Written byA43Monday, April 4, 2022 19:30
Putin dan Permainan Racun Kremlin
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/putin-dan-permainan-racun-kremlin/
Sejumlah individu – seperti oligark Roman Abramovich – yang terlibat dalam 
negosiasi damai antara Ukraina dan Rusia disebut mengalami keracunan. 
Menariknya, pemerintahan Vladimir Putin di Rusia disebut memiliki sejarah 
panjang dalam menggunakan racun dalam mempengaruhi dinamika politik.


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Baru-baru ini, para penggemar film pahlawan super dihebohkan oleh film terbaru 
dari Warner Bros. Pictures yang didasarkan pada salah satu karakter di DC 
Comics, yakni The Batman (2022). Film ini pun mendapatkan penilaian yang cukup 
bagus dari para kritikus dan penonton pada umumnya.

Namun, bila kita berbicara soal karakter Batman, tidak akan lengkap bila kita 
tidak membahas pula musuh-musuhnya. Joker yang disebut menjadi nemesis utama 
dari Batman, misalnya, memiliki hubungan permusuhan yang spesial dengan 
karakter berkostum kelelawar tersebut – bahkan sampai ke perdebatan filosofis 
soal moral dan keadilan.

Perdebatan gagasan seperti ini pun tidak hanya terjadi dalam permusuhan Batman 
dengan Joker, melainkan juga dengan Dr. Pamela Isley. Sosok yang dikenal dengan 
nama alias Poison Ivy itu dikenal dengan komitmen kuatnya terhadap lingkungan 
hidup – bahkan dia menjustifikasi dirinya sebagai seorang eco-terrorist.

Untuk mendukung gerakannya tersebut, Poison Ivy memiliki kekuatan-kekuatan 
unik. Salah satunya adalah dengan membuat racun yang bisa mematikan bagi 
musuh-musuhnya. Racun-racunnya pun dikelola dari tanaman-tanaman yang bisa dia 
kontrol.

Di dunia nyata, penggunaan racun sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan 
politik seperti ini juga pernah terjadi. Di Indonesia sendiri, misalnya, pernah 
terjadi kasus pembunuhan dengan racun terhadap seorang aktivis hak asasi 
manusia (HAM) yang prominen, yakni Munir Said Thalib (1965-2004).

Terlepas dari kasus yang ada di Indonesia, ada banyak kasus pembunuhan dengan 
racun lainnya yang sangat populer di tingkat internasional. Kebanyakan dari 
kasus ini menariknya berhubungan dengan satu negara, yakni Rusia (bahkan sejak 
era Uni Soviet).

Bisa dibilang, racun merupakan cara yang kerap digunakan oleh negara ini. 
Bahkan, banyak dari korban pembunuhan dengan racun di Rusia merupakan mantan 
agen mata-mata yang disebut membelot kepada negara lain.

 
Tidak hanya itu, yang terbaru, tokoh oposisi yang bernama Alexei Navalny 
disebut juga telah menjadi sasaran pembunuhan dengan racun. Tokoh yang kerap 
mengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin tersebut kabarnya diracuni dengan 
larutan Novichok pada tahun 2020 silam.

Banyaknya kasus upaya pembunuhan dengan racun oleh Rusia ini tentunya 
menimbulkan sejumlah pertanyaan. Siapakah sosok yang ada di balik berbagai 
upaya-upaya racun seperti ini? Lantas, mengapa Putin perlu cemas dengan sejarah 
kelam Rusia dalam permainan racunnya?

Kisah Panjang Rusia dan Racun
Penggunaan racun sebagai senjata di politik bukanlah hal yang baru di Rusia. 
Bahkan, bila melihat kembali sejarah Uni Soviet, racun kerap digunakan oleh 
negara tersebut untuk mempengaruhi dinamika politik yang ada.

Joseph Stalin yang merupakan pemimpin revolusioner Soviet, misalnya, merupakan 
salah satu pemimpin yang terkuat dalam sejarah negara adidaya tersebut. Namun, 
kekuasaannya pun jatuh pada tahun 1953 karena meninggal dunia – rumornya karena 
diracuni.
Dugaan menjadi masuk akal apabila melihat kembali sejarah penggunaan racun 
sebagai senjata di Rusia. Mengacu pada buku karya Boris Volodarsky yang 
berjudul The KGB’s Poison Factory, pada tahun 1921 silam, Pemimpin Soviet 
Vladimir Lenin memberikan perintah pada bawahan-bawahannya untuk mendirikan 
sebuah laboratorium untuk mengembangkan racun – dengan tujuan awal untuk 
mengembangkan senjata yang bisa digunakan dalam perang.

Laporan-laporan soal keberadaan laboratorium racun sejak era Uni Soviet ini 
terbuka pada akhir dekade 1990-an – yang mana membuka bahwa penggunaan dan 
pengembangan racun ini sudah lama dilaksanakan oleh badan-badan intelijen 
Soviet seperti Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB).

Namun, seiring berjalannya waktu, racun-racun yang dikembangkan sejak era Uni 
Soviet ini tampaknya digunakan untuk membunuh lawan-lawan politik sendiri – 
khususnya sejak negara adidaya di era Perang Dingin itu runtuh. Bukan tidak 
mungkin, racun-racun rahasia ini akhirnya beralih tangan ke badan intelijen 
penerus KGB, yakni Dinas Keamanan Federal (FSB).

