DIPLOMAT KALENG-KALENG…! 
Dr. Connie Rahakundini: Soal Rusia, Mengapa Tidak Abstain Di PBB? Siapa 
Pembisiknya? 
ByTim 
Redaksihttps://bergelora.com/diplomat-kaleng-kaleng-dr-connie-rahakundini-soal-rusia-mengapa-tidak-abstain-di-pbb-siapa-pembisiknya/
26 Maret 20220

Connie Rahakundini Bakrie. (Ist)
JAKARTA – Pengamat militer dan pertahanan Connie Rahakundini Bakrie 
mengingatkan supaya Indonesia harus lebih berhati-hati dalam melihat konflik 
Rusia Vs Ukraina, agar tidak terjebak dan terjerumus pusaran konflik yang 
diciptakan Amerika Serikat (AS) dan NATO.

“Di mata saya, Rusia tidak melakukan aneksasi atau invasi, juga tidak merancang 
untuk menduduki atau merebut Ukraina. Ini hanya hegemoni Amerika Serikat (AS) 
dan NATO saja,” kata Connie Rahakundini dihubungi, Kamis (10/3/2022).

Berbagai macam sanksi yang tidak masuk akal kepada Rusia, menurut dia, justru 
akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin semakin berani dan gila. Karena 
Putin mengetahui kelemahan kekuatan AS, Uni Eropa dan NATO, termasuk dalam 
berdiplomasi.

“Harusnya kita abstain, siapa sih yang ngomongin kita tidak mesti abstain. 
Siapa pembisiknya harus diungkap, karena saya terlibat di Kemenlu soal 
pembicaraan perjanjian strategis dengan Rusia,” ungkapnya.

Connie menilai jika Indonesia belum dimasukkan oleh Putin sebagai negara yang 
tidak bersahabat dengan Rusia, tinggal menunggu waktu saja.

“Harusnya kita abstain, bukan mendukung resolusi Majelis Umum PBB. Kalau 
sekarang kita belum masuk negara listnya Rusia, itu karena belum saja menurut 
saya,” katanya.

Sebagai negara yang menggagas berdirinya Gerakan Non Blok, Indonesia seharusnya 
harusnya meniru politik diplomasi yang dilakukan oleh Presiden RI pertama 
Soekarno, yang menggabungkan negara-negara di PBB untuk mengimbangi politik 
besar blok.

“Indonesia harusnya tampil secara diplomatik, bukan ikut-ikutan seperti 
sekarang. Bung Karno jadi besar, karena kemampuan diplomasinya. Bung Karno 
sudah mengingatkan, PBB harus adil. Ketika PBB tidak adil, semua ide besar, ide 
mulia hilang. Makanya saya setuju PBB harus direformasi,” ujarnya.

Indonesia Tidak Netral

Kepada Bergelora.com dilaporkan sementara itu, di tengah desakan Rusia dan 
China agar Indonesia bersikap netral terkait perang di Ukraina, pemerintah 
justru mengambil sikap berseberangan.

Pada Kamis (24/3) waktu New York, Amerika Serikat, Indonesia menjadi salah satu 
negara yang mendukung resolusi Majelis Umum PBB mengenai situasi kemanusiaan di 
Ukraina.

“Resolusi dengan judul ‘Humanitarian Consequences of the Aggression against 
Ukraine’ diadopsi melalui pemungutan suara dan memperoleh dukungan dari 140 
negara, termasuk Indonesia,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB di New York Duta 
Besar Arrmanatha Nasir seperti dilansir Antara, Jumat (25/3).

“Melalui resolusi ini, anggota PBB menyatakan keprihatinannya dan mendorong 
agar segera diambil aksi untuk atasi masalah kemanusiaan di Ukraina dan 
sekitarnya,” lanjutnya.

Menurut dia, resolusi itu merupakan resolusi pertama mengenai situasi 
kemanusiaan di Ukraina yang berhasil diadopsi di PBB, yang bertujuan untuk 
menanggapi kondisi yang semakin memburuk di lapangan.

“Situasi kemanusiaan di Ukraina dalam beberapa minggu terakhir terus memburuk. 
Jumlah pengungsi sudah melampaui tiga juta orang dalam satu bulan terakhir. 
Berbagai infrastruktur umum telah rusak,” ujar Arrmanatha.

Dia menyebutkan bahwa resolusi tersebut dirumuskan bersama oleh Ukraina, 
Prancis, Meksiko dan sejumlah negara yang sepemikiran dari berbagai kawasan. 
Indonesia pun terlibat aktif dalam pembahasan resolusi itu.

“Indonesia memberikan berbagai masukan substansi yang konstruktif, guna 
memastikan segera dilakukannya deeskalasi konflik, dijaminnya akses bantuan 
kemanusiaan, dijaminnya perjalanan yang aman dan evakuasi bagi warga sipil, 
mendorong negosiasi dan dialog untuk selesaikan konflik,” katanya.

Pemerintah Indonesia akhirnya memilih mengabaikan desakan China dan Rusia 
terkait perang di Ukraina.

Dubes Arrmanatha juga menekankan bahwa dalam hal ini tujuan Indonesia hanya 
satu, yakni memastikan masyarakat internasional dapat segera mengatasi situasi 
di Ukraina yang semakin memburuk.

“Bagi Indonesia, mengedepankan pendekatan kemanusiaan di tengah perang adalah 
prinsip,” ucapnya.

Dia menambahkan bahwa dalam setiap kesempatan dalam pembahasan isu Ukraina di 
Majelis Umum PBB, Indonesia konsisten menyerukan untuk segera menghentikan 
perang, segera mengatasi masalah kemanusiaan, dan mendorong adanya hasil dari 
kemajuan dialog dan negosiasi antara semua pihak di Ukraina.

“Hal ini Indonesia lakukan karena, jika situasi di Ukraina berkepanjangan, 
dampak negatifnya tidak saja dirasakan di Eropa, namun juga di berbagai negara 
di seluruh dunia,” kata Dubes Arrmanatha.

“Saat ini dampaknya bahkan sudah mulai kita lihat, dari kenaikan harga pangan 
hingga energi,” lanjutnya.

Untuk itu, dia menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan terus mendorong upaya 
di PBB untuk bisa menghentikan perang di Ukraina. (Web Warouw)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/40F70200F1D24797876EA13E1CA05DD8%40A10Live.

Reply via email to