Saya inget....untuk mendiskreditkan BK...tetapi para team indonesia Malah 
mengajungkan jempol ...juga Dr. Subandrio....sudah mengelulingi Dunia ..Hanya 
Di Indonesia dilecehkan....teror kontra teror..... 

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Fri., Apr. 8, 2022 at 10:46 a.m., Sunny ambon<[email protected]> 
wrote:   Dalam berbagai uraian dari  yang dinamakan ahli sejarah  dalam tulisan 
atau acara di  TV  hal "obok-obok" ini tidak  disinggung.  Saya turut serta  
seminar PPI se-Europa di Bukurest, Romania, 1964(?). Waktu istirahat seminar  
beberapa mahasiswa peserta seminar ngobrol, salah seorang diantara mereka 
menceritakan bahwa KGB melansir film porno Sukarno di Moskow. Saya tidak 
menaruh perhatian, tetapi tetap dalam ingatan. Puluhan tahun kemudian di TV  
Channel Discover ada program berjudul "Secret War". Dalam program itu 
disebutkan bahwa di Los Angeles dibuat film Soekarno bersetubuh. Lebih lanjut 
baca artikel ini : 
http://edition.cnn.com/ASIANOW/time/asia/magazine/1999/990823/cia.html

On Thu, Apr 7, 2022 at 4:00 PM 'Noroyono 1963' via GELORA45 
<[email protected]> wrote:

Soekarno dan CIA
Banyak kalangan tak tahu bahwa di era kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden, 
Indonesia pernah diobok-obok oleh ulah Badan Pusat Intelijen AS (CIA), yang 
masuk ke Indonesia. Kini, bagaimana operasi intelijen pada 2022?
OlehGUNTUR SOEKARNO PUTRA6 April 2022 | 02:00 WIB
Terungkapnya intel Iran, Gaseem Saberi Gilchalan, yang memalsukan belasan 
paspor sebagaimana dilaporkan Kompas, Desember 2021, membuka ingatan saya saat 
intelijen AS dan Inggris berkeliaran di Indonesia sejak Indonesia merdeka 
hingga jatuhnya Presiden Soekarno.
 

Banyak kalangan tak mengetahui bahwa di era kepemimpinan Bung Karno sebagai 
presiden, Indonesia pernah diobok-obok oleh ulah Badan Pusat Intelijen Amerika 
Serikat (CIA), yang berhasil masuk ke Indonesia. CIA masuk dengan berbagai cara 
dan muslihat yang luar biasa halusnya sehingga tidak terdeteksi oleh 
badan-badan intelijen Indonesia ataupun komunitas intelijen Indonesia.

 

Peranan Bill Palmer

 

Salah satu agen CIA itu adalah Bill Palmer. Sejak Pemerintah Indonesia hijrah 
ke Yogyakarta, 1946, Palmer sudah muncul dalam acara-acara di Gedung Negara 
Yogyakarta. Secara samar-samar masih terekam dalam ingatan penulis wajah dan 
sosok tubuhnya yang gempal, berbicara serius dengan Bung Karno.

 

Orangnya sangat ramah dan kelihatannya penuh humor karena pembicaraan keduanya 
diselingi tawa terbahak-bahak. Setelah perang kemerdekaan, untuk beberapa saat 
sosok Palmer menghilang bertahun-tahun. Tiba-tiba dia muncul lagi ketika 
penulis mengikuti kunjungan kenegaraan Presiden ke AS pada 1956. Di Washington 
DC, ia datang berkunjung ke penginapan Presiden RI di Blair House. Seperti 
biasa, ia kemudian berbincang-bincang gembira dengan Bung Karno layaknya 
sahabat lama yang bertemu lagi. Namun, saat itu, tubuhnya sudah gemuk dan agak 
botak.

 
Ketika pemberontakan separatis oleh PRRI di Padang, Sumatera Barat, pecah, 
peran intelijen AS terdeteksi oleh Badan Intelijen Angkatan Perang waktu itu.
 

