (PAN) pada akhir 
Maret 2022. Beredar kabar perombakan (reshuffle) kabinet akan memasukkan PAN 
dalam deretan daftar nama partai politik kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).

PAN telah bergabung dengan partai koalisi sejak Agustus 2021, namun sampai hari 
ini belum mendapatkan kursi menteri. Zulkifli Hasan (Zulhas) sebagai Ketua Umum 
PAN, pernah bertemu dengan Presiden Jokowi pada akhir Agustus tahun lalu dan 
menyatakan tak ada pembahasan soal tawaran menteri atau reshuffle kabinet saat 
itu.

Meski demikian, isu reshuffle kali ini disebut berbeda. Pengamat menilai ada 
dorongan politik kuat bagi Jokowi untuk melakukan reshuffle dalam upaya 
memasukkan PAN dalam kabinet. Apalagi, selama ini reshuffle kerap dilakukan 
berdasarkan pertimbangan politik. PAN yang berada di koalisi partai pendukung 
pemerintah belum mendapat jatah menteri ataupun wakil menteri (wamen).

Ujang Komaruddin, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), 
mengatakan PAN akan sangat diuntungkan jika benar bakal ada reshuffle kabinet 
pada akhir bulan ini. Sebab, selama ini kabar PAN akan masuk koalisi hanya 
sekadar isu, tanpa ada kepastian yang jelas. Jika nantinya dapat jatah satu 
menteri dan satu wamen, maka PAN disebut sangat beruntung.

Bawono Kumoro, peneliti Indikator Politik Indonesia, mengatakan, sebagai 
anggota koalisi, tentu saja PAN mengharapkan memperoleh posisi di kabinet. 
Menurutnya, seolah ada dorongan politik kuat agar Presiden segera melakukan 
reshuffle untuk mengakomodasi PAN.

Menanggapi politik akomodasi Jokowi, PAN menyatakan siap dengan senang hati 
jika kadernya diminta bergabung ke kabinet. Seolah menyambut gembira kabar 
tersebut, PAN percaya dengan adanya mereka di kabinet akan memperkokoh 
soliditas koalisi yang telah dibangun.

Saleh Partaonan Daulay, Ketua DPP PAN, mengatakan, jika diminta bergabung ke 
kabinet, dengan senang hati PAN akan membantu. Disebutnya, belum masuk saja PAN 
telah banyak membantu, apalagi jika PAN ikut di dalam. Lanjutnya, perubahan 
akan lebih cepat dari dalam dibandingkan dari luar kekuasaan.

Jika benar PAN akan masuk kabinet, maka PAN akhirnya mendapatkan hasil dari 
ghanimah koalisi yang sejak 2021 telah dijalin bersama Jokowi. Tapi, PAN hanya 
mempunyai waktu kurang lebih dua tahun menikmati hasil dari ghanimah politik 
tersebut.

Lantas, seperti apa memaknai kondisi PAN yang akan mendapatkan bagian dari 
ghanimah politik hasil koalisi?

 
Meraba “Ghanimah” Politik PAN

Harta rampasan perang dalam Islam disebut dengan ghanimah. Secara harfiah, 
ghanimah berarti sesuatu yang diperoleh seseorang melalui suatu usaha. Menurut 
istilah, ghanimah berarti harta yang diambil dari hasil sebuah perang.

Philip Khuri Hitti dalam buku History of The Arabs, menceritakan konsepsi 
ghanimah dalam perang yang merupakan tradisi Arab dan Islam yang secara 
legalistik bersifat politis dan legal.  Dan dilihat dari sejarah perang, 
kebiasaan ini telah dikenal sejak zaman sebelum Islam. Hasil peperangan yang 
diperoleh ini mereka bagi-bagikan kepada pasukan yang ikut perang dengan bagian 
terbesar untuk pemimpin.
Dalam konteks politik, perumpamaan ghanimah politik dapat diartikan sebagai 
pembagian jatah dari hasil sebuah pertarungan politik. Ibarat sebuah perang, 
dalam kontestasi politik, terdapat pihak yang menang, dan juga ada pihak yang 
kalah.

Akhirnya, pihak yang menang akan mendapatkan hasil dari apa yang diperebutkan 
dalam kompetisi. Hasil ini yang kemudian harus dibagikan kepada tiap orang atau 
kelompok yang telah bersama-sama bertarung dalam sebuah kompetisi.

Problemnya adalah PAN bukan merupakan partai pengusung Jokowi saat “berperang” 
pada Pilpres 2019. Artinya, jika mendapatkan ghanimah, meski telah bergabung 
dalam koalisi akan membuat ketidakadilan terhadap partai politik pengusung 
koalisi lain, yang sejak dari awal mengusung Jokowi.

Ini misalnya dilihat oleh pengamat politik Jamiluddin Ritonga. Menurutnya, 
dengan masuknya PAN dalam kabinet, dikhawatirkan dapat menggoyahkan partai 
koalisi pemerintah. Alasannya dikarenakan PAN yang tidak berkeringat dinilai 
tak adil masuk dalam kabinet.

Ihwal ini dapat dilihat ketika Gerindra masuk kabinet dan diberi dua kursi 
menteri. Saat itu, berbagai partai koalisi disebut tidak senang. Gestur kentara 
ketidaksukaan bahkan ditunjukkan oleh Partai NasDem saat itu.

