Written byD74Tuesday, March 29, 2022 20:26Kenapa Biden Begitu Provokatif?

https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-biden-begitu-provokatif/
Presiden AS Joe Biden akhir-akhir ini semakin berani dalam berkonfrontasi 
dengan Rusia. Terakhir, Biden bahkan sampai mengatakan kepemimpinan Vladimir 
Putin di Rusia tidak bisa dibiarkan. Mengapa Biden yang tadinya dianggap 
tenang, menjadi provokatif? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com 

Peran Amerika Serikat (AS) dalam konflik Rusia-Ukraina semakin menarik untuk 
diperhatikan. Setelah menjatuhkan sejumlah sanksi ekonomi, Presiden Joe Biden 
kembali memperuncing situasi politik ketika berpidato di Royal Castle, Warsawa, 
Polandia pada Sabtu (26/3/2022). 

Ketika itu, Biden melempar sebuah pernyataan kontroversial dengan mengatakan 
Presiden Rusia Vladimir Putin adalah “tukang jagal”, dan ia tidak boleh 
dibiarkan untuk terus berkuasa di Rusia. Tidak lama kemudian, pihak Gedung 
Putih mengklarifikasi maksud Biden, dengan mengatakan maksudnya adalah 
kekuasaan Putin tidak boleh dibiarkan diberlakukan ke negara-negara tetangga 
Rusia. 

Salah seorang sumber dari Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya mengatakan 
pada media CNN bahwa apa yang dikatakan Biden itu tidak termasuk dalam skrip 
pidato. 

Tentu itu memancing respons dari banyak negara. Rusia melalui Juru Bicara 
Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa apa yang dikatakan Biden tidak layak, 
karena Presiden Rusia hanya boleh ditentukan oleh Rusia, bukan seorang Presiden 
AS.  

Ia juga mengatakan seharusnya seorang kepala negara dapat lebih menjaga 
perkataannya, karena apa yang dikatakan Biden dapat mempersempit jendela kerja 
sama antara Washington dan Moskow. 

Sejumlah negara Eropa pun menunjukkan reaksi yang bisa dibilang ‘was-was’. 
Prancis, misalnya, melalui Presiden Emmanuel Macron menilai seharusnya Biden 
tidak mengucapkan perkataan yang sedemikian provokatifnya. AS dan NATO 
seharusnya mencari jalan yang tepat agar dialog perdamaian dengan Rusia bisa 
tercapai, bukan malah eskalasi melalui retorika politik. 

Namun, Biden sendiri diketahui tidak menyesali perkataannya tentang Putin. 
Dalam sebuah pernyataan klarifikasi, Biden mengatakan bahwa apa yang 
dikatakannya tentang kepresidenan Putin memang bukan tujuan politik AS, tapi 
itu merupakan unek-unek pribadinya. Itu merupakan bentuk kemarahan moral, dan 
Biden tidak berniat meminta maaf. 

Lantas, mengapa Biden bisa mengatakan suatu hal yang sebegitu provokatifnya? 

 
Biden Sedang Cari Muka? 
Ketika awal Pemilihan Presiden (Pilpres) AS pada 2020 silam, banyak yang 
menduga bahwa Biden akan menjadi presiden yang dovish. 

Diambil dari kata dove atau merpati, ini adalah istilah yang diberikan pada 
seorang pemimpin yang mengedepankan diskusi atau solusi damai lainnya dalam 
hubungan politik, ketimbang penggunaan kekuatan. Berbeda dengan Donald Trump 
yang lebih suka bersikap konfrontatif (hawkish), Biden selalu berusaha bersikap 
tenang dan sangat berhati-hati dalam memposisikan AS di panggung internasional. 

Namun dalam menanggapi konflik Ukraina ini, Biden tampaknya justru malah 
beralih untuk menjadi seekor elang atau hawk, dengan beberapa kali terlihat 
ingin unjuk gigi pada Rusia. Lantas, apa kira-kira yang membuat Biden berubah? 
Mungkinkah ini untuk citra politik?

John Mueller, ilmuwan politik dari Universitas Rochester dalam artikelnya 
Presidential Popularity from Truman to Johnson, mengatakan ada empat faktor 
utama yang menyebabkan peringkat persetujuan (approval rating) seorang presiden 
AS naik dan turun.  
Pertama, sudah seberapa lama presiden itu menjabat; kedua, tingkat pertumbuhan 
ekonomi; ketiga, eksistensi peperangan; keempat, peristiwa penting dalam urusan 
luar negeri.  

Faktor yang terakhir, kata Mueller, dapat menyebabkan suatu efek yang disebut, 
“rally-round-the-flag“. Istilah ini menjelaskan tentang fenomena meningkatnya 
dukungan rakyat secara jangka pendek pada seorang presiden selama periode 
perang atau krisis internasional.  

Karena adanya efek ini, maka sejatinya tidak ada Presiden AS yang tidak 
mempertimbangkan politik luar negerinya berdasarkan lensa politik dalam negeri. 
 

Ini menjadi lebih penting mengingat AS pada November 2022 nanti akan 
menyelenggarakan pemilu paruh waktu, di mana akan dipilih anggota-anggota 
Kongres, parlemen negara bagian, dan beberapa gubernur yang baru.  

