Written byR53Sunday, April 3, 2022 10:43Bukan IDI, Siapa Musuh Terawan?
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bukan-idi-siapa-musuh-terawan/
Proses pemberhentian Terawan dari IDI sudah berlangsung sejak tahun 2013. 
Dengan koneksi yang kuat dengan kekuasaan, cukup sulit membayangkan hanya 
faktor IDI yang berada di belakang pemberhentian. Lantas, siapa musuh besar 
itu? Apakah kasusnya sama dengan Siti Fadilah Supari?


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

  “There’s a monster outside my room,” – M. Night Shyamalan, sutradara India

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tengah menuai sorotan publik. Ini bukan soal 
pandemi Covid-19 atau isu kesehatan lainnya, melainkan soal pemberhentian dr 
Terawan Agus Putranto dari keanggotaan IDI. Mengutip Juru Bicara Pengurus Besar 
(PB) IDI dr Beni Satria, pemberhentian ini adalah perjalanan panjang yang telah 
memakan waktu sejak tahun 2013.

Dalam Muktamar XXXI PB IDI di Banda Aceh, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran 
(MKEK) IDI resmi mencoret nama Terawan. Surat bernomor 0280/PB/MKEK/02/2022 
menunjukkan berbagai hal. Disebutkan, Terawan melakukan pelanggaran etik berat 
(serious ethical misconduct), serta tidak melakukan itikad baik sepanjang 
2018-2022 setelah diberikan sanksi soal metode cuci otak atau Digital 
Subtraction Angiography (DSA).

Kemudian, ada juga yang menyebut ini terkait langkah Terawan yang aktif 
mempromosikan Vaksin Nusantara secara luas, bahkan setelah tidak lagi menjabat 
sebagai Menteri Kesehatan (Menkes). 

Sejauh ini, berbagai elite politik telah menerima Vaksin Nusantara. Ada 
politisi senior Golkar Aburizal Bakrie, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, 
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko, Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti, 
hingga Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Beragam reaksi muncul atas pemecatan Terawan. Menkes Budi Gunadi Sadikin 
berusaha menengahi untuk melakukan mediasi. Ada pula reaksi keras, misalnya 
dari anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Suryani Chaniago. Menurutnya, 
IDI telah menunjukkan sikap arogan, sangat eksklusif, dan elitis. “Saya sudah 
usulkan agar Komisi IX memanggil IDI untuk dimintai pertanggungjawaban,” ungkap 
Irma pada 27 Maret.

Atas ketegangan ini, ada satu pertanyaan serius yang perlu diajukan. Benarkah 
IDI adalah aktor antagonis utama di balik pemecatan ini?

 
Too Big to Fail
Ada satu alasan utama yang membuat pertanyaan itu diajukan. Dengan fakta proses 
pemberhentian telah dilakukan sejak 2013, mengapa baru sekarang Terawan 
berhasil dipecat? 

Kita tentu ingat, persis setelah Terawan diangkat menjadi Menkes, isu metode 
cuci otak langsung mencuat ke permukaan. Beragam narasi minor terhampar, namun 
itu berlalu begitu saja dan tidak berujung pemecatan. 

Jika membahas sosok Terawan, ia bukanlah dokter biasa. Terawan merupakan dokter 
yang tidak asing di lingkungan pejabat dan elite politik. Metode cuci otak yang 
digunakannya sejak 2005 telah dirasakan berbagai public figure hingga pejabat 
kelas atas. Ini membuat namanya dikenal di level elite Indonesia. 

Bahkan, jika ingin menelusuri hubungan dengan RI-1, Terawan bukan sosok asing 
bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terawan merupakan dokter kepresidenan di 
lingkungan Istana Negara sejak tahun 2009.

Lalu pada pertengahan 2019, RSPAD menjadi tempat pemeriksaan kesehatan resmi 
bagi para peserta pemilihan presiden dan wakil presiden. Kala itu, Terawan yang 
memimpin rumah sakit tersebut tentu berinteraksi langsung dengan Jokowi sebagai 
salah satu kandidat.

Puncak kedekatan ini jelas terlihat saat Terawan diangkat sebagai Menteri 
Kesehatan pada 2019. Kendati memicu berbagai aksi penolakan, nyatanya posisi 
Terawan tetap bertahan. Jika tidak karena pandemi Covid-19, Terawan mungkin 
masih duduk sebagai menteri.

