Mafia industry pharmaceutical international. Beberapa hari yg lalu, Koran 
setempat , Dailly Mirror, Sri Lanka, memuat sebuah article untuk memperingati 
Prof. Senaka Bibile, sewaktu itu pemerintah Srilanka dibawa Mrs. Bandaranaika 
sebagai PM, (PM wanita pertama  didunia, tahun 1960han), prof. S. Bibile  
mempropori obat-obatan murah bagi rakyat, industry pharmacy luar negeri 
menentang keras  program Prof Bibile, melalui pemerintah USA, PM Bandaranaika 
ditekan untuk membatalkan program obat-obatan dn dipecat Prof. Bibile dari 
jabatannya. Patah hati prof Bibile meninggalkan tanah  Air, Sri Lanka. Tak lama 
kemudian beliau meninggal dunia under suspicious circumstances. Lin. 

Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
-------- Original message --------From: Chan CT <[email protected]> Date: 
04/04/2022  9:06 a.m.  (GMT+05:30) To: GELORA45_In 
<[email protected]> Subject: [GELORA45] Bukan IDI, Siapa Musuh 
Terawan? 





Written byR53

Sunday, April 3, 2022 
10:43


Bukan IDI, Siapa Musuh 
Terawan?


https://www.pinterpolitik.com/in-depth/bukan-idi-siapa-musuh-terawan/


Proses 
pemberhentian Terawan dari IDI sudah berlangsung sejak tahun 2013. Dengan 
koneksi yang kuat dengan kekuasaan, cukup sulit membayangkan hanya faktor IDI 
yang berada di belakang pemberhentian. Lantas, siapa musuh besar itu? Apakah 
kasusnya sama dengan Siti Fadilah Supari?


