Written byG69Friday, April 1, 2022 18:00Siasat Tiongkok Dekati Arab Saudi
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/siasat-tiongkok-dekati-arab-saudi/
Presiden Tiongkok Xi Jinping rencananya akan menerima undangan untuk berkunjung 
ke Arab Saudi. Kedua negara diproyeksikan bakal melakukan transaksi perdagangan 
minyak dengan menggunakan mata uang Tiongkok, yaitu yuan (renminbi). Jika 
rencana ini terealisasi bisa berpotensi membuat sistem tandingan di dunia 
internasional khususnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS), lantas apakah yuan 
bisa menggeser dominasi mata uang negeri Paman Sam? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Fenomena multipolar tampaknya cukup mempengaruhi setiap relasi dan hubungan 
antar-negara di dunia. Apabila dahulu hanya ada Amerika Serikat (AS) dan Uni 
Soviet sebagai dua kekuatan besar, kini sejak runtuhnya ideologi komunisme, 
dunia tidak hanya didominasi oleh dua poros kekuatan. 

Meski sempat menjadi satu-satunya negara hegemoni, AS tidak lagi menjadi negara 
adidaya. Posisi AS sebagai polisi dunia tidak lagi absolut karena negara-negara 
di dunia sudah mulai ‘unjuk gigi’ kekuatan untuk menandingi negeri Paman Sam.

Dalam tulisan berjudul The Unipolar Illusion Revisited: The Coming End of The 
United States’ Unipolar Moment karya Christopher Layne, dijelaskan jika 
negara-negara mulai berpikir untuk mengimbangi hegemoni AS. Alasannya adalah 
karena tidak ingin dikuasai secara penuh oleh negara tersebut. 

Mak,a tidak heran jika muncul negara-negara ‘penantang baru’ seperti salah 
satunya yaitu Tiongkok. Negeri Tirai Bambu ini mulai memperlihatkan dominasinya 
sehingga membuat AS menjadi ketar-ketir. 

Bahkan, pergerakannya kali ini tidak main-main karena mulai mendekati negara 
sekutu terdekat AS di Timur Tengah, yaitu Arab Saudi. Seperti yang diketahui, 
Arab Saudi dan AS memiliki hubungan yang mesra khususnya dalam hal perdagangan 
dan keamanan. Meski demikian, hubungan mesra keduanya ternyata tidak selamanya 
berjalan mulus karena ada beberapa isu yang cukup sensitif meliputi politik dan 
kemanusiaan. 

Salah satu kasus yang cukup menyita perhatian yaitu kasus tewasnya seorang 
jurnalis bernama Jamal Khashoggi. Kematiannya ternyata menuai kontroversi 
karena ada dugaan keterlibatan Kerajaan Saudi yang membuat AS terus bereaksi. 

Momentum ini pun menjadi pemicu renggangnya hubungan antar kedua negara. Celah 
perselisihan tampaknya berpotensi semakin besar dengan masuknya Tiongkok untuk 
meningkatkan hubungan dengan Arab Saudi. 

 
Presiden Tiongkok Xi Jinping diundang oleh Kerajaaan Arab Saudi untuk membahas 
masalah perdagangan sekaligus mengindikasikan adanya penerimaan mata uang yuan 
sebagai alat pembayaran untuk minyak. Keinginan untuk menggunakan mata uang 
yuan sebenarnya tidak hanya diutarakan melalui hubungan Arab Saudi dengan 
Tiongkok, melainkan sejumlah negara khususnya di benua Afrika seperti Zimbabwe 
dan Afrika Selatan yang ikut menggunakan mata uang yuan dalam melakukan 
transaksi. 

Tidak hanya di benua Afrika, penggunaan mata uang yuan pun sempat ramai 
dibicarakan negara-negara Asia Tenggara – termasuk Indonesia. Jika melihat hal 
ini, lantas seberapa besar peluang yuan bisa mendominasi perekonomian global? 

Upaya Tiongkok Geser Dolar? 
Sejauh ini penggunaan mata uang yuan mengalami peningkatan secara global. 
Tercatat berdasarkan laporan International Monetary Institute (IMI) under 
Renmin University of China, indeks penggunaan yuan secara global mencapai 5,02 
di akhir tahun 2020. Pencapaian tersebut memperlihatkan peningkatan sebesar 
54,2 persen – sekaligus menempatkan mata uang yuan menjadi nomor tiga di dunia. 

Selain itu, penggunaan yuan juga mampu mendominasi sejumlah bank di 
negara-negara dunia – khususnya dalam hal penyimpanan aset. Pada tahun 2020 
lalu pun, peningkatan penggunaan yuan untuk perdagangan mencapai 14,8 persen 
per tahunnya. 

Momentum ini diperkuat dengan adanya pernyataan dari perwakilan dari School of 
Finance of Renmin University of China, Wang Fang, yang menegaskan proyek besar 
Tiongkok Belt Road and Initiative (BRI) menjadi pemicu dominasi penggunaan yuan 
semakin kuat secara global – mengingat proyek ini sudah merambah di benua 
Afrika dan Asia. 

