Sebagai pemain sandiwara, yang dia omongkan kan tergantung
sutradaranya.

Am Sat, 26 Mar 2022 08:31:10 +0800
schrieb "Chan CT" <[email protected]>:

> Written byD74Friday, March 25, 2022 22:12Zelensky Harusnya Bisa Cegah
> Konflik?
> https://www.pinterpolitik.com/in-depth/zelensky-harusnya-bisa-cegah-konflik/
> Konflik Rusia-Ukraina telah menelan cukup banyak korban sipil. Selain
> terjadi akibat ambisi Vladimir Putin, kita pun perlu menyadari bahwa
> perseteruan ini juga muncul karena Volodymyr Zelensky terlalu
> berkeinginan mendekatkan diri ke Barat. Mungkinkah Zelensky telah
> melakukan blunder? 
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------------------
> 
> PinterPolitik.com 
> 
> Konflik Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari silam
> dikabarkan sudah menelan korban sipil sebanyak lebih dari 1.000 jiwa.
> Tidak sedikit juga gedung-gedung pemukiman yang rusak akibat terkena
> tembakan nyasar. 
> 
> Presiden Volodymyr Zelensky secara aktif tampil di media sosial dan
> pemberitaan, untuk menyadarkan pada dunia tentang kengerian yang
> terjadi di negaranya. Karena itu, banyak warganet yang memberi
> dukungan padanya supaya dapat terus mempertahankan Ukraina agar tidak
> jatuh ke tangan Rusia.  
> 
> Ya, Zelensky telah menjadi simbol perlawanan Ukraina.  
> 
> Namun, di balik semua upaya membangun citra heroisme itu, kita tidak
> bisa pungkiri bahwa konflik Ukraina pun sebenarnya terjadi akibat
> ulah Zelensky sendiri.  
> 
> Ketika awal dirinya menjadi presiden, Zelensky berjanji bahwa dia
> akan membawa Ukraina lebih dekat dengan Barat, dan integrasi ke dalam
> NATO adalah misi besar yang perlu dicapai. Memang, mayoritas warga
> Ukraina pun sudah lama menginginkan negaranya bergabung NATO. 
> 
> Riset yang dilakukan Democratic Initiatives Foundation pada tahun
> 2017 menunjukan bahwa 69 persen warga Ukraina ingin bergabung dengan
> aliansi pertahanan tersebut. 
> 
> Dengan demikian, Zelensky mendapatkan motivasi untuk mewujudkan misi
> politiknya. Ia berulang kali menyampaikan pada publik bahwa pihaknya
> sedang mendekati NATO. Ini kemudian diperkuat dengan janji-janji yang
> dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, yang
> sempat mengatakan bahwa pihaknya dan NATO menolak menjamin netralitas
> Ukraina. 
> 
> Dalam sebuah laporan dari Reuters, Zelensky bahkan menyebutkan Biden
> tidak akan meninggalkan Ukraina melawan agresi yang kemungkinan besar
> akan dilakukan oleh Rusia. 
> 
> Tapi kenyataannya, janji-janji manis tersebut tidak terwujud. Sampai
> saat ini, tentara dan sipil Ukraina berjibaku di lapangan, tanpa
> adanya bantuan pertahanan dari NATO dan AS. Yang mirisnya, saat ini
> mulai muncul kabar bahwa warga Ukraina mulai kesulitan mendapatkan
> makanan. 
> 
> Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan besar. Apakah Zelensky telah
> melakukan sebuah blunder politik? Jika iya, mengapa itu bisa terjadi? 
> 
> Zelensky Kepedean? 
> Palki Sharma dalam videonya Gravitas: Zelensky’s Three Big
> Miscalculations, merumuskan bahwa Zelensky telah melakukan
> miskalkulasi besar dalam 3 poin. Pertama, ia menaruh harapan terlalu
> tinggi pada NATO dan AS.  