PinterPolitik.com

  “There’s a monster outside my room,” – M. Night 
  Shyamalan, sutradara India
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tengah menuai 
sorotan publik. Ini bukan soal pandemi Covid-19 atau isu kesehatan lainnya, 
melainkan soal pemberhentian dr Terawan Agus Putranto dari keanggotaan IDI. 
Mengutip Juru Bicara Pengurus Besar (PB) IDI dr Beni Satria, pemberhentian ini 
adalah perjalanan panjang yang telah memakan waktu sejak tahun 2013.
Dalam Muktamar XXXI PB IDI di Banda Aceh, 
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI resmi mencoret nama Terawan. 
Surat 
bernomor 0280/PB/MKEK/02/2022 menunjukkan berbagai hal. Disebutkan, Terawan 
melakukan pelanggaran etik berat (serious 
ethical misconduct), serta tidak melakukan itikad baik sepanjang 2018-2022 
setelah diberikan sanksi soal metode cuci otak atau Digital Subtraction 
Angiography (DSA).
Kemudian, ada juga yang menyebut ini terkait 
langkah Terawan yang aktif mempromosikan Vaksin Nusantara secara luas, bahkan 
setelah tidak lagi menjabat sebagai Menteri Kesehatan (Menkes). 
Sejauh ini, berbagai elite politik telah 
menerima Vaksin Nusantara. Ada politisi senior Golkar Aburizal Bakrie, mantan 
Panglima TNI Gatot Nurmantyo, Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko, Ketua DPD RI 
La Nyalla Mahmud Mattalitti, hingga Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo 
Subianto.
Beragam reaksi muncul atas pemecatan Terawan. 
Menkes Budi Gunadi Sadikin berusaha menengahi untuk melakukan mediasi. Ada pula 
reaksi keras, misalnya dari anggota Komisi IX DPR RI Fraksi NasDem Irma Suryani 
Chaniago. Menurutnya, IDI telah menunjukkan sikap arogan, sangat eksklusif, dan 
elitis. “Saya sudah usulkan agar Komisi IX memanggil IDI untuk dimintai 
pertanggungjawaban,” ungkap Irma pada 27 Maret.
Atas ketegangan ini, ada satu pertanyaan serius 
yang perlu diajukan. Benarkah IDI adalah aktor antagonis utama di balik 
pemecatan ini? 
Too Big to Fail
Ada satu alasan utama yang membuat pertanyaan 
itu diajukan. Dengan fakta proses pemberhentian telah dilakukan sejak 2013, 
mengapa baru sekarang Terawan berhasil dipecat? 
Kita tentu ingat, persis setelah Terawan 
diangkat menjadi Menkes, isu metode cuci otak langsung mencuat ke permukaan. 
Beragam narasi minor terhampar, namun itu berlalu begitu saja dan tidak 
berujung 
pemecatan. 
Jika membahas sosok Terawan, ia bukanlah dokter 
biasa. Terawan merupakan dokter yang tidak asing di lingkungan pejabat dan 
elite 
politik. Metode cuci otak yang digunakannya sejak 2005 telah dirasakan 
berbagai public 
figure hingga pejabat kelas atas. Ini membuat namanya 
dikenal di level elite Indonesia. 
Bahkan, jika ingin menelusuri hubungan dengan 
RI-1, Terawan bukan sosok asing bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terawan 
merupakan dokter kepresidenan di lingkungan Istana Negara sejak tahun 
2009.
Lalu pada pertengahan 2019, RSPAD menjadi tempat 
pemeriksaan kesehatan resmi bagi para peserta pemilihan presiden dan wakil 
presiden. Kala itu, Terawan yang memimpin rumah sakit tersebut tentu 
berinteraksi langsung dengan Jokowi sebagai salah satu kandidat.
Puncak kedekatan ini jelas terlihat saat Terawan 
diangkat sebagai Menteri Kesehatan pada 2019. Kendati memicu berbagai aksi 
penolakan, nyatanya posisi Terawan tetap bertahan. Jika tidak karena pandemi 
Covid-19, Terawan mungkin masih duduk sebagai menteri.
Sejak Niccolò Machiavelli 
menulis Il 
Principe pada tahun 1532, rumus penunjukan pejabat tinggi 
pemerintahan tetap sama, yakni kepercayaan. Apalagi, melihat status Terawan 
yang 
berasal dari kursi profesional, bukan partai politik, kepercayaan Presiden 
Jokowi terhadapnya jelas sangat besar. 
Konteks ini penting untuk dicatat karena 
Presiden Jokowi dinilai sebagai sosok yang sulit percaya dengan orang lain. 
Poin 
psikologis ini disinggung oleh Sita W. Dewi dan Margareth Aritonang dalam 
tulisan Understanding 
Jokowi’s Inner Circle.
Saat ini, pemecatan Terawan juga memiliki 
implikasi politik. Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly dan berbagai 
politisi di DPR telah menyuarakan untuk merevisi Undang-Undang 20/2013 tentang 
Pendidikan Kedokteran dan UU 29/2004 tentang Praktik Kedokteran. 
Disebutkan, jika benar-benar direvisi, maka izin 
praktik dokter akan sepenuhnya dipegang oleh pemerintah alias tidak memerlukan 
rekomendasi IDI.  
Status kedekatan politik ini adalah poin 
terpenting untuk diperhatikan. Dengan posisi sedekat itu dengan kekuasaan, 
sulit 
membayangkan ini hanya soal IDI. Pasalnya, jika benar IDI adalah faktor utama 
di 
balik pemecatan, mengapa itu tidak berhasil dilakukan sejak lama?
Jika boleh jujur, apabila melihat rangkaian 
peristiwa dan posisi politik yang ada, dapat dikatakan apabila Terawan terlalu 
besar untuk dijatuhkan – too big to fail. Ini mengingatkan kita pada 
penegasan penting filsuf David Hume pada tahun 1739 dalam 
bukunya A Treatise of Human 
Nature. 
Menurut Hume, adalah sebuah kekeliruan apabila 
menyimpulkan rentetan peristiwa pasti merupakan sebab-akibat (kausalitas). 
Memang benar keduanya berurutan, tapi bisa saja faktor tersebut hanya merupakan 
faktor pendukung atau bahkan sekadar kebetulan bersamaan terjadi. Dalam frasa 
Latin, ini disebut sebagai non causa pro causa. 
Dengan kata lain, hanya karena Terawan sudah 
terlibat ketegangan lama dengan IDI, tidak serta merta aktor utamanya adalah 
IDI. Lantas, jika benar Terawan terlalu besar untuk dijatuhkan IDI, bagaimana 
pemecatan ini dapat berhasil?  
Seperti Siti 
Fadilah?
Ada sebuah adagium menarik, “Untuk menjatuhkan 
monster, kita membutuhkan monster lainnya”. Melihat posisi politik Terawan, 
mestilah terdapat aktor besar di luar sana yang membuatnya berhasil dijatuhkan. 

