China Sunrise, AS Sunset* 
ByTim Redaksi  https://bergelora.com/china-sunrise-as-sunset/



Presiden RRC, Xi Jinping san Presiden AS, Joe Biden. (Ist)
Oleh: Erizeli Jely Bandaro**

“BAGAIMANA sikap pemerintah China atas sikap AS yang minta China agar tidak 
bantu Rusia yang terkena sanksi Ekonomi NATO? Tanya saya kepada Wenny via 
WeChat. Yang saya tahu, kata Wenny, tidak ada tanggapan langsung dari presiden 
kami. Rakyat juga tidak peduli dengan ancaman AS itu. Mengapa ? Itu sudah 
tabiat AS. Tahun 56 hanya karena kami berteman dengan Korea Utara. AS provokasi 
kami. Kami tetap diam. Bahkan ketika AS menyerang perbatasan kami karena 
kawatir kami ikut campur dalam perang Korea.

Kami tetap tidak ingin berperang. Kami ingin damai, dan bekerja. Apalagi saat 
itu kami negara baru berdiri dari puing puing perang saudara. Tetapi akhirnya 
kami terpaksa melawan. Itupun karena AS masuk sampai 100 mill dari perbatasan 
kami. Perang korea tidak bisa dihindari. Memang kami kalah dalam pertempuran. 
Tetapi perang kami menangkan. Pasukan AS harus keluar. Bukan hanya dari China 
tetapi juga dari Korea utara.

Kini AS berusaha provokasi kami dengan statement pemimpinnya yang tidak 
bersahabat. Hanya karena kami berteman dengan Rusia. Kami berusaha menahan 
diri. China tidak akan berperang, apapun alasannya kecuali kami diserang lebih 
dulu. Selebihnya kami focus bekerja untuk mengatasi banyak masalah dalam 
negeri. Kata Wenny. Mengapa tidak ikuti saja apa mau AS, khususnya soal embargo 
ekonomi. Kamu tahu kan, lanjut Wenny. Kami berteman ya berteman. Tidak ada 
hipokrit. Tidak mungkin karena ancaman AS, persahabatan dengan Rusia rusak. 
Apalagi Rusia tidak bersengketa dngan kami. Negara kami terlalu besar untuk 
tunduk apa kata AS. Penduduk kami 4 kali lebih besar dari AS. Dari segi 
peradaban kami 4000 tahun lebih maju dari AS. Biarlah AS dengan omong besarnya. 
Karena saat ini hanya itu yang mereka punya.

Justru kami kasihan dengan bangsa AS. Selama empat puluh tahun para pemimpinnya 
membawa mereka dalam perang tanpa jeda di belahan dunia lain. Sementara selama 
40 tahun, di dalam negeri krisis ekonomi terus terjadi dari waktu ke waktu. 
Kalau tadinya AS negara kreditur namun kini jadi negara debitur terbesar di 
dunia. 50% rakyat AS suffering karena beban ekonomi, sementara 800 juta rakyat 
China berhasil keluar dari kubangan kemiskinan. Kalau kini China jadi kekuatan 
Ekonomi dunia, itu bukan karena kami lebih cepat melangkah. Tetapi karena AS 
bergerak mundur.

AS tidak akan berhasil menjatuhkan negara lain. Apalagi sekelas China atau 
Rusia. Cobalah lihat fakta. Menjatuhkan Suriah saja mereka gagal. Bahkan negeri 
yang dianggap mereka terbelakang seperti Afganistan, juga gagal mereka 
kalahkan. Di Vietnam juga mereka kalah. Mungkin satu satunya sukses adalah 
menjatuhkan Sadam Husein. Tetapi tetap saja gagal menguasai Irak. Apalagi Iran 
yang tetapi eksis walau diembargo ekonomi.

Bagi AS, lanjut Wenny. mungkin China bukan negara demokrasi. Tetapi mereka 
lupa. Sistem kekuasaan negeri kami, bisa melahirkan sistem meritokrasi. 
Melahirkan pemimpin yang melayani atas dasar kompetensi, Itu di semua sektor. 
Dengan itu kami bisa bergerak cepat mendistribusikan sumber sumber ekonomi 
secara adil kepada seluruh rakyat. Tentu kami masih banyak kekurangan. Tapi 
setidaknya kalau 40 tahun laluPDB kami 10% dari PBD AS, kini menurut McKinsey 
kekayaan bersih kami telah melampaui AS. Kami menjadi negara terkaya di dunia. 
1/3 pertumbuhan ekonomi Global berasal dari China. Think about it.

Sistem demokrasi di AS telah meracuni rakyat lewat media massa. Informasi yang 
bias dan pernyataan para pemimpin dan intelektual yang ambigu. Membuat rakyat 
lupa akan hak esensi mereka sebagai rakyat. Apa itu? Dimanapun rakyat inginkan 
perdamaian, mencari rezeki mudah, berkonsumsi murah dan barang selalu tersedia 
di pasar. Dengan itu siapapun mereka akan punya hope, Punya dream untuk 
diperjuangkan, untuk kini dan besok.

*Tulisan ini diambil Bergelora.com dari blog Lentera dengan judul asli ‘China 
Sunrise, AS Sunset’.

**Penulis Erizeli Jely Bandaro, adalah seorang pengamat ekonomi politik, pelaku 
bisnis dan seorang blogger.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/5068DBA6A20243698B6FF3A4BFEF374C%40A10Live.

Reply via email to