Sebuah jurnal berjudul China’s Belt and Road Initiative and the Rise of 
Evidence from Pakistan karya Jamshed Y. Uppal dan Syeba Rabab Mudakkar 
menjelaskan jika yuan Tiongkok sudah berperan cukup besar dalam perdagangan 
dunia. Pengaruhnya cukup besar karena masifnya aliran mata uang ini kepada 
salah satu negara yang terdampak dengan adanya proyek Belt Road and Initiative. 
Dominasi Tiongkok atas Pakistan akhirnya membuat kedua negara ini sepakat untuk 
melakukan perdagangan bilateral dengan menggunakan mata uang yuan. 

Pintu masuk Tiongkok melalui proyek Belt and Road Initiative juga terlihat di 
kawasan Asia Tenggara. Salah satu contohnya seperti Bank of China Hong Kong di 
Kamboja yang sudah menerima transaksi untuk menggunakan mata uang yuan. 

  
Hal serupa juga diterapkan oleh Vietnam yang mengizinkan mata uang yuan 
digunakan dalam transaksi perdagangan di wilayahnya. The State Bank of Vietnam 
yang mengungumkan jika mulai 12 Oktober 2018, mata uang Tiongkok itu sah dan 
bisa digunakan. 

Fenomena ini memperlihatkan jika ada sedikit tekanan terhadap dominasi AS 
terutama dengan kehadiran Tiongkok. Dalam jurnal berjudul Is China Ready to 
Challenge the Dollar tulisan Melissa Murphy dan Wen Jin Yuan, dijelaskan bahwa 
yuan siap untuk menekan dominasi dolar AS sebagai mata uang yang sering 
digunakan dalam transaksi global. 

Kondisi ini tidak lepas dari fenomena perekonomian dunia saat ini yang marak 
akan kompetisi negara-negara. Maka, tidak heran jika kehadiran yuan secara 
otomatis menciptakan persaingan dengan negeri Paman Sam alias AS. 

Meski demikian, jika mengacu pada tulisan PinterPolitik berjudul Siasat 
Indonesia-Tiongkok Geser Dolar AS? posisi dolar masih jauh di atas yuan atau 
renminbi Tiongkok. Lantas, jika melihat hal ini, apakah perang mata uang bisa 
terjadi antara yuan dengan dolar? Dan siapakah yang akan menang?

Picu Currency War?
Persaingan atau kompetisi antar keduanya tidak hanya dari sisi politik maupun 
keamanan, melainkan dari sisi ekonomi melalui mata uang. Dalam tulisan berjudul 
Is China Ready to Challenge the Dollar milik Melissa Murphy dan Wen Jin Yuan, 
juga dijelaskan tentang perang mata uang atau currency war. 

Fenomena tersebut diduga merupakan skenario AS dalam merespons eksistensi 
Tiongkok di kancah global. Hal serupa juga dikemukakan oleh penulis asal 
Tiongkok, Song Hongbin, yaitu fenomena perang mata uang sengaja dibuat oleh 
sekelompok orang untuk memengaruhi perekonomian negara lain. 

Secara garis besar pengertian currency war – dalam jurnal berjudul Currency 
Wars karya William R.Cline dan John Williamson – adalah sebuah upaya manipulasi 
dari suatu negara untuk meraup keuntungan yaitu meningkatkan ekspor. Caranya 
yaitu dengan menurunkan nilai mata uang negara tersebut. 

 
Hal inilah yang berulang kali dilakukan oleh Tiongkok untuk meningkatkan 
ekspornya ke negara-negara lain. Didukung dengan kebijakan People’s Bank of 
China (PBOC) yang menetapkan titik tengah harian yuan terhadap dolar AS, 
alhasil kurs yuan sedikit melemah terhadap dolar AS. 

Bukan sesuatu yang asing bagi Tiongkok karena perekonomian negara ini 
tergantung dengan aliran ekspor. Dengan melemahnya yuan, maka harga barang 
Tiongkok terkesan lebih murah sehingga memicu negara lain untuk melakukan impor 
dengan Tiongkok. 

Hal ini terlihat dari ekspor negeri Tirai Bambu ini di tahun 2022 yang 
mengalami pertumbuhan. Administrasi Bea Cukai Tiongkok mencatat jika nilai 
ekspor meningkat sebesar 16,3 persen pada periode Januari-Februari 2022. 

Peningkatan nilai ekspor Tiongkok juga melebihi impor negara tersebut. Tercatat 
impor Tiongkok tumbuh sebesar 15,5 persen selama Januari-Februari 2022. 

Persentase ekspor yang tinggi dibandingkan impor menunjukkan jika ‘nafas’ 
kehidupan negeri Panda mengandalkan ekspor. Melihat kondisi ini, tampaknya 
Tiongkok tetap memprioritaskan upaya ekspor dibandingkan impor sehingga 
inisiatif impor minyak dengan Arab Saudi tampaknya tidak serta merta bertujuan 
menggeser dominasi dolar AS melalui perang mata uang atau currency war. 

Meski belum memiliki posisi yang sejajar dengan dolar AS, eksistensi Yuan tidak 
bisa dianggap remeh karena berpotensi memengaruhi geopolitik, khususnya di 
kawasan ASEAN – mengingat beberapa negara ASEAN mulai berpikir untuk 
meninggalkan dolar AS sebagai alat untuk transaksi. Isu ini akan terus 
berkembang dan menarik untuk diikuti karena Tiongkok terus melakukan manuver 
untuk mengimbangi posisi AS dalam persaingan global. (G69) 


-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5AB1C788DEFE4330A4353ED777BC3673%40A10Live.

Reply via email to