Written byR53Tuesday, April 5, 2022 17:06Operasi Militer Bawah Tanah Jokowi
https://www.pinterpolitik.com/in-depth/operasi-militer-bawah-tanah-jokowi/
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa melakukan rotasi besar-besar di internal 
TNI. Yang menarik, berbagai nama yang diangkat sebagai pejabat tinggi TNI 
merupakan orang dekat Presiden Jokowi. Menurut berbagai pihak, ini adalah 
bentuk penguatan Geng Solo di tubuh militer. Jika benar demikian, mengapa itu 
dilakukan Presiden Jokowi? 


--------------------------------------------------------------------------------

PinterPolitik.com

Sejak diangkat sebagai Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa telah berulang 
kali melakukan rotasi pejabat tinggi TNI. Yang terbaru, pengangkatan Mayjen TNI 
Widi Prasetijono sebagai Pangdam IV/Diponegoro menjadi perhatian publik karena 
statusnya sebagai ajudan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 2014-2016. 

Selain Widi, ada empat nama lainnya yang dihubungkan dengan Presiden Jokowi. 
Pertama ada Mayjen TNI Suhartono yang pernah menjadi Komandan Paspampres pada 
2017-2018. Saat ini Suhartono menjabat sebagai Komandan Kodiklatal 
(Dankodiklatal).

Kedua ada Letjen TNI Maruli Simanjuntak yang diangkat sebagai Pangkostrad. 
Maruli menjabat Komandan Grup A Paspampres pada 2014-2016, Wakil Danpaspampres 
pada 2017-2018, dan Komandan Paspampres pada 2018-2020. Ada pula soal statusnya 
sebagai menantu Luhut B. Pandjaitan, menteri yang disebut-sebut begitu dekat 
dengan Presiden Jokowi.

Ketiga ada Letjen TNI Agus Subiyanto yang kini menjabat sebagai Wakasad. 
Sebelumnya, Agus menggantikan Maruli sebagai Komandan Paspampres pada 2020. 
Hubungan Agus dengan Presiden Jokowi sudah terjalin ketika RI-1 masih menjadi 
Wali Kota Solo. Pada 2009-2011, Agus menjabat sebagai Komandan Kodim 
0735/Surakarta. 

Keempat ada Brigjen TNI Rudy Saladin yang mendapat promosi jabatan sebagai 
Komandan Korem (Danrem) 061/Surya Kencana (Bogor). Rudy sendiri adalah ajudan 
Presiden Jokowi pada 2019-2021. 

Lantas, apa yang dapat dimaknai dari pengangkatan-pengangkatan ini? Apakah ini 
hanya kebetulan bahwa mereka memiliki hubungan dengan Presiden Jokowi? Atau 
terdapat intrik politik besar di baliknya?

Menguatnya Geng Solo
Sebagai jembatan awal, tulisan Aris Santoso yang berjudul Jokowi dan Jejaring 
Perwira Solo menjadi tolakan yang penting. Menurutnya, dalam menentukan posisi 
di TNI dan Polri, ada kecenderungan Presiden Jokowi untuk memilih 
kolega-koleganya yang dulu berdinas di Solo. 

Aris mencontohkan pengangkatan Marsekal Hadi Tjahjanto sebagai KASAU, kemudian 
Panglima TNI. Hadi dan Presiden Jokowi ternyata sudah berhubungan baik ketika 
masih berdinas di Solo. Pada 2010-2011 ketika RI-1 masih menjadi Wali Kota 
Solo, Hadi adalah Komandan Lanud Adi Soemarmo, Solo.

Selain Hadi, sebelumnya juga dibahas soal Agus Subiyanto. Kemudian, jejaring 
Solo juga terlihat pada Kapolri Listyo Sigit. Pada 2010-2012, Listyo menjabat 
sebagai Kapolresta Surakarta. Kemudian pada 2012, ketika Jokowi menjadi 
Gubernur DKI Jakarta, Listyo ikut pindah ke ibu kota dengan menjabat sebagai 
Kasubdit II Dittipidum Bareskrim Polri. 