Sejak Niccolò Machiavelli menulis Il Principe pada tahun 1532, rumus penunjukan 
pejabat tinggi pemerintahan tetap sama, yakni kepercayaan. Apalagi, melihat 
status Terawan yang berasal dari kursi profesional, bukan partai politik, 
kepercayaan Presiden Jokowi terhadapnya jelas sangat besar. 
Konteks ini penting untuk dicatat karena Presiden Jokowi dinilai sebagai sosok 
yang sulit percaya dengan orang lain. Poin psikologis ini disinggung oleh Sita 
W. Dewi dan Margareth Aritonang dalam tulisan Understanding Jokowi’s Inner 
Circle.

Saat ini, pemecatan Terawan juga memiliki implikasi politik. Menteri Hukum dan 
HAM (Menkumham) Yasonna Laoly dan berbagai politisi di DPR telah menyuarakan 
untuk merevisi Undang-Undang 20/2013 tentang Pendidikan Kedokteran dan UU 
29/2004 tentang Praktik Kedokteran. 

Disebutkan, jika benar-benar direvisi, maka izin praktik dokter akan sepenuhnya 
dipegang oleh pemerintah alias tidak memerlukan rekomendasi IDI.  

Status kedekatan politik ini adalah poin terpenting untuk diperhatikan. Dengan 
posisi sedekat itu dengan kekuasaan, sulit membayangkan ini hanya soal IDI. 
Pasalnya, jika benar IDI adalah faktor utama di balik pemecatan, mengapa itu 
tidak berhasil dilakukan sejak lama?

Jika boleh jujur, apabila melihat rangkaian peristiwa dan posisi politik yang 
ada, dapat dikatakan apabila Terawan terlalu besar untuk dijatuhkan – too big 
to fail. Ini mengingatkan kita pada penegasan penting filsuf David Hume pada 
tahun 1739 dalam bukunya A Treatise of Human Nature. 

Menurut Hume, adalah sebuah kekeliruan apabila menyimpulkan rentetan peristiwa 
pasti merupakan sebab-akibat (kausalitas). Memang benar keduanya berurutan, 
tapi bisa saja faktor tersebut hanya merupakan faktor pendukung atau bahkan 
sekadar kebetulan bersamaan terjadi. Dalam frasa Latin, ini disebut sebagai non 
causa pro causa. 

Dengan kata lain, hanya karena Terawan sudah terlibat ketegangan lama dengan 
IDI, tidak serta merta aktor utamanya adalah IDI. Lantas, jika benar Terawan 
terlalu besar untuk dijatuhkan IDI, bagaimana pemecatan ini dapat berhasil? 

 
Seperti Siti Fadilah?
Ada sebuah adagium menarik, “Untuk menjatuhkan monster, kita membutuhkan 
monster lainnya”. Melihat posisi politik Terawan, mestilah terdapat aktor besar 
di luar sana yang membuatnya berhasil dijatuhkan. 

Ini juga berkaitan dengan Terawan yang terkena reshuffle pada Desember 2020 
lalu. Pasalnya, jika melihat pola yang ada, menteri yang terkena reshuffle di 
tengah jalan merupakan sosok yang disebut tidak membutuhkan pertimbangan rumit 
(complicated consideration). 

Nah, sekarang pertanyaannya, pertimbangan rumit apa yang membuat Terawan 
terdepak sebagai menteri, dan sekarang juga berhasil didepak IDI?

Jawabannya sebenarnya sudah penulis singgung. Jika bukan karena pandemi 
Covid-19, Terawan mungkin masih menjadi menteri. Dengan kata lain, ada konflik 
politik besar di pandemi Covid-19 yang melibatkan Terawan.

Untuk merabanya, kita akan melihat rangkaian peristiwa yang terjadi. Saat 
konferensi pers resmi pertamanya, apa yang disampaikan Menkes Budi Gunadi 
Sadikin adalah prospek rencana vaksinasi pemerintah. Ia mengkonfirmasi 
Indonesia sedang dalam tahap negosiasi akhir untuk memboyong vaksin produksi 
AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech. 

