https://suaraislam.id/krisis-minyak-goreng-bukti-ketahanan-pangan-nol-besar/
      Krisis Minyak Goreng Bukti Ketahanan Pangan Nol Besar

20 Maret 2022



Terlepas dari masalah subsidi atau persoalan-persoalan lain, krisis minyak
goreng (migor) menyentakkan kita semua bahwa “food security” (ketahanan
pangan) Indonesia tidak ada sama sekali. Nol besar. Minyak goreng adalah
salah satu makanan pokok yang gampang dibuat di negeri ini. Tapi, ternyata
migor bisa dijadikan salah satu komoditas yang melumpuhkan masyarakat.

Krisis migor terjadi karena tiga hal. Pertama, pemerintah tidak menangani
sebab. Mereka selalu sibuk dengan akibat. Apa saja yang terjadi, selalu
yang diurus akibat.

Dalam hal migor, penyebab krisis belakangan ini adalah ketiadaan peranan
negara dalam menjamin komoditas yang sangat strategis ini. Pemerintah
seharusnya menugaskan BUMN perkebunan untuk memproduksi migor. PTPN bisa
melakukan itu dengan gampang. Membuat migor tidak memerlukan teknologi
canggih.

Kedua, pemerintah Presiden Jokowi terbelenggu oleh obsesi proyek-proyek
besar yang tidak atau belum diperlukan oleh rakyat secara luas. Jokowi
terlalu ambisius. Dia ingin disebut sebagai presiden yang melakukan
pekerjaan hebat. Padahal, di balik semua pekerjaan besar itu menumpuk utang
yang sangat meresahkan.

Ketiga, pemerintah terlalu ‘lenient’ (lunak) terhadap perusahaan-perusahaan
raksasa yang berkebun sawit. Semua mereka itu rakus. Hanya memikirkan
keuntungan sendiri. Mereka lebih senang mengekspor minyak sawit mentah
(Crude Palm Oil atau CPO). Bisa dipahami. Karena transaksinya mengikuti
harga internasional. Keuntungan yang mereka peroleh jauh lebih besar
dibandingkan menjual CPO ke pabrik migor dalam negeri.

Selain tiga faktor ini, Pemerintah cenderung membiarkan saja para produsen
CPO mendiktekan kehendak mereka. Sekarang, regulasi CPO malah dihapuskan.
Para konglomerat jahat akan semakin brutal. Rakyat kecil bakalan menderita.
Kewajiban menjual 30% untuk pasar domestik (DMO, *domestic market
obligation) *tidak ada lagi. Ini semua gara-gara kerakusan produsen CPO.

Kerakusan itu tidak boleh dibiarkan. Pemerintah perlu memikirkan strategi
jangka panjang agar migor tidak seratus persen dikendalikan oleh pasar
bebas.

Inilah penyebab krisis yang terjadi sekarang. Kalangan produsen berada pada
posisi yang sangat kuat. Sampai-sampai Menteri Perdagangan tidak bisa
berbuat apa-apa.

Ada satu contoh tentang kekuatan produsen migor. Di Sumatera Utara, polisi
menemukan timbunan migor sebanyak 1.1 juta liter. Polisi langsung
mengetahui bahwa migor itu adalah milik PT Salim Ivomas Pratama, anak
perusahaan PT Indofood Sukses Makmur, yang berada di bawah Salim Group
milik Anthony Salim.

Polda Sumut terkesan tak berani mengusut timbunan minyak itu, Polisi
menggunakan bahasa yang sangat sopan. Mereka mengatakan akan “mengundang”
pemilik gudang untuk memberikan klarifikasi di Markas Polda.

Di tempat-tempat lain dengan temuan ribuan atau puluhan ribu liter di level
eceran, kepolisian menggunakan bahasa “gerebek”, “dijadikan tersangka”,
dlsb. Tidak sesantun dan selunak menghadapi Salim Group.

Krisis minyak goreng tidak boleh terulang lagi. Semua pemangku kepentingan
publik harus membicarakan ketahanan pangan *(food security) *nasional,
termasuk migor. Ini sangat krusial. Sebab, kedaulatan sebuah negara bisa
diinjak dengan mudah oleh elit bisnis (oligarki bisnis). Jika oligarki
bisnis saja bisa menguasai negara, konon pula kekuatan asing yang jauh
lebih lengkap dalam melakukan invasi keras (dengan senjata militer) maupun
invasi lunak (dengan senjata binis).

Banyak yang berpendapat krisis besar seperti yang melanda migor ini
sebetulnya berpangkal dari krisis kepemimpinan nasional. Krisis
‘leadership’ di Istana.

Terlihat Presiden Jokowi tidak peduli, atau mungkin juga tidak paham, soal
ketahanan pangan. Padahal, Presiden wajib menjaga ketat ketahanan pangan
rakyatnya agar tidak disandera oleh para pengusaha besar dan konglomerat
jahat. Krisis minyak goreng ini seharusnya menjadi pelajaran.[]

20 Maret 2022


*Asyari Usman*, *Jurnalis Senior.*

Sumber: *facebook asyari usman
<https://www.facebook.com/100034869786149/posts/702262797612707/>*

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2DPKmTFy4rNX1inNiPost_HbSbHZ59F0EDk2TodtnCGow%40mail.gmail.com.

Reply via email to