Ekonomi China Makin Melejit, Bisakah Indonesia Menyusul?
Rosi Maria
- Selasa, 22 Maret 2022 | 23:05 WIB
https://www.sinarharapan.co/internasional/pr-3853014189/ekonomi-china-makin-melejit-bisakah-indonesia-menyusul
    

Perbicangan yang diinisiasi Lembaga Kerja Sama Ekonomi dan Sosial Budaya 
Indonesia-Tiongkok (LIT) pada Selasa, 22/3 membahas perkembangan terkini 
hubungan ekonomi, sosial dan budaya Ri-Tiongkok. Hadir sebagai pembicara (depan 
ki-ka) Mantan Duta Besar Sugeng Rahardjo, Dubes RI untuk RRT Djauhari 
Oratmangun, Ketua LIT Sudrajat, dan Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani. 
(RMA/SH)

SINAR HARAPAN - LEMBAGA Kerja Sama Ekonomi dan Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok 
(LIT) menyelenggarakan diskusi yang mengangkat tema "Perkembangan Terakhir 
Hubungan Ekonomi, Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok" di kantor Lembaga Indonesia 
Tiongkok, Jakarta Pusat pada Selasa 22 Maret 2022.

Perbincangan ini menghadirkan Duta Besar RI untuk Republik Rakyat Tiongkok 
Djauhari Oratmangun, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani, Ketua Lembaga 
Kerjasama Ekonomi Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok Sudrajat, serta mantan duta 
besar RI untuk Tiongkok Sugeng Rahardjo.

Hadir pula Penasehat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Handaka 
Santosa, Perwakilan dari PERPIT Alek Sulistiyo, beserta para pengurus Lembaga 
Kerjasama Ekonomi Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok (LIT).


  
Ketua Lembaga Kerjasama Ekonomi Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok, Sudrajat saat 
membuka diskusi pada Selasa, 22/3. (RMA/SH)

Baca Juga: Perlambatan Ekonomi China Bisa Mengancam RI

China diprediksi mampu menggandakan ukuran ekonominya pada tahun 2035. Dengan 
perkembangan ekonominya saat ini, China diproyeksi melampaui AS sebagai ekonomi 
terbesar di dunia.


“Pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2021 sekitar 8 sampai 8,5 persen, ini 
adalah angka pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia saat ini, khususnya di masa 
pandemi,” ujar Djauhari Oratmangun dalam presentasinya saat memaparkan hubungan 
bilateral Indonesia dan China.

Manufaktur, jasa, dan pertanian adalah tiga penyumbang terbesar sektor ekonomi 
Tiongkok. Ketiga sektor ini mempekerjakan mayoritas penduduk China dan 
memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB.

Baca Juga: China Tetap Jalin Kerja Sama Dagang dengan Rusia

Penduduk China saat ini mencapai 1,448 miliar jiwa dan menjadi mesin raksasa, 
baik untuk perekonomian China sendiri maupun Indonesia sebagai mitra dagangnya. 
Saat ini China juga menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dari sisi GDP.

“China menguasai global supply chain dan menjadi salah satu mitra dagang paling 
strategis yang dimiliki Indonesia,” jelas Djauhari lagi. Perdagangan antara 
ASEAN dan China telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2010, dari 
USD235,5 miliar menjadi USD 507,9 miliar pada 2019, mencakup 18 persen dari 
total transaksi perdagangan ASEAN.


 
Slide yang dipresentasikan Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun 
pada diskusi yang digelar LIT, Selasa 22/3. (RMA/SH)

Ukuran ini hampir empat kali lipat sejak berlakunya Perjanjian Perdagangan 
Barang ASEAN-China pada tahun 2005. “Saat ini ASEAN menjadi mitra dagang utama 
China. Per tahun ASEAN dan China memiliki transaksi mencapai 750 miliar USD 
(atau sekitar Rp10.672 triliun) melampaui jumlah perdagangan EU dan kawasan 
lainnya,” katanya.

Baca Juga: PM China Li Keqiang Konfirmasi Tahun Terakhir Menjabat

China juga menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di dunia dan 
bertransformasi menjadi masyarakat cashless payment. Saat ini China malah sudah 
memiliki ‘digital currency’ yang menjadi pilot project di beberapa tempat.

Akselerasi ekonomi China didukung oleh kebijakan ekonominya yang tak pernah 
berhenti dan membawa negara ini semakin berpengaruh dalam tatanan regional 
maupun global.



 
Mantan Duta Besar RI untuk RRT Sugeng Rahardjo dalam diskusi yang digelar LIT 
pada Selasa 22/3. (SH/RMA)

“Hal inilah yang membuat mereka bisa ‘leapfrogging’. Kontribusi ekonomi digital 
China terhadap GDP sudah 32 persen. Indonesia sudah sekitar 3 persen,” papar 
Djauhari.

Baca Juga: China Ajak RI Tingkatkan Penggunaan Mata Uang Lokal

'Leapfrogging' yang berasal dari kata 'leapfrog' menggambarkan China yang 
melewati tahapan pembangunan dan perkembangan ekonomi dengan jalur tradisional.

Sehingga, China mampu melompat langsung ke perkembangan ekonomi yang masif 
menggunakan teknologi terbaru. Atau, menjelajahi ‘jalur alternatif’ 
pengembangan teknologi melibatkan teknologi baru dengan manfaat serta peluang 
baru.

Lalu, bisakah Indonesia menyusul China? Mampukah RI mengikuti China untuk 
dengan proyeksi perekonomian saat ini?

Baca Juga: AS Peringatkan Perusahaan China Jika Siasati Sanksi Ekspor Rusia

Djauhari mengatakan ini bukan hal yang mustahil—Indonesia bahkan sudah ke arah 
yang benar. Indonesia dan China sejak tahun 2013 sudah menjalin status 
comprehensive strategic partner (CSP).


 
Peserta diskusi yang digelar Lembaga Kerja Sama Ekonomi dan Sosial Budaya 
Indonesia-Tiongkok (LIT) pada Selasa, 22/3, bertema 'Perkembangan Terakhir 
Hubungan Ekonomi, Sosial Budaya Indonesia-Tiongkok'. (SH/RMA)

CSP seperti dikutip dari ISEAS menekankan pada comprehensive atau 
‘komprehensif’ yaitu kerja sama semua dimensi, luas, dan berlapis-lapis. 
‘Strategic’ atau strategis berarti hubungan jangka panjang dan stabil yang 
melampaui perbedaan ideologi dan sistem sosial. 


Partnership atau ‘kemitraan’ atau kerja sama yang setara serta saling 
menguntungkan. Seperti dilansir dari ISEAS, saat ini di ASEAN, China menjalin 
CSP hanya bersama 3 negara ASEAN yaitu Indonesia, Kamboja, dan Malaysia.

Baca Juga: Impor China Disetop, Industri Batam Kesulitan Bahan Baku

“Indonesia diprediksi pada tahun 2025, transaksinya akan mencapai USD150 
miliar, dengan angka itu kontribusi transaksi digital di Indonesia sudah 
mencapai sekitar 10 persen di GDP," katanya.

Jika sudah mencapai angka segitu, Indonesia sudah bisa ‘leapfrogging’ kata 
Djauhari. Karena sebenarnya China ‘leapfrogging’ sejak 20 tahun lalu. Salah 
satunya adalah ekonomi digital melalui Huawei, Alibaba, Tencent, dan lainnya.***

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/AFD486C45AC3420983CCE67077C6B612%40A10Live.

Reply via email to