Written byG69Wednesday, March 16, 2022 22:30
Berebut Khofifah Jelang Pilpres 
2024?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/berebut-khofifah-jelang-pilpres-2024/
Para petinggi partai politik berbondong-bondong melalukan ‘safari’ ke Jawa 
Timur untuk bertemu dengan Khofifah Indar Parawansa. Berbagai spekulasi muncul 
ke permukaan terkait peluang mantan Menteri Sosial ini maju di Pilpres 2024. 
Hal ini tidak lepas dari anggapan bahwa Khofifah memiliki potensi besar untuk 
bersaing pada kontestasi tersebut. Lantas apakah benar demikian?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa tampaknya mulai mencuri 
perhatian menjelang kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang. 
Terbukti dari sejumlah elite dari partai politik yang melakukan ‘safari’ ke 
Jawa Timur sekaligus bertemu dengan Khofifah. Sosok yang hadir merupakan 
petinggi hingga ketua umum partai seperti Airlangga Hartarto, Ahmad Muzani, 
Surya Paloh, Agus Harimurti Yudhoyono hingga Puan Maharani.

Masing-masing petinggi partai politik pun melempar pujian kepada Khofifah 
karena dianggap sukses dalam memimpin 38 kepala daerah di Jawa Timur. Efek 
positif ini ternyata memicu reaksi lainnya, seperti dukungan yang muncul dari 
komunitas di luar partai. Komunitas Ibu Pengajian (KIP) Surabaya mendukung 
Khofifah untuk berpasangan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian 
sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto di Pilpres 2024 
mendatang. Bahkan muncul baliho dan videotron yang memperlihatkan keduanya 
berpasangan untuk menjadi capres dan cawapres.

Kedekatan Khofifah dengan ketua umum parpol juga terlihat pada beberapa 
momentum. Seperti ketika kunjungan Ketua DPR RI sekaligus ketua DPP PDIP Puan 
Maharani ke Jawa Timur. Beberapa kali Khofifah tidak segan untuk melontarkan 
pujian atas sinergitas antara Pemprov Jawa Timur dengan DPR RI. Bahkan, 
peristiwa unik pun juga terjadi, yaitu Khofifah membonceng Puan dengan 
menggunakan sepeda motor ketika menuju tempat wisata di Pulau Giliyang.

Interaksi antar para petinggi partai politik ini turut direspons oleh pengamat 
politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio. Intinya, kunjungan para 
petinggi atau elite parpol untuk bertemu dengan Khofifah merupakan hal yang 
wajar. Elektabilitas dan popularitas mantan Menteri Sosial ini cukup 
diperhitungkan untuk bersaing di Pilpres 2024. Tidak hanya itu, sosok Khofifah 
juga dianggap bakal berpengaruh kuat karena menduduki posisi strategis dalam 
struktur Nahdlatul Ulama (NU).

Meski dinilai memiliki elektabilitas dan pengaruh yang kuat, nyatanya 
perjalanan Khofifah untuk menjadi Gubernur Jawa Timur tidaklah mulus. Ia pernah 
mengalami kegagalan pada saat maju sebagai cagub di tahun 2008 dan 2013. Pada 
dua momentum tersebut, Khofifah harus mengakui kemenangan lawan terkuatnya, 
Soekarwo. Hasilnya, Soekarwo kembali menang dan menjabat sebagai Gubernur Jawa 
Timur selama dua periode berturut-turut.

Jika mengacu pada fakta ini, lantas apakah benar Khofifah memiliki pengaruh 
kuat dan mampu mengeruk suara pada Pilpres 2024?

 
Political Endorsement
Meski pada akhirnya Khofifah memenangkan pemilihan Gubernur Jawa Timur pada 
tahun 2018, namun pada momentum tersebut Soekarwo atau yang akrab disebut Pakde 
Karwo sudah tidak lagi bisa mencalonkan diri. Maka Khofifah bersama dengan Emil 
Dardak berhasil mengalahkan pasangan Gus Ipul dan Puti Guntur Soekarno pada 
pemilihan Gubernur Jawa Timur tahun 2018.