Saat hendak meninggalkan penginapan, ia menyodorkan uang 200 dollar AS kepada 
penulis. Katanya, untuk berbelanja. Ketika itu tak ada kecurigaan sedikit pun 
dari tim khusus Detasemen Kawal Pribadi (DKP) yang turut dalam rombongan. 
Mereka beranggapan yang bersangkutan seorang diplomat AS yang sudah dikenal 
baik sejak di Yogyakarta.

 

Selama di AS, yang bersangkutan muncul di beberapa kota yang dikunjungi Bung 
Karno, mulai dari New York, pusat industri mobil di Detroit, hingga pusat 
pendidikan pasukan khusus AA di Fort Bragg. Yang dilakukan hanya 
ngobrol-ngobrol dengan pejabat-pejabat Indonesia yang turut dalam rombongan. 
Sebut saja, Menlu Roeslan Abdulgani, Sekretaris Negara Mr Tamsil, dan Komandan 
DKP Mangil Martowidjojo.

 

Terkesan pertemuannya santai-santai saja. Pada 1957, Palmer muncul lagi di 
Istana Merdeka Jakarta. Saat itu, ia dikenal sebagai Direktur American Motion 
Picture Association Indonesia yang berkantor di gedung United States 
Information Service (USIS) di sebelah Istana Negara. Ketika pemberontakan 
separatis oleh PRRI di Padang, Sumatera Barat, pecah, peran intelijen AS 
terdeteksi oleh Badan Intelijen Angkatan Perang waktu itu. Intelijen AS 
terdeteksi turut aktif membantu PRRI dengan persenjataannya. Namun, waktu itu, 
tak ada tanda-tanda terkait dengan Bill Palmer.

 

Palmer ternyata adalah salah satu agen andalan CIA

untuk masalah-masalah Indonesia.

 

Justru yang terungkap adalah keterlibatan seorang diplomat Kedubes AS lain di 
Jakarta. Namanya Hugh Tovar. Ia terdeteksi sebagai Kepala Biro CIA di Indonesia 
dan membantu PRRI, bahkan Permesta di Manado (Robinson, Geoffrey B, Musim 
Menjagal: Sejarah Pembunuhan Massal di Indonesia 1965-1966, Oktober 2018, 
Komunitas Bambu). Namun, dari salah satu sumber di Deplu AS yang bersimpati 
kepada Indonesia, Bung Karno diberi informasi mengenai keanggotaan Palmer di 
CIA. Palmer ternyata adalah salah satu agen andalan CIA untuk masalah-masalah 
Indonesia.

 

Walau sudah mendapat informasi itu, Bung Karno sebagai presiden tak dapat 
berbuat apa-apa. Pasalnya, Bung Karno tak memiliki bukti-bukti kuat untuk 
mengambil tindakan terhadap Palmer. Baru pada 1960-1962, kedok Palmer terungkap 
ketika dia tertangkap basah tengah membagikan senjata kepada anak buah DI/TII 
Kartosuwiryo. Ia tepergok di vilanya yang berlokasi di perkebunan teh Gunung 
Mas Puncak oleh pasukan Kujang 1 Siliwangi. Palmer langsung 
dipersonanongratakan dan diusir keluar dari Indonesia oleh Presiden Soekarno.

 

Pope dan Jalan Gatot Soebroto

 

Berhentikah infiltrasi intelijen AS pasca-Palmer? Ternyata tidak. Saat 
Indonesia ingin merebut kembali Irian Barat dari tangan Belanda, Bung Karno 
yang memimpin komando dengan menyerukan Tiga Komando Rakyat (Trikora) juga 
diusik. CIA kembali menyewa seorang penerbang pengebom B-26 berkebangsaan AS 
dan mengebom kota Ambon di Maluku, sebuah wilayah yang menjadi penyangga 
sebelum armada RI menyerang pertahanan Belanda di wilayah Irian Barat. Pilot 
tersebut adalah Allen Lawrence Pope.

