Written byR53Sunday, March 27, 2022 23:38Kenapa Jokowi Biarkan Luhut Berkuasa?

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-jokowi-biarkan-luhut-berkuasa/
Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan merupakan salah satu politisi paling 
mendapat perhatian di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi. Luhut diberi berbagai 
julukan, mulai dari Lord, Perdana Menteri, hingga Menteri Segala Urusan. 
Pertanyaannya, jika benar begitu berkuasa, mengapa Presiden Jokowi membiarkan 
Luhut?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Dalam artikel PinterPolitik yang berjudul Jika DPR Diganti Artificial 
Intelligence, telah diberikan saran yang tampaknya saat ini tengah dilakukan 
berbagai elite politik. Sedikit mengulang, pemerintah dapat memanfaatkan 
teknologi big data untuk merumuskan kebijakan publik. 

Seperti yang dilakukan tim pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019, 
big data digunakan untuk mengumpulkan sentimen dan aspirasi masyarakat yang 
terhampar di internet, khususnya media sosial (medsos). Hamparan data tersebut 
kemudian dikategorisasi dan dianalisis untuk menentukan strategi pemenangan dan 
apa yang dibutuhkan masyarakat.   

Saran dalam artikel tersebut tampaknya kini telah dilakukan. Adalah Ketua Umum 
PKB Muhaimin Iskandar dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi 
(Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang menggunakan big data untuk 
mendukung penundaan Pemilu 2024. Muhaimin mengklaim memiliki 100 juta big data 
akun medsos, sementara Luhut 110 juta akun. 

Terkait klaim data ini, memang ada beragam respons, khususnya yang memberi 
pertanyaan serius. Burhanuddin Muhtadi dalam tulisannya Rising Support for 
Postponing Indonesia’s Elections? What the Data Really Says, misalnya, secara 
meyakinkan membantah data Muhaimin dan Luhut.

Mengutip pernyataan pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi, Burhanuddin menyebut 
klaim Luhut bahwa 110 juta warganet membahas penundaan pemilu tidak masuk akal. 
Berdasarkan analisis data Drone Empirit, jumlah warganet yang membahas topik 
tiga periode presiden atau menunda pemilu tidak lebih dari 7,7 juta di Facebook 
dan 12.000 di Twitter. 

Lanjut Burhanuddin, analisis Drone Emprit seayun dengan temuan firma analisis 
big data, Evello. Dalam temuan Evello, hanya sekitar 693.289 akun medsos yang 
membahas tentang pemilu – sekitar 17.000 di Twitter, 87.000 di YouTube, 134.000 
di Instagram, dan 454.000 di TikTok. Dari 600-an ribu akun tersebut, hanya 28 
persen unggahan yang dikategorikan sebagai “kegembiraan”, 51,3 persen 
dikategorikan negatif, 27 persen sedih, 8 persen marah, 4 persen jijik, dan 3 
persen takut. 

Dengan demikian, mengacu pada jumlah akun medsos yang membahasnya tidak lebih 
dari 8 juta pengguna, dapat dikatakan klaim data Muhaimin dan Luhut sangat 
patut untuk dipertanyakan dengan serius.

Well, terlepas dari tepat tidaknya klaim data Muhaimin dan Luhut, yang patut 
dilihat secara khusus adalah, mengapa Presiden Jokowi tidak memberi tanggapan? 
Apalagi membahas Luhut, selaku menteri, bukankah ia adalah pembantu Presiden? 
Apa yang dapat dimaknai dari semua ini? 

 
Dua Variabel Penting
Untuk mengulasnya, ada dua variabel penting yang patut diperhatikan. Pertama, 
ada perubahan respons Presiden Jokowi terhadap isu perpanjangan masa jabatan 
presiden. Kedua, seperti yang telah diulas berbagai akademisi politik, Presiden 
Jokowi adalah pengejawantahan Raja Jawa yang menerapkan budaya politik Jawa. 

Terkait yang pertama, kita tentu masih ingat pernyataan tegas Presiden Jokowi 
pada 2 Desember 2019 lalu. “Ada yang ngomong presiden dipilih tiga periode. Itu 
ada tiga [maknanya] menurut saya: Satu, ingin menampar muka saya; yang kedua 
ingin cari muka, padahal saya sudah punya muka; yang ketiga ingin 
menjerumuskan,” ungkapnya ketika mengomentari isu presiden tiga periode.

Yang menarik, pada 4 Maret 2022, Presiden Jokowi justru memberi pernyataan 
lunak dan tidak melarang. “Siapa pun boleh-boleh saja mengusulkan wacana 
penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden, menteri atau partai 
politik, karena ini kan demokrasi. Bebas aja berpendapat,” ungkapnya di Istana 
Bogor.