Kemenangan ini ternyata tidak lepas dari peran Soekarwo yang akhirnya mendukung 
pasangan Khofifah-Emil Dardak. Ketua DPD Partai Demokrat itu secara tegas 
menyatakan dukungannya terhadap Khofifah di Pilgub Jatim. Bahkan Soekarwo 
menampik jika Demokrat yang saat itu mengusung Khofifah tidak memberikan 
dukungan sepenuh hati. Padahal sebelumnya Soekarwo sempat mengemukakan jika 
dirinya secara pribadi mendukung Saefullah Yusuf atau Gus Ipul.
Soekarwo secara penuh menyatakan dukungannya kepada Khofifah dengan meminta 
seluruh DPC Partai Demokrat se-Jawa Timur untuk menyukseskan mantan Menteri 
Sosial tersebut. Pembentukan tim pemenangan merupakan wujud turun tangan 
langsung Soekarwo agar masyarakat Jawa Timur memilih pasangan Khofifah dan Emil 
Dardak.

Penggalangan yang dilakukan oleh Soekarwo membuahkan kemenangan bagi pasangan 
Khofifah dan Emil Dardak. Pengaruh mantan Gubernur Jawa Timur itu ternyata 
masih berpengaruh kuat untuk mendulang suara bagi pasangan calon yang 
didukungnya. Terbukti dari Survei Charta Politica pada tahun 2018 lalu yang 
memperlihatkan sebanyak 79,7 persen masyarakat Jawa Timur puas dengan kinerja 
Pemerintah Provinsi Jatim di bawah kepemimpinan Soekarwo dan Saifullah Yusuf 
(Gus Ipul).

Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya bahkan menilai jika 
persentase keterpilihan di atas 70 persen, maka inkumben memiliki peluang besar 
untuk terpilih kembali. Namun mengingat Soekarwo tidak dapat maju kembali, maka 
partai politik pengusungnya mengkapitalisasi sosok Soekarwo untuk mendongkrak 
tokoh lain. Dalam buku berjudul Political Marketing: As Party Management 
Thatcher karya Jennifer Lees-Marshment, dijelaskan jika tingkat kepuasan 
pemilih bisa menjadi pemicu untuk meraup suara atau dukungan.

Sama halnya dengan buku berjudul Political Marketing: An Approach to Campaign 
Strategy karya Gary Mauser yang menjelaskan jika konsep pemasaran politik 
adalah cara untuk memengaruhi perilaku massa atau publik dalam situasi yang 
kompetitif. Mengacu pada pengertian ini, maka wajar apabila Partai Demokrat 
mengoptimalkan sosok Soekarwo untuk mendorong elektabilitas Khofifah di Pilgub 
Jatim 2018.

Pengaruh seorang tokoh dalam meraih kemenangan dalam kontestasi politik 
sebelumnya sudah pernah terjadi di negara lain, yaitu Amerika Serikat (AS). 
Presiden AS Joe Biden tampaknya harus berterima kasih kepada Jim Clyburn. Dalam 
tulisan Mark Travers yang berjudul How Valuable Are Endorsement in Politics? 3 
Lesson From Political Psychology, political endorsement dipahami sebagai sebuah 
upaya ‘jalan pintas’ untuk mendulang elektabilitas seseorang. Hal ini 
disebabkan karena adanya karakter laziness yang menyebabkan publik tidak lagi 
mencurahkan pikirannya secara menyeluruh dalam politik. Mereka lebih memilih 
mengikuti arahan dari seseorang yang berpengaruh baginya untuk menentukan 
pilihannya.

