Written byD74Thursday, March 31, 2022 17:35
Kenapa AS Buat Putin Jadi 
Hitler?https://www.pinterpolitik.com/in-depth/kenapa-as-buat-putin-jadi-hitler/

Semenjak konflik Ukraina dimulai, banyak tersebar narasi penyamaan antara 
Presiden Rusia Vladimir Putin dan mantan diktator Jerman Adolf Hitler. Narasi 
tersebut umumnya muncul dari media dan warga Barat, khususnya Amerika Serikat 
(AS). Mengapa Putin disama-samakan dengan Hitler?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sejak awal konflik Rusia-Ukraina dimulai pada 24 Februari lalu, Amerika Serikat 
(AS) dan Sekutunya telah melemparkan sejumlah cacian dan makian pada Presiden 
Rusia Vladimir Putin. Cacian tersebut beragam, mulai dari “tukang jagal”, 
sampai julukan “Hitler abad ke-21″. 

Ya, tidak sedikit yang menyamakan Putin dengan pria yang sering dianggap 
sebagai orang paling jahat dalam sejarah tersebut. Pemerintah Ukraina melalui 
akun Twitternya @Ukraine bahkan sempat mengunggah sebuah gambar hasil editan 
yang menyandingkan Putin dan Hitler.

Di level masyarakat justru lebih mengkhawatirkan. Jika kita mencari di 
internet, kita bisa menemukan banyak artikel berita yang berisi kabar tentang 
warga-warga negara Barat yang berdemo mengecam invasi Rusia ke Ukraina di 
jalanan, dengan membawa poster cemoohan foto muka Putin dengan fitur wajah 
Hitler.

Terakhir, dan yang paling menarik untuk disorot, adalah berita yang muncul dari 
Amerika Serikat (AS). Berdasarkan hasil temuan intelijen AS, Kate Bedingfield, 
Direktur Komunikasi Gedung Putih, mengatakan  Putin ternyata telah disesatkan 
oleh informasi yang disampaikan para penasihatnya mengenai perkembangan konflik 
di Ukraina

Bedingfield menyebut orang-orang terdekat Putin meyakinkan sang pemimpin Negeri 
Beruang Putih bahwa situasi militer di Ukraina sudah tepat sasaran, dan sanksi 
ekonomi yang dijatuhkan tidak akan membuat Rusia terpuruk. 

Padahal, menurut Bedingfield, kenyataannya tidak seperti itu. Tentara Rusia 
saat ini disebut sudah mulai menggunakan tenaga wajib militer, dan keadaan 
ekonomi di Rusia terpuruk akibat sanksi dari negara-negara Barat. Hal ini bisa 
terjadi, kata Bedingfield, karena para penasihat Putin takut untuk menyampaikan 
kebenaran.

- Advertisement -Meski berita tersebut belum bisa dibuktikan kebenarannya, 
dampak yang ingin dihasilkan melalui narasi ini tampak jelas. Orang-orang yang 
familiar dengan bagaimana masa akhir kepemimpinan Hitler, akan menyadari bahwa 
apa yang terjadi pada Putin identik dengan yang terjadi pada Nazi Jerman ketika 
mendekati masa kekalahannya. 

Ketika dulu, Hitler pun disebut selalu diberi makan informasi bahwa pasukannya 
telah bertugas secara optimal di lapangan dan satu persatu tujuan utama Nazi 
Jerman bisa tercapai. Padahal, kenyataannya Jerman mulai mengalami sejumlah 
kekalahan di seluruh penjuru medan pertempuran.

Lantas, mengapa Barat, khususnya AS sangat obsesif melakukan ‘Hitlerifikasi’ 
pada Putin?

Warisan Pemikiran Era Pencerahan?
Mungkin secara awam kita akan berpikiran bahwa motif utama dari menyamakan 
Putin dengan Hitler adalah untuk menciptakan sosok musuh yang bisa dihadapi 
bersama-sama, karena Hitler adalah seseorang yang dibenci oleh Barat dan juga 
Timur. Namun, kenyataannya tidak sesimpel itu.