 
Kedekatan keduanya semakin terlihat pada 2014-2016 ketika Listyo terpilih 
sebagai ajudan Presiden Jokowi. Menariknya, pihak yang menawari Listyo menjadi 
ajudan adalah Presiden Jokowi sendiri.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa juga disebut memiliki kedekatan tersendiri 
dengan Presiden Jokowi. Selain statusnya sebagai menantu mantan Kepala Badan 
Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono, Andika juga pernah menjadi Komandan 
Paspampres pada 2014-2016.

Senada dengan Aris Santoso, pengamat militer dari Institute for Security and 
Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi juga menyebutkan memang terdapat 
kecenderungan Presiden Jokowi untuk memilih koleganya yang dulu berdinas di 
Solo untuk mengisi jabatan di TNI dan Polri. 
Terkait fenomena terbaru, yakni pengangkatan Widi Prasetijono dan Agus 
Subiyanto, Fahmi melihat ini sebagai sinyal menguatnya Geng Solo di tubuh 
militer. 

Yang menarik, tidak hanya di TNI, penguatan pengaruh RI-1 juga terjadi di tubuh 
kepolisian. Menurut Made Supriatma dalam tulisannya The Indonesian police’s 
dual function under Jokowi, di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi, Polisi tidak 
hanya bertindak sebagai aparat keamanan, melainkan juga sebagai alat politik. 

Jika pendapat Fahmi tepat bahwa tengah terjadi penguatan Geng Solo di tubuh 
militer, ini tentu menjadi pertanyaan serius. Pasalnya, dengan status sudah 
menjabat sebanyak dua periode, untuk apa Presiden Jokowi menguatkan pengaruhnya 
di militer?

Jika di periode pertama tentu wajar karena ditujukan untuk mengondisikan 
pengaruh dan keamanan guna memenangkan periode kedua. Lantas, untuk apa 
penguatan ini dilakukan sekarang?

Belajar dari Gus Dur?
Untuk menjawabnya, kita dapat membaca buku mantan Wakil Kepala BIN As’ad Said 
Ali yang berjudul Perjalanan Intelijen Santri. Dalam salah satu bagian bukunya, 
As’ad memberikan ulasan menarik soal peristiwa politik di balik lengsernya 
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. 

Sekitar dua minggu sebelum Gus Dur lengser, As’ad bertemu dengan utusan yayasan 
sangat berpengaruh yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Utusan itu diberi 
inisial Mr YM. Tanyanya kepada As’ad, “apakah Gus Dur akan aman dari ancaman 
pemakzulan?”

Jawab As’ad, bertolak dari Dekrit Presiden 1959, dekrit hanya efektif apabila 
didukung oleh militer, dan saat ini, dukungan itu jauh dari pundak Gus Dur. 
Saat itu juga beredar isu soal pergantian Kapolri dan KASAD yang semakin 
memanaskan suasana. Menariknya, kesimpulan As’ad bahwa Gus Dur akan jatuh sama 
dengan analisis yayasan tersebut.

Tidak hanya kepada Mr YM, As’ad juga memberikan penegasan serupa kepada 
keluarga Gus Dur bahwa dekrit hanya bisa berhasil jika mendapat dukungan dari 
militer. Mungkin karena situasi politik saat itu yang begitu emosional, 
analisis As’ad tidak ditanggapi secara tenang. “Menurut kantor kepresidenan, 
Kapolri dan KASAD akan diganti untuk memuluskan langkah dekrit,” ungkap 
keluarga Gus Dur tersebut.  

Poin yang ditegaskan As’ad dapat kita jumpai pada pernyataan terkenal pendiri 
Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong. Political power grows out of the barrel 
of a gun – kekuatan politik tumbuh dari laras senapan.