Maka dari itu, konflik Ukraina yang terjadi saat ini adalah momen tepat bagi 
Biden dan partai Demokrat untuk membenahi kinerja internasionalnya, terlebih 
lagi setelah agenda penarikan pasukan dari Afghanistan pada 2021 lalu yang 
menuai sejumlah kritik. 

Dari pandangan yang lebih mendalam, keterkaitan antara kepentingan politik 
domestik dan luar negeri ini juga dapat memperjelas hubungan AS dan Rusia yang 
tampak tidak pernah mendingin semenjak Perang Dingin lalu. 

Mungkin secara singkat kita akan melihat ini adalah bentuk Perang Dingin jilid 
2. Namun, Michael McFaul, seorang mantan Duta Besar (Dubes) AS untuk Rusia, 
berpandangan lain. Dalam bukunya From Cold War to Hot Peace, McFaul menjelaskan 
ketegangan politik AS-Rusia paska Perang Dingin sifatnya adalah lebih ke drama 
politik, bukan persaingan antara dua negara.  

Sebagai orang yang berpengalaman langsung dalam berdiplomasi dengan Rusia, 
bahkan sampai sempat dilarang masuk ke Negeri Beruang Putih, McFaul 
menyimpulkan persaingan AS dan Rusia saat ini tidak pernah tentang permasalahan 
soal hegemoni, tetapi lebih ke dinamika kesempatan politik domestik yang 
terkadang tepat sasaran, tapi juga sering tidak tepat sasaran. 

Menurut McFaul, warga kedua negara masih mewarisi semangat persaingan ala 
Perang Dingin. Ini pada akhirnya membuat perpolitikan AS dan Rusia sama-sama 
melahirkan pemimpin yang bisa memposisikan dirinya sebagai pahlawan melawan 
Amerika, atau pahlawan melawan Rusia yang notabene adalah anak dari Uni Soviet. 

Oleh karena itu, wajar bila ada Presiden AS yang memanas-manaskan hubungannya 
dengan Rusia, karena perseteruan kedua negara tersebut sekarang telah menjadi 
sebuah komoditas politik.  
McFaul menyebut keadaan ini dengan istilah hot peace atau perdamaian panas, 
karena tensi yang meskipun panas, cenderung tidak akan tereskalasi secara 
signifikan. Berbeda dengan keadaan Perang Dingin yang penuh dengan 
ketidakpastian. 

Namun faktor politik belum lengkap menjawab pertanyaan tentang mengapa Biden 
bisa bertindak sebegitu provokatifnya, sampai-sampai melenceng dari skrip 
pidato. 

Apakah ada penyebab lain yang terselubung di balik blundernya pidato Biden? 

 
Karena Gagap Bicara?  
Steven Levingston dalam artikelnya Joe Biden: Life Before the Presidency, 
mengatakan bahwa sejak kecil Biden memiliki permasalahan bicara gagap. Biden 
sempat diberikan terapi, namun terapi itu tidak berhasil. Pada akhirnya, Biden 
menjadikan rasa kepercayaan dirinya sebagai senjata utama untuk mengatasi 
masalah bicaranya itu. 

Dampaknya adalah, rasa kepercayaan diri yang besar itu telah membuat Biden 
sering ceroboh dalam berbicara di depan publik. Pakar kepribadian, Merrick 
Rosenberg, menilai bahwa dilihat dari karier politiknya, Biden memiliki satu 
kelemahan besar, yaitu ia sering tampak berbicara sebelum memikirkan 
kata-katanya terlebih dahulu.  

Dan memang, kita bahkan bisa menemukan kompilasi beberapa pidato Biden yang 
vulgar dan terkesan ‘terpeleset’ dari skrip, dengan kata kunci “Biden’s gaffe”. 
Karena itu, banyak kemudian yang menilai bahwa kesalahan pidato Biden 
sesungguhnya bukan karena dirinya benar-benar hawkish atau konfrontatif, tetapi 
karena gangguan berbicara yang diidapnya sejak kecil. 

Tetapi di sisi lain, ini bukanlah suatu hal yang bisa dilumrahkan, karena 
sejatinya politik adalah dunia yang penuh dengan konsekuensi dan rasa 
ketidakpercayaan. Kalaupun memang apa yang disebutkan Biden tentang pergantian 
rezim Putin adalah sebuah salah ucap, itu akan menjadi catatan penting dalam 
sejarah, dan berpotensi digunakan oleh pihak tertentu untuk sebuah manuver 
politik. 

Terlebih lagi, perkataan dari seorang Presiden AS di masa-masa konflik seperti 
ini sesungguhnya menjadi suatu hal yang ditunggu-tunggu oleh banyak negara. 

Konflik di Ukraina sejauh ini cukup menyakiti Putin. Pasukannya terjebak dalam 
pertempuran sengit dan korban semakin bertambah. Perekonomian Rusia menggeliat 
di bawah beban sanksi ekonomi, dan Putin semakin terisolasi dari dunia luar.  

Situasi seperti ini berpotensi menjadi justifikasi Putin bila ia nantinya 
merasa putus asa. Ke depannya, hasil akhir perdamaian antara Barat, Rusia, dan 
Ukraina mungkin akan seutuhnya bergantung pada kesabaran Putin dan Sekutu di 
Eropa bila Biden tidak bisa merubah kebiasaannya. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/6834F54E0D4440388E4355B6CBB89598%40A10Live.

Reply via email to