Written byI76Thursday, March 31, 2022 10:16
Zelensky Jadikan Ukraina “Kuba” Berikutnya?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/zelensky-jadikan-ukraina-kuba-berikutnya/
Belajar dari krisis Kuba pada 1962, Presiden Kuba Fidel Castro mampu membuat 
negaranya keluar dari ancaman perang besar. Kondisi tersebut dilihat berbagai 
pihak saat melihat kenyataan yang terjadi di Ukraina. Lantas, Apakah Zelensky 
dapat merubah keadaan yang terjadi saat ini dengan belajar dari krisis Kuba?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Banyak pihak menilai perang di Ukraina adalah efek domino dari eskalasi 
pengaruh negara besar antara Rusia dengan Amerika Serikat (AS). Yang menjadi 
korban adalah Ukraina, karena dianggap sebagai negara satelit yang terjepit di 
tengah persaingan kedua negara besar tersebut.

Dari perspektif geopolitik, kasus Ukraina ini mirip dengan kasus Kuba. Keduanya 
berada di dekat pagar rumah dua negara besar yang kebetulan saling bersaing. 
Ukraina dan Kuba pernah berada dalam blok Uni Soviet.

Sejak runtuhnya Uni Soviet, kedua negara ini akhirnya menempuh jalan yang 
berbeda. Ukraina bergerak mendekati Eropa dan AS. Kuba meski lebih otonomi, 
masih memiliki hubungan tradisional, yaitu cara pandang ideologis yang sama 
dengan Rusia sebagai pewaris Uni Soviet.

Pengamat Hubungan Internasional UNPAD, Rizki Ananda Ramadhan, mengatakan 
serangan ke Ukraina merupakan bentuk nyata dari kekhawatiran Rusia, jika suatu 
saat Ukraina gabung dengan NATO. Tentu Rusia tidak ingin adanya sebuah 
pangkalan militer Barat di halaman belakangnya, mengingat posisi Ukraina persis 
bersebelahan dengan Rusia.

Konflik ini mirip dengan apa yang terjadi dalam peristiwa Krisis Misil pada 
Oktober 1962. Saat itu, Uni Soviet meletakkan pangkalan militer lengkap dengan 
rudal nuklirnya di Kuba sebagai bentuk ancaman bagi AS. Jarak antara Kuba 
dengan AS juga sangat dekat, yaitu berbatasan dengan negara bagian Florida di 
bagian selatan AS.

Krisis Misil Kuba merupakan peristiwa puncak dari Perang Dingin antara AS 
dengan Uni Soviet. Perang Dingin disebabkan oleh perselisihan ideologi yang 
dianut oleh kedua negara tersebut. AS dengan ideologi liberalisme dan Soviet 
dengan komunismenya.

Dari kesamaan sejarah ini, muncul pertanyaan besar. Di bawah kepemimpinan 
Presiden Zelensky yang tengah berseteru dengan Rusia, apakah konflik ini akan 
mengulang sejarah Kuba di bawah Presiden Fidel Castro pada tahun 1962?

 
Meraba Konflik Kuba 1962

Krisis Kuba berakar secara historis, ketika pemerintahan Kuba pimpinan Jenderal 
Fulgencio Batista yang didukung oleh AS tumbang oleh perjuangan milisi Kuba di 
bawah kepemimpinan Fidel Castro dan kawan-kawan. Castro yang beraliran komunis 
segera menancapkan kuku menjadi pemimpin Kuba.

Niko dalam tulisannya Antara Ukraina dan Kuba, mengatakan revolusi Komunis 
tahun 1959 yang menempatkan Fidel Castro sebagai pemimpin Kuba, merubah sejarah 
negeri ini selanjutnya. Hal ini disebabkan Kuba menjadi kawan dekat Uni Soviet, 
yang saat itu sedang bersaing dengan Barat dalam memperluas aliansi.

Tentunya ini yang membuat AS resah, mereka merupakan hegemon dunia sejak 
berakhirnya Perang Dunia II. Secara sistematis, misi besar AS saat itu adalah 
menghambat penyebaran komunisme di seluruh dunia. Kebijakan AS ini disebut 
dengan containment policy.
Amalia Mastur dalam tulisannya Perang Dingin dan Diplomasi, mengatakan 
containment policy dipelopori oleh George Kennan, seorang diplomat AS yang 
menyerukan agar AS bersedia untuk memberikan bantuan bagi kekuatan 
anti-komunisme.

Hal ini didasari pada pertimbangan teori domino, yang mana paham komunisme 
cenderung mudah berkembang di kalangan rakyat miskin. Dan Kuba dianggap sebagai 
ancaman karena letaknya yang berada di belakang pagar AS.

Fit Yanuar dalam tulisannya Membandingkan Ukraina 2022 dengan Kuba 1962, 
mengatakan serangan AS pada 15 April 1961 merupakan operasi militer taktis 
terhadap beberapa posisi militer vital di Kuba. Ini menjadi peristiwa yang 
tidak dapat dilupakan dalam krisis Kuba.

Sejarah mencatat peristiwa ini dengan nama invasi Teluk Babi. Teluk Babi adalah 
sebuah nama tempat, dalam peta internasional disebut sebagai Bay of Pigs, 
penduduk setempat menyebutnya sebagai Playa Giron.

