Written byA43Wednesday, March 16, 2022 06:00
Menguak Peran Tony Blair di 
IKNhttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/menguak-peran-tony-blair-di-ikn/
Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu bertemu dengan mantan Perdana 
Menteri (PM) Britania Raya (Inggris) Tony Blair dan membahas pembangunan Ibu 
Kota Negara (IKN) Nusantara. Mengapa peran Tony Blair bisa jadi penting di 
balik pembangunan IKN Nusantara di Kalimantan?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sebagai seorang Presiden, bertemu dengan para tamunya yang berasal dari 
negara-negara asing merupakan hal yang sudah biasa dilakukan oleh Joko Widodo 
(Jokowi). Pada akhir Januari 2022 lalu, misalnya, mantan Wali Kota Solo 
tersebut bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong guna 
membahas sejumlah isu dan kerja sama bilateral.

Wajar apabila pembahasan yang dilakukan terjadi seputar topik-topik yang 
berhubungan dengan diplomasi di antara dua negara tersebut. Namun, bagaimana 
bila pertemuan ini dilakukan antara seorang Presiden dan mantan kepala 
pemerintahan?

Tentu, mereka bisa saja melakukan diskusi mengenai isu-isu global yang sedang 
berlangsung. Siapa tahu bila Presiden perlu juga bertukar pikiran dengan mantan 
pemimpin negara lain perihal persoalan global seperti dampak ekonomi akibat 
pandemi Covid-19?

Namun, uniknya, pertemuan antara Jokowi dan mantan PM Britania Raya (Inggris) 
Tony Blair justru bisa dibilang unik. Alih-alih membahas isu global secara 
khusus, mereka tampaknya lebih berfokus pada persoalan dalam negeri Indonesia – 
terutama pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. 

Pembahasan bersama Blair soal pembangunan IKN Nusantara ini tentu bukan tanpa 
alasan. Mantan PM Britania Raya tersebut dipilih oleh pemerintahan Jokowi untuk 
menjadi salah satu dewan pengarah dalam pembangunan IKN Nusantara – selain 
Putra Mahkota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Mohamed bin Zayed (MBZ) dan CEO 
Softbank Masayoshi Son.

Meski begitu, sosok Blair bukanlah figur asing di mata masyarakat 
internasional. Mantan pemimpin Partai Buruh di Britania Raya tersebut dikenal 
dengan sejumlah kebijakan luar negerinya yang penuh kontroversi saat menjabat 
sebagai PM.

Salah satu kebijakan luar negeri dari pemerintahannya adalah keterlibatan 
Britania Raya dalam Invasi Irak pada tahun 2003 silam. Kala itu, bersama 
Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush, Blair memutuskan untuk 
melancarkan invasi ke Irak yang saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein.

Blair dan Bush memiliki justifikasi tertentu, yakni dugaan bahwa pemerintahan 
Saddam Hussein di Irak tengah membangun senjata pemusnah massal. Namun, 
faktanya, keberadaan senjata tersebut tidak ditemukan.

 
Dengan kontroversi masa lalu ini, publik Indonesia pun bertanya-tanya. Mengapa 
Presiden Jokowi malah menggandeng Blair sebagai salah satu dewan pengarah bagi 
pembangunan IKN yang menjadi warisan yang diimpikan oleh pemerintahannya? 
Lantas, apa peran yang sebenarnya dimainkan oleh Blair dalam pembangunan proyek 
ambisius ini?

Jejak Blair Menuju Tampuk Kekuasaan
Seperti yang telah disebutkan di atas, Blair merupakan sosok PM Britania Raya 
yang cukup kontroversial. Persoalan Invasi Irak pada tahun 2003 silam, 
misalnya, menjadi salah satu noda besar dalam pemerintahannya.

Terlepas dari kebijakan luar negerinya yang problematik tersebut, Blair juga 
dikenal dengan kebijakan domestiknya yang berbeda dari PM Britania Raya 
lainnya. Salah satunya adalah konsep jalan ketiga (Third Way) yang diambil 
Blair – yakni dengan mempertemukan dua spektrum politik berseberangan antara 
sayap kanan dan sayap kiri.
Jalan ketiga ini dilaksanakannya dengan melakukan sejumlah reformasi sosial 
yang populer di masyarakat Britania Raya. Namun, di saat yang sama, Blair juga 
tetap mempertahankan sejumlah aturan bersayap kanan yang diberlakukan oleh 
pemerintahan Margaret Thatcher di masa lalu – sebuah masa yang dianggap mimpi 
buruk oleh kelompok sayap kiri dan buruh.

Meski Blair menjalankan politik jalan ketiga, mantan PM Britania Raya tersebut 
tidak senantiasa selalu berpikir untuk mengadopsi nilai-nilai politik sayap 
kanan. Ketika masih muda, Blair malah mengaku bahwa dirinya dulu terinspirasi 
oleh pemikiran kiri ala Leon Trotsky (Trotskyisme) yang mengusung revolusi 
permanen dari kalangan buruh.

Nilai-nilai pemikiran kiri inilah yang mungkin membantu Blair menemukan 
cintanya, Cherie Booth. Bahkan, Blair sendiri mengaku bahwa Cherie memiliki 
cara pandang yang jauh lebih kiri dibandingkan dirinya.

Pertemuan Blair dengan Booth pun tidak terjadi secara tiba-tiba. Blair memiliki 
latar belakang personal dan keluarga yang berisikan para pengacara dan hakim. 