 

Keterlibatan intelijen asing itu membuat kemarahan Bung Karno memuncak. Bagi 
Bung Karno, Irian Barat bagian dari wilayah NKRI, yang seharusnya sudah berada 
dalam pangkuan Ibu Pertiwi, tetapi saat itu masih berada di bawah tangan 
otoritas Pemerintah Belanda. Karena itu, 19 Desember 1961 di Alun-alun 
Yogyakarta, Bung Karno mengumandangkan Trikora untuk pembebasan Irian Barat 
dari kolonialisme Belanda.

 

Bung Karno langsung memimpin rapat dengan rakyat Indonesia dan mengajak bangsa 
Indonesia menggagalkan pembentukan negara Papua, mengibarkan bendera Merah 
Putih di Irian Barat, dan menyiapkan mobilisasi umum demi mempertahankan 
kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan wilayahnya.

 

Boleh dikatakan, saat itu kekuatan Angkatan Perang RI,

termasuk Kepolisian Negara RI,

yang terkuat di antara negara-negara Asia, kecuali China.
 Boleh dikatakan, saat itu kekuatan Angkatan Perang RI, termasuk Kepolisian 
Negara RI, yang terkuat di antara negara-negara Asia, kecuali China. AURI 
(sebelum menjadi TNI AU) waktu itu dilengkapi beberapa skuadron jet tempur 
Mig-15, Mig-17, Mig-19, dan Mig-21 yang berpeluru kendali. Skuadron pengebom 
terdiri dari pesawat-pesawat Ilyushin-28 dan pengebom jarak jauh TU-16 dengan 
berpeluru kendali. Juga skuadron pesawat angkut Antonov dan sebagainya.
 

Angkatan Laut (AL) dilengkapi alutsista canggih, terdiri dari armada kapal 
perang jenis korvet, kapal perusak (destroyer) dan penjelajah RI-Irian, sebagai 
kapal bendera (flagship), termasuk 12 kapal selam. Ada juga motor torpedo boat 
untuk infiltrasi pasukan dan sukarelawan ke daratan Irian Barat. Korps Komando 
Operasional (KKO) AL bahkan dilengkapi tank-tank amfibi PT-76 dan peluncur 
roket berlapis Katyuscha.

 

Angkatan Darat dilengkapi tank-tank berat, kendaraan lapis baja modern, peluru 
kendali darat udara yang ditempatkan di sejumlah lokasi strategis di seluruh 
Indonesia, antara lain di Marunda, Pelabuhan Ratu, dan Pulau Sabang. Lengkap 
dengan radar-radar yang bisa mendeteksi seluruh angkasa Nusantara.

 

Polri tak ketinggalan. Satuan khusus Resimen Pelopor Brimob dibentuk. Resimen 
ini dilengkapi senjata khusus Armalite-15 (AR-15) sebagai senjata serbu dan 
penembak jitu. Untuk menduduki wilayah Irian Barat, dilakukan penerjunan 
pasukan khusus Resimen Pelopor dipimpin seorang mantan anggota DKP Presiden, 
Hudaya Maria.

 

Berkat kesigapan prajurit Indonesia, pesawat Pope akhirnya ditembak jatuh 
sehingga operasi militer di bawah komando Bung Karno dapat dilakukan.

 

Berkat kesigapan prajurit Indonesia, pesawat Pope akhirnya ditembak jatuh 
sehingga operasi militer di bawah komando Bung Karno dapat dilakukan. Hingga 
kini, jatuhnya pesawat Pope masih simpang siur. Versi pertama menyebutkan 
pesawat Pope ditembak jatuh oleh sebuah pesawat Mustang P-51 AURI yang dipiloti 
Ignatius Dewanto. Versi kedua, pesawat Pope jatuh karena tembakan meriam 
pasukan artileri Antiserangan Udara TNI.