Pengertian inilah yang teraktualisasikan di setiap kontestasi politik seperti 
pada Pilgub Jatim 2013 lalu, dimana Soekarwo melakukan endorsement kepada 
Khofifah. Hal ini sekaligus membuktikan political endorsement sudah terlihat di 
Indonesia melalui Soekarwo di Jawa Timur. Tampaknya hal serupa juga sedang 
diupayakan menjelang Pilpres 2024 mendatang.

Beberapa partai politik tengah berlomba untuk memperoleh pengaruh Jokowi untuk 
meningkatkan elektabilitas kandidat capres yang diusung. Mengingat baik Jokowi 
dan Soekarwo, tidak mengalami kutukan second term curse.
Dalam tulisan berjudul Is There Really A Second-Term Curse? karya Ari Shapiro, 
dijelaskan jika kutukan periode kedua memang kerap menimpa kepala negara. 
Seperti di AS saat pemerintahan Richard Nixon dan Bill Clinton. Keduanya 
mengalami masa-masa sulit ketika memasuki periode kedua sebagai Presiden AS.

Namun ternyata hal ini tidak mutlak menimpa para pemimpin di dunia. Pasalnya, 
sejauh ini Presiden Jokowi tidak mengalami second term curse. Elektabilitas 
Jokowi juga masih tinggi di beberapa survei.  Maka tidak heran jika banyak 
parpol menginginkan kandidatnya di-endorse oleh Jokowi agar elektabilitasnya 
meningkat. Sama halnya dengan Khofifah yang mendapatkan endorsement dari 
Soekarwo.

Melihat hal ini, lantas seberapa besar pengaruh Khofifah sehingga para petinggi 
partai politik masih gencar mendekati Khofifah menjelang 2024 ini?

 
Incar Jokowi Effect?
Kekalahan Khofifah di Jawa Timur ketika berhadapan dengan Soekarwo sebenarnya 
sudah memperlihatkan jika sosok mantan Menteri Sosial ini tidak cukup 
berpengaruh. ‘Safari’ yang dilakukan oleh petinggi partai politik tampaknya ada 
kaitannya dengan Jokowi Effect. Khofifah diketahui merupakan salah satu sosok 
yang setia dengan Presiden Jokowi. Terlihat dari dukungan relawan Barisan 
Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) yang masif terhadap Khofifah.

Meski Khofifah diusung oleh Partai Demokrat, namun secara pribadi, dirinya 
tetap mendukung Jokowi ketika berkontestasi di Pilpres 2019. Padahal, Demokrat 
tidak mengusung Jokowi saat itu. Menanggapi hal ini, Demokrat menilai jika 
keputusan tersebut merupakan bentuk kesantunan Khofifah terhadap Jokowi.

Dengan hubungan keduanya diprediksi akan tetap baik, bukan tidak mungkin partai 
politik tergerak untuk mendekati Khofifah dengan harapan Jokowi meng-endorse 
Khofifah di Pilpres 2024. Namun tampaknya hingga saat ini belum ada tanda 
Jokowi akan memilih sosok yang akan didukung pada 2024 mendatang. Ini juga 
telah ditegaskan dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Anies-Ganjar Berebut 
Jokowi? bahwa Presiden Jokowi tidak bisa terburu-buru menentukan kandidat 
capres pilihannya.

Hal ini tidak lepas dari faktor loyalitas seorang Presiden Jokowi ke PDIP, 
khususnya Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Pengamat komunikasi politik dari 
Universitas Esa Unggul Jakarta, M Jamiluddin Ritonga bahkan menilai jika posisi 
Jokowi yang bukan merupakan ketua umum partai bisa memengaruhinya untuk 
mendukung calon yang diusung oleh Megawati.

Jika demikian, faktor kedekatan saja rasanya tidak cukup untuk meyakinkan 
Jokowi meng-endorse Khofifah di 2024 mendatang. Ya, masih ada waktu kurang 
lebih satu tahun bagi Jokowi untuk menentukan siapa kandidat pilihannya. (G69)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/E0FD756FD54544E9B4477616A6FBFB55%40A10Live.

Reply via email to