> 
> Dengan mendapatkan sejumlah janji manis dan kiriman senjata dari
> Barat, Zelensky telah berpikir bahwa dirinya memiliki kartu truf bila
> Rusia menyerang, yaitu dukungan dari NATO. Tapi ia sepertinya tidak
> menganalisis terlebih dahulu bahwa NATO pun memiliki alasan yang kuat
> untuk menghindari konfrontasi militer langsung dengan Rusia. 
> 
> Kedua, Zelensky salah menduga bahwa ternyata Ukraina tidak begitu
> “penting” bagi Barat. Selama ini, Ukraina memang dianggap menjadi
> wilayah bantalan yang perannya sangat krusial dalam membatasi
> ekspansi NATO ataupun Rusia. Sayangnya, kenyataan yang terjadi
> menegasikan argumen tersebut, Ukraina telah dianggap sebagai wilayah
> yang dapat dikorbankan oleh NATO. Peran seperti ini sebelumnya
> dipegang oleh Afghanistan pada 1980-an, ketika digunakan AS untuk
> sebagai alat untuk membuat Uni Soviet kewalahan bila melakukan agresi
> berlebihan ke Barat. 
> 
> Ketiga, Zelensky salah membaca Vladimir Putin. Mantan komedian itu
> sangat yakin bahwa Putin tidak akan menyerang Ukraina. Ini
> dicontohkan dengan bagaimana dia membantah media-media Barat pada
> awal tahun 2022 tentang rumor Rusia akan menyerang Ukraina dalam
> waktu dekat.  
> 
> Zelensky menyebutnya itu adalah dramatisasi pemberitaan. Padahal,
> Rusia terbukti berani menyerang. Hal ini sepertinya terjadi karena
> Zelensky terlalu meyakini bahwa semua retorika yang dilontarkan Putin
> hanya gertakan semata. 
> 
> Dengan demikian, tampaknya Zelensky telah terperangkap pada doktrin
> yang mengatakan bahwa konflik bersenjata tidak akan terjadi di era
> modern, karena itu akan sangat merugikan negara yang bertahan,
> ataupun yang menyerang. Pandangan yang dipopulerkan oleh Norman
> Angell dalam bukunya The Great Illusion ini memang telah menjadi
> keyakinan banyak orang yang skeptis akan perang. 
> 
> Padahal, sejatinya konflik bersenjata akan terus memiliki
> probabilitas untuk terjadi. Francis Fukuyama dalam tulisannya 2034,
> menjelaskan bahwa seorang pemimpin seharusnya tetap peka dalam
> mencari cara untuk menghindari konflik. Cara menghindari konflik itu
> pun bukan dengan mengabaikan kemungkinan perang, tetapi menganalisis
> dan memahami secara tepat titik-titik didih eskalasi. 
> 
> Oleh karena itu, alih-alih mencari muka ke Barat, Zelensky seharusnya
> menganalisis keadaan terlebih dahulu, dan mencari alternatif untuk
> meredam kemungkinan terjadinya konflik. Hal ini bisa dilakukan dengan
> lebih mengedepankan politik perimbangan, di mana Zelensky juga
> memberi perhatian yang sesuai ke Rusia. 
> 
> Zelensky bisa menjalankan saran yang dibuat oleh John J. Mearsheimer
> dalam tulisannya Why the Ukraine Crisis is the West’s Fault, yang
> mengatakan bahwa hal yang seharusnya dilakukan pada Ukraina adalah
> menjadikannya sebagai wilayah netral. Zelensky seharusnya
> memperjuangkan itu, karena Ukraina yang netral adalah jawaban yang
> tidak akan merugikan NATO, maupun Rusia. 
> 
> Sayangnya, Zelensky malah lebih memilih dibuai oleh Barat, tanpa
> mempertimbangkan terlebih dahulu rasionalitas di baliknya. 
