Written byD74Friday, March 25, 2022 22:12Zelensky Harusnya Bisa Cegah Konflik?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/zelensky-harusnya-bisa-cegah-konflik/
Konflik Rusia-Ukraina telah menelan cukup banyak korban sipil. Selain terjadi 
akibat ambisi Vladimir Putin, kita pun perlu menyadari bahwa perseteruan ini 
juga muncul karena Volodymyr Zelensky terlalu berkeinginan mendekatkan diri ke 
Barat. Mungkinkah Zelensky telah melakukan blunder? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari silam dikabarkan sudah 
menelan korban sipil sebanyak lebih dari 1.000 jiwa. Tidak sedikit juga 
gedung-gedung pemukiman yang rusak akibat terkena tembakan nyasar. 

Presiden Volodymyr Zelensky secara aktif tampil di media sosial dan 
pemberitaan, untuk menyadarkan pada dunia tentang kengerian yang terjadi di 
negaranya. Karena itu, banyak warganet yang memberi dukungan padanya supaya 
dapat terus mempertahankan Ukraina agar tidak jatuh ke tangan Rusia.  

Ya, Zelensky telah menjadi simbol perlawanan Ukraina.  

Namun, di balik semua upaya membangun citra heroisme itu, kita tidak bisa 
pungkiri bahwa konflik Ukraina pun sebenarnya terjadi akibat ulah Zelensky 
sendiri.  

Ketika awal dirinya menjadi presiden, Zelensky berjanji bahwa dia akan membawa 
Ukraina lebih dekat dengan Barat, dan integrasi ke dalam NATO adalah misi besar 
yang perlu dicapai. Memang, mayoritas warga Ukraina pun sudah lama menginginkan 
negaranya bergabung NATO. 

Riset yang dilakukan Democratic Initiatives Foundation pada tahun 2017 
menunjukan bahwa 69 persen warga Ukraina ingin bergabung dengan aliansi 
pertahanan tersebut. 

Dengan demikian, Zelensky mendapatkan motivasi untuk mewujudkan misi 
politiknya. Ia berulang kali menyampaikan pada publik bahwa pihaknya sedang 
mendekati NATO. Ini kemudian diperkuat dengan janji-janji yang dilontarkan oleh 
Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, yang sempat mengatakan bahwa pihaknya 
dan NATO menolak menjamin netralitas Ukraina. 

Dalam sebuah laporan dari Reuters, Zelensky bahkan menyebutkan Biden tidak akan 
meninggalkan Ukraina melawan agresi yang kemungkinan besar akan dilakukan oleh 
Rusia. 

Tapi kenyataannya, janji-janji manis tersebut tidak terwujud. Sampai saat ini, 
tentara dan sipil Ukraina berjibaku di lapangan, tanpa adanya bantuan 
pertahanan dari NATO dan AS. Yang mirisnya, saat ini mulai muncul kabar bahwa 
warga Ukraina mulai kesulitan mendapatkan makanan. 

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan besar. Apakah Zelensky telah melakukan 
sebuah blunder politik? Jika iya, mengapa itu bisa terjadi? 

Zelensky Kepedean? 
Palki Sharma dalam videonya Gravitas: Zelensky’s Three Big Miscalculations, 
merumuskan bahwa Zelensky telah melakukan miskalkulasi besar dalam 3 poin. 
Pertama, ia menaruh harapan terlalu tinggi pada NATO dan AS.  

Dengan mendapatkan sejumlah janji manis dan kiriman senjata dari Barat, 
Zelensky telah berpikir bahwa dirinya memiliki kartu truf bila Rusia menyerang, 
yaitu dukungan dari NATO. Tapi ia sepertinya tidak menganalisis terlebih dahulu 
bahwa NATO pun memiliki alasan yang kuat untuk menghindari konfrontasi militer 
langsung dengan Rusia. 

Kedua, Zelensky salah menduga bahwa ternyata Ukraina tidak begitu “penting” 
bagi Barat. Selama ini, Ukraina memang dianggap menjadi wilayah bantalan yang 
perannya sangat krusial dalam membatasi ekspansi NATO ataupun Rusia.  
Sayangnya, kenyataan yang terjadi menegasikan argumen tersebut, Ukraina telah 
dianggap sebagai wilayah yang dapat dikorbankan oleh NATO. Peran seperti ini 
sebelumnya dipegang oleh Afghanistan pada 1980-an, ketika digunakan AS untuk 
sebagai alat untuk membuat Uni Soviet kewalahan bila melakukan agresi 
berlebihan ke Barat. 

Ketiga, Zelensky salah membaca Vladimir Putin. Mantan komedian itu sangat yakin 
bahwa Putin tidak akan menyerang Ukraina. Ini dicontohkan dengan bagaimana dia 
membantah media-media Barat pada awal tahun 2022 tentang rumor Rusia akan 
menyerang Ukraina dalam waktu dekat.  

Zelensky menyebutnya itu adalah dramatisasi pemberitaan. Padahal, Rusia 
terbukti berani menyerang. Hal ini sepertinya terjadi karena Zelensky terlalu 
meyakini bahwa semua retorika yang dilontarkan Putin hanya gertakan semata. 

Dengan demikian, tampaknya Zelensky telah terperangkap pada doktrin yang 
mengatakan bahwa konflik bersenjata tidak akan terjadi di era modern, karena 
itu akan sangat merugikan negara yang bertahan, ataupun yang menyerang. 
Pandangan yang dipopulerkan oleh Norman Angell dalam bukunya The Great Illusion 
ini memang telah menjadi keyakinan banyak orang yang skeptis akan perang. 