 

Meskipun dapat menyelamatkan diri dengan parasutnya, Pope ditangkap pasukan TNI 
di sekitar Ambon. Setelah sembuh dari luka-lukanya, ia kemudian diseret ke 
Pengadilan Militer di Jakarta dan dijatuhi hukuman mati. Sebelum eksekusi 
dilaksanakan, istri Pope datang ke Jakarta dan menemui Bung Karno dengan 
menangis tersedu-sedu agar suaminya diampuni dan diberi grasi.

 

Bung Karno yang tak tahan melihat air mata wanita, akhirnya memberikan grasi 
dan pengampunan kepada Pope. Namun, Bung Karno memberi syarat. Pope harus 
menghilang dari muka umum di AS tanpa publikasi sama sekali. Selain itu, Bung 
Karno meminta Pemerintah AS mengganti kebebasan Pope dengan membangun sebuah 
jalan bebas hambatan di Jakarta. Jalan itu dikenal sebagai Jakarta Bypass yang 
pada 1960-an merupakan jalan paling mulus di Indonesia. Kini, jalan itu dikenal 
dengan nama Jalan Gatot Subroto.

 

”Cewek bule” cantik
 Dari pelajaran praktik intelijen di Indonesia, menurut saya, ulah agen CIA 
yang paling spektakuler adalah saat menyelinapnya seorang agen wanita CIA yang 
mengaku mahasiswi AS yang tengah tugas belajar dan mempelajari budaya 
Indonesia. Ia berhasil masuk ke lingkungan keluarga Bung Karno di Istana 
Merdeka. Seperti yang saya ceritakan dalam buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, 
Guruku (1977), mahasiswi itu berwajah cantik, dada montok, pinggul ranum, paha 
dan betis serta kulitnya kuning tanpa berbintik-bintik.
 

Cewek bule yang kecantikannya seolah milik ”Ken Dedes”—bisa disebut sempurna 
(perfect)—nyaris mengobrak-abrik NKRI dari dalam Istana dan keluarga Bung 
Karno. Namun, hingga kini, ingatan penulis masih belum dapat mengutarakan siapa 
namanya. Dengan berkebaya Jawa, perempuan itu berhasil ikut latihan menari 
dengan adik-adik saya, Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati. Karena hubungan 
dekat mereka, Bung Karno pun mengusulkan agar yang bersangkutan tinggal di 
Istana Merdeka. Bahkan, Bung Karno menyebut ia ”saudara angkat” adik-adik saya.

 

Sebenarnya, sebelum diputuskan untuk masuk ke Istana Merdeka, Bung Karno sudah 
memerintahkan semua badan intelijen melakukan investigasi terlebih dulu. Namun, 
mahasiswi AS itu ditemukan benar-benar clean and clear.

 

Identitas dan profesi yang bersangkutan baru terbongkar berkat informasi 
Presiden Pakistan Ayub Khan, sahabat kental Bung Karno. Khan menghubungi Bung 
Karno lewat telepon dan menjelaskan apa dan siapa sang ”mahasiswi” itu. 
Diceritakan, boleh jadi ia menyusup ke Istana untuk mendapatkan 
informasi-informasi sangat penting mengenai kebijakan Indonesia dan Bung Karno 
menghadapi politik luar negeri AS.

 

Bahkan, boleh jadi juga, kehadirannya untuk mengganggu

hubungan baik Bung Karno dengan banyak kepala negara blok sosialis,

seperti Nikita Khrushchev, Mao Ze Dong, dan Fidel Castro,

yang baru saja membuka kedutaan besarnya di Jakarta.