Ayahnya, Leo Blair, merupakan seorang advokat dan dosen hukum di Durham 
University. Saudara laki-lakinya yang bernama Sir William Blair juga akhirnya 
menjadi. 

 
Blair sendiri merupakan seorang advokat Lincoln’s Inn – di mana dia bertemu 
dengan Booth. Perjalanannya untuk belajar hukum ini juga mengantarkannya 
bertemu dengan teman mahasiswanya, Peter Thomson, yang disebut mempengaruhi 
pemikiran Blair untuk menggunakan pendekatan agama dalam politik kiri. 

Namun, cara pandang kiri Blair yang ekstrem ini berubah ketika dirinya bertemu 
dengan seorang mahasiswa pascasarjana asal India. Blair pun akhirnya sadar 
bahwa dirinya perlu merangkul kelompok-kelompok lain.

Di tengah perjalanan karier politiknya di Partai Buruh, Blair juga membangun 
persahabatan dengan politikus Partai Buruh yang kemudian juga menjadi PM 
setelah Blair lengser. Brown disebut Blair menjadi sosok yang berjasa dalam 
mengajarinya banyak hal, seperti cara menulis pidato yang baik.

Bahkan, kedekatan Blair dan Brown ini berujung pada Pakta Granita di antara 
keduanya. Pakta ini berisikan bahwa Brown tidak akan maju sebagai pemimpin 
partai dan mempersilakan Blair untuk terlebih dahulu maju.

Bisa jadi, lika-liku perjalanannya untuk menjadi PM Britania Raya ini membuat 
Blair menjadi lebih dikenal di kalangan yang lebih luas, termasuk untuk 
membangun koneksinya di tingkat internasional. Mungkinkah koneksi internasional 
inilah yang membuat Blair memiliki modal yang cocok untuk menjadi dewan 
pengarah di pembangunan IKN Nusantara?

Menguak Peran Blair di IKN
Menariknya, setelah tidak lagi menjabat PM pada tahun 2007, Blair mendirikan 
sebuah lembaga konsultan yang bernama Tony Blair Associates (TBA). Lembaga ini 
menjual jasa untuk memberikan nasihat dan saran strategis dalam hal politik, 
ekonomi, dan pemerintahan.

Bisnis yang dibangun oleh Blair ini membuatnya dirinya mampu bekerja dengan 
pemerintah-pemerintah negara lain. Salah satunya adalah pemerintah Kazakhstan 
yang mendapatkan sejumlah nasihat strategis dalam kebijakan hukum, politik, dan 
ekonomi.

Bukan tidak mungkin, melalui TBA, Blair mampu membangun jejaring relasi sosial 
di berbagai negara. Pada tahun 2014, TBA juga mulai membuka bisnis di Timur 
Tengah dengan mendirikan kantor di Abu Dhabi, UEA.

 
Namun, koneksi bisnisnya yang ada di Timur Tengah ini membuat Blair semakin 
disoroti. Pasalnya, mantan PM Britania Raya tersebut juga memiliki peran 
diplomatik sebagai utusan khusus untuk kawasan tersebut.

Selain itu, saran dan nasihat strategis yang diberikan Blair melalui TBA kepada 
pemerintah-pemerintah asing juga menimbulkan polemik. Kerja samanya dengan 
Presiden Kazakhstan Nursultan Nazabayev, misalnya, mendapatkan sorotan karena 
dianggap membantu pemerintahan tersebut untuk menutupi rapor buruk dalam 
perlindungan hak asasi manusia (HAM).

Tidak hanya itu, laporan keuangan TBA yang tertutup disebut semakin menguatkan 
dugaan-dugaan ini. Blair sendiri tidak bersedia membuka informasi tersebut agar 
dapat menjaga rahasia para kliennya yang merupakan pemerintah di negara-negara 
asing.

Jaringan bisnis luar negeri ini bisa saja menjadi modal Blair untuk bisa 
terlibat di IKN Nusantara. Bagaimana pun, bila mengacu pada Kimberly Casey 
dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital, modal sosial – 
berupa relasi yang terbangun – bisa menjadi modal yang menjanjikan dalam 
mempengaruhi dinamika politik. 

Menariknya lagi, meskipun TBA telah bubar sejak tahun 2016, jaringan global 
yang dimiliki oleh Blair tetap saja memunculkan sejumlah teori konspirasi 
tentang dirinya. Salah satunya adalah teori yang menyebutkan bahwa Blair 
merupakan bagian dari kelompok kabal Yahudi.

Terlepas dari benar tidaknya teori-teori konspirasi tersebut, relasi Blair yang 
luas bisa jadi memang dibutuhkan oleh pemerintahan Jokowi. Apalagi, proyek 
ambisius IKN Nusantara juga merupakan proyek yang bergantung pada investasi 
dari banyak pihak asing dengan biaya yang sangat besar, yakni sekitar Rp501 
triliun – yang mana 20 persennya akan mengambil dana dari Anggaran Pendapatan 
dan Belanja Negara (APBN). 

Namun, dengan pengalaman Blair sebagai penasihat yang penuh dengan kontroversi, 
bukan tidak mungkin pemerintahan Jokowi perlu memberikan transparansi soal 
peran Blair dan pembangunan IKN Nusantara secara keseluruhan. Lagipula, IKN 
Nusantara merupakan warisan yang penting bagi Indonesia secara keseluruhannya – 
baik masa kini atau tahun-tahun mendatang. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/A97ABD33346F4326871041CA2C085674%40A10Live.

Reply via email to