Padahal, sejatinya konflik bersenjata akan terus memiliki probabilitas untuk 
terjadi. Francis Fukuyama dalam tulisannya 2034, menjelaskan bahwa seorang 
pemimpin seharusnya tetap peka dalam mencari cara untuk menghindari konflik. 
Cara menghindari konflik itu pun bukan dengan mengabaikan kemungkinan perang, 
tetapi menganalisis dan memahami secara tepat titik-titik didih eskalasi. 

Oleh karena itu, alih-alih mencari muka ke Barat, Zelensky seharusnya 
menganalisis keadaan terlebih dahulu, dan mencari alternatif untuk meredam 
kemungkinan terjadinya konflik. Hal ini bisa dilakukan dengan lebih 
mengedepankan politik perimbangan, di mana Zelensky juga memberi perhatian yang 
sesuai ke Rusia. 

Zelensky bisa menjalankan saran yang dibuat oleh John J. Mearsheimer dalam 
tulisannya Why the Ukraine Crisis is the West’s Fault, yang mengatakan bahwa 
hal yang seharusnya dilakukan pada Ukraina adalah menjadikannya sebagai wilayah 
netral. Zelensky seharusnya memperjuangkan itu, karena Ukraina yang netral 
adalah jawaban yang tidak akan merugikan NATO, maupun Rusia. 

Sayangnya, Zelensky malah lebih memilih dibuai oleh Barat, tanpa 
mempertimbangkan terlebih dahulu rasionalitas di baliknya. 

Mungkin, apa yang terjadi pada Zelensky adalah cerminan nyata dari dampak yang 
muncul ketika seseorang terjun dalam politik, yaitu politik dapat mempengaruhi 
alur pikiran seseorang, sehingga ia kesulitan dalam mengambil keputusan yang 
rasional. 

Ezra Klein dalam tulisannya How Politics Makes us Stupid, mengutip penelitian 
yang dilakukan oleh Profesor Dan Kahan dari Yale Law School, menjelaskan bahwa 
politik secara tidak langsung mampu membuat politisi menjadi orang yang 
ignorant atau bebal.  
Hal ini, menurut Kahan, karena politik adalah dunia di mana ide seorang 
politisi harus diperjuangkan untuk dapat dukungan, tapi dampaknya, fakta-fakta 
yang ada di lapangan sering dibelokan demi membenarkan ide sang politisi, atau 
justru diabaikan sama sekali.  

Oleh karena itu, miskalkukasi yang dilakukan Zelensky dalam konflik ini, 
terjadi akibat dia bebal dengan keadaan yang sesungguhnya ada di lapangan, 
padahal dia bisa belajar dari konflik Crimea pada tahun 2014 bahwa Putin bernai 
bertindak keras untuk mendapatkan keinginannya. 

Yang menariknya adalah, serangan Rusia terhadap rezim Zelensky tampak sangat 
tepat waktu. Mungkinkah Putin sudah menduga bahwa Zelensky akan seperti ini? 

Putin Tahu Kelemahan Zelensky? 
Melihat dinamika politik antara Ukraina dan Rusia hingga serangan 24 Februari 
kemarin, tampaknya masuk akal bila Putin memang melihat kepemimpinan Zelensky 
sebagai momen yang tepat untuk menyerang. 

Meski Zelensky yang selalu menggembor-gemborkan hubungannya dengan NATO, Putin 
tahu penuh bahwa Ukraina tidak akan benar-benar dapat bantuan militer dari 
NATO. Karena sejatinya, Konfrontasi antara Barat dan Rusia adalah hal yang 
dihindari semua pihak.  

Alasannya beragam, mulai dari kebergantungan ekonomi antara Eropa dengan Rusia, 
dan juga dampak bencana yang bisa terjadi bila perang antara dua kubu ini 
terjadi. Bukan tidak mungkin karena Putin sadar Zelensky terlalu berharap pada 
NATO, maka kepemimpinannya adalah momen yang tepat untuk menyerang Ukraina. 

Taktik menyerang ketika momen kelemahan seperti ini umumnya dilakukan oleh 
Jenderal Romawi kuno, Julius Caesar ketika dia berperang melawan bangsa Galia. 
Ketika itu, pasukan Caesar hampir selalu berhadapan dengan pasukan Galia yang 
jumlahnya lebih banyak.  

Dengan demikian, Caesar sadar bahwa satu-satunya cara untuk menang adalah 
dengan memanfaatkan momen yang tepat, karena itu, pasukan Caesar seringkali 
hanya berhadap-hadapan dengan pasukan Galia. Caesar baru menyerang ketika Galia 
secara tidak sadar menunjukan kelemahannya sendiri, seperti ketika sedang momen 
menunggu makanan, atau sedang menaiki tebing tinggi. 

Well, pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa konflik Ukraina ini dapat 
terjadi selain karena ambisi Putin, juga karena miskalkulasi dan harapan 
berlebihan yang dilakukan oleh Zelensky pada NATO. 

Alhasil, ribuan warga sipil harus menelan akibatnya, dan mirisnya, sebenarnya 
ada kesempatan bagi Zelensky untuk menghindari ini, jika saja dia tidak terlau 
condong pada Barat. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/763D526EFE0442FAAE296A2FE52B221D%40A10Live.

Reply via email to