 

Bahkan, boleh jadi juga, kehadirannya untuk mengganggu hubungan baik Bung Karno 
dengan banyak kepala negara blok sosialis, seperti Nikita Khrushchev, Mao Ze 
Dong, dan Fidel Castro, yang baru saja membuka kedutaan besarnya di Jakarta. 
Tak tertutup juga diinfokan, kemungkinan usaha-usaha pembunuhan terhadap para 
pemimpin di Indonesia, termasuk Bung Karno. Mendapatkan informasi itu, Bung 
Karno, setelah melakukan pengecekan dan pembicaraan tertutup dengan Badan Pusat 
Intelijen (BPI) yang dipimpin Dr Subandrio, Komandan Intel Cakrabirawa Kolonel 
Marokeh Santoso, Tim Khusus DKP Bidang Intelijen dan Reserse AKP Sono, diambil 
keputusan untuk mengusir perempuan itu dari Istana dan Indonesia.

 

Syukur masalah itu tak sempat terekspos ke media massa di Indonesia ataupun 
internasional meski tiap pagi hari ada puluhan ”nyamuk” pers berada di teras 
depan dapur Istana untuk dapat berita-berita mengenai Presiden RI.

 

Penulis yang sengaja datang ke Jakarta dari Bandung, setelah mendengar cerita 
dari Megawati soal adanya ”mahasiswi” itu, langsung menanyakan hal itu kepada 
Bung Karno. Saat itu, Bung Karno hanya menjawab singkat, ”Hampir-hampir saja 
revolusi Indonesia kebobolan, Tok. Semua badan intelijen kita jebol. Dasar 
CIA!” Waktu itu penulis memang masih kuliah di ITB Jurusan Teknik Mesin 
sehingga tak tahu tentang ”mahasiswi” cantik yang ikut belajar menari dan sudah 
dianggap keluarga sendiri.

 

Megawati juga memperkuat informasi dari Ayub Khan. Kebetulan, Megawati juga 
memberi tahu penulis bahwa ahli filsafat Inggris, Lord Bertrand Russell, 
berkirim surat atau telegram kepada Bung Karno. Isinya, menceritakan aktivitas 
”mahasiswi” itu dan daftar delapan kepala negara Non-Blok yang akan digulingkan 
lewat operasi intelijen CIA.

 

Surat Lord Russell diketahui Megawati dengan membaca isi surat itu. Penulis tak 
menduga seorang gadis seperti bintang cantik dan kondang asal AS, Suzanne 
Pleshette, bisa jadi agen spionase James Bond 007-nya Ian Fleming.

 
Kewaspadaan
 

Kini, bagaimana operasi intelijen di Indonesia pada 2022? Apakah masih ada 
agen-agen CIA atau negara lain yang beroperasi di Indonesia? Secara logika 
tentunya masih ada. Apalagi menghadapi pertemuan G20 di Bali dan kemudian 
Pilpres 2024. Menurut saya, tak tertutup kemungkinan hingga kini masih 
berkeliaran intelijen-intelijen asing dan bahkan juga orang-orang Indonesia 
yang dibayar untuk memata-matai dan membuat kisruh di Tanah Air untuk 
kepentingan negara-negara asing.

 

Di sinilah perlunya kewaspadaan yang tinggi dari seluruh komunitas intelijen 
Indonesia agar setiap hal yang bisa membahayakan eksistensi NKRI bisa ditangkal 
secara dini dan tak kebobolan seperti saat Perang Dingin. Dalam hal ini, Badan 
Intelijen Negara (BIN) perlu kerja ekstra keras karena nama-nama agen CIA yang 
memiliki kemampuan, seperti J Foster Collins dan John T Pizzicaro, sudah sulit 
dilacak keberadaannya. Selamat berwaspada sesuai semboyan intelijen: 
kewaspadaan!

 

Guntur Soekarno Putra Sulung Presiden RI dan Pemerhati Sosial

 
Editor: SRI HARTATI SAMHADI, YOHANES KRISNAWAN
https://www.kompas.id/baca/artikel-opini/2022/04/05/soekarno-dan-cia

*****



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/2107530076.4272408.1649340062343%40mail.yahoo.com.



-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2AJJsufmrjRLgoXdKPKpWOw4whq75yD6oWXdj%2BY1h0MVQ%40mail.gmail.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1332346100.774685.1649430656151%40mail.yahoo.com.

Reply via email to