Layaknya seperti konflik Rusia-Ukraina, banyak negara yang melakukan embargo 
ekonomi terhadap Rusia. Kala itu AS juga membatasi kegiatan perniagaan dengan 
Kuba. Hal ini bertujuan untuk mengisolasi Kuba.

Saat itu Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) menuntut Uni Soviet untuk 
menarik rudal-rudalnya, jika tidak AS mengancam akan menyerang Kuba. Namun, 
Pemimpin Soviet saat itu, Nikita Khrushchev menolak permintaan JFK.

Di saat yang bersamaan, kapal-kapal AS sudah bergerak ke perairan sekitar Kuba. 
 Kapal selam Uni Soviet juga bergerak menuju Kuba. Keadaan secara dramatis 
semakin memanas, banyak yang meramalkan akan pecah Perang Dunia III saat itu.

Sejarah mencatat kalau invasi tersebut gagal. Masyarakat Kuba dan pemimpinnya 
Castro tidak tumbang dan sebagian dunia mengutuk AS. Dewan Keamanan PBB 
bersidang yang hasilnya gagal mencapai resolusi.

Kepemimpinan Castro yang ikonik di mata dunia menjadi penyeimbang cara pandang 
pemimpin Kuba ini. Peristiwa ini adalah antitesa di tengah arus cara pandang 
masyarakat dunia melihat pemimpin negara komunis yang terkesan negatif dan 
otoriter.

Setahun berikutnya, tepatnya pada September 1962, Nikita Kruschev berani 
berjudi untuk sebuah kebijakan politik militer dengan menempatkan peluru 
kendali dengan hulu ledak nuklir di Kuba. Disebutkan, AS di bawah kekuasaan JFK 
juga siap jika memang harus terlibat perang nuklir dengan Uni Soviet.

Melalui pertimbangan yang lebih rasional dan akhirnya dianggap bijak oleh 
analis internasional saat itu, Kruschev menarik kembali kebijakan 
politik-militer spekulatifnya. Perang Dingin lalu mulai kembali terdeeskalasi.
Well, potret sejarah konflik Kuba ini dapat menjadi bahan perbandingan melihat 
Ukraina saat ini. Keberhasilan Kuba keluar dari perang besar dapat menjadi 
pelajaran berharga bagi Ukraina. Lantas, apakah sejarah ini dapat dijadikan 
pelajaran oleh Presiden Zelenzky untuk merubah keadaan?

 
Zelensky Balikkan Keadaan?

Posisi Ukraina yang hadir secara geopolitik di sekitaran negara hegemonik tidak 
mudah. Hegemonik dalam konteks hubungan internasional dilekatkan kepada negara 
yang memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang mampu mempengaruhi 
serta mengarahkan dunia.

Dalam kasus Kuba, sikap keras AS menolak penempatan rudal nuklir di Kuba adalah 
alasan keamanan. Alasan yang sama menjadi dasar dari invasi Rusia ke Ukraina. 
Rencana keanggotaan Ukraina dalam NATO mengancam keamanan nasional Rusia.

Bagi Ukraina, aliansi dengan NATO adalah upaya external balancing dalam 
menghadapi musuh potensial, yaitu Rusia. Aliansi ini akan meningkatkan keamanan 
Ukraina, tetapi mengurangi keamanan Rusia.

Jika Zelensky mampu belajar dari perjuangan Castro dan rakyatnya, di mana 
mereka berjuang bukan hanya karena kepentingan pragmatis, seperti gemerlap 
kemapanan ekonomi yang ditawarkan Barat, tapi juga merupakan perjuangan 
ideologis, hal ini dapat kita lihat sebagai alternatif solusi, di mana Ukraina 
mungkin saja akan membalikkan keadaan.

Tapi kondisi Castro saat itu dengan Zelensky kini tampaknya jauh berbeda. 
Kondisi eksternal, misalnya, saat itu Uni Soviet berani pasang badan untuk 
Kuba, bahkan secara berani melakukan upaya pergerakan militer. Sedangkan 
kondisi Zelensky, dia malah harus meminta bantuan militer yang tak kunjung 
datang dari AS dan sekutunya.

Meski Kuba dan Ukraina dalam konteks negara satelit yang hidup di pagar negara 
hegemon yang sama, tapi perlakuan Uni Soviet berbeda dengan AS. Ini yang 
menjadi perbedaan penting dalam konflik Rusia-Ukraina saat ini.

Seharusnya Zelensky memiliki insting politik agar bisa menempatkan diri di 
antara dua tarikan kubu, yakni Barat dan Rusia. Apalagi Ukraina sebagai 
“kembang desa” yang dibutuhkan Barat dan Rusia seharusnya bisa memanfaatkan 
kesempatan yang ada.

Zelensky pun mestinya dapat memainkan peran “kembang desa” tersebut dengan 
cermat. Dengan begitu, Ukraina tidak akan terjepit di antara Barat dan Rusia, 
hingga akhirnya terjadi konflik berkepanjangan seperti saat ini. (I76)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/C465D8B835F046519B1236D718266B9E%40A10Live.

Reply via email to