Written byI76Monday, March 21, 2022 22:25
Erdogan Aktor Kunci Perdamaian 
Ukraina?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/erdogan-aktor-kunci-perdamaian-ukraina/
Konflik Rusia dan Ukraina yang saat ini masih berlangsung, diyakini membuat 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mencoba “cari untung”. Analis melihat 
Erdogan akan meningkatkan posisi strategisnya dalam dunia internasional sebagai 
aktor kunci perdamaian keduanya. Lantas, apa dibalik motif Erdogan sebagai 
aktor kunci perdamaian Ukraina?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Pertemuan Kanselir Jerman Olaf Scholz dengan dengan Presiden Recep Tayyip 
Erdogan di Ankara menjadi peristiwa menarik dalam melihat penanganan konflik 
antara Rusia dan Ukraina. Kedatangan Scholz ditafsirkan sebagai simbol bahwa 
Turki melalui Erdogan dapat menjadi harapan  perdamaian di Ukraina.

Alasannya, Turki dianggap dapat membuat  kedua negara berkonflik duduk bersama 
untuk bernegosiasi. Turki dapat menjadi mediator antara mereka yang berperang, 
dikarenakan hubungan Turki dengan Ukraina cukup baik. Begitu pula hubungan 
Turki dengan Rusia.

Sejauh ini, Turki terus melakukan upaya diplomatik untuk memulihkan perdamaian 
antara Rusia dan Ukraina, serta berharap agar gencatan senjata permanen 
tercapai sesegera mungkin. Turki telah memposisikan diri untuk menjadi 
perantara dengan Rusia dan Ukraina berdasarkan komunikasi antara Putin dan 
Erdogan.

Ibrahim Kalin, Juru bicara utama Erdogan, mengatakan bahwa tuntutan terpenting 
Rusia yaitu Ukraina harus menjadi negara yang netral dan tidak boleh mengajukan 
diri untuk bergabung dengan NATO. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sendiri 
mengakui telah menerima kenyataan tersebut.

Ukraina telah menyadari bahwa tidak ada gunanya berharap pada NATO dan Uni 
Eropa. Negara itu tetap dibiarkan sendiri dalam menghadapi konflik dengan 
Rusia. Akhirnya Ukraina mencoba mencari solusi untuk menyelamatkan negerinya.

Turki melalui Erdogan mengatakan perdamaian harus segera dilakukan. Turki 
mempunyai peran penengah yang strategis. Erdogan mengatakan berupaya untuk 
menyatukan para pemimpin Ukraina dan Rusia.

Keinginan Erdogan ini tidak hanya dapat dilihat dengan alasan yang sederhana 
bahwa penting mendamaikan negara yang secara geopolitik berdekatan dengan 
negaranya. Perlu tafsir lebih dalam melihat sikap erdogan yang begitu serius 
menjadi mediator konflik Rusia dan Ukraina.

Lantas, apa alasan Erdogan di balik inisiatif menjadi mediator konflik ini?

 
Meraba Kepentingan Erdogan

Kemunculan Turki beberapa tahun belakangan sebagai kekuatan regional baru, 
menandai berakhirnya julukan yang lekat dikaitkan kepadanya yaitu “orang sakit 
Eropa”. Julukan ini juga yang membuat Turki kesulitan untuk bergaul dengan 
negara-negara Eropa lain pada masanya.

Poltak Partogi Nainggolan dalam tulisannya Erdogan dan Turki Sebagai Kekuatan 
Baru di Timur Tengah, mengatakan, secara Geopolitik, Turki di persilangan Eropa 
dan Asia membuat eksistensinya begitu strategi di kawasan dua benua. Untuk  
itulah, ia harus menjadi negara yang kuat, agar disegani kehadirannya di  salah 
satu bagian kawasan manapun saat ia tampil.

Dengan berakhirnya Imperium  Ottoman, Turki tetap ingin  menunjukkan peran 
besarnya dalam menentukan masa depan dunia  dan kawasan, di bawah Erdogan. 
Sebagai  konsekuensi logisnya, Turki harus  memiliki pemimpin yang ekstra kuat, 
didukung secara luas, dan  dapat berkuasa dalam tempo yang  lebih lama daripada 
para pemimpin sebelumnya.
Pemimpin politik  modern Turki ini naik ke panggung  kekuasaan sejak tahun 2003 
sampai  tahun 2014 sebagai Perdana Menteri, dan tahun 2014 sebagai Presiden. 
Selama 15 tahun mendominasi pemerintahan Turki, Erdogan memiliki pencapaian 
yang tidak bisa dianggap remeh.

Novi Christiastuti dalam tulisannya Pencapaian Erdogan Selama 15 Tahun Terakhir 
Berkuasa di Turki, menyebut, Erdogan bersama Partai Keadilan dan Pembangunan 
(AKP) yang didirikannya tahun 2001, selalu memenangi pemilu sejak tahun 2002. 
Erdogan sendiri telah menjabat PM Turki selama tiga periode, mulai tahun 2003 
dan berlanjut hingga tahun 2014.

Berawal dari menjabat Perdana Menteri Turki, Erdogan mampu memacu pertumbuhan 
ekonomi yang mengesankan banyak pihak. Di bawah Erdogan, Turki menjadi negara 
dengan perekonomian terbesar ke-16 di dunia dan terbesar ke-6 di Eropa.