Joseph Lapalombara dan Myron Weiner dalam bukunya Political Parties and 
Political Development, mendefinisikan partai saat ini telah pragmatis dalam 
mengambil setiap  keputusan. Partai politik hanya sekadar kelompok manusia yang 
terorganisasi secara stabil dengan tujuan untuk merebut dan mempertahankan 
kekuasaan dalam pemerintahan, tidak lebih dari itu.

PAN akan terkesan sebagai partai politik yang pragmatis dalam mengambil sikap 
dan komitmen politik. Hal ini mungkin wajar dikarenakan pragmatis merupakan 
ideologi yang dianut elite politik kita. Ini misalnya diungkap oleh Dian Dwi 
Jayanto dalam tulisannya Pragmatisme Sebagai Ideologi Partai Politik.

Selain itu, sebenarnya ada hal yang lebih menarik dibandingkan jabatan menteri 
atau masuk dalam kabinet. Jika kita melihat data hasil dua pemilu ke belakang, 
eksistensi PAN merosot dari segi posisi.

Pada Pemilu 2014, PAN meraih 9.481.621 suara (7,6 persen) atau setara 48 kursi 
DPR RI (8,8 persen). Sementara pada Pemilu 2019, PAN meraih 9.572.623 suara 
(6,84 persen) atau setara 44 kursi DPR RI (7,65 persen). Dari segi perolehan 
suara, PAN mengalami sedikit kenaikan. Namun dari segi persentasenya, PAN 
cenderung turun. Pada Pemilu 2014 berada di peringkat ke-6. Pada Pemilu 2019 
turun menjadi peringkat ke-8.

Data ini menarik untuk dilihat karena sebagai partai Islam, PAN justru tidak 
mendapatkan berkah politik identitas pada Pemilu 2019. Kondisi ini jauh berbeda 
dengan PKS yang mendapatkan signifikansi suara. Pada Pemilu 2014 8.480.204 
suara. Pada Pemilu 2019 mendapatkan 11.493.663 suara.
Dengan cepat kita dapat menarik kesimpulan bahwa PAN tidak mendapatkan 
manfaatkan besar jika berada pada oposisi pemerintah. Lantas, jika simpulan ini 
tepat, apakah masuk kabinet merupakan strategi untuk menghadapi Pemilu 2024?

 
Motif Koalisi PAN Sebenarnya?

Kondisi politik Indonesia dewasa ini seringkali justru menggunakan koalisi 
pragmatis. Entah itu untuk mewujudkan suatu kebijakan atau program, mendapatkan 
kekuasaan pada eksekutif, hingga finansial partai.

Terbentuknya koalisi rupanya tidak didorong hanya satu motif saja, melainkan 
oleh multi-motif. Secara garis besar motif dalam koalisi meliputi mencari 
efisiensi (seek efficiency), pemegang kontrol (seek control), dan  mengamankan 
diri (seek security).

Sejauh ini, penerjemahan orang terhadap koalisi hanya untuk mendapatkan seek 
control, yaitu bisa berupa jatah menteri di kabinet. Tapi rupanya terdapat 
kalkulasi lain yang dapat dilihat dari upaya partai politik untuk bergabung 
dengan koalisi.

Dua hal lainya, yaitu seek efficiency dan seek security sering luput dari 
pengamatan politik publik. Padahal, partai politik juga mempertimbangkan dua 
hal ini dalam upaya untuk menyelamatkan eksistensinya dalam kontestasi politik.

Pemain kunci dalam permainan koalisi adalah pemain dominan, yaitu satu partai 
politik yang termasuk dalam pemenangan koalisi daripada partai lain. Dekat 
dengan pemain kunci tersebut, akan membuat partai lain yang lebih rendah akan 
mendapatkan dua keuntungan di atas.

Dalam konteks politik Indonesia, pada akhirnya partai politik akan memilih 
untuk bergabung dengan koalisi disebabkan tiga motif koalisi yang menguntungkan 
partai politik. Dan jika kita melihat kecenderungan koalisi yang terjadi pada 
partai oposisi di Indonesia, selalu tidak mempunyai soliditas koalisi dan 
akhirnya melemah.

Andrew Heywood dalam bukunya Political Ideologies An Introduction, mengatakan 
strategi partai yang kalah perang akan membuka ruang untuk bergabung koalisi 
disebabkan ikatan loyalitas koalisi lebih kuat dibandingkan oposisi. Dalam 
sejarah politik terlihat ikatan oposisi rentan retak dan akhirnya bubar.

Dengan kata lain, terdapat motif lain, selain pragmatisme yang dapat dilihat 
dari masuknya PAN dalam koalisi. Alih-alih PAN hanya ingin mendapatkan jatah 
menteri yang merupakan residu atau sisa-sisa dari politik akomodasi pemerintah, 
PAN bisa diinterpretasi mempunyai kepentingan strategis, yaitu agar 
eksistensinya tetap ada dalam percaturan politik di Indonesia.

Terkait motif menjaga eksistensi, sekiranya kita paham ke mana arahnya. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9AF2A95D09C245FC9808E7894A77ECA6%40A10Live.

Reply via email to