Written byA43Tuesday, March 22, 2022 17:00
Putin dan Akhir Kejayaan 
Amerikahttps://www.pinterpolitik.com/in-depth/putin-dan-akhir-kejayaan-amerika/

Operasi militer yang dijalankan oleh pemerintahan Rusia yang dipimpin Vladimir 
Putin di Ukraina memiliki makna baru bagi dominasi Amerika Serikat (AS) di 
panggung politik internasional. Dinamika apa yang sedang berjalan di balik 
menguatnya kekuatan Rusia di bawah Putin ini?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Politik merupakan sebuah permainan perebutan kekuatan. Setidaknya, kacamata 
inilah yang sering kali digunakan ketika mengamati dinamika politik 
internasional.

Cara pandang politik internasional seperti ini paling tidak sangat 
terejawantahkan dalam seri gim video populer bertemakan strategi seperti Age of 
Empires dan Civilization. Biasanya, pemain akan diminta untuk mengatur sebuah 
kelompok negara atau peradaban agar bisa bangkit menjadi sebuah entitas yang 
kuat.

Namun, kebangkitan kerajaan dan peradaban yang kita mainkan hampir pasti akan 
terhambat dengan kehadiran kerajaan-kerajaan lain – tatkala memiliki 
kepentingan yang berbeda dengan kepentingan pemain. Manuver-manuver – mulai 
dari negosiasi, diplomasi, hingga perang – pun menjadi opsi-opsi strategis yang 
dapat diambil oleh pemain.

Tindakan untuk menimbang opsi-opsi taktis dan strategis seperti ini juga 
berlaku di dunia nyata, termasuk dalam geopolitik yang ada di antara para 
negara-bangsa. Salah satunya adalah peristiwa yang kini tengah menjadi 
perhatian dunia, yakni konflik yang meletus antara Rusia dan Ukraina.

Mungkin, pemain-pemain yang tengah memainkan gim saat ini adalah para pemimpin 
dunia seperti Vladimir Putin (Rusia) dan Volodymyr Zelensky (Ukraina). Bukan 
tidak mungkin, para pemimpin ini ingin memenangkan konflik yang terjadi.

Namun, tentunya, sejumlah faktor penentu lainnya turut bermain di sini. Bagi 
Zelensky, misalnya, salah satu faktor utama yang sangat menentukan kemenangan 
bagi Ukraina adalah dukungan dari Amerika Serikat (AS) dan negara-negara North 
Atlantic Treaty Organization (NATO).

- Advertisement -Namun, hingga memasuki minggu kelima konflik, AS dan 
negara-negara NATO dinilai masih memberikan keterlibatan yang minimum untuk 
mendukung Ukraina. Padahal, Zelensky beberapa kali meminta AS dan NATO untuk 
bisa terlibat secara langsung – seperti dengan menerapkan zona larangan terbang 
(no-fly zone) di wilayah udara Ukraina.

 
Di sisi lain, gempuran invasi Rusia ke Ukraina terus terjadi. Kabarnya, pasukan 
dari negara yang dipimpin oleh Putin itu telah memasuki sejumlah wilayah 
penduduk di Ibu Kota Kiev.

Banyak ahli pun menilai bahwa minimnya keterlibatan AS dan NATO ini menandakan 
bahwa negara-negara tersebut ingin menghindari konflik secara langsung dengan 
Rusia. Tidak hanya itu, negara-negara Eropa dinilai memiliki konflik 
kepentingan dengan Rusia.

Padahal, seperti yang diketahui sejak dulu, AS dan negara-negara sekutunya 
kerap dianggap sebagai negara-negara yang mendominasi secara global. Lantas, 
mengapa kini AS dan NATO tampak membiarkan invasi ini terus terjadi? Mengapa 
Putin bisa secara leluasa menjalankan operasi militernya di Ukraina?

Balada Ambisi Putin
Banyak orang menilai bahwa Rusia memiliki kepentingan tertentu di balik operasi 
militer yang dijalankan di Ukraina sejak akhir Februari 2022 lalu. Sejumlah 
penjelasan menyebutkan bahwa Putin ingin menghentikan perluasan NATO yang terus 
mengarah ke timur – termasuk ke Ukraina.

Baca juga :  Luhut ‘Kunci’ Kekuasaan Jokowi?Di sisi lain, sejumlah pihak 
menilai bahwa konflik ini menjadi upaya untuk mewujudkan ambisi Putin. Presiden 
Rusia tersebut memiliki ambisi untuk membangun kembali lingkaran pengaruh 
(sphere of influence) negaranya seperti pada era Uni Soviet dahulu.

Terlepas dari apa kepentingan dan alasan untuk melancarkan operasi militer 
Rusia ke Ukraina, sejumlah tantangan pun bakal selalu dihadapi oleh Putin. 
Tantangan pertama adalah bagaimana kekuatan Rusia sebenarnya terus mengalami 
penurunan (decline) daripada menguat (rising).

Rusia memang masih menjadi salah satu kekuatan adidaya di panggung politik 
internasional – dengan kapabilitas militer dan kekuatan ekonominya yang besar. 
Namun, banyak ahli menilai bahwa Rusia tidaklah lagi memiliki kekuatan seperti 
pendahulunya, yakni Uni Soviet.

- Advertisement -Anggapan ini, misalnya, diungkapkan dalam karya Adam Balcer 
dan Nikolay Petrov yang berjudul The Future of Russia. Mereka menilai bahwa 
Rusia memiliki berbagai persoalan internal – seperti korupsi dan ketergantungan 
berlebih pada minyak dan gas – yang membuatnya kesulitan bangkit kembali 
seperti pada zaman Uni Soviet.

