Jubir ICRC untuk Ukraina Bicarakan Soal Keadaan Kemanusiaan 
dan Kemajuan Bantuan Pertolongan di Ukraina
2022-03-18 15:00:20    
https://indonesian.cri.cn/2022/03/18/ARTIsdCHjq0IAn9IK1RELO5q220318.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.3Berkenaan
 dengan situasi kemanusiaan dan kemajuan bantuan kemanusiaan di Ukraina, juru 
bicara ICRC di Ukraina Florian Seriex menerima wawancara CMG pada hari Kamis 
kemarin (17/03).


Menurut penjelasan Florian Seriex, situasi kemanusiaan di Ukraina kini sangat 
serius, sangat dibutuhkan material medis dan barang kebutuhan sehari-hari 
termasuk makanan, air minum dan obat-obatan.

Menurut penjelasan, pada tanggal 15 Maret lalu, material kemanusiaan sekitar 
200 ton yang dikumpulkan oleh ICRC tiba di Ukraina. Florian Seriex menyatakan, 
pada hari Kamis (17/03) kemarin waktu setempat, masih terdapat segelombang lagi 
material bantuan yang tiba, namun dia menekankan pula bahwa masih dibutuhkan 
lebih banyak dukungan kemanusiaan di Ukraina.

Selain itu, Florian Seriex menyatakan, ICRC sedang membantu daerah setempat 
membuka jalur kemanusiaan untuk mengevakuasi para warga yang kehilangan tempat 
tinggal atau orang-orang yang terjebak di Ukraina.

Xu Guixiang: 
Tindakan AS yang Menahan Produk Tiongkok dengan Alasan “Kerja Paksa” Adalah 
Pemerasan dan Perampokan Terang-terangan
2022-03-18 12:57:37  

Jawatan Kepabeanan dan Perlindungan Perbatasan AS dalam pernyataannya 
mengatakan bahwa barang-barang Perusahaan Lining merek busana olahraga Tiongkok 
memiliki masalah “kerja paksa”, maka akan ditahan di seluruh pelabuhan masuk AS.


Terkait hal tersebut, dalam jumpa pers di Beijing hari Kamis kemarin (17/3), 
jubir pemerintah Daerah Otonom Uygur Xinjiang, Xu Guixiang menyatakan, AS 
berdasarkan hukum dalam negerinya  melaksanakan yurisdiksi lengan panjang 
terhadap perusahaan Tiongkok, ini bukanlah tindakan penegakan hukum yang sah 
melainkan penindasan yang terang-terangan. Pihak AS dengan prinsip “praduga 
bersalahnya”, menganggap produk perusahaan Tiongkok yang diekspor ke AS 
memiliki masalah “kerja paksa”, dan menuntut perusahaan-perusahaan tersebut 
membuktikan dirinya tak bersalah, jika tidak bisa membuktikan, produknya akan 
ditahan dan disita. Tiongkok menganggap itu adalah tindakan pemerasan dan 
logika perampok yang serius, tak berbeda dengan perampokan terang-terangan, 
Tiongkok menentang tegas hal tersebut.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1D80EC8D363B4BCBB3B9BE8DF8B56346%40A10Live.

Reply via email to