Seperti yang disebutkan peneliti Indikator Politik Indonesia Bawono Kumoro, 
kedua pernyataan tersebut dengan jelas terlihat kontras dan mudah ditafsirkan 
bahwa wacana penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden mungkin 
saja berasal dari lingkaran Istana.

Pada 22 Maret 2022, Ketua DPR Puan Maharani juga memberi dugaan yang sama. 
Menurutnya, bukan tidak mungkin terdapat orang sekeliling Presiden Jokowi yang 
tengah berusaha mempengaruhi untuk menunda Pemilu 2024.

Nah, variabel pertama ini berkorelasi dengan variabel kedua. Dalam budaya 
politik Jawa, pembantu raja tidak akan mengeluarkan pernyataan apabila merasa 
itu bertolak belakang dengan keinginan sang raja. Dalam gestur politik 
Indonesia dewasa ini, tidak adanya teguran terbuka dengan mudah ditafsirkan 
sebagai bentuk persetujuan.

Konteksnya makin menarik apabila kita melihat Luhut, sosok yang disebut-sebut 
menjadi orang kepercayaan Presiden Jokowi. Menurut Aaron L Connelly dalam 
tulisannya Indonesian Foreign Policy Under President Jokowi, hubungan Presiden 
Jokowi dengan Luhut sudah terjalin sejak RI-1 masih menjabat Wali Kota Solo 
pada tahun 2008.

Kemudian, menurut Kanupriya Kapoor dalam tulisannya Indonesian President Treads 
Fine Line by Empowering Chief of Staff, Luhut menjadi semacam “bemper” Presiden 
Jokowi dari berbagai tekanan politik dan kelompok kepentingan. 

Singkatnya, sekali lagi, selaku sosok yang memiliki hubungan panjang dan 
penting dengan RI-1, dukungan terbuka Luhut terhadap penundaan pemilu tampaknya 
sulit dilepaskan dari indikasi kesetujuan Presiden Jokowi. 
 
Permainan Peran?
Selain pemaknaan atas kesetujuan, ada satu lagi tafsiran menarik yang dapat 
dibuat. Tafsiran ini sejalan dengan adagium bahwa politik tidak pernah 
telanjang. Politik menampilkan dirinya sebagai motif dan tujuan yang berlapis 
dan sebisa mungkin sulit untuk diungkap.

Kita tentu akrab dengan sebutan Lord Luhut, Perdana Menteri, hingga Menteri 
Segala Urusan. Pertanyaannya sederhana, mengacu pada psikologi raja di mana 
raja tidak mungkin membiarkan bawahannya lebih bersinar, mengapa Presiden 
Jokowi seolah membiarkan begitu saja penyematan semacam itu kepada Luhut? 
Bukankah itu akan menciptakan persepsi bahwa Luhut lebih berpengaruh dari RI-1?

Untuk membaca keganjilan ini kita dapat mengacu pada konsep dramaturgi dari 
Erving Goffman, yakni panggung depan politik sering kali berbeda dengan 
panggung belakang. Sama seperti di teater, panggung depan pada dasarnya adalah 
skrip yang telah disetujui. Panggung depan adalah orkestra yang memang sengaja 
disuguhkan kepada penonton, yakni kita semua.

Nah, sekarang coba bayangkan ini, bagaimana jika ini semua adalah permainan bad 
cop/good cop? Jika diperhatikan, tampilnya Luhut sering kali pada isu-isu yang 
rentan mendapat sentimen negatif. Yang terbaru, tentu saja adalah penundaan 
pemilu.

Singkatnya, bagaimana jika Luhut sengaja ditempatkan sebagai bad cop? Dengan 
demikian, berbagai persoalan yang ada kemudian dapat dilimpahkan kepada 
politisi senior Partai Golkar ini.

Apabila melakukan komparasi, strategi bad cop/good cop juga pernah dilakukan 
oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) 
Donald Trump. 

Ratziel San Juan dalam tulisannya Robredo camp tells Duterte not to use VP as 
‘scapegoat’ for drug war failures menyebut Duterte menjadikan Wakil Presiden 
Filipina Leni Robredo sebagai kambing hitam atas kegagalannya dalam memerangi 
narkoba.

Kemudian, Bill Palmer dalam tulisannya Turns out Donald Trump really is trying 
to scapegoat Mike Pence menyebut Trump menempatkan Wakil Presiden AS Mike Pence 
sebagai kambing hitam dalam penanganan pandemi Covid-19.

Sebagai penutup, tentu harus digarisbawahi bahwa analisis ini hanyalah 
spekulasi, interpretasi, dan sulit untuk diverifikasi kebenarannya. Namun, 
seperti yang disebutkan Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya The Black Swan, 
segala kemungkinan tidak boleh diabaikan. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20C2EDABA1B8456CB8EE494EBFD48C22%40A10Live.

Reply via email to