Kemenlu Tiongkok Menuntut AS Utamakan “HAM”
2022-03-22 10:41:24  
https://indonesian.cri.cn/2022/03/22/ARTIT5iwHQFCparAYfav9sVX220322.shtml?spm=C77783.PVuqMaJp1sU3.EBh5xqK9Mj8L.10



Tanggal 21 Maret adalah Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia, juru 
bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin dalam jumpa pers hari Senin 
kemarin (21/3) menyatakan bahwa sebagai negara penandatangan “Konvensi 
Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Rasial”, Amerika 
Serikat (AS) selalu menoleransi rasisme, dan belum mengambil tindakan efektif 
untuk mengubah rasisme sistemik, hal ini secara serius melanggar kewajiban 
konvensi.

Dilaporkan bahwa dalam Sidang Peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial 
Sedunia Majelis Umum PBB ke-76, Duta Besar Tiongkok untuk PBB secara serius 
membantah penghinaan pihak AS terhadap Tiongkok tentang masalah Xinjiang.




Wang Wenbin menunjukkan bahwa pada masa wabah, pemerintah tingkat tinggi AS 
secara terang-terangan menstigmatisasi dan mendiskriminasi keturunan Asia di 
AS. Aksi kekerasan AS terhadap kelompok keturunan Asia terus bermunculan. 
Menurut survei terbaru, dua pertiga penduduk keturunan Asia di Los Angeles 
khawatir menjadi korban rasisme. 

Perlakuan tidak adil yang serius terhadap orang kulit berwarna dan kelompok 
imigran di penjara swasta, serta pembunuhan terhadap keturunan Afrika di AS dan 
minoritas lainnya karena diskriminasi rasial sering terjadi. Berbagai macam 
kejahatan HAM sudah dikritik oleh banyak pelapor mekanisme khusus PBB tentang 
HAM.





Wang Wenbin menyatakan bahwa menghadapi catatan HAM yang buruk itu AS tidak 
introspeksi diri tetapi malah menganggap dirinya sebagai “guru HAM”, 
mempolitisasi dan mempersenjatai HAM. Dengan demikian HAM dijadikannya sebagai 
alat untuk memberikan tekanan kepada negara lain, mencampuri HAM negara lain. 

Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan 
prinsip dasar hubungan internasional, telah berjalan ke arah yang berlawanan 
dengan usaha masyarakat internasional untuk memberantas rasisme, menghormati 
dan menjamin HAM.




Wang Wenbin menekankan bahwa sebagian media Barat dalam laporannya belakangan 
ini menonjolkan identitas orang kulit putih, mengategorikan bangsa yang berbeda 
menjadi "tingkat peradaban" berdasarkan standar yang ditetapkannya sendiri, 
menunjukkan apa yang disebut sebagai simpati secara selektif dan mengeluarkan 
komentar rasis seperti “mereka bukan pengungsi dari Suriah, mereka adalah 
penganut agama Kristen, mereka adalah orang kulit putih, mereka mirip kami”.




“Hal ini secara serius melanggar niat awal kemanusiaan dan prinsip perlindungan 
HAM. Mengenai pernyataan rasisme media Barat, juru bicara Badan PBB untuk 
Urusan Pengungsi (UNHCR) belakangan ini menekankan bahwa tidak peduli pengungsi 
dari Ukraina, Afghanistan atau Suriah, ‘yang harus diingat bahwa mereka adalah 
manusia.’ 

Diharapkan sebagian media Barat bisa belajar dari hal ini, segera melepaskan 
standar gandanya, melakukan lebih banyak hal yang bermanfaat untuk pertukaran 
peradaban, serta melayani perdamaian dengan sungguh-sungguh, jangan menjadi 
platform untuk menggembar-gemborkan rasisme,” ujar Wang Wenbin.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/0CC592CCF3664A0BAB548F089BA1F102%40A10Live.

Reply via email to