> 
> Mungkin, apa yang terjadi pada Zelensky adalah cerminan nyata dari
> dampak yang muncul ketika seseorang terjun dalam politik, yaitu
> politik dapat mempengaruhi alur pikiran seseorang, sehingga ia
> kesulitan dalam mengambil keputusan yang rasional. 
> 
> Ezra Klein dalam tulisannya How Politics Makes us Stupid, mengutip
> penelitian yang dilakukan oleh Profesor Dan Kahan dari Yale Law
> School, menjelaskan bahwa politik secara tidak langsung mampu membuat
> politisi menjadi orang yang ignorant atau bebal. Hal ini, menurut
> Kahan, karena politik adalah dunia di mana ide seorang politisi harus
> diperjuangkan untuk dapat dukungan, tapi dampaknya, fakta-fakta yang
> ada di lapangan sering dibelokan demi membenarkan ide sang politisi,
> atau justru diabaikan sama sekali.  
> 
> Oleh karena itu, miskalkukasi yang dilakukan Zelensky dalam konflik
> ini, terjadi akibat dia bebal dengan keadaan yang sesungguhnya ada di
> lapangan, padahal dia bisa belajar dari konflik Crimea pada tahun
> 2014 bahwa Putin bernai bertindak keras untuk mendapatkan
> keinginannya. 
> 
> Yang menariknya adalah, serangan Rusia terhadap rezim Zelensky tampak
> sangat tepat waktu. Mungkinkah Putin sudah menduga bahwa Zelensky
> akan seperti ini? 
> 
> Putin Tahu Kelemahan Zelensky? 
> Melihat dinamika politik antara Ukraina dan Rusia hingga serangan 24
> Februari kemarin, tampaknya masuk akal bila Putin memang melihat
> kepemimpinan Zelensky sebagai momen yang tepat untuk menyerang. 
> 
> Meski Zelensky yang selalu menggembor-gemborkan hubungannya dengan
> NATO, Putin tahu penuh bahwa Ukraina tidak akan benar-benar dapat
> bantuan militer dari NATO. Karena sejatinya, Konfrontasi antara Barat
> dan Rusia adalah hal yang dihindari semua pihak.  
> 
> Alasannya beragam, mulai dari kebergantungan ekonomi antara Eropa
> dengan Rusia, dan juga dampak bencana yang bisa terjadi bila perang
> antara dua kubu ini terjadi. Bukan tidak mungkin karena Putin sadar
> Zelensky terlalu berharap pada NATO, maka kepemimpinannya adalah
> momen yang tepat untuk menyerang Ukraina. 
> 
> Taktik menyerang ketika momen kelemahan seperti ini umumnya dilakukan
> oleh Jenderal Romawi kuno, Julius Caesar ketika dia berperang melawan
> bangsa Galia. Ketika itu, pasukan Caesar hampir selalu berhadapan
> dengan pasukan Galia yang jumlahnya lebih banyak.  
> 
> Dengan demikian, Caesar sadar bahwa satu-satunya cara untuk menang
> adalah dengan memanfaatkan momen yang tepat, karena itu, pasukan
> Caesar seringkali hanya berhadap-hadapan dengan pasukan Galia. Caesar
> baru menyerang ketika Galia secara tidak sadar menunjukan
> kelemahannya sendiri, seperti ketika sedang momen menunggu makanan,
> atau sedang menaiki tebing tinggi. 
> 
> Well, pada akhirnya kita perlu menyadari bahwa konflik Ukraina ini
> dapat terjadi selain karena ambisi Putin, juga karena miskalkulasi
> dan harapan berlebihan yang dilakukan oleh Zelensky pada NATO. 
> 
> Alhasil, ribuan warga sipil harus menelan akibatnya, dan mirisnya,
> sebenarnya ada kesempatan bagi Zelensky untuk menghindari ini, jika
> saja dia tidak terlau condong pada Barat. (D74) 
> 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220326094916.1bcf8c71%40lilik-ThinkPad-T420s.

Reply via email to