Namun, kesuksesan Erdogan saat ini sedang dihadapkan pada kenyataan yang 
berbeda, Ekonomi Turki mengalami penurunan. Penurunan lira membuat harga impor 
lebih mahal, mulai dari energi hingga banyak bahan baku yang diubah para 
produsen di Turki menjadi barang ekspor.

Tingkat inflasi tahunan Turki melonjak ke level tertinggi dalam 19 tahun, yang 
kian menggambarkan gejolak keuangan negara itu, sekaligus menimbulkan 
peringatan atas kebijakan presidennya. Disinilah peran Erdogan di uji dalam 
konteks politik domestiknya. 

Thea Fathanah Arbar dalam tulisannya Erdogan Disebut “Cari Untung” Konflik 
Rusia-Ukraina, Kenapa?, mengutip berbagai analis geopolitik yang percaya 
konflik Rusia-Ukraina akan menjungkirbalikkan ekonomi Turki yang kini sedang 
krisis, dengan nilai Lira yang terus menurun terhadap dolar AS dan tingginya 
inflasi.

Oleh karena itu secara politik, hal ini pun akan membahayakan peluang Erdogan 
untuk memperpanjang kepemimpinannya, menjadi tiga periode, dalam pemilu di 
2023. Erdogan membutuhkan strategi untuk menguraikan permasalahan politik 
domestik.

Asli Aydintasbas dalam tulisannya War in Ukraine: Erdogan’s Greatest Challenge 
Yet, mengatakan, bahwa ketika momok perang di Ukraina membayangi Eropa, maka 
Erdogan tidak akan melewatkan kesempatan tersebut untuk kepentingan tantangan 
politik domestik yang sedang dihadapinya.

Di sini lag secara jelas terlihat bahwa Erdogan akan menggunakan isu 
internasional seperti konflik yang terjadi di Ukraina, menjadi modal politik 
untuk menyelesaikan kepentingan politik dalam negeri. Lantas, seperti apa 
penjelasan strategi Erdogan yang menggunakan isu konflik rusia untuk 
kepentingan dirinya?

 
Two-Level Game ala Erdogan

Putnam dalam bukunya Diplomacy and Domestic Politics: the logic of Two-Level 
Games, mengatakan, bahwa two-level games merupakan sebuah proses dimana politik 
 internasional dan domestik tidak bisa berdiri sendiri karena keduanya saling 
mempengaruhi satu  sama lain.

Seperti yang dipaparkan oleh Putnam bahwa konsep ini sebenarnya ingin 
menggambarkan metamorfosis yang terjadi pada dua ranah yaitu internasional pada 
level pertama dan domestik pada level kedua.

Jika melihat konteks posisi Erdogan, kepentingan Perdamaian di Ukraina yang 
dipelopori oleh Turki melalui Erdogan akan berimbas pada politik domestik yang 
sedang dihadapinya.

Glorifikasi kejayaan Islam dan nilai-nilai Islam modern yang dikampanyekan 
sebagai pemikiran politiknya, akan diuji saat Turki dihadapkan dengan kondisi 
perang di Ukraina.

Keberhasilan Erdogan merebut hati rakyat Turki adalah bukan program ekonomi 
atau sekulernya semata, tapi terutama  karena program pro-Islam yang 
mengesankan. Pesan Islam  dari kebijakan- kebijakan politiknya yang dibawa 
damai oleh  Erdogan menyebabkan ia dikagumi masyarakat Islam Turki.

Masyarakat Islam yang menjadi penyokong kekuasaan Erdogan terbesar, setidaknya 
mengajukan  dua tuntutan yang mungkin saja bisa terjadi. Pertama, 
pengejawantahan nilai-nilai perdamaian yang dibawa oleh nilai-nilai Islam itu 
sendiri. Pada kasus Ukraina, Turki dituntut jadi juru damai.

Kedua, sikap romantisme terhadap kejayaan masa lalu Turki yang di selalu 
dikampanyekan Erdogan. Dengan menjadi juru kunci perdamaian, Turki akan menjadi 
negara yang diperhitungkan setidaknya dalam geopolitik kawasan.

Putnam menjelaskan pada level domestik terdapat kelompok-kelompok yang akan 
menekan pemerintah dengan kepentingannya sehingga membuat pemerintah mengadopsi 
kebijakan yang menguntungkan kelompok domestik.

Tentunya kesinambungan kepentingan politik domestik Erdogan saat ini yang akan 
menghadapi pemilu 2023, mendapatkan momentumnya ketika dia mampu pertahankan 
kampanye besarnya tentang kebangkitan Turki dibawah kepemimpinan.

Zafer Fatih Beyaz dalam tulisannya Erdogan Janjikan Turki yang Lebih Kuat Pada 
Usia 100 Tahun, mengatakan, bahwa kekuatan Turki telah diakui di kawasan. 
Menggarisbawahi bahwa kekuatan Turki di wilayahnya telah diakui, Erdogan 
mencatat bahwa pemerintahnya tetap bersikeras untuk mencapai tujuan yang 
ditetapkan untuk seratus tahun negara pada 2023.

Glorifikasi kejayaan turki menjadi salah satu strategi yang membuat Erdogan 
dapat bertahan pada pucuk kekuasaan Turki sampai saat ini. Pada akhirnya 
glorifikasi ini akan mendapatkan klimaksnya jika Erdogan benar-benar berhasil 
menjadi juru kunci dari konflik antara Rusia dan Ukraina. (I76)


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/7D77275F421D477FAC86D22FE17B9B27%40A10Live.

Reply via email to