Senapan adalah metafora dari tentara. Menurut Mao, tentara adalah komponen 
utama dari kekuasaan negara. Siapapun yang ingin merebut dan mempertahankan 
kekuasaan negara harus memiliki tentara yang kuat. 

Singkatnya, bertolak pada penjelasan As’ad Ali dan Mao Zedong, suka atau tidak, 
untuk mempertahankan kekuasaan politik sangat dibutuhkan dukungan militer. 
Apalagi, untuk menjalankan agenda politik besar, dukungan militer adalah bahan 
baku vital yang harus sudah didapatkan.
Nah, sekarang kita akan menggabungkan kedua puzzle ini, yakni asumsi penguatan 
Geng Solo dan faktor vitalnya dukungan militer. Jika benar Presiden Jokowi 
tengah memperkuat Geng Solo, maka secara logis dapat dikatakan ini adalah upaya 
memperluas pengaruh dan menghimpun dukungan militer.

Pertanyaan selanjutnya, untuk apa itu dilakukan?

 
Dua Kemungkinan Tujuan
Setidaknya ada dua asumsi yang dapat dibuat. Pertama, ini berkaitan dengan 
wacana perpanjangan jabatan presiden atau wacana presiden tiga periode. Kendati 
Presiden Jokowi dan Istana telah memberikan bantahan terbuka, gestur politik 
yang terus muncul sekiranya menjadi kontradiksi tersendiri.

Elicier Crespo-Fernández dalam tulisannya Euphemism and Political Discourse in 
the British Regional Press, menyebut politisi kerap melakukan penghalusan 
bahasa (eufemisme) untuk mengganti atau menutupi kata dan ungkapan yang 
dianggap tabu, kasar, dan tidak pantas. Ini dilakukan untuk menghindari kesan 
negatif agar hubungan dan dukungan politik tetap terjaga.

Merujuk pada Crespo-Fernández, tidak mengherankan kemudian apabila politisi 
kerap mengeluarkan pernyataan terbuka yang bertolak belakang dengan fakta 
lapangan. Misalnya, terdapat pejabat yang marah soal kebijakan impor, tapi 
ternyata kebijakan impor terus meningkat tiap tahunnya. Kita juga menyebut ini 
sebagai doublespeak.

Singkatnya, mungkin dapat dikatakan, penguatan Geng Solo adalah bentuk upaya 
antisipasi apabila wacana perpanjangan jabatan presiden benar-benar terlaksana. 
Selain untuk memperkuat dukungan politik, ini juga untuk mengamankan masyarakat 
yang melakukan penolakan.

Kedua, jika ini bukan untuk wacana perpanjangan jabatan presiden, besar 
kemungkinan ini sebagai cara Presiden Jokowi untuk soft landing atau mengakhiri 
masa jabatan secara mulus. Pasalnya, bertolak pada kasus Susilo Bambang 
Yudhoyono (SBY) yang mengalami second-term curse dan menjadi lame duck 
president di periode keduanya, Presiden Jokowi tampaknya belajar untuk tetap 
menjaga kekuatan politik di dekatnya.

Membaca pola yang ada, di periode kedua presiden selalu terjadi gejolak politik 
yang menggerus citranya. Tidak hanya di Indonesia, fenomena ini juga menimpa 
presiden-presiden AS, seperti Barack Obama.

Dengan kata lain, untuk mengantisipasi gejolak-gejolak politik yang sangat 
mungkin terjadi, Presiden Jokowi perlu memperkuat kapal politiknya. Ia perlu 
laras-laras senapan agar musuh politik enggan untuk bertindak macam-macam.

Well, sebagai penutup, entah apa pun itu, yang jelas tampaknya tengah terjadi 
operasi militer bawah tanah saat ini. Presiden Jokowi tampaknya tengah 
mengumpulkan kekuatan militer agar kapal politiknya tetap kokoh sampai akhir 
jabatannya. (R53)

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/F0C0A4FEF5ED4310AAA2D96EA63A7AE0%40A10Live.

Reply via email to