 
Meski begitu, Balcer mengatakan bahwa Rusia bukanlah negara yang diam saja dan 
tidak memiliki tujuan. Rusia tetap memiliki aspirasi politik luar negeri untuk 
menjadi negara adidaya.

Asumsi bahwa Rusia menjadi kekuatan yang melemah ini juga sepertinya melekat di 
mata para pemimpin AS sejak berakhirnya Perang Dingin – seperti dalam laporan 
National Intelligence Council AS pada 2021. Andrea Kendall-Taylor dan Michael 
Kofman dalam tulisan mereka yang berjudul The Myth of Russian Decline 
menjelaskan bahwa Rusia di bawah Putin masih memiliki ambisi besar meskipun 
kini Rusia mengalami penurunan kekuatan.

Bila anggapan bahwa Rusia merupakan kekuatan yang melemah ini benar, sejumlah 
pertanyaan lain pun mengemuka. Mengapa lantas Rusia memberanikan diri untuk 
melakukan operasi militer yang berbiaya tinggi di Ukraina? Bukankah Rusia akan 
menghadapi AS – bersama negara-negara NATO – yang dikenal sebagai “polisi 
dunia” sebagai konsekuensinya?

Tiongkok, Akhir Kejayaan Amerika?
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Rusia memang tidak memiliki kekuatan 
dan kapabilitas seperti Uni Soviet. Namun, Rusia di bawah Putin masih memiliki 
ketidakpuasan tertentu pada tatanan dunia (international order) yang berlaku di 
bawah AS.

Balcer bersama Petrov pada tulisan yang disebutkan di atas menjelaskan bahwa 
politik luar negeri Rusia masih memiliki ambisi untuk tetap menjadi negara 
adidaya. Dengan begitu, Rusia tidak pernah suka dengan tatanan dunia yang 
didominasi oleh satu – atau segelintir negara yang berada dalam satu kubu.

Persoalannya adalah tatanan dunia kini tidak lagi sama seperti kala Perang 
Dingin berakhir. Mengacu pada penjelasan John J. Mearsheimer dalam tulisannya 
yang berjudul Bound to Fail, tatanan dunia selain yang didominasi oleh AS mulai 
muncul, yakni tatanan dunia yang dipimpin oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Baca juga :  Indonesia Sejajar AS TiongkokBerbeda dengan tatanan dunia liberal 
ala AS yang menanamkan nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan, Tiongkok lebih 
mengedepankan pragmatisme – sehingga tatanan dunia Tiongkok lebih bersifat 
agnostik. Dua tatanan ini – mengacu pada Mearsheimer – bukan tidak mungkin akan 
berbenturan.

 
Dinamika soal tatanan dunia ini berlanjut dengan ketidakpuasan baik Tiongkok 
maupun Rusia terhadap tatanan dunia ala AS. Ketidakpuasan ini menjadi selaras 
dengan teori pergeseran kekuatan (power transition theory) dari AFK Organski 
yang menyebutkan bahwa konflik bisa saja terjadi ketika ada negara penantang 
(potential challenger) yang ingin mengubah tatanan dunia dominan.

Terkait hal ini, Rusia dengan jelas mengekspresikan ketidakpuasannya – 
khususnya soal lingkaran pengaruhnya (sphere of influence) yang terus 
berkurang, entah itu karena perluasan NATO atau menguatnya kekuatan-kekuatan 
lain di kawasannya. Mungkin, inilah mengapa Rusia akhirnya melancarkan operasi 
militer ke Ukraina yang disebut-sebut ingin bergabung dengan NATO.

Pergeseran tatanan dunia yang disebutkan tadi juga menandai terciptanya 
keseimbangan kekuatan (balance of power atau BoP) baru dalam politik 
internasional. Dengan kebangkitan Tiongkok sebagai negara penantang, dunia yang 
didominasi AS (unipolar) tidaklah eksis lagi – menciptakan dunia yang berisikan 
kutub kekuatan lebih dari satu, yakni dunia multipolar.

Inilah mungkin mengapa Mearsheimer menyebutkan bahwa abad ke-21 ini akan 
menjadi era ketika terdapat tiga kekuatan besar (great powers) yang saling 
bersaing, yakni AS, Tiongkok, dan Rusia. Pada akhirnya, kehadiran Tiongkok dan 
BoP yang baru menciptakan kesempatan lebih luas bagi Putin untuk menantang 
tatanan dunia AS. 

Di sisi lain, BoP baru ini membuat AS tampak melemah dan menarik diri dari 
perannya sebagai hegemon global. Bukan tidak mungkin, persaingan tiga kekuatan 
besar ini bakal terus terjadi ke depannya.

Namun, semua ini bisa saja terjadi karena AS tidak ingin mengalami sebuah 
konsep yang disebut sebagai imperial overstretch atau overreach. Konsep yang 
dipopulerkan oleh Paul Kennedy dalam bukunya The Rise and Fall of the Great 
Powers merupakan situasi di mana negara adikuasa mengalami kesulitan mengontrol 
pengaruhnya karena keterbatasan kapasitas.

Kebijakan luar negeri AS yang ingin melepaskan dominasi unipolar ini pun mulai 
terlihat sejak era pemerintahan Donald Trump yang ingin menarik diri dari 
sejumlah rezim dan perjanjian internasional. Mungkin, bagi AS, lebih baik tetap 
adidaya yang masih diperhitungkan daripada menjadi adikuasa yang berakhir 
runtuh.

Pada intinya, menurunnya dominasi AS – dengan kemunculan Tiongkok – menciptakan 
hubungan paralel bagi politik luar negeri Rusia di bawah Putin. Dan, bukan 
tidak mungkin, konflik yang terjadi di Ukraina kini adalah hasilnya. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/9D7565C362EF4B8EB3C46596488C8F0B%40A10Live.

Reply via email to