Menariknya, tidak lama sebelum itu, Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza menyebut 
Terawan sempat menolak menandatangani kesepakatan kerja sama pengadaan vaksin 
oleh sejumlah produsen, seperti AstraZeneca, Sinopharm, hingga Sinovac. 

Poin ini berelasi dengan temuan Tempo yang bertajuk Lobi Merombak Formasi 
Kabinet. Disebutkan, Budi Sadikin ternyata sudah dipersiapkan sebagai Menkes 
sejak Oktober 2020. Budi Sadikin disebut telah melakukan perjalanan ke Jenewa 
dan London untuk melobi sejumlah produsen vaksin Covid-19.
Nah, jika benar poin vaksin yang membuat Budi Sadikin diangkat sebagai Menkes, 
maka rasionalisasi serupa juga dapat ditujukan kepada Terawan. Adalah persoalan 
vaksin yang membuatnya terdepak sebagai menteri. Kita tentu melihat, setelah 
itu Terawan aktif dengan Vaksin Nusantara. Ini dapat dibaca sebagai gestur 
ketidakpercayaan terhadap vaksin luar.

Jika ini soal vaksin internasional, maka ini soal Big Pharma. Mengutip 
drugwatch, Big Pharma merupakan salah satu dari industri paling berpengaruh di 
dunia saat ini. 

Klon Kitchen dalam tulisannya The New Superpowers: How and Why the Tech 
Industry is Shaping the International System, menyebut revolusi industri 
keempat telah membentuk kembali kontur tatanan global. Munculnya 
perusahaan-perusahaan raksasa yang menjadi jantung revolusi telah menantang 
otoritas, kedaulatan, dan kapasitas pemerintah.

Milan Babic dan kawan-kawan dalam tulisan Who is more powerful – states or 
corporations?, membuat komparasi kekuatan ekonomi menarik. Dari 100 entitas 
dengan pendapatan tertinggi pada 2016, 71 diantaranya merupakan perusahaan 
raksasa. Walmart dari Amerika Serikat (AS) bahkan di atas negara ekonomi maju 
seperti Spanyol, Belanda, Australia, dan Korea Selatan.   

Dalam perspektif perang, penekanan Klon Kitchen adalah apa yang disebut sebagai 
perang asimetris. George Dimitriu dalam tulisannya Clausewitz and the Politics 
of War: a Contemporary Theory, menyebut perang tidak lagi hanya terjadi antara 
negara dengan negara, melainkan juga dengan aktor non-negara, seperti 
perusahaan multinasional dan kelompok transnasional.

Menurut pengamat militer Khairul Fahmi dalam tulisannya Membedah Salah Kaprah 
IKN Diduduki China, dalam konteks perang asimetris, perusahaan multinasional 
tidak serta merta menjadi aktor utama, melainkan dapat juga bertindak sebagai 
proxy negara yang ingin mengganggu Indonesia. 

Jika melakukan komparasi, apa yang terjadi pada Terawan tampaknya mirip dengan 
kasus Siti Fadilah Supari. Eks Menkes tersebut menolak flu burung (H5N1) 
sebagai pandemi karena tidak menular dari manusia ke manusia, menolak 
penggunaan vaksin, dan menolak memberikan sampel virus flu burung ke WHO.

Jika kemudian dikatakan mirip, apa yang membedakan Siti Fadilah dengan Terawan 
mungkin adalah posisi politik. Kita tentu tahu, setelah aksi heroiknya, Siti 
Fadilah kemudian mendekam di penjara karena disebut terlibat korupsi alat 
kesehatan di Kementerian Kesehatan. Berbeda dengan Siti Fadilah, berbagai 
dukungan politik justru terlihat berada di belakang Terawan.

Well, sebagai penutup, menyimpulkan kasus Terawan mirip dengan Siti Fadilah 
tentu cukup sumir atau abu-abu. Kasus Siti Fadilah sendiri sampai sekarang 
masih menjadi konspirasi yang tidak kunjung menemui konsensus bersama. 

Entah itu Big Pharma, WHO, ataupun aktor internasional lainnya, itu adalah 
sesuatu yang sangat sulit untuk diverifikasi. Namun yang jelas, ada satu 
kesimpulan pasti, yakni Terawan sekiranya terlalu besar untuk dijatuhkan hanya 
oleh IDI. Too big to fail. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/15809EEB668C4EDBB30391B9A70D41BF%40A10Live.

Reply via email to