Baca juga :  Konflik Ukraina Buat TimTeng Revolusi?David A. Bell, seorang 
sejarawan dari Universitas Princeton, dalam artikelnya Putting 9/11 into 
Perspective, menjelaskan bahwa negara Barat seperti AS memang sering melakukan 
apa yang disebut sebagai Hitlerifikasi, atau upaya pelabelan Hitler pada 
musuh-musuh negaranya. 

Menariknya, Bell menilai kebiasaan ini bukan berasal dari ‘luka’ Perang Dunia 
2, tetapi memiliki akar dari Era Pencerahan di Eropa pada abad ke-17 dan 18 
lalu. Kalau kita melihat keadaan pada saat itu, Eropa dilanda peperangan yang 
tiada henti, ditambah dengan sejumlah konflik terorisme (revolusi separatis) di 
sejumlah negara. 

Karena konflik yang berkepanjangan, muncullah kemudian pandangan-pandangan 
filosofis liberal yang pada dasarnya mengedepankan nilai-nilai akal sehat, 
sains, dan humanisme. Sejak itu, perang mulai dianggap sebagai peninggalan 
barbarik peradaban manusia yang kuno, dan sudah sepantasnya ditinggalkan.

Dari sini, berkembanglah paradigma anti-perang di Barat, salah satunya yang 
paling populer adalah apa yang disampaikan oleh Norman Angell dalam bukunya The 
Great Illusion. Di dalamnya, Angell meyakini perang adalah sebuah tindakan 
bodoh, yang penyelenggaraannya terlalu mahal untuk dilakukan. Ini membuat 
negara tidak ingin berperang. 

- Advertisement -Ya, pandangan Barat yang berasal dari Era Pencerahan ini 
semakin lama semakin mempersempit peluang terjadinya peperangan. Tapi bukannya 
menjadi solusi, pandangan perdamaian ini justru telah menciptakan paradoks baru 
di negara-negara Barat.

Jika kita berpandangan melalui kacamata realisme, kita akan menyadari bahwa 
sedamai apapun situasi dunia, dinamika kekuatan antar negara akan selalu 
terjadi. Ini karena secara naluriah negara menginginkan kekuatan untuk 
memastikan keselamatan dirinya sendiri di tengah ketidakpastian hubungan 
internasional. Sebagai dampaknya, konflik antarnegara akan terjadi.

Dengan demikian, Bell menilai bahwa karena perang sudah tidak lagi dianggap 
sebagai hal yang lumrah untuk terjadi, maka untuk menjustifikasi keterlibatan 
dalam konflik, negara Barat seperti AS harus mencari alasan yang bisa 
menjustifikasi tindakan kekerasan. Salah satunya, menurut Bell, adalah dengan 
memberi cap “Hitler” pada oposisi.

Karena situasi Perang Dunia 2 sering dianggap sebagai salah satu peristiwa 
paling mengerikan dalam sejarah, maka secara naluriah itu akan memancing 
ketakutan dari semua orang. Ketika orang-orang sudah takut, mudah bagi mereka 
untuk kemudian membenci seseorang atau suatu negara yang dicap sebagai Hitler 
atau Nazi.

Oleh karena itu, Hitlerifikasi sesungguhnya bukan hanya untuk menciptakan musuh 
yang bisa dihadapi bersama-sama, tetapi juga telah menjadi justifikasi Barat 
untuk menindak musuhnya. 

Akibatnya, setiap musuh yang dicap sebagai Hitler akan dianggap sebagai sosok 
yang sangat bengis. Padahal, kalau dilihat dari perspektif yang lebih luas, 
mereka pun mungkin punya justifikasi yang masuk akal kenapa melakukan tindakan 
agresi. 