Ini juga berkaitan dengan Terawan yang 
terkena reshuffle pada Desember 
2020 lalu. Pasalnya, jika melihat pola yang ada, menteri yang 
terkena reshuffle di tengah jalan 
merupakan sosok yang disebut tidak membutuhkan pertimbangan rumit (complicated 
consideration). 
Nah, sekarang pertanyaannya, pertimbangan rumit 
apa yang membuat Terawan terdepak sebagai menteri, dan sekarang juga berhasil 
didepak IDI?
Jawabannya sebenarnya sudah penulis singgung. 
Jika bukan karena pandemi Covid-19, Terawan mungkin masih menjadi menteri. 
Dengan kata lain, ada konflik politik besar di pandemi Covid-19 yang melibatkan 
Terawan.
Untuk merabanya, kita akan melihat rangkaian 
peristiwa yang terjadi. Saat konferensi pers resmi pertamanya, apa yang 
disampaikan Menkes Budi Gunadi Sadikin adalah prospek rencana vaksinasi 
pemerintah. Ia mengkonfirmasi Indonesia sedang dalam tahap negosiasi akhir 
untuk 
memboyong vaksin produksi AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech. 
Menariknya, tidak lama sebelum itu, Ketua Komisi 
VI DPR RI Faisol Riza menyebut Terawan sempat menolak menandatangani 
kesepakatan 
kerja sama pengadaan vaksin oleh sejumlah produsen, seperti AstraZeneca, 
Sinopharm, hingga Sinovac. 
Poin ini berelasi dengan temuan Tempo yang 
bertajuk Lobi Merombak 
Formasi Kabinet. Disebutkan, Budi Sadikin ternyata sudah dipersiapkan 
sebagai Menkes sejak Oktober 2020. Budi Sadikin disebut telah melakukan 
perjalanan ke Jenewa dan London untuk melobi sejumlah produsen vaksin 
Covid-19.
Nah, jika benar poin vaksin yang membuat Budi 
Sadikin diangkat sebagai Menkes, maka rasionalisasi serupa juga dapat ditujukan 
kepada Terawan. Adalah persoalan vaksin yang membuatnya terdepak sebagai 
menteri. Kita tentu melihat, setelah itu Terawan aktif dengan Vaksin Nusantara. 
Ini dapat dibaca sebagai gestur ketidakpercayaan terhadap vaksin 
luar.
Jika ini soal vaksin internasional, 
maka ini soal Big 
Pharma. Mengutip drugwatch, Big 
Pharma merupakan salah satu dari industri paling 
berpengaruh di dunia saat ini. 
Klon Kitchen dalam 
tulisannya The New 
Superpowers: How and Why the Tech Industry is Shaping the International 
System, menyebut revolusi industri keempat telah membentuk kembali kontur 
tatanan global. Munculnya perusahaan-perusahaan raksasa yang menjadi jantung 
revolusi telah menantang otoritas, kedaulatan, dan kapasitas 
pemerintah.
Milan Babic dan kawan-kawan dalam 
tulisan Who is more 
powerful – states or corporations?, membuat komparasi kekuatan ekonomi 
menarik. Dari 100 entitas dengan pendapatan tertinggi pada 2016, 71 diantaranya 
merupakan perusahaan raksasa. Walmart dari Amerika Serikat (AS) bahkan di atas 
negara ekonomi maju seperti Spanyol, Belanda, Australia, dan Korea 
Selatan.   
Dalam perspektif perang, penekanan Klon Kitchen 
adalah apa yang disebut sebagai perang asimetris. George Dimitriu dalam 
tulisannya Clausewitz and 
the Politics of War: a Contemporary Theory, menyebut perang tidak lagi 
hanya terjadi antara negara dengan negara, melainkan juga dengan aktor 
non-negara, seperti perusahaan multinasional dan kelompok 
transnasional.
Menurut pengamat militer Khairul Fahmi dalam 
tulisannya Membedah Salah 
Kaprah IKN Diduduki China, dalam konteks perang asimetris, perusahaan 
multinasional tidak serta merta menjadi aktor utama, melainkan dapat juga 
bertindak sebagai proxy negara yang ingin 
mengganggu Indonesia. 
Jika melakukan komparasi, apa yang terjadi pada 
Terawan tampaknya mirip dengan kasus Siti Fadilah Supari. Eks Menkes tersebut 
menolak flu burung (H5N1) sebagai pandemi karena tidak menular dari manusia ke 
manusia, menolak penggunaan vaksin, dan menolak memberikan sampel virus flu 
burung ke WHO.
Jika kemudian dikatakan mirip, apa yang 
membedakan Siti Fadilah dengan Terawan mungkin adalah posisi politik. Kita 
tentu 
tahu, setelah aksi heroiknya, Siti Fadilah kemudian mendekam di penjara karena 
disebut terlibat korupsi alat kesehatan di Kementerian Kesehatan. Berbeda 
dengan 
Siti Fadilah, berbagai dukungan politik justru terlihat berada di belakang 
Terawan.
Well, sebagai penutup, menyimpulkan kasus 
Terawan mirip dengan Siti Fadilah tentu cukup sumir atau abu-abu. Kasus Siti 
Fadilah sendiri sampai sekarang masih menjadi konspirasi yang tidak kunjung 
menemui konsensus bersama. 
Entah itu Big Pharma, WHO, ataupun aktor internasional 
lainnya, itu adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diverifikasi. Namun yang 
jelas, ada satu kesimpulan pasti, yakni Terawan sekiranya terlalu besar untuk 
dijatuhkan hanya oleh IDI. Too big to fail. 
(R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/55w7g8jw9r3f4q4yvlecsa5u.1649055888915%40email.android.com.

Reply via email to