Bisa dibilang, FSB ini merupakan badan intelijen terbaru yang menjadi penerus 
utama KGB. Putin sendiri pernah memegang jabatan direktur saat Boris Yeltsin 
masih memegang kekuasaan sebagai Presiden Rusia pada tahun 1998.

 
Kini, FSB dipimpin oleh salah satu teman seperjuangan Putin yang bernama 
Aleksander Bortnikov. Petinggi intelijen ini telah menghabiskan sebagian besar 
hidupnya menjadi agen mata-mata untuk KGB sejak muda.

Bortnikov sendiri disebut sudah kenal Putin sejak bertugas bersama di KGB 
Leningrad pada dekade 1970-an silam. Selain Putin, Bortnikov juga dikabarkan 
berteman baik dengan Dmitry Medvedev yang sempat bergantian dengan Putin untuk 
menjabat sebagai presiden pada tahun 2008 dan 2012.

Bortnikov pun memiliki rekam jejak yang panjang dalam operasi-operasi 
pembunuhan dengan racun – sebut saja kasus pembunuhan Alexander Litvinenko pada 
tahun 2006. Bortnikov kala itu disebut menjadi salah satu pengawas langsung 
dalam operasi yang menewaskan mantan agen KGB yang dianggap membelot tersebut – 
sebuah operasi di bawah kepemimpinan Nikolai Patrushev yang menjadi salah satu 
Direktur FSB yang paling dipercaya Putin.

Namun, meski Bortnikov dan Putin memiliki kedekatan dan teman-teman yang sama, 
keduanya tidak begitu saja bisa akur. Pasalnya, Bortnikov dinilai menjadi 
ancaman nyata bagi Putin. Lantas, mengapa Putin harus cemas dengan kekuasaan 
Bortnikov?

Politik Kremlin Penuh Racun?
Seperti yang telah dijelaskan di atas, kepemilikan dan penggunaan racun di 
Rusia telah lama terjadi dalam sejarah negara itu – khususnya dalam 
manuver-manuver intelijen yang dijalankan KGB hingga FSB. Tentu, siapapun yang 
memiliki racun dan bisa menggunakannya sebagai senjata bisa saja mempengaruhi 
dinamika politik yang ada.

Arie Perliger dalam bukunya yang berjudul The Rationale of Political 
Assassinations menjelaskan bahwa pembununhan yang bermotif politis biasanya 
memiliki tujuan untuk mendorong atau mencegah perubahan politik, sosial, atau 
ekonomi yang berkaitan dengan khalayak banyak.

Dalam sejarahnya, pembunuhan politis ini sudah ada sejak peradaban manusia 
lahir. Pasalnya, dengan struktur dan hierarki yang eksis dalam sebuah 
masyarakat, banyak aktor – seperti raja dan kepala suku – memiliki kebutuhan 
untuk melindungi status privilesenya.

 
Mithridates VI yang merupakan raja Pontus pada tahun 120-63 SM, misalnya, 
melihat pentingnya racun sebagai salah satu bagian dari upaya pembunuhan 
politis. Raja Pontus ini bahkan dicatat dalam sejarah sebagai Raja Racun.

Bagaimana tidak? Mithridates dikenal mengembangkan racunnya sendiri untuk 
membunuh rival-rival politiknya. Tidak hanya itu, Mithridates bahkan sampai 
memasukkan racun ke dalam tubuhnya agar bisa menjadi kebal dari berbagai racun 
yang bisa saja datang dari lawan-lawan politiknya.

Dari sini, bisa dipahami bahwa siapapun yang memiliki racun bakal bisa 
menggunakannya untuk senjata politis. Tidak heran apabila akhirnya Putin banyak 
melakukan reformasi pada FSB saat dirinya menjabat sebagai presiden.

Pada tahun 2000, misalnya, Putin mengeluarkan sejumlah aturan yang membuat FSB 
bertanggung jawab dan melapor langsung kepada presiden. Pada tahun yang sama, 
Putin juga melakukan restrukturasi terhadap petinggi-petinggi badan intelijen 
tersebut.

Upaya yang mirip kembali dilakukan akhir-akhir ini kala Putin melancarkan 
invasi ke Ukraina. Kabarnya, presiden Rusia tersebut melakukan penangkapan dan 
mengganti sejumlah petinggi FSB – menyusul adanya kabar soal kemungkinan kudeta 
dan upaya untuk meracuni Putin.

Apalagi, berdasarkan laporan dari badan intelijen Ukraina, Bortnikov 
disebut-sebut menjadi salah satu petinggi keamanan yang tidak setuju dengan 
operasi militer Rusia di Ukraina. Apalagi, Bortnikov dikabarkan menjadi salah 
satu petinggi Rusia yang digadang-gadang bakal menggantikan Putin.

Bukan tidak mungkin, racun menjadi penentu yang penting dalam perebutan politik 
di dalam Kremlin sendiri di tengah operasi militer Putin yang putin lancarkan 
di Ukraina. Bisa jadi, siapapun yang bisa mengontrol FSB, dialah yang bakal 
memenangkan permainan racun ala Rusia ini. (A43)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/84A6C2E2AAAA4729951365768360C9A9%40A10Live.

Reply via email to