Karena itu, konflik di abad 20 dan 21 ini tidak pernah lagi ada musuh yang 
dianggap “honorable” atau terhormat. Pasti alasan dari semua perseteruan di era 
modern adalah tuduhan bahwa seorang pemimpin dari suatu negara telah melakukan 
hal yang keji dan pantas dikecam bersama-sama.

Baca juga :  Jalan Kuasa “Sang Alpha” Vladimir PutinWell, sepertinya kita 
memang perlu menyalahkan Era Pencerahan atas hal itu. Lalu, apakah tren seperti 
ini pantas dibiarkan? 

Kesalahan Logika Fatal?
Pada dasarnya, kebiasaan menyamakan segala tindakan kekerasan oleh seorang 
pemimpin  dengan sosok Hitler sesungguhnya merepresentasikan suatu logical 
fallacy atau kesalahan logika dari penerapan argumentasi reductio ad absurdum 
atau pembuktian melalui kontradiksi. 

Dijelaskan oleh William Harmon dan Hugh Holman dalam tulisan A Handbook to 
Literature, ini adalah sebuah metode argumentasi yang menyangkal sebuah klaim 
dengan memperluas logika argumen lawan ke titik absurditas.

Silogisme kelirunya adalah sebagai berikut: 

Premis pertama: P (Putin membunuh sipil)

Premis kedua: Q (Pembunuh sipil adalah pemimpin jahat)

Premis ketiga: (P ∧  Q) -> R (Jika Putin dan pembunuh sipil adalah pemimpin 
jahat, maka pemimpin jahat adalah Hitler)

Konklusi: R (Pemimpin jahat adalah Hitler)

Di dalam dunia matematika dan logika, argumentasi seperti ini tidak selalu 
bersifat negatif. Tetapi khusus untuk pelabelan Hitler, karena sering sekali 
dilakukan, argumentasi tersebut menjadi istilah yang peyoratif, dan bahkan 
memiliki istilah baru, yakni reductio ad Hitlerum. Istilah ini dipopulerkan 
oleh filsuf kelahiran Jerman, Leo Strauss dalam buku Natural Right and History. 

Menurut Strauss, reductio ad Hitlerum adalah taktik yang sering digunakan untuk 
menggagalkan argumentasi lawan dengan menyamakan apa yang dilakukan mereka 
dengan apa yang dilakukan Hitler. 

Contoh lainnya adalah, karena Hitler adalah pemimpin menentang merokok, ini 
menyiratkan bahwa seseorang yang menentang merokok adalah seorang Nazi. 

Perbandingan semacam itu, menurut Strauss, murni dilakukan untuk menggiring 
perhatian publik yang tadinya melihat suatu tindak kekerasan sebagai peristiwa 
yang tidak begitu hebat, menjadi sangat khawatir dan prihatin karena disamakan 
dengan apa yang dilakukan oleh tokoh “sekejam” Hitler.

Di Indonesia, tindakan seperti ini juga umum kita temukan. Contohnya pelabelan 
“PKI” pada seseorang yang mempelajari pandangan sosialisme atau komunisme, 
padahal belum tentu orang tersebut mengikuti apa yang diyakini oleh PKI. 

Atau juga pelabelan “radikalisme” pada seseorang yang mempelajari suatu agama 
secara mendalam atau belajar tentang kekhilafahan.

Kembali ke fenomena Hitlerifikasi Putin, kita bisa mengambil makna bahwa itu 
sesungguhnya adalah suatu hal yang lebih dari sekadar upaya mengumpulkan 
kekhawatiran publik saja. Pandangan demikian juga merupakan bentuk kecacatan 
dari pemikiran tentang dunia yang damai, yang berasal dari Era Pencerahan.

Selebihnya, kita pun harus lebih menahan diri dalam ikut-ikutan mencap suatu 
pemimpin sebagai “Hitler” karena bisa jadi apa yang kita lakukan adalah sebuah 
bentuk kesalahan logika. (D74) 

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2F029BEBB2844E368F27F4603EC3E86F%40A10Live.

Reply via email to